Duh, kok Nai susah banget diajarin nulis, ya! Gimana, dia bisa pinter menulis kalo kayak gini?

Walaupun, saya tidak bermaksud merendahkan kemampuan anak, tapi harus saya akui terkadang kalau kita mengalami kendala-kendala ketika mengajari anak, ada terselip sedikit rasa gundah diantara pikiran positif yang coba kita tanamkan. Tentu saja, saya gak mengucapkan rasa gundah saya itu langsung kepada anak-anak, cukup di dalam hati saja atau berdiskusi dengan suami.

Anak-anak, umumnya seneng coret-coret, kan? Bahkan tanpa kita minta pun, selama mereka ada alat tulis, tau-tau tembok rumah bisa di coret-coret sama anak-anak, tapi ini tidak berlaku untuk Nai. Tiap kali diajak coret-coret, dia selalu menolak, boro-boro coret-coret, pegang alat tulisnya aja gak mau. Nai lebih suka loncat-loncatan, lari kesana-kemari, joget sambil nyanyi-nyanyi.

Merasa gundah itu wajar, tapi sebagai orang tua harus ada yang kita lakukan, gak boleh tinggal diam. Saya selalu berpendapat, dunia anak adalah dunia bermain. Jadi daripada saya memaksa Nai untuk mau menulis, - bahkan saat itu pegang alat aja, dia gak mau -, lebih baik saya mengajak dia bermain untuk membentuk konsentrasi. Tapi kira-kira permainan apa yang menarik untuk Nai, yang saat itu berusia 1-2 tahun?

Terlihat tekanan garis-garisnya Nai masih lemah


Saya berpikir, anak-anak usia 1-2 tahun biasanya senang lihat gambar yang menarik, mulai sering bertanya apa ini - apa itu. Saya pun, mencoba memberikan gambar yang kira-kira menarik untuk Nai. Contohnya seperti foto di atas. Saya ngeprint gambar aneka balon warna-warni, sambil saya nyanyikan lagu 'balonku ada lima'. Nai yang saat itu sedang lincah-lincahnya, tentu aja senang ketika saya ajak menyanyi dan kemudian dia pun tertarik dengan gambar yang saya berikan. Setelah itu saya akan minta tolong ke Nai, "Kasih talinya dong, dek! Kasian nanti balonnya terbang, kalo gak dikasih tali". Dan ternyata, Nai dengan senang hati mau pegang pensil kemudian menggambar tali-tali untuk balon-balonnya


Contoh lainnya, saya menggambar seekor bebek, karena saya pikir anak-anak seusia Nai senang dengan binatang. Tentu aja, bebek yang saya gambar itu tidak ada kakinya, dan saya minta Nai untuk menggambar kaki. Alhamdulillah, Nai pun senang mengerjakannya :)


Patrick, tokoh kartun kesayangan Nai, saat itu


Ketika Nai, sudah mulai mau memegang pensil dan mulai terlihat nyaman, permainan pun saya tingkatkan. Saya meminta Nai untuk mewarnai dan supaya dia tertarik, saya memberi gambar-gambar tokoh kartun kesayangan dia saat itu, tentu aja sambil saya ajak dia bercerita. Misalnya, saya katakan "Patrick bakal seneng banget deh kalo badannya diwarnain sama Nai, kan dia mau pergi jalan-jalan."

Kata Nai, ini gambar orang :D


Semakin lama, kemampuannya pun terus meningkat, akhirnya dia mulai percaya diri untuk menggambar. Tentu aja, kita jangan berharap gambar seorang anak batita seperti gambar orang dewasa, tapi kita akan terkaget-kaget kalo mendengar imajinasinya mereka yang dituangkan melalui gambarnya

Yang saya lakukan, ketika mengajak Nai menggambar, adalah :


Mencatat setiap perkembangannya. Kalau membaca postingan-postingan yang dulu-dulu di blog ini, ada catatan-catatan saya tentang perkembangan Nai tentang kegiatan tulis-menulis. Dari mulai diminta pegang pensil aja gak mau sama sekali, mulai mau pegang pensil tapi tekanannya masih lemah, tekanannya mulai sampai kuat, sampai sekarang tulis-menulis -terutama menggambar- adalah hobinya

Menggambar ternyata tidak hanya sekedar permainan, tapi juga mampu meningkatkan daya konsentrasi anak yang pada akhirnya menstimulai kecerdasan anak. Karena ketika anak sudah mulai menyenangi sesuatu, biasanya dia akan bisa berkonsentrasi dengan hal yang dia senangi. Bahkan dengan menggambar, kita bisa mengajarkan anak hal-hal lain, misalnya ketika saya meminta Nai menggambar garis-garis, kemudian saya mengenalkan kalau garis-garis seperti angka 1. Nah, itu artinya Nai mulai belajar matematika, kan?

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika kita mengajak anak untuk berkonsentrasi sekalipun dengan bermain, berdasarkan pegalaman pribadi saya, adalah :


  1. Buat permainan semenarik mungkin yang sesuai dengan usia anak
  2. Beri instruksi satu per satu, jangan sekaligus
  3. Sesuaikan waktunya. Saat mereka mengantuk atau lapar tentunya bukan waktu yang  tepat
  4. Berilah reward atau pujian untuk setiap keberhasilan mereka. Ini penting untuk menambah rasa percaya diri anak
  5. Cukup istirahat
  6. Kumpulkan hasil karya anak. Saya selalu berusaha mengumpulkan hasil karya mereka, saya kasih keterangan gambar dan lain-lain di belakang kertasnya. Sama dengan reward, mengumpulkan hasil karya mereka juga mampu membuat anak percaya diri. Contohnya ketika baru-baru ini, Nai merasa yang dia gambar gak bagus, saya lalu menunjukkan karya dia waktu kecil, yang tentu aja selalu saya bilang bagus. Nai ketawa-ketawa melihat haisl karyanya yang terlihat masih 'awut-awutan'. Ketika dia mulai tertawa, saya selipkan pesan kalo Nai berarti bisa asalkan mau berusaha, buktinya semakin hari karyanya semakin bagus. Dan ternyata itu berhasil, semangat dan konsentrasi Nai kembali bangkit :)
  7. Nutrisi yang baik dengan memberikan gizi yang seimbang

Ketika Nai, dinyatakan lulus tes psikologi masuk SD pilihannya, salah satu catatan dari psikolognya adalah, untuk seusia Nai, kemampuan menulisnya di atas rata-rata. Atau coba lihat, deh, foto di bawa ini. Apakah ada yang menyangka kalau dulu Nai bahkan pegang pensil aja gak mau? :)

    Gambar ini sempat dipajang beberapa minggu di wall tempat kursus Nai, sebelum di ganti dengan hasil karya Nai yang terbaru. Gak semua hasil karya anak-anak dipajang di wall, tapi hanya yang menurut gurunya bagus. Dan menurut laporan gurunya, Nai termasuk anak yang tingkat konsentrasinya tinggi ketika di kelas, gerakan tangannya pun luwes, terlihat kalau dia sering latihan di rumah. Ya, saya pernah liat sih ke kelasnya Nai, dimana anak-anak lain masih banyak yang ngobrol dan jalan-jalan, Nai tetap tenang di tempatnya mengerjakan yang diajarin oleh gurunya :)