Jumat, 25 Oktober 2013

Mereka Berhak Punya Masa Depan

Gak ada foto = hoax

Entah udah keberapa kali Chi baca kalimat itu di dunia maya (blog atau media sosial). Kebanyakan, sih, cuma becandaan. Tapi apa iya kalau gak ada foto itu sama dengan hoax?

Jadi orang tua itu memang gak ada sekolahnya, makanya keberadaan beragam komunitas, fanpage, dan banyak info tentang parenting di dunia maya buat Chi itu seperti ilmu gratisan yang bermanfaat buat panduan. Walopun gak semua saran, plek ketiplek diikuti, setidaknya bisa buat bahan pertimbangan, lah. Dan biasanya Chi cuma jadi silent reader.

Ada salah satu fanpage tentang parenting yang Chi ikuti. Dikelola oleh salah satu pakar parenting yang kelihatannya sedang tenar saat ini. Bahkan Chi sempat berencana datang ke seminarnya. Isi status di fanpagenya banyak juga tentang sikap kontra terhadap sistem kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk sering menyalahkan pemerintah. Pendidikan di Indonesia di anggap membuat pendidikan moral para siswa menjadi rendah

Oiya, Chi gak usah sebut siapa nama pakar parenting ini, ya. Karena kalau disebutin, nanti komen-komen yang datang lebih melebar. Nanti malah bahas personal tokoh tersebut :)

Untuk sistem pendidikan di Indonesia, Chi termasuk yang setuju dengan pendapatnya. Kurikulum pendidikan di Indonesia memang masih banyak yang harus di perbaiki. Tapi kalau kurikulum di Indonesia selalu disalahkan seolah-olah hanya satu-satunya penyebab rendahnya moral para pelajar, Chi gak setuju. Banyak faktor yang menyebabkan moral para pelajar rendah. Mulai dari orang tua, sekolah, hingga lingkungan. Semua punya kewajiban dan tanggung jawab dalam hal ini. Lagipua seburuk-buruknya sistem pendidikan kita, Chi rasa masih banyak anak Indonesia yang berprestasi dan tetap terjaga moralnya. Walopun tentu aja fakta kalau ada siswa yang moralnya jelek gak bisa diabaikan.

Untuk urusan tanggung malah menurut Chi, orang tualah yang harus bertanggung jawab lebih dahulu meskipun di depan kita anak-anak terlihat baik-baik kelakuannya. Simpel aja, Allah menitipkan amanahnya kepada orang tua, bukan kepada sekolah, pemerintah, atau pihak lain. Jadi kalau sampai terjadi sesuatu, orang tua yang harus bertanggung jawab lebih dahulu.

Ceritanya beberapa minggu lalu, Chi baca salah satu status dari fanpage parenting. Statusnya kembali tentang sikap kontra terhadap kurikulum pendidikan dan dikaitkan dengan rendahnya moral. Sayangnya saat itu statusnya dibarengi dengan upload foto yang kurang pantas menurut Chi.

Foto tersebut memperlihatkan beberapa anak SMP (3 laki-laki, 1 perempuan). 1 anak laki-laki merangkul dari belakang anak perempuan itu sambil (maaf) memegang kedua anak perempuan itu. Sementara anak laki-laki lainnya, posisinya duduk sambil salah satunya memegang paha anak perempuan itu yang mana roknya sangat mini.

Chi yang biasanya selalu jadi silent reader, kali ini merasa gregetan untuk menjawab. Chi komen, merasa prihatin melihat kejadian tersebut. Tapi Chi juga menyarankan kalau mau pakai foto sebaiknya wajah anak-anak itu di blur dulu. Karena biar gimana mereka masih anak-anak yang berhak punya masa depan. Kasian kalau wajahnya sampe gak diblur. Lagipula semua harus introspeksi, gak cuma sekolah ataupun pemerintah.

Walaupun belum punya anak usia SMP, tapi paling gak semua orang tua pasti ngalamin usia SMP. Dan diusia tersebut, pikiran kita masih labil, gampang ikut-ikutan, serba pengen tau. Ditambah lagi arus informasi zaman sekarang yang seperti tanpa sensor akan membuat anak ikut-ikutan tanpa mikir akibatnya. Jadi bisa jadi mereka melakukan itu karena keluguan dan ketidaktahuan mereka akan akibatnya. Makanya semuanya harus sama-sama bertanggung jawab.

Semua orang tua pasti gak akan mau anaknya mengalami hal tersebut, termasuk Chi.Tapi kalau sampe kejadian, mereka tetap anak-anak yang punya kesempatan memperbaiki kesalahannya dan tetap berhak mendapatkan masa depan yang baik. Menampilkan foto tidak pantas secara terang-terangan tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau anak-anak tersebut di bully? Kemudian mereka stress? Depresi? Bahkan bunuh diri?

Coba aja cari infonya di google, deh, Udah ada beberapa kejadian, anak-anak usia SMP (bahkan paling gak ada  satu kasus seperti ini yang terkenal) yang karena keluguannya melakukan tindakan "bodoh" seperti foto anak-anak SMP itu. Ketika kemudian menjadi heboh di dunia maya, maka terjadilah cyberbullying. Gak tahan dibully tanpa henti, akhirnya memilih jalan pintas, yaitu bunuh diri.

Dan kejadian-kejadian yang Chi dapet di google itu, terjadinya di luar negeri. Termasuk di negara yang oleh pakar parenting itu negara yang kurikulumnya bagus karena mementingkan karakter. Kenyataannya kejadian seperti dimanapun ada, apapun sistem pendidikannya karena (sekali lagi) hal seperti ini memang jadi tanggung jawab bersama.

Sebagai orang tua pastinya gak berharap anak-anak kita akan seperti itu. Pasti akan merasa sangat marah bahkan sangat kecewa. Tapi kalau kemudian ada efek lanjutan, yaitu anak kita mengalami cyberbullying seolah-olah kesalahan yang mereka lakukan tanpa ada ampunan. Apakah kita akan membiarkan anak-anak terus dibully?

Sebagai orang tua, menurut Chi, juga gak bisa kepedean. Merasa udah membekali anak dengan sejuta kebaikan dan keturunan baik-baik jadi yakin banget gak akan terjadi apa-apa. Terlalu pede malah bikin kita jadi gak waspada. Anak harus terus diingetin sambil kita berdo'a supaya anak-anak gak melanggar kepercayaan yang kita beri (kita kan gak mungkin 24 jam terus-menerus nempel sama anak)

Lalu ada juga salah satu saran bagus kenapa sebaiknya tidak perlu pakai foto. Khawatir akan ada anak lain yang melihat, kemudian mencontoh. Dan akibatnya akan ada korban berikutnya. Hiii...

Seorang pakar parenting mestinya lebih mengerti sama hal ini. Yang harus dia pikirkan gak hanya tentang anak-anak yang masih 'bersih' tapi anak-anak yang terlanjur berbuat salah juga harus dipikirkan. Makanya Chi menyayangkan ketika pakar tersebut mengupload foto yang kurang pantas. Menyelesaikan masalah harus tanpa masalah *pinjem kata-kata pegadaian :) Kalau kayak gini, terkesan (buat Chi) dia hanya pintar bicara teori. Kenyataannya gak semua nasib anak diperhatikan,

Yang terjadi akhirnya adalah pro-kontra yang cukup panjang di status tersebut. Banyak juga yang keberatan dengan apa yang dilakukan oleh pakar tersebut, terutama berkaitan dengan foto. Malah ada yang minta kalau bisa fotonya dihilangkan aja. Lucunya untuk mereka yang pro ada yang menuduh kami sedang melakukan pengalihan isu. Hadeeeuuuuhhh politik kali, ah!

Setelah pro-kontra yang panjang, akhirnya pakar tersebut membuat komentar. Tapi asli Chi gak ngerti! Biasanya pakar tersebut statusnya to the poin, kali ini dia nulis panjaaaaaaaaang banget tapi muter-muter, gak jelas kemana. Awalnya Chi pikir Chi yang lemot nangkep maksudnya. Tapi ternyata banyak juga yang gak ngerti, katanya muter-muter gak jelas. Hmmm... berarti bukan karena Chi yang lemot.

Setelah dibaca berkali-kali, Chi menangkap kesan kalau pakar ini menyalahkan kami yang kontra dengannya. Katanya kami emosi (padahal kenyataannya justru banyak yang kasih tau baik-baik. lho). Dan menurutnya orang yang emosi ketika menanggapi sesuatu sebenernya lagi bermasalah sama diri sendiri alias bukan statusnya dia yang salah tulis.

Apaaaaa???!!!! Menurut Chi aneh banget pendapatnya. Dan yang terjadi akhirnya perdebatan baru tentang pendapatnya yang udah panjang banget tapi gak nyambung sama masalah yang sebenarnya malah cenderung muter-muter yang akhirnya malah menyalahkan. *tepok jidat

Sempet kecewa, bahkan marah Chi saat itu, Tapi ya, sudahlah. Dari awal, Chi memang gak pernah mengidolakan satupun pakar parenting. Cukup dibaca-baca aja pendapatnya. Setuju, diikutin. Gak setuju, ya udah. Buat bahan perbandingan aja.

Satu lagi pelajaran bagus yang bisa Chi ambil adalah belajar komunikasi yang baik supaya pesan tercapai dengan baik.

Saat Chi nulis postingan ini, ada salah satu contoh cara menyampaikan pesan yang baik menurut Chi. Status milik Om Nh, blogger yang juga trainer. Salah satu status Om NH adalah begini

Gemetar saya mendengar berita kasus video anak SMP ... direkam rame-rame ... masyaAllah ... padahal masuk SMP negeri itu susah. Nilainya mesti bagus. Ini anak-anak pintar seharusnya .... tapi ... aaahhh sayang sekali... Semoga ini kejadian terakhir ...

Sebelum Om NH menulis status tersebut Chi udah tau kasus yang dimaksud. Langsung merasa ngeri dan prihatin. Kalaupun Chi belum tau, kalimat "video mesum anak SMP" udah berhasil menyampaikan pesan dengan baik.  Pesan yang tanpa foto ataupun link videonya pun udah bisa kita ngerti maksudnya. Pesan yang menunjukkan rasa ngeri, prihatin, dan juga (secara gak langsung) mengajak kita untuk introspeksi dan tidak ikut andil merusak masa depan anak-anak tersebut.

Chi gak perlu mencari-cari tau seperti apa, sih, videonya? Buat apa? Buat tau wajah anak-anak tersebut? Trus kalau udah tau, emangnya kenapa? Atau sekedar pengen tau se'hot' apa yang mereka lakukan? Gak perlu tau, lah, kalau buat Chi. Kata-kata "video anak SMP", sudah menunjukkan kalau perbuatan seperti itu memang belum pantas dilakukan anak-anak.Lebih bahaya lagi, kl akhirnya foto atau video yang gak pantas itu terlihat oleh anak-anak kita. Hiii

Terbukti, kan, tanpa foto itu gak selalu berarti hoax. Ada kalanya pesan bisa tersampaikan dengan baik kalau tanpa foto ataupun link video yang gak pantas. Malah tanpa foto atau video, komen-komennya lebih jelas, Gak pro-kontra kesana-kemari, gak jelas. Karena kadang foto atau video itu sebetulnya cuma buat memenuhi rasa ingin tau kita aja, bukan untuk mendukung beritanya.

Oke, deh, semoga jangan sampai kejadian sama anak-anak. Semoga anak-anak kita tetap terjaga moralnya sampai kapanpun. Aamiin

post signature

68 komentar:

  1. Hmmm andai saja yang dalam anak dalam foto itu anak atau keponakan pakar itu sendiri.. kira-kira masih mau enggak ya si pakar memuatnya?

    yups.. meski mikir ke depan soal masa depan mbak.. Semua bisa diperbaiki kok, jangan sampai si korban merasa dunia runtuh gara-gara fotonya di sana-sini lalu nekat bunuh diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu dia yg saya maksud, Uncle. Himbauan utk berhati2 supaya kita saling introspeksi boleh2 aja. Tp jgn sampe menjatuhkan. Kasian. Mereka masih anak-anak yang butuh banyak bimbingan

      Hapus
  2. Satu lagi bun, kalau aku lebih nggak setuju sama media yang dengan sengaja bikin judul kontroversial supaya beritanya itu banyak dibaca masyarakat bun. Selain suka 'nyeleneh' dan jauh dari kenyataan, isinya juga banyak yang justru menimbulkan keingintahuan dari para pembacanya, yang lebih ngeri lagi kalau anak yang belum paham ikutan baca. Hiiiii, ngeri :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan kenyataannya msih byk juga yg baru baca judul udah langsung 'kemakan'. Miris bgt, ya

      Hapus
  3. Seharusnya posting untuk on-line juga harus perhatikan kode etik jurnaslistik. Dimana untuk posting-posting yang genrenya negatif atau korban-korban kejadian tertentu wajah, logo, seragam khusus, tempat tertentu, petunjuk tertentu harus disamarkan.

    Menjadi pembelajaran bagi kita semua, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju. Hrs jd pelajaran buat kita semua :)

      Hapus
  4. Hrsnya anak2 yg terjerumus itu dirangkul, ksh nasihat bkn dibully bgni kesian amat..
    Hhhhhh.. Jd ngeri aku bayangin nti jaman Nadia SMP kya Gmn :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, justru jgn bikin masalah mrk semakin bertambah

      Hapus
  5. Penanganan anak-anak harus lebih hati-hati, semestinya gambar yang ditampilkan malah kebalikannya, tingkah laku anak yang berprestasi sebagai pengalihan tingkah laku negatif.

    BalasHapus
  6. duh, aku jadi deg2an sendiri.. mau bicara berpro kontra malah nantinya kayak ga brenti2, akhirnya pilih jalan diam dan langsung beraksi (di kawasan pribadi tentunya)

    semoga ke depannya jadi lebih baik, buat semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mbak. Yg lebih penting perhatian ke anak sendiri :)

      Hapus
  7. Setuju, Mak Myra. Yang baik dan cocok buat kita, kita ikuti. Kalau tidak, tidak perlu. Sekalipun yang bicara adalah pakar parenting. :) Nice share. Love this.

    BalasHapus
  8. Kalau pakar parenting sering menyalahkan kebijakan pendidikan pemerintah, bagaimana yang lainnya? harusnya kan bisa berpendapat dengan elegan sesuai kedudukannya sebagai parenting expert. Apalagi pakai foto yg tak senonoh gitu. Ih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru selalu menyalahkan malah gak bagus ya :)

      Hapus
  9. haddueh,baca ini jadi inget murid SMP ku dulu....foto pake baju seragam komplit aja dikeluarin gara2 foto sok2 mesum dan di sebakan di FB aplge yg bikin video...heummm,ngeri juga ya mbk....

    BalasHapus
  10. salam kenal...
    wahhh mbak aq malah belum tahu berita itu tapi kayaknya benar kata mbak gak perlu dicari-cari karena dengan ngebayangin aja kita tahu gimana parah situasinya...
    semoga jadi pelajaran buat kita...

    BalasHapus
  11. Kebetulan kita menulis hal yang kurang lebih sama ya mbak Myra.
    Mari kita lebih menjaga diri dan menjaga keluarga kita. Bahkan seorang pakar pun, tidak bisa menjaga dirinya di depan umum. Keimanan, itu kuncinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita selalu bs menjaga anak2 kita, ya, Mbak

      Hapus
  12. belum pernah ikutan forum2 parenting mba, tapi dari cerita mba myra tadi aku juga sepertinya bakal kurang setuju kalo secara gamblang foto2 itu diunggah di dunmay sekedar buat contoh. moga2 adek2 lain yang lihat enggak mencontoh ya. serem pergaulan sekarang memang

    BalasHapus
  13. Ngeri ya, Mak lihat kelakuan anak muda sekarang. Duh... harus bener2 deh ngurus anak. Nauzubillah dengan kasus2 itu. :(

    BalasHapus
  14. aku juga nggak pernah ingin tahu bagaimana video itu, meskipun di media ada yang bully sih..
    hmm prihatin

    BalasHapus
  15. Saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi ...
    saya tidak tau harus berbuat apa ... selain mengawasi perilaku anak-anak saya ... jangan sampai mereka bergaul kelewat batas ...

    Mudah-mudahan ini yang terakhir ...

    Jangan ada lagi hal yang seperti ini ...

    Salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, om semoga jgn sp ada kejadian lg

      Hapus
  16. Indonesia Raya memang belum siap dengan kemajuan teknologi
    Jangankan anak-anak. Orang tua saja banyak yang mendadak alay gara gara pesbuk. Blogger yang semestinya lebih maju pola pikirnya pun sebagian masih ada yang belum menyiapkan mental untuk dunia gambar dan tulisan ini.

    Pengawasan ketat tak lagi efektif. Anak sekarang semakin dilarang semakin penasaran. Mungkin kita harus merubah mindset saat menjaga anak-anak dari metode isolasi menjadi imunisasi. Agar anak bisa secara mandiri mampu menyaring informasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sy rasa gak cm di Indonesia aja kok. Buktinya kejadian yg bunuh diri gara2 di bully tu kejadiannya bukan di Indonesia

      Hapus
  17. setuju mak, seperti video porno remaja itu...sudahlah gak perlu disebar2kan lagi toh. Jgn2 karena BC video2 itu malah anak2 kita yg lain akan melihat kejadian gak senonoh itu. Syukur mereka bisa mengambil pelajaran tentang contoh buruk, gmn kalau penasaran dan ingin coba2 :(:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl disebarluaskan takutnya malah ada yg menyalahgunakan

      Hapus
  18. Duhhh iya bener kok ya miris sekali yaaa mak Chi. bener banget saya setuju gak ada foto berum tentu hoax :D

    BalasHapus
  19. Jadi ikut gregetan bacanya Mbak Chi. Kalau aku yg melihat mungkin tak tulis begini : Ya wajar saja lah anak-anak kurang moralnya, yang ngaku ahli parenting saja kualitasnya cuma segini..
    Hehehe..Mudah2an dia lebih banyak belajar lagi ttg psikologi anak ya..Sedih banget, kok ya ngaku ahli parenting kelakuan kayak gitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, Mb. Justru anak2 yg pernah melakukan salah hrs semakin dirangkul

      Hapus
  20. au dikirimi vidoenya tapi males bukanya myr. harusnya video itu jangan malah ikut2an di sebarluaskan ya. oh ya masalah pendidikan itu seharusnya bukan hanya tangung jawab sekolah atau pemerintah ya, harus di dukung jug a oleh orang tua, lingkungan dan lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru org tua hrs jd gerbang utama ya Lid :)

      Hapus
  21. Bahkan para tersangka saja, jamannya masih ada koran p** ***a bagian matanya ditutupi loh... lah ini kok... miris ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, bener tuh. Koran aja msh ada yg pk etika :)

      Hapus
  22. Setuju bgt Mbak, hal seperti itu bahkan mungkin bisa jadi contoh ke yang laen buat niru, sayang sekali sebenernya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngeri kl nanti malah byk yg niru ya :)

      Hapus
  23. bun, aku juga ikutan fan pagenya dan bener aku juga kaget pas liat ada foto itu, semoga next time bisa lebih baik lagi milih foto

    BalasHapus
  24. mbaaa...
    duh, sampe bingung mau komentar gimana....
    Udah dapet pencerahan disini,...
    Dan merasa harus lebih waspada lagi mengawasi anak anak kita...

    Mudah2an gak kejadian lagi deh peristiwa yang seperti itu yah...
    suka serem baca beritanya sih...

    BalasHapus
  25. saya sebenarnya nggak ngerti kalo ada seseorang yang dikatakan pakar dalam sesuatu hal, mengenai pakar parenting, perlu dipertanyakan apakh memang benar dia pakar parenting dalam keluarganya sendiri...,
    btw- saya setuju bahwa anak2 itu adalah titipan dan amanah dari ALLAH SWT, jadi sebagai yang dititipkan kita wajib menjaganya dari segala sesuatu yang bisa merusak masa depannya..karena biar bagaimanapun kelak kita akan dimintai pertanggunganjawaban oleh Sang Khaliq mengenai titipan-NYA....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita selalu bs menjaga titipan Nya :)

      Hapus
  26. Sekarang pakar itu cuma karangan doang, yang pakar sebenarnya mereka diam-diam saja. Soal foto itu sebenarnya sudah ada etikanya lho..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang suka ada yg ngaku2 pakar :)

      setuju, hrs ada etikanya

      Hapus
  27. Masa' gak ada poto dibilang hoax? Kalo berita beginian mah gak usah dipotoin, entar reader kalo kelewat kepo juga nyari sendiri! Tapi Chi bener bgt, gak usahlah nyari informasi lebih detil ttg ini. Cukup ngerti aja dan tentunya pengawasan ekstra buat org2 di sekitar kita. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, kadang terlalu detil malah bs menyesatkan :)

      Hapus
  28. Setuju pendapat Chi, tpi si Pakar pinter sekali alias pinter memancing emosi orang, terbukti dgn pro kontra pendapat meski akhirnya ilmu parentingnya ketahuan hanya sekedar TEORI belaka.

    Emang chi teori sama praktek gampangan teori mpraktekinnya yg susah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tori bgt. Sy jg jd rada mangkel

      Hapus
  29. Iya betul, jaman dulu ajah di Koran P*** masih ditutup matanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. biar gimana yg bersalah jg hrs dihargai y mbak

      Hapus
  30. Waduh, sepertinya pakar tsb harus banyak belajar lagi ya....

    BalasHapus
  31. saya juga turut prihatin mbak dengan kejadian tersebut

    tapi saya juga lebih prihatin lagi ketika hal itu terjadi, pastinya disana ada faktor kelalaian dari orang tua anak tersebut, baik dalam hal pendidikan agama, moral, dan juga pemberian nasihat nasihat bagi anaknya

    semua memang sudah terjadi, nasi memang sudah jadi bubur, tapi bubur juga masih bisa dimanfaatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, pasti ada kelalaian. Sebaiknya kita sama2 introspeksi

      Hapus
  32. chie, setuju banget ama postingan ini, akhirnya ada juga yang melihat masalah itu dari sudut pandang lain.apa yang ditulis disini semuaaa nyaa aku setuju, cuma bisa terus belajar jadi orang tua dari berbagai sumber dan semakin memperbanyak doa, itu kali yaa yang bisa dilakuin...sejujurnya dengan berbagai masalah anak anak yang semakin beragam belakangan ini, bikin makin takut, makin banyak Istighfar dan mencoba untuk gak komentar apapun...

    BalasHapus
  33. Menyikapi hal ini, sebagai orang tua dari anak-anak yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan keberadaan teknologi dunia internet tentu bukanlah hal yang mudah dalam mengontrol.

    Dan kalau kita mau jujur, kejadiaan seperti ini sudah merabat di setiap golongan, dari anak-anak, remaja, dewsa dan orang tua, dan juga dari strata kedudukan di masyarakat hampir setiap lini kehidupan.

    Bukan juga berarti tidak ada yang peduli dan bolot dalam hal ini, namun lebih dari apa yang terlihat jelas bahwa, di antara lingkungan sosial kontrol yang sangat lemah. Baik dari dalam diri individu, keluarga , lingkungan rumah, hingga sekolah dan masyarakat masih terlalu minim dalam hal upaya nyata yang berdampak langsung.

    Dan sebaiknya hal ini menjadi koreksi untuk para orang tua, dan masing-masing individu untuk lebih mengenali diri sendiri untuk dapat menjadi suri tauladan dengan upaya nyata yang berdampak langsung sebagai sosial kontrol bagi mereka yang memiliki hak dan masa depan dengan kondisi psiskologi yang lebih baik.


    Salam,

    BalasHapus
  34. yes, cyberbullying dimana-mana :((( tapi ga terbatas anak sekolah...seusia kita dewasa orang tua juga terjadi loh...heehehe

    yang FP parenting mana mba? *kepo
    apa karena no picture = hoax gak ada fotonya di postingan ini hehehe

    BalasHapus
  35. Ih klo berita yang macam itu kalau ada foto-foto yang gamblang banget aku malah merinding deh Mak. Pernah baca tulisan soal video mesum anak SMP juga yang dilakukan di sekolah (ya Allah -_-) ada semacam screencap videonya walau masih pakai pakaian lengkap, untungnya gambar nggak jelas, tapi saya bener-bener sukses merinding lihat foto & baca tulisannya.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge