Senin, 18 Agustus 2014

Pesantren Kilat Antara Terharu dan Cerita Lainnya


Pukul 1 siang, 2 bis yang membawa rombongan Keke, teman-teman, dan guru sekolahnya, berangkat menuju hotel Bukit Indah, Ciloto, Puncak. Mendadak rasa haru terasa. Chi langsung mengajak Nai masuk ke mobil untuk segera pulang. Berlama-lama di sana, bisa bikin mewek.

Rasa haru yang datang tiba-tiba itu bukan karena merasa kehilangan dan bakal kangen berat sama Keke. Tapi, Chi ingat protes Keke beberapa waktu lalu.

Keke: "Bunda kenapa, sih, gak pernah nemenin kalau Keke field trip?"
Bunda: "Kan, sekolah melarang orang tua atau siapapun menemani siswa, Ke."
Keke: "Tapi, mama temen-temen Keke banyak yang nemenin anaknya, tuh!"
Bunda: "Nanti kalau Keke ditemenin suka nempel sama Bunda terus."
Keke: "Enggak, lah. Kan, orang tua yang nemenin cuma boleh ngelihat dari agak jauh gitu. Gak deket-deket juga. Gak boleh kali sama sekolah."
Bunda: "Ya, terus ngapain juga ditemenin kalau gak boleh deket?"
Keke: "Gak tau, deh. Tapi, Keke pengen sesekali ditemenin Bunda kayak temen-temen Keke. Mau, ya, Bun?"
Permintaannya itu belum pernah Chi kabulin. Chi lihat, selama ini sekolah sudah cukup baik menjaga dan membimbing para siswa ketika field trip. Keke pun enjoy aja field trip tanpa didampingi orang tua. Jadi, memang rasanya gak perlu ditemenin orang tua.

Walopun begitu, tetap ada perasaan bersalah dan sedih di hati Chi. Mungkin aja Keke minta ditemenin karena merasa iri melihat beberapa temannya ada mamanya saat field trip. Tapi, sebagai orang tua, Chi merasa sesekali kita harus tega dan mengesampingkan rasa bersalah kalau alasannya tepat dan demi kebaikan anak.

Sama seperti field trip, orang tua pun dilarang untuk datang ke acara tersebut. Chi langsung ajak Keke ngobrol begitu tau ada beberapa orang tua yang akan datang ke lokasi kegiatan selama anak-anak ada disana. Chi minta supaya Keke jangan merasa iri dan berpikir yang enggak-enggak karena gak ditemenin. Gak lupa, Chi juga menyanjung dan memberi Keke semangat kalau dia pasti bisa walopun tanpa orang tua selama ikut pesntren kilat.

Alhamdulillah, Keke kelihatan santai aja. Malah dia sibuk bercerita tentang rencananya bersama teman-temannya nanti di hotel. Yang pasti rencana bermain hehehe. Melihat Keke santai, Chi pun jadi tenang. rasa bersalah dan sedih pun hilang.

Cuma, tiba-tiba aja begitu bis mau berangkat, rasa bersalah dan sedih itu kembali datang. Sempat ada rasa kesal di hati sama para mama yang berencana menemani. Nanti, kalau Keke jadi sedih gimana? Aarrgghh! Sebeell!

Etapi, setelah dipikir-pikir, gak ada gunanya juga menumpuk kekesalan. Cuma bikin cape hati. Sama halnya dengan Chi, setiap orang tua pasti punya pertimbangan dan alasan masing-masing kenapa memilih untuk tetap ikut ke lokasi atau tidak. Jadi, biarkan aja.

Lagian ambil positif dan asiknya aja, deh. Karena ada para mama yang ikut, setiap saat Chi bisa menikmati live report di group whatsapp selama pesantren kilat berlangsung. Walopun sempet nangis ketika salah seorang mama mengirimkan foto Keke saat di sana. Chi kangen banget sama Keke. Live report dari para mama bisa jadi memperbanyak info tentang kegiatan. Atau bisa juga untuk bahan cross check ketika Keke udah pulang.

Oiya, Chi kembali bersedih ketika melihat di malam terakhir banyak anak-anak yang menangis. Apalagi ketika kemudian Chi kembali melihat foto Keke yang sedang menangis. Rasanya, pengen Chi datang saat itu juga untuk memeluk Keke. Chi sedih membayangkan dimana ada beberapa anak yang mungkin bisa langsung dipeluk mamanya, sementara Keke termasuk yang tidak. Sukses malam itu Chi dibikin gak bisa tidur karena sedih.

Hari Kamis siang, rombongan sudah kembali ke sekolah. Huaaaa... pas turun dari bis, guru dan murid termasuk Keke pada muka bantal semua. Pasti pada tidur, tuh, di bis. Kecapean saat pesantren kilat :p Walopun muka bantal, begitu masuk mobil, Keke tetep semangat banget cerita kegiatannya selama di sana.

Banyak banget yang Keke ceritain. Diantara, ketika dia dan semua teman sekamarnya pada gak bisa tidur. Gara-garanya, materi di hari pertama yang malam hari adalah tentang jenazah dan shalat jenazah. Hasilnya, sekamar pada sempet gak bisa tidur. Pada gak mau di posisi pinggir tempat tidur yang deket pintu. Pada kepengen ditengah tidurnya hahaha. Oiya, sekamar itu ada 4 orang siswa dengan 1 orang dewasa.

Seperti yang Chi tulis dipostingan sebelumnya kalau dari jadwal kegiatan kelihatannya padat. Gak ada celah untuk anak-anak berenang. Tapi, Chi tetep bawain celana renang untuk jaga-jaga karena Chi lihat dari web, di hotelnya ada kolam renang.

Bunda: "Bunda lihat di whatsapp, kamu berenang, ya? Emang gak dingin?"
Keke: "Dingin banget, Bun. Tapi, enaaak!"
Bunda: "Itu siang-siang berenangnya, ya? Bukannya seharusnya pada istirahat?"
Keke: "Harusnya begitu. Tapi, pada gak ada yang mau istirahat. Akhirnya pada main. Ada yang berenang, atau main di aula."
Bunda: "Ya, harusnya istirahat. Itu jadwalnya, kan, padat. Kegiatan sampai pukul 10 malam, trus bangunnya harus pagi banget. Masih rada malem malah. Makanya, siang itu ada jam istirahatnya sebentar. Biar gak pada kecapekan."
Keke: "Keke istirahat, kok."
Bunda: "Oiya? Kapan?"
Keke: "Pas ada materi, Keke tidur, Bun."
Bunda: "Heeeeuuu.. itu namanya istirahat yang salah!"

Ya, begitulah anak-anak. Masih banyak cerita seru lainnya dari Keke selama mengikuti pesantren kilat. Chi juga bertanya, kenapa pada menangis di malam terakhir. Katanya itu malam renungan. Bercerita dan berdoa untuk orang tua. Banyak anak-anak termasuk Keke yang menangis karena ingat sama orang tua sekaligus merasa bersalah karena terkadang masih suka melawan. Chi jadi terharu denger ceritanya.

Buat Chi yang penting Keke senang selama ada di sana. Kegiatannya bermanfaat, makanan tercukupi. Berangkat dalam keadaan sehat, pulang pun demikian. Dan, tidak ada satupun barang yang tertinggal. :)

Cerita sebelumnya:
  1. Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1
  2. Pesantren Kilat Koper vs Ransel 2
post signature

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge