Senin, 27 April 2015

Untuk Ayah yang Luar Biasa - Manfaat Kedekatan Ayah dengan Anak

Bunda: “Yah, kenapa sih, Ayah dulu suka ikut mandiin anak-anak waktu mereka masih bayi?”
Ayah: “Namanya juga ayahnya. Masa’ gak boleh mandiin?”
Bunda: “Iiihh, bukan gak boleh. Bunda malah seneng banget. Cuma kayaknya Bunda belum pernah sekalipun tanya kenapa.”
Ayah: “Ya, jawabannya itu tadi.”
Bunda: “Iya, sih. Cuma, bagi kebanyakan orang mungkin aja kurang umum kalau seorang ayah pake ikut terjun ngurusin anak. Apalagi mandiin anak-anak.”
Ayah: “Mungkin karena mereka gak tau caranya atau takut.”
Bunda: “Begitu, ya. Hmm… Bisa jadi, sih. Kok, Ayah tau caranya? Atau gak takut? Kan, Ayah juga waktu itu gak punya pengalaman ngurus anak?”
Ayah: “Tapi bisa dipelajari, kan?”
Bunda: “Iya, sih.”

Ketika Keke dan Nai masih bayi, yang selalu memandikan mereka setiap pagi memang ayahnya. Chi hanya bertugas menyiapkan segala kebutuhan perlengkapan mandi anak-anak. K’Aie bisa memandikan mereka setiap pagi karena jam kerjanya fleksibel. Setiap pagi, yang selalu K'Aie lakukan adalah menyuapi dan memandikan anak-anak, setelah itu baru berangkat ke kantor.

Tentu aja Chi seneng banget K’Aie mau terjun langsung mengurus anak-anak. Gak cuma sekedar memberi nafkah. Dan, saking senangnya, Chi sampe gak pernah bertanya kenapa K’Aie sampe mau ikut turun tangan langsung mengurus anak. Ah, maafkan Bunda yang gak pernah bertanya, ya, Yah ;)

Ngomong-ngomong tentang mandiin bayi, yang K’Aie lakukan gak cuma sekedar cibang-cibung trus selesai. Tapi dari mulai membuka baju, mandiin, hingga memakaikan baju, K’Aie selalu melakukan sambil mengajak Keke dan Nai ngobrol dan becanda. Gak heran kalau mereka selalu tertawa-tawa kalau lagi mandi. Sebelum mandi, dipijat sejenak supaya rileks. Setelah mandi dan dikeringkan badannya, kembali dipijat sejenak. Kalau udah beres hingga berpakaian, baru diserahin ke bundanya untuk disusui.

 Waktu anak-anak bayi, setelah mandi dan di kasih ASI, suka langsung pada tidur. Enak kali, badan segar sehabis mandi, rilek setelah dijitin, trus perut kenyang. :)

Masuk usia batita, momen dimandikan sama ayah juga paling ditunggu sama Keke dan Nai. Karena cuma ayah yang berani bikin Keke dan Nai 'terbang' setelah mandi. Mereka anak ketawa-tawa kegirangan :D

Manfaat Bagi Seorang Anak Apabila Ayah yang Memandikan

19 Maret 2015, Chi hadir di acara re-launch produk Zwitsal Classical Baby Bath dan Zwitsal Classical Baby Shampoo. Acara yang diselenggarakan di hotel DOUBLETREE by Hilton Hotel, Jakarta Pusat, bertema "Suamiku, Ayah Luar Biasa." Menjelaskan tentang berbagai manfaat bagi seorang anak, apabila ayahnya ikut berperan aktif khususnya ketika memandikannya saat masih bayi. Menghadirkan 3 narasumber, yaitu Dr. Anne Garcia (Neuroscience Expert), Rika Sandi (Brand Manager Zwitsal, Indonesia), dan Dian Sastrowardoyo (Zwitsal Brand Ambassador).


Menurut Rika Sandi, Brand Manager Zwitsal Indonesia, kampanye “Suamiku, Ayah Luar Biasa” didasari dari hasil survey yang dilakukan oleh Zwitsal kepada para ibu. Berdasarkan hasil survey, 21% para ayah itu selalu membantu ibu dalam mengurus anak. Dari 21% tersebut, 60% para ayah berperan aktif cuma untuk menggendong anak saja. Hanya 9% ayah yang mau memanndikan anak. Padahal memandikan bayi adalah proses terkomplit untuk menstimulasi bayi.

40% ayah beralasan enggan memandikan bayi karena takut dan 29% karena tidak tau bagaimana cara memandikannya. Ketakutan para Ayah umumnya karena khawatir tangan kasarnya akan menyakiti bayi. Zwitsal classic baby bath dan sampoo menjawab kekhawatiran para ayah. Produk ini mempunyai formula ekstra lembut, PH Balance, bisa menjaga kelembaban alami kulit bayi, dan telah teruji hypo-alergenic. Jadi, para ayah gak perlu khawatir lagi akan menyakiti bayi. Ayah tetap bisa menghadirkan momen mandi ceria bersama si kecil.

Selama acara berlangsung, gak henti-hentinya Chi mengucap rasa syukur. Selama ini, Chi selalu berpikir kalau mandi hanyalah untuk menjaga kebersihan. Gak jadi masalah siapapun yang memandikan. Walopun Chi seneng banget kalau K'Aie mau bantuin memandikan anak-anak. Sesederhana itu yang Chi pikir dan rasakan.

Ternyata proses memandikan bayi tidak hanya sekedar untuk menjaga kebersihan. Ada manfaat besar yang bisa didapatkan oleh anak, terlebih apabila ayah mau memandikan. Makanya, Chi terus bersyukur sepanjang acaranya. Karena seandainya K’Aie gak pernah ikut aktif, mungkin ada sedikit rasa penyesalan ketika Chi ikut acara tersebut. Rasanya pengen anak-anak jadi bayi lagi dan meminta K’Aie memandikan mereka. Tapi, gak mungkin juga kita memutar waktu, kan?

Sudah atau sedang menjadi suami siaga? Suami siaga adalah para (calon) ayah yang selalu siaga menemani dan menjaga istrinya saat hamil hingga melahirkan. Trus, sesudah istri melahirkan, selesaikah peran suami menjadi suami siaga? Sebaiknya jangan, ya. Ayah juga sebaiknya turut serta berperan aktif dalam pengasuhan ana dengan kata lain menjadi Ayah Siaga.

Tapi, bukankah seorang ayah kewajibannya bekerja mencari nafkah? Cape dong kalau harus ikut aktif mengurus anak juga.

Iya, benar kalau kepala rumah tangga memang berkewajiban mencari nafkah. Tapi, ayah yang ikut berperan aktif dalam pengasuhan anak itu manfaatnya sangat besar bagi tumbuh kembang anak, lho. Bahkan untuk masa depan si anak kelak.

“Kita tidak bisa hanya menunggu output akhir. Kalau mau anak kita menjadi anak cerdas, anak pintar, anak santun, anak hebat, itu semua output,” tandas Dr. Anne Garcia, Neuroscience Expert. Zaman sekarang ini banyak orang tua instan yang selalu ingin tau hasilnya terlebih dahulu. Padahal semuanya butuh proses. Ketika kita berharap anak bisa berkomunikasi baik dengan orang tua saja butuh proses karena gak mungkin juga dari lahir anak bisa langsung berbicara seperti layaknya orang yang sudah lancar berbicara.

Ada yang namanya priramida kematangan saraf dan fungsi otak. Sebaiknya memang dibentuk sejak bayi dalam kandungan. Tapi, anggap aja pembaca blog ini para suaminya adala tipe ayah siaga semua *Semoga begitu, ya*. Jadi, sekarang kita fokuskan sejak bayi dilahirkan.


Kalau melihat Pyramid of Learning di foto atas, seringkali orang tua hanya ingin lamgsung melihat ujung puncak dari kematangan anak manusia. Orang tua ingin mengejar dan menargetkan supaya anak mempunyai kecerdasan emosi dan kognitif (ada di puncak pyramid), padahal di bagian dasar ada 7 dasar kecerdasan yang kadang luput dari perhatian. Ketujuh dasar kecerdasan yang harus dimulai sejak bayi lahir adalah sebagai berikut:

1. Taktil

Taktil berarti elusan, rabaan, dan segala kegiatan yang berkaitan dengan indera peraba. Umumnya orang berpikir kalau urusan sentuhan kepada anak adalah urusan ibu. Karena ibu sudah dianggap dengan sosok yang penuh kelembutan.

“Berdasarkan pengalaman saya, laki-laki takut menyentuh anaknya mungkin karena takut kekerasan karena merasa lebih kuat. Sedangkan ibu lebih lembut. Sedangkan yang dihadapi adalah anak yang masih butuh kelembutan.” Begitu pengakuan Irgy Fahrezy, moderator acara tersebut, berdasarkan pengalaman pribadinya.

Menurut Dr. Anne, proses terpenting dari bayi yang baru dilahirkan adalah identifikasi. Anak harus belajar identifikasi yang lengkap dan utuh. Anak belajar kelembutan dari ibu. Sedangkan dari sentuhan ayah, anak belajar ketegasan bukan kekerasan.

Banyak ayah yang khawatir ketika menyentuh bayi dan kemudian bayinya menangis. Para ayah merasa tangannya yang kasar sudah menyakiti bayinya. Padahal tangisan bayi tersebut bukan karena merasa disakiti, lho. Bayi mungkin saja kaget dengan sentuhan yang berbeda lalu menangis. Tapi tangisan tersebut juga bisa sebagai ungkapan ‘I love you’ kepada ayah. Karena berkat sentuhan tangan ayah yang tegaslah yang membuat seorang anak merasa memiliki seorang pelindung.

2. Propioseptif

Propioseptif adalah gerak antar sendi. Persyarafan manusia tidak hanya di permukaan kulit, tapi juga ada di persendian. Persyarafan di sendi yang berhubungan dengan kendali otak juga harus mendapatkan stimulasi.

Ayah suka memijat bayi? Umumnya pijatan ayah itu tekanannya lebih mantap dari ibu. Dan disadari atau tidak, seorang ayah cenderung memijat dibagian persendian. Coba, deh, para istri perhatikan kalau suaminya menyentuh. Biasanya akan menggandeng istrinya di pergelangan tangan, siku, atau bahu pasangannya. Begitu juga ketika ayah memijat bayi, cenderung di area persendian.

Manfaat terbesar yang akan dirasakan ketika bayi dilakukan pemijatan di area persendian, kelak akan membantunya melakukan berbagai kegiatan di bagian persendian, misalnya menulis. Dengan stimulus tersebut, otak anak akan mempunyai persiapan mengendalikan tubuhnya untuk mengenali setiap area persendian.

Kalau kita ingin punya anak yang pintar menulis (begitu juga dengan kecerdasan membaca), cikal bakalnya adalah stimulai di bagian persendian. Pintar menulis jangan langsung diartikan kelak si anak harus menjadi seorang jurnalis atau penulis novel, ya. Tapi, setiap manusia memang harus bisa menulis, kan? Ketika masuk sekolah saja anak sudah belajar menulis. Kecerdasan menulis nantinya akan terhubung juga dengan berbagai kecerdasan lainnya.

3. Vestibular

Vestibular adalah keseimbangan dan letaknya di balik telinga. Keseimbangan di daerah telinga berhubungan dengan pendengaran. Seperti halnya stimulus taktil, anak juga harus mendengarkan frekuensi suara yang komplit. Suara ibu yang lembut tapi cenderung tinggi kalau sedang tegang. Brbeda dengan dengan suara ayah yang berat dan membuat nyaman.

“Ah, saya selalu lemah lembut ke anak, kok”

Yakin kalau kita (para ibu) selalu lemah lembut ke anak? Karena umumnya, selembut-lembutnya seorang ibu, suaranya cenderung meninggi ketika sedang tegang dan lelah. Suara ibu yang meninggi ketika sedang tegang itu sangat tidak ramah untuk pendengaran anak.

Kenapa suara yang meninggi sangat tidak ramah terhadap pendengaran? Karena pada pendengaran ada area dimana rumah siput di belakang gendang telinga akan menangkap frekuensi yang lebih rendah dan juga lebih tinggi. Untuk bayi dan anak, apabila mendengar suara yang menentramkan, rumah siputnya akan melingkar yang menandakan telinganya rileks. Sedangkan bila mendengar suara yang meninggi rumah siput akan agak terbuka. Rumah siput yang terbuka menandakan otot dan pembuluh darah di sekitar area telinga sedang tegang dan membutuhkan kerja yang ekstra keras. Itulah kenapa anak butuh mendengar frekuensi suara yang seimbang. Agar dia merasa hidupnya nyaman.

Hmm… pantesan aja kalau Chi sedang ngomel, anak-anak seperti kurang mendengarkan. Mereka lebih nurut kalau ayahnya yang udah kasih nasehat. Makanya, Chi sekarang kalau lagi cape banget, suka meminta K’Aie yang nasehatin anak-anak.

4. Auditori


Auditori atau pendengaran berhubungan dengan vestibular. Pernah gak kita perhatiin kalau sekarang ini banyak anak yang cenderung aktif sekali? Menghadapi anak yang sangat aktif, ternyata solusinya bukanlah dengan cara mengkerangkeng alias membatasi gerak mereka. Anak menjadi sangat aktif karena memiliki gangguan keseimbangan di pendengaran akibat dari terlalu sering mendengarkan suara dengan frekuensi tinggi atau hanya 1 macam frekuensi. Solusinya adalah melakukan pijatan di daerah wajah dan telinga. Dan tentu saja mulai melakukan komunikasi yang seimbang.

5. Olfaktori

Olfaktori adalah penciuman. Pada dasarnya ada 3 kelengkapan dasar cara anak mengidentifikasi orang tua, yaitu sentuhan, suara, dan penciuman (bau tubuh ayah atau ibu). Sentuhan, suara, serta bau dari ibu atau ayah akan berbeda. Penting sekali bagi anak untuk merasakan perbedaan. Apabila anak mendapatkan 3 identifikasi dasar tersebut secara komplit sejak dini, maka hal tersebut akan menjadi bekal bagi anak untuk mencapai kecerdasan majemuk. Dan antara satu kecerdasan dengan kecerdasan lainnya sangat berhubungan seperti jaring laba-laba.


Masih ada 2 lagi dasar kecerdasan yang harus distimulasi, yaitu pengecapan (anak mengenal segala rasa yang masuk ke dalam mulut) dan visual (anak bisa distimulai dengan cara melihat kekompakan yang terjadi antara ayah dan ibu). 5 dari 7 kecerdasan dasar menuntut ayah untuk berperan aktif dalam memberikan stimulasi.

Cara Dian Sastrowardoyo menantang suaminya memandikan bayi


Udah pada tau dong sama Dian Sastrowardoyo? Artis cantik yang sudah memiliki 2 anak ini juga menjadi Brand Ambassador dari Zwitsal. Dibalik kesibukannya, untuk urusan pengasuhan anak, Dian dibantu oleh asisten.

“Tapi, kalau bikin PR, tidur, sama mandi sore itu biasanya sama Aku. Jadi, ada balance gitu, deh,” ujar Dian Sastrowardoyo.

Walopun dibantu seorang asisten/suster, personal assistant yang terbaik tentu saja seorang suami. Dian memaklumi kesibukan suaminya bekerja. Tapi, ketika weekend tiba, dia meminta suaminya dengan cara memberikan tantangan untuk memandikan putra dan putri mereka saat masih bayi.

Suaminya menyanggupi tantangan tersebut. Setelah semua perlengkapan mandi disiapkan oleh Dian, suaminya tinggal memandikan. Ketika suaminya sedang memandikan anak-anak, Dian selalu berada di samping untuk meng-guide dan juga menenangkan apabila suaminya mulai terlihat agak panik saat memandikan bayi.

Menurut Dr. Anne, apa yang dilakukan oleh Dian dan suaminya itu akan terekam di memori anak-anak mereka. Anak mendapatkan stimulasi taktil dari ayah melalui sentuhan saat memandikan. Anak distimulai visualnya ketika melihat bagaimana ekspresi ayah dan ibunya saat bekerja sama. Anak juga mendapatkan stimulasi auditori dengan cara mendengarkan komunikasi antara ayah dan ibunya saat bekerja sama. Hal tersebut akan menjadi bekal dasar bagi anak dalam hal berkomunikasi. Walopun kedepannya nanti akan ada pengaruh komunikasi dari luar, tapi utamanya pendidikan dasar berkomunikasi adalah dari rumah. Dian Sastro pun mengakui kalau sejak suaminya mau ikut berperan aktif mengurus anak-anak, putra dan putri mereka menjadi lebih koperatif.

Dari cerita Dian, terlihat kalau suaminya masih perlu dibimbing ketika memandikan bayi. Lalu, bagaimana dengan para ayah yang sudah berani memandikan bayi sendiri? Apakah akan memberikan manfaat yang sama?

Pada dasarnya, anak itu butuh pembeda. Sentuhan seorang ayah yang menggunakan otot lebih ke dalam bentuk menekan. Sedangkan sentuhan seorang ibu itu umumnya berupa sentuhan seperti mengelus. Bagaimana cara ayah dan ibu memegang bayi juga terasa berbeda. Tapi, masalah yang mungkin terjadi adalah dalam hal berkomunikasi. Biasanya para ayah suka mati gaya kalau harus berkomunikasi dengan bayi. Nah, usahakan deh mulai sekarang belajar berkomunikasi dengan bayi walopun bayi belum bisa membalas obrolan ayah. Tapi, bayi akan belajar bagaimana suara dan intonasi ayah ketika berbicara dengannya itu berbeda dengan ibu. Bayi akan merasakan sensasi yang berbeda.

Berbicara lagi tentang sentuhan, ketika bayi/anak sudah bisa merasakan perbedaan antara tekanan dan elusan maka susunan syaraf yang tadinya maish tidur bisa terbangunkan. Tubuh manusia mempunyai beberapa model syaraf yang berbeda, yaitu untuk temperature, tekanan, getaran, dan ulasan. Maka, perlu dibutuhkan perbedaan bentuk pijatan dan gerakan memijat.

Merasakan rasa pijatan yang berbeda antara ayah dan ibu, akan bermanfaat untuk masa depan. Anak perempuan yang tidak pernah merasakan sentuhan ayah ketika masih bayi, cenderung tidak bisa membedakan pegangan dari pria atau wanita. Anak sulit membedakan mana sentuhan dari orang tredekat atau yang sembarangan. Karena anak yang mendapatkan sentuhan komplit sejak bayi akan mengerti mana sentuhan yang berbentuk kasih sayang dan perlindungan dengan yang tidak. Dari sentuhan ibu, anak belajar kelembutan. Sedangkan dari sentuhan ayah, anak belajar ketegasan. Sehingga, di masa depannya nanti dia akan lebih bisa bersikap terhadap orang lain yang ingin menyentuhnya. Jadi, untuk para ayah, yuk mulai peduli untuk lebih dekat dengan anak-anaknya sejak mereka dilahirkan.

Pada sesi tanya jawab, Mbak Ani Berta bertanya tentang bagaimana apabila anak tidak mengenali sosok ayah sejak lahir. Menurut Dr. Anne, ada beberapa special case dimana mungkin saja anak tidak berkesempatan mengenali sosok ayah sejak lahir dengan berbagai alasan. Kalau keadaannya seperti itu, anak tetap harus mengenali sebuah perbedaan. Caranya adalah dengan meminta sosok laki-laki lain, seperti kakek atau pamannya untuk ikut berperan aktif.

Tuntutan bagi seorang ayah untuk ikut berperan aktif dalam hal pola asuh bukan berarti para istri tidak mengerti kesibukan ayah dalam hal mencari nafkah. Berperan aktif tidak harus dilakukan setiap hari, kok. Tapi, bisa dilakukan di saat sengang, misalnya weekend. Bagi anak, yang terpenting adalah kualitas. Walopun ayah hanya bisa mengurusnya saat libur kerja, asalkan dilakukan dengan berkualitas itu akan besar manfaatnya bagi anak.


Seusai acara, Chi menyempatkan untuk melakukan tanya-jawab lebih lanjut kepada Dr. Anne. Anak-anak sekarang umumnya sangat aktif yang bisa bikin pusing mengasuhnya. Penyebabnya adalah karena kurangnya keseimbangan pola asuh ayah dan ibu. Tapi, bagaimana dengan ayah yang sudah mau berperan aktif saat weekend, sedangkan di hari lainnya peran ibu tetap terasa lebih dominan dan (sayangnya) banyak berteriak? Setidaknya, ayah yan berperan aktif sudah ikut ‘mewarnai’ dalam perkembangan anak. Nanti pelan-pelan, frekuensi tinggi suara ibu juga mulai dikurangi.

Anak yang tidak mendapatkan pengasuhan lengkap, memang cenderung sangat aktif. Tapi, ada juga anak yang menjadi sangat pendiam walopun kemungkinannya lebih kecil. Pendiamnya anak yang kurang/tidak mendapatkan pengasuhan lengkap itu diam nya buka karena tenang. Tapi diam yang seperti menarik diri dari lingkungan. Dia karena takut dengan lingkungan sekitarnya.

Yuk! Para Ayah mulai lebih dekat lagi dengan anak-anaknya. Untuk para ibu, mulai kurangi deh ngomel-ngomelnya, ya. Apalagi masa emas kedekatan anak dengan orang tua di zaman sekarang ini lebih singkat dibandingkan zaman dulu. Kalau dulu, anak bisa dekat dengan orang tua umumnya hingga anak berusia 5 tahun. Tapi, kalau zaman sekarang, umumnya paling lama itu 2 tahun. Karena setelah itu, anak akan banyak berhubungan denga n orang lain. Akan mulai lebih banyak bersosialisasi. Banyak anak-anak zaman sekarang yang sudah mulai sekolah sedini mungkin. Jadi, waktu singkat yang ‘hanya’ 2 tahun tersebut, sayang banget kalau sampe disia-siakan. Selama 2 tahun pertama, dekatlah dengan anak semaksimal mungkin. Tapi, bukan berarti setelah lewat 2 tahun trus gak lagi dekat dengan anak, lho :D

Oiya, membacakan dongeng juga bagus banget buat anak. Apalagi buat anak yang gayanya auditori. Kalau sudah lebih besar, bacakan juga buku pelajaran. Sesekali gantian sama ayahnya, jangan ibu terus. Biar anaknya yang merasakan perbedaan. *Hmmm… Keke banget ini sih gaya auditori. Tapi, untuk urusan bacain buku pelajaran kayaknya Chi belum pernah gentian sama K’Aie. Wajib dicoba, saran dari Dr. Anne :D*

Tantangan sejuta menit Zwitsal

Kalau udah baca tulisan Chi di atas, kira-kira para ayah mulai mau ikut berpartisipasi mengurus anak, gak? Ibu-ibunya berani gak nih, kalau ayah ikut aktif mengurus anak? Kalau keduanya jawab iya, ikut “Tantangan Sejuta Menit Ayah Luar Biasa” dari Zwitsal, yuk! Hadiahnya keren banget, lho., yaitu Paket produk Zwitsal selama 1 tahun untuk 3 orang pemenang dan voucher Bilna senilai Rp 500,000 untuk masing-masing pemenang.

Kalau kayak gitu, bisa bikin istri makin cinta gak, sih? Kalau Chi sih iya. Gimana gak makin cinta kalau melihat suami yang mau terjun berpartisipasi aktif mengurus anak? Tuh terbukti juga kalau mau bikin istri seneng itu gak sulit sebenernya. Ikut bantuin ngurus anak, udah bikin istri tambah cinta. Udah gitu, kalau ikut lomba Zwitsal trus menang, hadiahnya produk selama 1 tahun! Wuiihh, coba kita berhitung, yakin banget bakal menguntungkan. *uang belanja langsung amaaann hehe*

Kalau perempuan gampang terharu sih udah biasa banget, ya. Tapi, kalau laki-laki gimana? Terharu gak, kalau kelak mendengar anak ngomong gini, “Who need a Superman, when I have my dad.” *Ugh! Ngebayanginnya aja udah terharu :)*

Jadi, ikut “Tantangan Sejuta Menit Ayah Luar Biasa” ya. Ditunggu sampai 24 Mei 2015. Tapi, jangan sampe mepet deadline ikutannya. Karena ada beberapa tantangan yang harus diikuti, lho.Kalau ayahnya masih enggan, tugas para ibu nih untuk kilik-kilik suaminya supaya mau berperan aktif. Sediakan perlengkapan bayinya. Pasti pada pengen dong bisa bilang, "Suami, Ayah Luar Biasa" :)

Biar semangat, kita lihat yuk bagaimana cara memandikan bayi di video ini :)


Sayangnya, K’Aie gak bisa ikut tantangan dari Zwitsal, nih. Keke dan Nai udah gede-gede. Nai aja udah mau 9 tahun usianya. Tapi, di mata Chi, dari dulu hingga sekarang (dan semoga nanti) K’Aie selalu jadi ayah yang luar biasa. Chi sangat beruntung memiliki K'Aie. I love you soooo much :L

Info lebih lanjut

Zwitsal

Website:  http://www.zwitsal.co.id/ayahluarbiasa/
Facebook Page: Zwitsal Baby Corner
Twitter: @zwitsal_id

post signature

63 komentar:

  1. Lengkap banget ilmunya Mbak Myra. Memang peran ayah gak bisa dipisahkan kok. Salah kaprahnya kan ayah yang cari uang Ibu yang asuh anak. Tfs ya Mbak. Aemoga semakin banyak ayah yang tersadarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Dani termasuk yang dekat dengan anaknya, nih :)

      Hapus
  2. dulu saya waktu masih punya bayi, masih takut2 buat mandiin. Apalagi kalo harus ngebalikin badan bayi

    BalasHapus
  3. Saya memang agak kurang dekat anak he he he
    Rasanya saya belum pernah memandikan anak-anak
    paling nggendong atau mbonceng sepeda motor doank
    Saya benar-benar seorang komandan
    Terima kasih tipsnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi sekarang dekat dengan cucu-cucu kan?

      Hapus
  4. Waah hebat ayahnya Kei n Nai
    Gak semua ayah bisa dan mau lhooo mandiin anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya semua berawal dari kemauan :)

      Hapus
  5. *manggut manggut*
    lengkap banget postingannya mak.. Alhamdulillah juga pak suami masih ngajalanin ritual mandiinya anak2. Dan terbukti banget bisa ningkatin bonding antara ayah dan anak. Disamping itu kan akunya juga seneng, mengurangi kerjaan aku, palingan tinggal siapin baju2nya after mereka mandi, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ayah deket sama anak, semua hepi, ya hihi

      Hapus
  6. semoga nanti kalau dah punya anak, saya akan ikut memandikan. ngebayanginnya sih seru jg. dan sepertinya saya tipe yang mau ikut cawe2 ngurusin anak, maksudnya semacam memandikan, memakaikan baju, dll. semoga :-)

    BalasHapus
  7. "awas kecengklak." ntuh kalimat yang buat saya parno duluan megang bayi, apalagi mandiin tapi beda kali ya kalau udah praktek langsung gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dipraktekin kan kita bisa belajar untuk hati-hati

      Hapus
  8. Lucu banget itu waktu bayi hihi jadi pengen cubit pipinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung sekarang udah bukan bayi lagi. Jadi gak kena cubit :)

      Hapus
  9. Masukkan untuk calon suamiku kelak. Uhuk. Makasih ilmunya, Mak. Mau aku cc in ke pacar :3

    BalasHapus
  10. Waktu anak saya, Aziza, masih bayi, saya sering mandiin. Begitu pula saat Fatih, keponakan saya, masih bayi (baru pulang dari rumah sakit lahiran) dan ibunya juga neneknya masih belum "berani" mandiin, saya yang mandiin Fatih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti banyak manfaatnya ya, Mas :)

      Hapus
  11. saat bintang lahir, yang berani memandikannya saya. istri saya ga berani... jadi sampai sekarang seringnya yang mandiin ayahnya terus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe jadi deket sama anak-anak, ya :)

      Hapus
  12. Tulisannya bikin inget kebiasaan papahku sama anak-anaknya yang suka bitbitin, alias cubit2in punggungnya sapai kita ketiduran. dan sampai sekarang turun ke cucu-cucunya... peran ayah memang penting banget ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mak. Oiya, semoga papahnya cepat sembuh, ya

      Hapus
  13. Sampai sekarang kadang-kadang Alvin masih dimandiin sama suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. seneng ya Lid kalau punya suami dekat dengan anak :)

      Hapus
  14. Kalo masih bayi banget suami agak takut juga, baru kalo udah setahunan dia berani. Tapi seringnya mandiin si sulung ya pas udah di atas 2 tahun sampai sekarang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak yang masih takut mandiin bayi, ya

      Hapus
  15. Hot papa itu yang rajin mandiin anak, bawa anak belaja, kalau jalan di mall dia yang gandeng

    BalasHapus
  16. nice share, mbak... btw, daddy is children's superman yaa :)

    BalasHapus
  17. Ah jadi kangen almarhum bokap, dulu beliau yg mandiin dan gantiin baju trus abis itu diajak ke pasar jalan2 beli makan burung trus sarapan

    BalasHapus
  18. Udi, suamiku, juga ayah luar biasa, Chi... bener2 bapak yang hands-on...karena telaten sekali me ngurusin anak-anak dari kecil hingga sekarang, terutama saat kami jauh dari tanah air..

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang bener-bener berasa banget nikmatnya kalau suami mau ikut mengasuh anak, ya :)

      Hapus
  19. Hebat banget ayahnya bisa mandiin bayi, suamiku nggak pernah. Itu yang foto atas sebelah kanan, Keke apa Nai? ndut banget ya hihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi yang penting anak-anak tetap dekat dengan anak-anak, kan :)

      Hapus
  20. kalo suami saya ga berani mandiin bayi :p palingan anak udah gedean udah jalan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kalau udah gede anak-anak tetep dekat sama anak. Karena itu pentng, Mak :)

      Hapus
  21. Kalao suamiku mlh blm pernah mandiin anak2 sejak mrk bayi hihihii... palingan liatin doang anak2nya dimandiin mak :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi yang penting tetap dekat dengan anak-anak, kan? :)

      Hapus
  22. Wah Makasih mak infonya, besok kalau sudah menikah dan punya baby ikut kasi tantangan sama calon suami ah. hehehehe

    BalasHapus
  23. Iya benar nih, yang ditakutkan itu menjadi dasar pemikiran rata-rata laki-laki soal mengurus "memandikan" bayi yang kulitnya masih halus dan lembut bgt hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga setelah ini, semakin banyak para ayah yang berani :)

      Hapus
  24. Wah, Alhamdulillah ya Bu punya pasangan yang enak diajak kerjasama dalam pengasuhan ^-^ Baru tahu tentang 7 kecerdasan & keterlibatan ayah ketika ikut memandikan anak sejak bayi ternyata ngaruh bwt si anak. Thanks sharing ilmunya, lengkap bgt *catet-catet* ^-^

    BalasHapus
  25. Ih, makasih banyak ilmunya mak myra, sangat bermanfaat... mau share ke suami ah, persiapan kalau nanti punya bayi.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga suami mau bantu memandikan, ya :)

      Hapus
  26. Lucuuuneee....pas bayi :*
    Tapi emang enak skrg ayah2 banyak yg mau turun tangan ya mbak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ayah zaman sekarang banyak yang mau turun tangan

      Hapus
  27. Lengkap bgt informasinya mbak Chi, terima kasih sudah berbagi. Ayahnya Kekenai hebat ya, semoga semakin banyak ayah luar biasa seperti itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. komplit biar yang baca bisa lengkap infonya :)

      Hapus
  28. suamiku belom pernah mandiin bayi mbak, gak berani, kalau gendong aja takut-takut gitu :D
    tapi anakku yang pertama sudah besar dimandiin sama suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. katanya umumnya para ayah memang masih takut mandiin bayi :)

      Hapus
  29. Belum bisa mempraktekkan nih mbak :D
    Nanti deh klo udah punya suami dan anak...hehe

    Tp, makasih banget informasinya, jd belajar juga.

    BalasHapus
  30. Alhamdulillah suamiku juga sering mandiin anak2 waktu bayi mbak. Kami mandiri sejak menikah. Jauh dari ortu dan tidak punya asisten irt

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak-anak juga dekat sama ayahnya, ya :)

      Hapus
  31. Terima kasih sudah berbagi kisah dan ilmu yg berharga mbak. Semoga semakin banyak ayah yg sadar perannya berdampak sangat besar bagi anaknya

    BalasHapus
  32. kalo saya emang jauh dari peran ayah, pas kecil dia sibuk uda gede malah pergi. semoga suami saya nanti bisa jadi ayah yg tidak cuma berpikir nyari duit doang. makasih makk ilmunya sangat bermanfaat :)

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge