Senin, 21 Desember 2015

Nilai Rapor Tetap Bagus Walaupun Tidak Belajar Saat UAS

 
Dari salah satu halaman di novel Sabtu Bersama Bapak

Nilai rapor tetap bagus walaupun tidak belajar saat UAS, mungkinkah? Mungkin aja karena itu yang dilakukan Keke dan Nai sejak 2 tahun terakhir ini. Mereka nyaris gak pernah belajar saat UTS dan UAS. Alhamdulillah, nilai-nilai di rapor mereka masih sangat baik. Hasil UAS mereka yang lalu masih bertaburan nilai 100 untuk berbagai mata pelajaran. Di rapor masih bertaburan angka 9, juga untuk berbagai mata pelajaran *pamer dikit, ah :p*

Tapi memang penting banget, ya, nilai-nilai bagus di rapor? Bukankah lebih penting attitude. Nilai rapor vs attitude seperti sebuah bahasan yang selalu meramaikan dunia maya di setiap musim penerimaan rapor. Chi tidak mendewakan nilai rapor. Tapi kalau ditanya mana yang lebih penting antara nilai rapor dan attitude, Chi sepakat dengan jawaban yang ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Chi pernah juga menulis tentang hal ini di postingan yang berjudul Buat Apa Sekolah? Di postingan yang lama itu juga ada pendapat ibu Susi Pudjiastuti yang Chi dapat dari berbagai portal berita. Beliau seorang yang cuma tamat SMP, tapi justru mementingkan sekolah bagi anak-anaknya. Ada penjelasannya di postingan tersebut.

Ketika saatnya masuk UTS/UAS, Chi suka ikut bikin status tentang musim ujian ini. Sebetulnya buat seru-seruan aja. Karena melihat beberapa ibu yang kelihatan ribet ketika anaknya sedang UTS/UAS hihihi. Kenyataannya, saat UTS/UAS, kami masih cukup santai, kok :)

Jangan Abaikan Ulangan Harian

Seorang teman pernah bercerita kalau ada seorang ibu di sekolah yang protes ketika anak ibu tersebut rankingnya kalah dengan anak teman Chi ini. Menurut ibu tersebut, nilai UAS anaknya nyaris sempurna untuk semua mata pelajaran. Sedangkan anak teman Chi nilai UASnya masih dibawah nilai anak ibu itu. Tapi kenapa di rapor, justru ranking anak ibu itu kalah?

Wali kelas lalu menjelaskan kalau nilai raport itu, kan, penggabungan dari nilai latihan, ulangan harian, UTS, dan UAS. Memang benar kalau nilai UTS dan UAS memiliki bobot terbesar dibandingkan nilai lainnya. Tapi tetap aja hasil akhirnya adalah penggabungan seluruh nilai.

Anak teman Chi untuk nilai ulangan hariannya selalu bagus. Berbeda dengan dengan anak ibu itu yang nilai ulangan hariannya turun-naik. Akhirnya, walaupun nilai UAS anak teman Chi itu biasa saja, tetap saja rankingnya bagus karena terbantu oleh nilai ulangan harian dan juga latihan.

Bersyukur teman Chi bercerita tentang ini, jadi Chi mulai memperhatikan cara perhitungan nilai. Iya, kadang Chi suka luput sama hal seperti ini hehehe. Dan, setelah diperhatiin, memang benar apa yang teman Chi bilang. Walaupun bobot UTS/UAS lebih besar, tapi karena nilai di rapor adalah menggabungkan berbagai nilai maka jangan diabaikan.

Penting untuk Paham Tipe Belajar Anak

"Keke dan Nai, sih, memang udah pinter. Jadi, gak perlu belajar juga nilainya tetap bagus. Coba kalau Tina *bukan nama sebenarnya*, harus dibantu sama bimbingan belajar," ujar salah seorang yang Chi kenal sangat dekat.

Chi awalnya tersenyum. Alhamdulillah kalau memang Keke dan Nai dianggap anak pintar. Kemudian Chi menjelaskan kalau mereka juga berusaha. Apa yang mereka dapat hari ini, gak semata-mata turun dari langit.

Mengenai bimbingan belajar, menurut Chi gak jadi jaminan sukses. Dulu, saat Chi SMA pernah ikut bimbel. Tetap aja NEMnya hancur apalagi pelajaran matematika hahaha. Gak lolos juga di smeua PTN yang dipilih. Saat ini juga ada teman yang anaknya gonta-ganti bimbel tapi nilai pelajarannya belum memuaskan. Apakah itu artinya bimbel bukan solusi yang baik? Belum tentu juga. Chi gak anti bimbel, kok. Kalaupun Keke dan Nai saat ini tidak ikut bimbel karena merasa belum perlu. Buat Chi, lebih utama memahami tipe belajar anak terlebih dahulu.

Keke yang tipe belajarnya auditori mungkin lebih diuntungkan dalam kegiatan belajar di sekolah daripada Nai yang tipe belajarnya visual. Cukup dengan mendengarkan apa yang diajarkan guru, Keke sudah bisa cepat menangkap. Kekurangannya adalah kalau gurunya tidak paham dengan tipe belajar ini disangkanya Keke gak perhatiin. Karena kadang pandangannya kemana-mana seperti fokus ke arah lain. Atau bahkan suka mengganggu temannya. Padahal sebetulnya kupingnya sedang mendengarkan apa yang diajarkan guru di kelas. Dan Keke senang dengan guru yang gaya belajarnya suka bercerita.

Nai yang tipe belajar visual memang sedikit agak ribet. Karena hampir semuanya harus digambarkan dan dibayangkan olehnya. Makanya, Chi gak kaget ketika Nai sempat keteteran mengejar pelajaran matematika. Karena semua harus dia bayangkan. Salah seorang gurunya juga pernah mengatakan kalau untuk pelajar IPS dan PKn, Nai sedikit lambat menangkap bila dibandingkan Keke saat kelas 4. Chi, sih, gak tersinggung dibandingkan seperti itu. Karena setelah berdiskusi, ternyata gurunya kurang banyak menjelaskan dengan cara menggambar.

Berdiskusi dengan guru memang penting. Supaya saling mengerti. Syukur-syukur kalau guru juga mau menyesuaikan dengan tipe belajar anak murid. Eits! Tapi jangan juga memaksa, lho. Karena Chi merasakan sendiri mempunya 2 anak dengan tipe belajar yang berbeda itu berarti mikirnya juga harus double. Kalau dalam 1 kelas setidaknya ada 20 murid dengan tipe belajar masing-masing. Kebayang, kan, bagaimana ribetnya? :D Itulah kenapa Chi juga belum merasa butuh bimbel untuk Keke dan Nai. Masih bisa berkomunikasi dan bekerja sama baik dengan para pengajar di sekolah.

Belajar yang Benar di Sekolah kalau di Rumah Mau Santai

Bunda: "Mau belajar lagi di rumah, gak?"
Keke/Nai: "Enggak"
Bunda: "Kalau begitu, kalian harus belajar yang benar di sekolah. Waktunya belajar harus belajar. Jangan main-main. Kalau ada yang gak ngerti langsung tanya. Kalau masih belum ngerti juga, baru tanya Bunda."

Ya, walopun sesekali Chi masih dapat laporan kebanyakan ngobrol di sekolah, terutama buat Keke, tapi mereka memang benar-benar membuktikan kalau di sekolah itu belajar. Darimana Chi tau kalau mereka memang belajar? Tentu dari laporan guru salah satunya. Yang berikutnya adalah dari nilai.

Tentang nilai, Chi selalu bilang kalau mereka sudah mengerti pelajarannya maka nilai yang didapat seharusnya bagus. Kalau nilainya ternyata gak bagus, berarti harus dicari penyebabnya. Kalau penyebabnya karena belum mengerti maka cari tau dimana bagian gak mengertinya. Atau jangan-jangan mereka berbohong. Bilangnya mengerti padahal sebetulnya cuma untuk menghindari disuruh belajar. Pada akhirnya akan kelihatan juga dari nilai.

Karena Chi udah sering menemani mereka belajar, sebetulnya akan ketahuan kok dari bahasa tubuh mereka. Bagusnya lagi, Keke dan Nai terbiasa dengan berkomunikasi terbuka dengan orang tuanya. Kalau ada yang gak ngerti, seringkali mereka duluan yang ngomong sebelum ditanya.

Belajar dengan Santai Lebih Mudah Menyerap

Oke, Chi memang kadang masih ada sikap kurang sabarnya. Tapi Chi juga merasakan perbedaan antara mengajarkan anak dengan marah-marah dan santai. Beneran bikin cape hati, deh. Mending kalau abis ngomel trus hasilnya nilai anak-anak bagus. Etapi gak mending juga, ding. Chi suka mikir di pojokan, kalau diomelin itu gak enak. Kalau dibalikin ke diri sendiri, mana nyaman belajar sambil diomelin. Melakukan apapun kalau sambil dimarahin walaupun memang salah itu gak enak kalau abis diomelin.

Tapi, Chi tetap melakukan teguran kalau mereka gak mau juga belajar. Padahal aat itu Chi tau mereka harus belajar. Taunya harus belajar itu dari evaluasi nilai pelajaran. Di lihat aja mana yang paling lemah. Itupun untuk satu mata pelajaran aja belum tentu semua materi mereka lemah. Pokoknya tentukan prioritas mana yang harus lebih belajar lagi.

Beri Kepercayaan dan Belajar Bertanggung Jawab

Beberapa kali Chi menyuruh mereka untuk belajar, tapi tetep aja merenya nyantai. Eeerrgghh! Gregetan banget rasanya. Padahal Chi tau ada materi yang harus mereka pelajara lagi. Ya, Chi memang sempat mengomel kalau keadaannya kayak gitu. Tapi kemudian Chi tegaskan kalau semuanya kembali ke mereka.

Kalau Keke atau Nai lagi susah disuruh belajar dengan segala alasannya, Chi cukup bilang, "Terserah. Bunda lihat hasilnya aja dan sudah tau konsekuensinya, kan?" Biasanya kalau mereka gak mau belajar karena lagi malas, suka langsung bangkit kalau Chi udah ngomong kayak gitu. Tapi kalau mereka menolak belajar karena yakin sudah bisa, mereka akan bilang, "Tenang aja, Bundaaa .." :D

Ya, Chi kasih mereka kepercayaan untuk menentukan mau belajar atau tidak. (Sekali lagi) Chi mulai cape untuk bersikap tegang saat waktunya ujian. Etapi gak tegang-tegang amat, sih. 3 tahun lalu Chi pernah bikin postingan yang berjudul "UAS? (Gak) Deg-Degan Tuuuhhh ..." Di postingan itu Chi kasih tip supaya gak terlalu deg-degan menghadapi UAS (dan UTS). Memang terbukti bikin Chi gak (terlalu) deg-degan. Tapi emang gak ada puasnya, Chi masih pengen mengurangi rasa deg-degan saat UTS/UAS. Karena rasa deg-degan akan berimbas ke mulut yang gak berhenti ngomel hehehe.

Ya, udah 2 tahun ini Chi lebih santai ketika anak-anak sedang pekan ulangan, UTS, dan UAS. Itu artinya Keke dimulai sejak kelas 5, sedangkan Nai sejak kelas 3. Memasuki kelas 5, Chi anggap Keke sudah bisa diajak untuk mandiri dalam hal belajar. Tadinya, Nai belum Chi ikutkan. Tapi dia terpengaruh kakaknya dan ternyata dia juga udah sanggup mandiri.

Caranya dengan melakukan poin-poin yang Chi tulis di atas. Banyak aja poinnya, ya? Atau ribet? Hmmm ... yang jelas menurut Chi segala sesuatu memang butuh proses. Kalau sekarang Chi dan anak-anak bisa bersantai-santai padahal lagi musim ujian itu karena sudah melewati beberapa proses.

Dulu Chi juga selalu mewajibkan mereka untuk belajar. Terlepas dari apakah mereka sudah mengerti atau belum. Itu karena Chi masih mempelajari tipe belajar mereka. Lagipula dulu mereka kan masih anak-anak banget. Masih harus diingatkan untuk disiplin. Masih harus belajar banyak tentang yang namanya tanggung jawab.

Kalau sekarang mereka sudah mulai bisa diajak bertanggung jawab. Kalau ternyata nilai mereka kurang memuaskan karena kurang belajar, mereka sudah tau dan bisa menerima konsekuensinya. Pengurangan jam bermain adalah konsekuensi yang harus mereka terima.

Sampai saat ini konsekuensi pengurangan jam main masih efektif. Siapa juga, sih, yang pengen dikurangi jam bermainnya? Apalagi buat anak-anak bermain adalah dunia mereka. Jadi daripada harus terima konsekuensi pengurangan jam bermain, mendingan mereka belajar dengan benar ketika waktunya belajar. Kalau masih gak ngerti, mereka akan aktif bertanya. Dan, sampai saat ini alhamdulillah berhasil :)

Sebetulnya Chi belajar dari pengalaman juga, sih. Dulu selalu belajar dengan cara SKS (Sistem Kebut Semalam). Gak ada yang marahin karena orang tua, kan, dua-duanya kerja. Tapi puyeng sendiri karena baru heboh belajar menjelang ujian. Kalau di rapor gak masuk 10 besar, baru kena omelan hehehe. Chi gak mau anak-anak seperti itu, apalagi materi pelajaran makin lama makin berat dibanding zaman Chi sekolah. Tapi kalau dengan cara dicicil ternyata mereka bisa tetap berprestasi, tuh. Malah sambil santai belajarnya. Dan dengan santai begini, mereka tetap bisa tidur cepat. Pagi-pagi bangun dengan pikiran dan tubuh segar, deh :)

Justru kalau udah santai begini yang harus Chi lawan adalah ego dari diri sendiri. Kadang kalau melihat hasil ulangan anak gak 100, Chi suka berkata, "Coba belajar, ya. Mungkin nilainya bisa lebih bagus." Padahal itu nilainya udah 9 koma sekian. Emang manusia, ya. Gak ada rasa puasnya hehehe. Berkali-kali Chi harus mengigatkan diri sendiri untuk tidak mementingkan ego. Selalu bersyukur dnegan pencapaian anak selama mereka masih berusaha. Untungnya anak-anak juga suka mengingatkan bundanya :)

Yuk! Kita santai! *Sekarang, saat UTS/UAS deg-degannya adalah periksa alat tulis. Jangan sampe ada yang hilang* :D

post signature

40 komentar:

  1. Hihiii, udah keduluan mba Myra nih, tapi beda angle sih nulisnya.

    Anak2 juga nggak belajar tekun pas UAS, malah si bungsu bikin animasi. Alhamdulillah ,nilainya masih bagus. Bhs Perancisnya malah 87, bhs Indonesia malah kalah 2 poin ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau pada bagus, ya :)

      Hapus
  2. Anakku bukan termasuk anak "SKS". Malah jika besoknya UTS, kasian anak2 kl harus belajar keras di mlm harinya. Malam sebelum UTS esok harinya seharusnya jd malam refreshing biar besok hepi ngerjain soal2nya.

    BalasHapus
  3. Sepakat, Mbak! Anakku yang udah SD juga nggak aku ajak belajar kalau mau ujian. Udah aku tulis juga di postinganku, alhamdulillah dia apat nilai rata-rata yang outstanding dari sekolahnya. Aku juga gak mau ngajarin anak untuk "tertekan" di masa-masa ujian. Biarin aja dia relaks dan tenang seakan2 pas sekolah kayak menjalani hari2 biasa. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kasian juga dipikir-pikir kalau anak sampai tertekan, ya

      Hapus
  4. Dulu pas sekolah, aku belajarnya nyicil, karena diawasi orangtua. Ndilalaaaa, pas ngekost, malah bablas belajar pas mau ujian aja, mbak. Kerasa kok bedanya. enakan yang belajarnya dicicil :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bener. Saya juga belajar dari pengalaman :)

      Hapus
  5. salut mak, justru kalo santai anak cepat nyerap pelajaran di sekolah/rumah ya karena ga ada tekanan dr ortu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama lah, kita juga kalau snatai malah nayaman, kan

      Hapus
  6. Emang klo belajarnya nyicil lebih enak ya mak pas mo UAS tgl di review dikit2 aja biar fresh lg

    BalasHapus
  7. ingat deh..dulu pas Sekolah suka belajar samapai malam..dan vbangun subuh untuk menghafal... tapi nilai biasa aja..he2

    BalasHapus
  8. setuju banget mbak, lebih penting belajar sehari-hari dengan santai dan tanpa tekanan, hitung2 nabung juga buat kalau ada ulangan dan UTS/UAS. Saya juga nerapin hal yang sama, malah kalau mau ujian mereka tetap main secukupnya, jadi nggak sistem kebut sehari hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata nabung gak cuma tentang uang, ya. BElajar pun harus nabung. Manfaatnya berasa :)

      Hapus
  9. Metode pembelajaran yang pas banget ini dengan gaya anakku hehehe.
    Chi Toss dulu ah, pas SMA matematika itu emang bikin keki ah hahahaha tapi untung aku masuk Akuntansi pas kuliah jadi bisa sobatan eh baekan sama matematik ini :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. toss! Akuntansi justru musuh saya sampe sekarang, Mbak hahaha

      Hapus
  10. Waah makasih tipsnya Chi, anak2ku masih perlu ditemani belajarnya, masih kelas 1 & 2 SD.

    BalasHapus
  11. Saya mah ga bisa sistem SKS. mesti endingnya buruk.hehe

    BalasHapus
  12. Hehehe, setuju mba. Sayapun dulu kalo ujian akhir nggak pernah belajar, soalya saya ngerasa ujian itu yaa sebagai ajang menilai diri tentang apa yang diajarkan :D Kalau nilainya jelek, berarti saya nggak ngerti sama pelajarannya. Kalo bagus, ya Alhamdulillah :D

    Tapi kayaknya nanti anak-anak saya mah mau diajarin tips dari mba ah, biar bagus terus gitu ujian akhirnya walo nggak belajar :D

    BalasHapus
  13. Jadi inget pas jaman sekolah dulu, Mba. Saya tipe anak yg SKS jadi kalau mau hari H suka melek sampai pagi hahahhaha.
    Dari tulisan ini, mmg tiap anak berbeda dan cara belajarnya jg berbeda ya.

    BalasHapus
  14. Sepakat, Mak..Khalil Sudah mulai saya lepas belajarnya. Meski untuk beberapa pelajaran tertentu semisal SKI masih didampingi, susyah Katanga..hehehe

    BalasHapus
  15. Mba cha,huhu 9 koma itu susah kan yah, cerdas ... Wah bisa buat saya nanti nih yah hehe

    BalasHapus
  16. Sama kayak adikku, gak keliatan belajar tp nilainya bagus2. Aku heran sama anak2 jaman sekarang hihi
    Selamat ya buat Keke dan Nai.. sekarang udah liburan, asik bgt ya..

    BalasHapus
  17. Uwwaahhhh, moga2 Fylly bisa ngikutin semuanya ntr.. dan semoga aku bisa tekun ngedampingin dan ngajarin anak :).. Dgr2 memang mata pelajaran jaman skr lbh susah dr kita dulu ya mba... tp aku blm prnh liat dgn mata kepala sendiri sih.. jd blm tau sesusah apa pelajaran skr... Tp memang nyicil belajar itu slalu lbh bgs.. akupun dulu belajarnya bgitu :D

    BalasHapus
  18. wah ini yang hebat anaknya apa orang tuanya? saya selama ini selalu marah kalau anak pada saat UTS atau UAS meles belajar dengan mengatakan kalau tidak belajar nanti nilainya buruk dan lain sebagainya...

    BalasHapus
  19. Hai mba. Kalau anakku sehabis pulang sekolah selalu minta belajar. Tentu sebelumnya dia main dulu. Hihii Alhamdulillah. Makasih sharingnya, mbaa.

    BalasHapus
  20. Wah, pas zaman2 sekolah aku juga dilarang belajar pas UAS sama ibu, katanya sih biar tenang dan gak gelagapan pas menjawab ujiannya. Jadi terharu nih, pas banget lagi di hari ibu. Makasih atas nostalgianya, Mba. :')

    Salam kenal,
    http://penjajakata.com/

    BalasHapus
  21. Nah itu dia sepakat banget..

    Aku dr dulu menerapkan pola belajar sama oluve ya nyicil.
    Jadi pas waktunya uas ato uts bisa kongkow, nyante2.
    Yang penting harus dijaga kesehatannya, coz dg sehat kita bisa melakukan apapun termasuk mempersiapkan ujian.

    BalasHapus
  22. Anakku belom SD, jadi belum ngerasain deg-degannya pas mau UTS/UAS :)

    BalasHapus
  23. Wahhh,,,hebat...mungkin hasilnya akan maksimal kalau sebelumnya ada persiapan..

    BalasHapus
  24. harus cari cara ya untuk bisa mengerjakan soal2 UAS

    BalasHapus
  25. Dulu ei diasuh mama dengan metode ulur-tarik. Ei dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri setelah mama menjelaskan opsi2 dalam mengambil keputusan dan masing2 konsekuensinya. Termasuk opsi dan konsekuensi belajar nyici atau sks. Dan ei sepakat dengan ayahnya 3K untuk menggunakan metode yg sama. Alhamdulillah hasil belajar 2K (yg bungsu masih PG) tidak mengecewakan ;-) .

    BalasHapus
  26. pentiiing nih untuk pastikan kalau mereka bisa memahami pelajaran dengan baik...kalau belajarnya santai biasanya hasilnya lebih oke ya mba..kalau di sini reading list anak-anak yang banyaaak

    BalasHapus
  27. Ada yg sama : "kalau mau santai di rumah (main game, seriuslah dan konsen full di sekolah.
    Anak pertama dah jago mempraktekkannya. Yg kedua, masih on going.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge