Wajib Gak THR untuk Anak Saat Lebaran?

By Keke Naima - April 18, 2023

InsyaAllah, beberapa hari lagi, umat Muslim akan bersukacita merayakan hari raya Idul Fitri. Berbagai persiapan mulai dilakukan, terutama bagi yang berencana mudik ke kampung halaman. Tidak hanya membawa perlengkapan pribadi. Ada yang membawa  oleh-oleh bahkan menyiapkan beberapa lembar uang kertas baru untuk THR yang akan dibagikan ke kerabat, khususnya anak-anak. Tapi, sebetulnya wajib gak THR untuk anak saat Lebaran?

thr untuk anak saat lebaran

Bagi kami, jawabannya gak wajib. Chi gak pernah melakukan bagi-bagi THR ke anak-anak sekalipun.

 

Dua Tradisi Keluarga Besar yang Berbeda


Keluarga Chi dan K'Aie memiliki kebiasaan berbeda tentang ini. Kalau keluarga besar Chi seperti kebanyakan keluarga lain, memang suka bagi-bagi THR. Biasanya di Lebaran hari pertama para krucil bersukacita karena mendadak jadi banyak duit 😎. Tapi, di keluarga besar K'Aie gak ada kebiasaan ini.  

Awalnya, Chi pengen ngikutin kebiasaan masing-masing keluarga aja. Kalau di keluarga besar K'Aie ya gak usah bagi-bagi THR. Sedangkan di keluarga besar Chi sebaliknya. Tapi, K'Aie kurang berkenan. Memang gak sampai tegas menolak. Hanya kelihatan kurang sreg.

Ya udah, Chi pun memilih nurut ma K'Aie. Lagipula memang gak ada hukumnya wajib memberikan THR ke anak-anak, kan. Itu sekadar tradisi yang mungkin dilakukan banyak orang saat hari raya. Tapi, kalau suami gak berkenan, Chi nurut aja.

 

Do's and Don'ts tentang THR untuk Anak Saat Lebaran

 
K'Aie memang kurang berkenan memberikan THR untuk anak. Tetapi, bukan berarti memandang tradisi ini gak bagus.  Silakan aja kalau keluarga lain mau melakukannya. K'Aie hanya kurang berkenan untuk keluarganya sendiri. Kami punya beberapa prinsip tentang THR untuk anak, yaitu


Ajarkan Anak-Anak untuk Tidak Meminta THR

Keke dan Nai tidak pernah diajarkan untuk meminta THR. Apalagi kami tidak pernah memberikan. Masa' trus anak-anak malah diajarin meminta? Jadi, Keke dan Nai biasa tentang tradisi ini. Dikasih seneng, gak dikasih pun gak menagih.


Biasakan Mengucapkan Terima Kasih

Ini, sih, termasuk ajaran dasar. Gak hanya ketika diberi THR aja, ya. Tetapi, diberi kebaikan oleh siapapun harus dibiasakan mengucapkan terima kasih.


Banyak Cara untuk Berbagi

"THR kan cuma setahun sekali. Anggap aja berbagi."

Setuju. Tapi, berbagi di hari raya gak harus selalu dalam bentuk THR. Kami lebih mentraktir keluarga besar makan di resto atau food delivery. Atau ajak para krucil ke tempat bermain anak. Banyak cara untuk berbagi kesenangan dengan keluarga besar.


Jawab dengan Santai dan Belajar Cuek

Awalnya, Chi sempat merasa gak enak hati kalau sampai gak kasih THR ke anak-anak. Alhamdulillah keluarga besar Chi gak ada yang julid. Memang ada sih yang suka nagih. Tapi, masih dalam batas aman, lah. Nanya sekadar becanda aja. Gak sampe yang julid atau ngeselin gitu.

Jawab aja dengan santai kalau ada yang nanya. Terkadang Chi ngebayangin, kalau sampai ada yang julid. Ya sekalian menyiapkan kata-kata yang pas. Untungnya kami berdua termasuk cuek, sih hahaha. 


Jangan Merasa Terpaksa Memberi THR untuk Anak

Sering Chi perhatiin beberapa netizen jadi gak semangat menyambut hari raya karena urusan THR ini. Merasa jadi kayak terpaksa berbagi. Padahal dirinya sebetulnya membutuhkan uang tersebut untuk hal lain. Tapi, karena gak enak sama keluarga besar, khawatir diomongin/dijulidin, akhirnya terpaksa ikut tradisi tersebut.

Mungkin di sini pentingnya mempraktekkan 'seni bodo amat'. Ya, Chi pun awalnya sempat merasa gak enak. Tapi, hanya di awal aja. Lama-lama juga biasa aja. Kalaupun ternyata sampai ada yang julid, ya mungkin karena egois.
 
Kemampuan finansial setiap orang kan berbeda-beda. Apalagi kalau Lebaran jatuhnya di sekitaran Mei-Juli. Kebanyakan orangtua lagi banyak pengeluaran di bulan-bulan itu. Beli seragam baru, beli buku tulis, bahkan ada yang harus bayar uang masuk sekolah baru atau daftar ulang. Totalnya bisa lumayan banget, lho. 
 
Jadi, seharusnya sama-sama pengertian aja, lah. Boleh banget ngasih THR. Tetapi, seharusnya gak ada pemaksaan. Apalagi bikin aturan mewajibkan beri THR ke anak-anak saat Lebaran. Wajib dari mana, sih?

Prinsip di atas memang ada yang untuk Chi dan K'Aie juga. Tetapi, biasanya anak-anak akan melihat kebiasaan orangtuanya. 
 
Keke dan Nai gak pernah nanya kenapa ayah dan bundanya gak ikutan bagi-bagi juga. Ya, mungkin karena kalau di keluarga besar ayahnya gak ada kebiasaan itu. Jadi, mereka pun cuek aja. Gak pernah nanyain juga.

Kalau pun kelak mereka berkeluarga dan memiliki tradisi yang beda dari orangtuanya ya silakan aja. Tetapi, tetap pesan kami adalah jangan merasa terpaksa. Mulai deh ajarin anak tentang literasi keuangan.

Bila ingin tetap kasih THR ke anak, kelola keuangan dengan bijak. Jangan sampai usai hari raya malah keuangan jadi boncos. Bahkan sampai makan pos-pos anggaran lainnya. Padahal masih banyak kebutuhan yang lebih penting.

Oiya, satu hal lagi yang kami rasakan. Ada atau gak ada bagi-bagi THR untuk anak, gak mengurangi rasa kebersamaan. Tetap bisa bersukacita saat Lebaran. Alhamdulillah.

  • Share:

You Might Also Like

31 comments

  1. Tradisi ayah ibuku dari tahun ke tahun selalu kasih THR uang ke anak2 yg berkunjung ke rumah. Supaya mereka suka cita saat lebaran hehe. Btw, artikelnya bagus dan memang penting juga ajarkan anak2 soal literasi keuangan, khususnya menabung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kayaknya kebanyakan keluarga memang gitu. Sama kayak di keluarga besar saya. Berbagi sukacita dengan bagi-bagi THR. Makanya sempat kaget ketika keluarga suami gak punya kebiasaan kayak gitu. Tapi, ternyata tetap bisa bersukacita :D

      Delete
  2. nah itu yang saya takutkan juga. sekali berbagi THR takutnya jadi kebiasaan dan gak enak hati jika tahun depan gak bagi THR
    Jadi seasyiknya aja, kalo sedang pingin berbagi ya lakukan, kalo enggak, apalagi enggak ada uang receh, ya udah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya menurut saya memang penting sesekali bisa bersikap 'masa bodo'. Gak apa-apa memberi THR. Tapi, jangan sampai terpaksa. Apabila tahun depannya sedang tidka bisa memberi, harus bisa tegas. Masa bodo juga kalau bakal sampai ditagih :D

      Delete
  3. Kalau ada diberikan THR-nya, kalau gak ada gak maksain diri. Tapi memang sih bocil-bocil pada nandai rumah yang suka dan tidak ngasih THR, makanya sikap 'masa bodo' terkadang diperlukan agar lebaran tetap damai. Makasih sudah mengingatkan kembali makna THR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harus bisa bersikap masa bodo. Jangan gak enakan melulu :D

      Delete
  4. Ya betul sekali, pemberian THR memang gak wajib mbak apalagi kalau hanya cuma "gak enakan" aduuuuuuh ampun deh. Gak enakan ma orang lain tapi nanti diri sendiri kelaparan, gak banget juga kan ya, Mbak.... Tapi, kalau berlebih gak ada salahnya. Tidak melulu uang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya malah jadi gak ikhlas ya, Mbak. Ngasih THR, tapi trus ngedumel dan ngeluh sendiri. Makanya mending tegas sekalian.

      Delete
  5. Waktu daku kecil diajarkannya menabung buat THR yang gede, kalau yang kecil gak apa jajan. Nah yang dari ortu itulah yang gede hehe, walau tetep aja malah yang diinget jajan. Jadi bukan kecil gedenya yang dipikirkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa lah jajan lebih bebas setahun sekali hihihi

      Delete
  6. buat anak kecil sebenarnya bisa juga, tapi harus diikutin dengan mereka bisa menabung duit THR nya biar mereka nggak kena investasi bodong haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah bener juga. Investasi bodong banyak terjadi di saat hari raya, ya :D

      Delete
  7. Menurut saya bagi-bagi THR itu bukan kewajiban, tapi hanya tradisi saja, Mbak. Dan sejak kecil, saya juga tidak pernah dikasih THR orang tua hehehe. Tahun ini pas mudik, saya juga tidak bagi THR, apalagi sebagai penulis freelance, saya juga tak dapat THR. Tidak perlu tak enak hati, daripada habis lebaran pusing keuangan menipis hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya memang begitu. Tapi, kalau menyimak berbagai obrolan netizen, jadinya ada yang menjadikan THR sebagai kewajiban. Kalau gak ngasih kayak dijulidin ma keluarga besar. Kasihan sih kalau sampai kayak gitu. Tapi, saya tipe yang bodo amat :D

      Delete
  8. Iya, bagi-bagi THR itu hanya tradisi, hukumnya tidak wajib. Prinsipnya untuk berbagi saja. Kalau ada bagi, kalau ga cukup jangan paksakan. Dan orang lain harus pengertian. Kalau ga dikasih jangan ngambek dan julid.

    Kalau dalam keluargaku ga ada sebutan bagi-bagi THR, tapi bagi-bagi hari raya. Beda sebutan aja, tapi intinya tetep bagi-bagi. Bisa dengan uang, baju baru, makanan, atau barang berguna lainnya.

    Anakku ga dibiasain dapat THR. Karena memberi mereka uang bisa kapan saja. Jadi mereka ga akan minta-minta ke ortunya ataupun orang lain. Dikasih diambil, ga ada ya ga minta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, mungkin kalau saya pun lebih tepat dibilang bagi-bagi hari raya. Karena gak pernah bagi duit, tapi bagi-bagi dalam bentuk lain.

      Delete
  9. Menyesuaikan kondisi keuangan aja menurut saya sih. Jika kebetulan dananya ada dan nawaitu kita kuat untuk memberikan THR sebagai hadiah puasa, saya rasa baik sekali. Kalau saya sih memberikan amplop THR adalah wujud rasa syukur akan rezeki yang sudah didapat. Ngasihnya juga ke anak-anak atau keponakan yang masih sekolah dan belum berpenghasilan sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak. Memang sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi keuangan. Jangan memaksakan diri, ya

      Delete
  10. Setuju kak, aku gamau anak jadi bermental fakir dan minta sama orang, lebih baik minta sama Allah aja kalau pengen apa2. Jujur, anakku seneng dapet uang meskipun ga ngerti hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak-anak mah dikasih permen juga udah seneng, ya hihihi. Tapi, memang bagusnya jangan biasakan untuk meminta apalagi menagih harus dikasih

      Delete
  11. Di keluarga saya sudah jadi tradisi sih bagi-bagi THR baik untuk anak maupun keponakan yang jumlahnya belasan. Hitung-hitung sodakoh... Seneng banget lihat anak-anak semringah saat menerima THR. Momen setahun sekali harus dimaksimalkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memaksimalkan berbagi kebahagian tentu baik ya, Dok. Asalkan jangan merasa terpaksa aja :)

      Delete
  12. Untuk keluarga yang terbiasa dengan tradisi ini anak-anak pasti nunggu dengan antusias. Jadi sebisa mungkin kita juga memberi ya supaya anak senang, toh jumlahnya bisa diatur sesuai kemampuan ortu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di keluarga saya banyak yang antusias menunggu pembagian THR karena memang tradisi. Tapi, alhamdulillah juga pada memahami kalau saya memilih ikut tradisi suami yang gak pernah bagi-bagi uang :)

      Delete
  13. Saat keliling ke rumah saudara, apalagi yang sudah, saya sudah sounding ke anak-anak, jangan terima uang dari Mbah, karena Mbah sudah ga ada kerja. Alhamdulillah mereka paham, bahkan sampai dipaksa mereka ga mau.

    Kembali kepada masing-masing pribadi ya, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kembali ke masing-masing. Tentu udah pada tau keuntungan dan risikonya :)

      Delete
  14. Anak-anak memang gak terasa mau diberi uang pecahan berapapun, yang penting lembarannya banyaakk.. Heheh, kalau di keluargaku, gak ada kebiasaan ini. Tapi di keluarga suami, ada.
    Jadi nurutan berbagi meski sedikit ewang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kebalikan ma saya ya, Mbak. Kalau di saya justru keluarga suami yang gak ada tradisi ini. Tapi, di keluarga saya ada hehehe

      Delete
  15. Kalau saya, gak wajib. Tapi kalau ada, dikasih aja, mereka senang. Tapi tetap diajarkan bahwa jangan selalu nunggu THR, apalagi sampai sengaja menunggu ada yang ngasih /meminta-minta saat pergi bersilaturahmi ke keluarga/kerabat/tetangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Kalau dikasih tetap menerima dan ucapkan terima kasih. Tapi, memang sebaiknya gak sampai meminta atau menagih.

      Delete
  16. Tradisi ngasih THR masih melekat kuat, alhamdulillah anak-anak kami ajari gimana bersikap dengan THR ini, kalau diberi bersyukur dan ucapkan terimakasih, kalau tidak dikasih ya gak papa tetap bersilaturahmi dengan baik

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^