Pentingnya Memetakan Minat Bakat Sebelum Anak Masuk Kuliah

Pentingnya Memetakan Minat dan Bakat Anak Sebelum Masuk Kuliah

Apakah teman-teman sudah membaca berita tentang prestasi SMAN 14 Lampung yang 100% siswanya lolos PTN melalui berbagai jalur? Hebat, ya! Selamat! Tentu di sini Chi gak bermaksud membedakan PTN maupun PTS, karena keduanya sama-sama bagus.

Nah, yang paling menarik perhatian Chi adalah langkah kepala sekolah beserta jajarannya yang sudah konsisten memetakan minat bakat sebelum anak masuk kuliah, bahkan sejak duduk di kelas X. Langkah visioner ini membuktikan bahwa mengenali potensi anak bukanlah proses yang singkat. Berkaca dari keberhasilan tersebut, yuk kita bahas seberapa krusial peran kita sebagai orang tua dalam mendampingi langkah besar mereka ini!


Memetakan Minat dan Bakat Anak Bisa Dilakukan Sendiri oleh Orang Tua


Haruskah menggunakan jasa profesional, seperti psikolog, untuk memetakan minat dan bakat anak?

Sebetulnya, Chi pernah menjawab pertanyaan tersebut di blog ini sekitar 6 tahun lalu. Keke dan Nai kan pernah ikut tes minat bakat. Tapi, psikolog juga saat itu bilang sebaiknya orang jangan terlalu menggampangkan dikit-dikit ke psikolog untuk hal ini. Psikolognya bilang langkah pertama yang sebaiknya dilakukan justru orang tua mengenali anaknya dulu.

Silakan baca: Perlukah Tes Minat dan Bakat untuk Anak?

Jadi, kesimpulan sederhananya itu, orang tua sebetulnya bisa mencari tau sendiri minat dan bakat anak. Tapi, proses pencariannya bisa sangat panjang. Sedangkan, tes minat bakat ibarat shortcut yang bisa dengan singkat tau hasilnya.

Kenapa tidak langsung shortcut aja? Apalagi psikolog kan memang udah ahlinya.

Keke dan Nai ikut tes minat dan bakat di sekolah. Berdasarkan pengalaman yang Chi lihat, beberapa orang tua ada yang gak bisa menerima hasilnya. Contohnya, nih, hasil tes menunjukkan minat atau bakat si anak lebih kuat ke dunia seni. Tapi, orang tuanya menolak hasil tersebut karena ingin anaknya belajar hukum.

Oiya, sebelum lebih jauh, Chi mau ngasih tau dulu kalau minat dan bakat itu 2 hal berbeda. Penjelasan dan cara membaca hasil tesnya udah pernah ditulis di blog ini, ya.

Oke, lanjut lagi bahasannya. Kalau Chi dan K'Aie gak pernah kaget dengan hasil tes minat bakat Keke dan Nai. Semua persis sesuai prediksi. Gak merasa percuma karena hasil tes justru menguatkan apa yang udah kami petakan. Tinggal dilanjut aja diskusinya ke anak-anak supaya semakin mantap mengambil keputusan.


Pentingnya Mengambil Keputusan Memilih Jurusan Kuliah dengan Mantap

Angka Kesalahan Memilih Jurusan di Indonesia Sangat Tinggi


Menurut ahli Educational Psychologist and Integrity Development Flexibility, sebanyak 87% mahasiswa Indonesia mengaku salah memilih jurusan. Sumber: Detik

Pernah gak merasa salah ambil keputusan jurusan kuliah? Atau pernah gak keterima di fakultas yang kita sebetulnya kurang sreg, akhirnya gak jadi kuliah fakultas tersebut?

Kalau pernah, teman-teman gak sendirian. Ternyata berdasarkan data, ada 87% mahasiswa Indonesia yang merasakan hal sama. Itu bukan angka kecil, lho/

Untuk pertanyaan pertama, Chi pernah. Memang saat itu galau banget karena gak ada bimbingan apapun dalam memilih jurusan kuliah yang tepat. Tapi, Chi tetap bertanggungjawab kuliah sampai selesai dengan IPK yang baik. Belajar juga dari pengalaman sendiri, anak-anak jangan sampai mengalami seperti bundanya. Harus mantap dengan pilihannya.

Untuk pertanyaan kedua, sebaiknya tidak dilakukan, ya. Apalagi kalau tesnya melalui SNBP atau SNBT. Kalau gak yakin sejak awal, mendingan jangan dipilih. Jangan hanya karena rasa penasaran ingin bisa lolos ke PTN tapi kemudian gak diambil hanya karena alasan gak yakin dengan pilihannya. Kuotanya jadi hangus begitu aja. Padahal di luar sana banyak sekali yang berharap bisa lolos, lho. Jangan sampai kesannya jadi kayak minim empati.

Banyak faktor yang menyebabkan salah pilihan jurusan, di antaranya adalah:

  1. Tidak tau potensi dirinya. Gak pernah ada yang membimbing dan berdiskusi tentang minat bakat.
  2. Tekanan orang tua. Salah satunya sepertinya yang Chi ceritakan di awal. Anak memiliki minat dan seni, tapi orang tua memaksa kuliah di fakultas hukum. 
  3. Ikut-ikutan teman atau tren. Melihat teman banyak memilih fakultas A, anak pun ikutan. Bisa juga terpengaruh medsos, melihat jabatan profesi tertentu sepertinya keren, langsung memilih fakitas tersebut. Padahal sebetulnya gak ada minat dan bakatnya di sana.
 
Seperti yang Chi ceritain di artikel sebelumnya, Nai itu termasuk siswa eligible. Awalnya dia gak mau mengambil kesempatan itu karena merasa sudah mantap kuliah vokasi. Kami minta Nai mempertimbangkan secara serius selama beberapa hari. Kalau memang tetap gak mau, datang ke sekolah untuk membuat laporan. Biar status eligiblenya diberikan ke siswa lain. Sebaliknya, kalau Nai mau ambil kesempatan, kami juga bilang harus diambil bila diterima. Berarti harus lupakan kuliah vokasi yang dia inginkan.

Setelah beberapa hari, Nai berubah pikiran. Dia bilang mau ambil kesempatan ikut SNBP. Tentu kami selalu bertanya alasannya kemudian didiskusikan. Pokoknya anak-anak dibiasakan untuk bisa menjabarkan. Jangan sekadar bilang mau atau gak mau hehehe.

Kalau Keke lain lagi ceritanya. Target dia hanya untuk 1 falkutas di 1 PTN ternama. Waktu zaman Keke ikut seleksi, dulu namanya bukan SNBT, dikasih 3 pilihan. Tapi, karena dia bersikeras hanya ingin 1, makan semua pilihannya diisi sama. Udah pasti yang dia lakukan semakin memperkecil peluang. Ibaratnya, kalau gak keterima di pilihan pertama, masih ada kemungkinan keterima di pilihan 2 atau 3. Lha ini semua pilihan Keke isi sama.

Tapi, justru itu yang selalu kami ajarkan ke anak-anak. Pilih yang bener-bener yakin. Mau itu pilihan 1, 2, atau 3, semua harusnya yakin. Gak boleh ada cerita, jadi males-malesan kuliah karena keterimanya bukan di pilihan pertama. Apalagi kalau sampai gak diambil. Kami melarang banget hal seperti itu.

Ketika Keke gagal di SNBT, kami memberikan pilihan. Coba ikut ujian mandiri PTN dan prodi yang diinginkan, bila gagal dibolehkan gap year. Alternatif kedua, mencoba ikut ujian mandiri juga di PTN lain dan mulai memilih PTS.

Setelah mempertimbangkan beberapa hari, Keke memilih ikut ujian mandiri di kampus yang diinginkan serta 2 PTN lainnya. Tentu ikut juga tes di beberapa PTS yang dipilih. Hasilnya, Keke keterima di semua PTN dan PTS yang dipilih, kecuali di pilihan pertama yang dia pengen banget.

Untuk ujian mandiri memang bikin galau. Mau kami tuh ikut ujian satu per satu. Kalau gak keterima, ikut lagi di kampus lain baik swasta atau negeri. Tapi, masalahnya adalah semua kampus punya jadwal masing-masing. Seringkali terlalu berdekatan jaraknya. Kalau menunggu dulu pengumuman di satu kampus aja, keburu tutup jadwal pendaftaran atau tes di kampus lain. Makanya, kami pun memilih beberapa universitas sekaligus. Tapi, tetap ya gak boleh asal pilih. Semuanya harus dipertimbangkan.


Memilih dengan Yakin dan Berempatilah!

Drama lain ketika usai seleksi seperti ini adalah selalu ada yang coba-coba hanya demi validasi!

Sebetulnya udah keterima di salah satu sekolah atau universitas bahkan sudah daftar ulang, tapi tetap ikutan tes jalur lain. Tujuannya demi pamer bila diterima. Menunjukkan ke banyak orang bahwa anaknya/dirinya mampu bersaing dan lolos.

Fenomena seperti ini gak hanya saat seleksi perguruan tinggi. Inget banget Chi, kepala sekolah Keke bilang kalau beliau sampai marah. Karena setiap PPDB selalu ada aja orang tua yang daftar ke sekolah negeri unggulan hanya demi validasi kalau sampai keterima. Karena setelah itu jatahnya dibiarkan hangus.

Sistem PPDB di Jakarta gak mengenal sistem bangku cadangan. Kalau siswa yang lolos seleksi gak daftar ulang, ya jatahnya hangus dan ditambahkan untuk jalur berikutnya. Begitupun seleksi untuk PTN. Gak ada deh yang namanya bangku cadangan. Kalau yang lolos sampai gak daftar ulang, jatahnya hangus.

"Emang ada larangan gak boleh ikut tes meskipun gak akan diambil kalau lolos?"

Secara tertulis memang gak ada. Tapi bisa kan ya gunakan empatinya. Kalau sekadar coba-coba mendingan gak usah. Biar anak-anak yang serius berjuang buat mendapatkan sekolah atau universitas negeri yang bersaing. Seriusan nyesek banget lho melihat anak-anak yang sedih karena gak diterima. Sedangkan di sisi lain banyak juga yang sengaja menghanguskan kursinya karena memang ikut tes sekadar coba-coba.

Buat teman-teman yang saat ini sedang mempersiapkan anak-anaknya untuk kuliah, belum ada kata terlambat memetakan minat bakat anak. Biaya kuliah tuh termasuk mahal, lho. Kalau pun bisa mendapatkan beasiswa, tapi rasanya sayang aja kalau anak sampai merasa salah memilih jurusan. Secapek-capeknya kuliah, kayaknya lebih menyenangkan kalau belajarnya sesuai dengan yang diinginkan.

Post a Comment

0 Comments