"Papah sehat, Chi?"
"Alhamdulillah, papah sehat, Tante."
"Kalau papah Chi mah masih kerja, ya."
"Iya."

Masih sangat teringat dengan jelas obrolan Chi dengan tante K'Aie saat kami bersilaturahmi ke rumah om dan tante K'Aie di Bandung (27/4). Saat itu kami baru saja selesai menemani Keke ke acara perpisahan kelas yang diadakan di Clove Garden Hotel.

K'Aie mengajak kami untuk bersilaturahmi ke rumah om dan tantenya sebelum menginap di rumah keluarga saya. Rencananya, keesokan harinya kami akan berziarah ke makam almarhumah mamah K'Aie. Setelah itu, kami balik ke Jakarta.


jangan takut berbagi, jangan takut berzakat, zakat, dompet dhuafa
Foto saat lebaran hari kedua tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahun papah ke-67


Berita yang Sangat Mengejutkan


Baru saja beberapa menit kami pamit ke om dan tante K'Aie, telpon Chi berbunyi. Ketika diangkat, suara mamah terdengar menangis sambil jejeritan.

"Ya, Mah."
"CHIIII! PAPAH PINGSAAAAAN!"
"Hah? Kok, bisa?"
"MAMAH GAK TAU. LAGI NGOBROL SAMA MAMAH, TAU-TAU PAPAH PINGSAN."
"Adhi mana?"
"Adhi lagi di Jambi. Rencananya pulang malam ini. Mungkin dia lagi di pesawat."
"Ya udah, tutup dulu telponnya. Chi pulang sekarang juga!"

Dengan gemetar, Chi nelpon mamang (paman), mengabarkan batal menginap di Bandung. Chi pun menelpon Cepi, tukang yang pernah merenovasi rumah mamah-papah, untuk melihat keadaan papah. Chi menghubungi Adhi gak bisa. Di WA cuma centang satu. Ya, sepertinya dia memang masih di pesawat.

Papah udah gak ada ...

Rasanya semua berjalan dengan sangat cepat. Tante K'Aie baru aja menanyakan keadaan papah dan Chi bilang sehat. Selang beberapa menit, dapat kabar kalau papah pingsan. Beberapa menit kemudian, dikabarkan papah udah gak ada.

Ini beneran? Ini nyata atau mimpi? Rasanya masih susah dicerna di otak. Chi berharap mamah hanya panik jadinya salah memberi kabar. Sepanjang perjalanan kadang-kadang Chi menangis, tetapi kadang-kadang diam bahkan masih bisa ngobrol dengan beberapa teman yang langsung menanyakan kabar via telpon.

Ah, Teh, yang bener.

WA masuk dari Adhi. Adik paling kecil yang baru aja landing. Belum juga Chi selesai mengetik jawaban, Adhi udah telpon. Mendengar Chi hanya bisa menangis, Adhi pun menutup telponnya. Dia sudah tau arti tangisan kakaknya.

Chi masih terus menepis pikiran kalau papah sudah gak ada. Chi berharap papah hanya pingsan. Papah hanya sakit. Tetapi, harapan itu pupus setelah Chi menelpon Keke dan memastikan kalau abahnya sudah gak ada. Innalillahi wa innailaihi roji'uun.

Selesai acara perpisahan, Keke memang memilih ikut pulang ke Jakarta bersama rombongan. Di tengah perjalanan, Chi menelpon Keke untuk jangan pulang ke rumah. Chi bilang kalau abahnya pingsan. Jadi, pulang ke rumah abah dan mamah aja.

Untung bukan Chi yang menyetir mobil. K'aie tetap mampu mengendarai mobil dengan tenang. Alhamdulillah perjalanan Bandung-Bekasi sangat lancar. Hanya sekitar 3 jam.

Rumah sudah sangat ramai ketika kami datang. Melihat papah yang seperti sedang tertidur nyenyak, rasanya langsung lemas. Tetapi, Chi gak bisa memeluk karena papah sudah dimandikan.

Setelah suasana mulai sedikit tenang, Chi pun bertanya kronologisnya. Menurut cerita mamah, usai sholat Maghrib, papah hanya bergeser sedikit posisinya untuk berdoa. Saat sedang berdoa, mamah menepuk bahu papah.

"Mau makan, Pah?"
"Masih kenyang, Mah."
"Ya udah, nanti makan sopnya aja kalau masih kenyang. Gak usah pakai nasi."

Setelah mamah ngomong gitu, papah pun bersujud. Mamah sempat berpikir, papah sujud untuk mengakhiri doa. Tetapi, karena agak lama, mamah pun kembali menepuk bahu papah.

"Pah, kenapa? Pusing, ya?"

Papah gak menjawab. Berkali-kali ditanya mamah, tetap gak menjawab. Ketika dibalik posisinya sama mamah, papah seperti orang tidur. Mamah tepok pipinya, dibuka mulutnya, tetapi papah tetap gak bangun. Mamah pun mulai panik.

Mamah ke luar rumah, tetapi suasana sangat sepi karena maghrib. Minta tolong ke pos satpam dan tetangga. Tidak berapa lama, banyak pertolongan datang ke rumah. Termasuk dari para jamaah masjid yang baru saja selesai sholat. Ada 2 dokter juga yang menolong.

Papah gak pernah bangun lagi. Papah meninggal dalam posisi bersujud dan (mungkin) masih memiliki wudhu. Innalillahi wa innailaihi roji'uun.


Jangan Takut Berzakat


jangan takut berbagi, jangan takut berzakat, zakat, dompet dhuafa
Papah dan mamah dengan para cucu


Masih banyak yang cerita tentang wafatnya papah. Tentunya Chi sedih kalau mengingat ini. Tetapi, terus berusaha untuk ikhlas. Singkat cerita, hingga proses pemakaman, semua berlangsung dengan sangat lancar. Banyak sekali bantuan yang datang. Bahkan hingga seminggu setelah papah wafat. Alhamdulillah.

Wafatnya papah tidak hanya meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam, tetapi juga mengejutkan. Sama sekali tidak ada kepikiran akan ditinggalkan papah secepat itu. Semua serba mendadak.

Tentu saja kami berusaha untuk ikhlas dan saling menguatkan. Kami saling bercerita tentang kebaikan papah. Kami pun berpikir, banyaknya bantuan yang mengalir, mungkin karena papah semasa hidupnya memang senang berbagi. Banyak saudara dan tamu yang datang, bercerita tentang kebaikan papah dalam hal berbagi semasa hidupnya.

Papah tuh sosok yang lumayan pendiam. Kayaknya jarang kasih petuah ini itu. Tetapi, papah lebih suka langsung menunjukkan. Termasuk dalam hal berbagi. Selain senang berbagi, papah juga selalu berusaha memberikan yang terbaik. Ya, sepertinya tentang berbagi ini menjadi salah satu pesan dari papah.


Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba : 39)

Sebagai manusia, kadang-kadang suka khawatir untuk berbagi. Apalagi kalau mengingat biaya kebutuhan hidup sedang banyak-banyaknya. Padahal dalam Islam, jangan takut berbagi. Tentu saja dalam hal ini, berbagi kebaikan.

Banyak manfaat berbagi menurut Islam. Berbagi juga gak hanya tentang materi. Senyuman pun bisa termasuk berbagi. Berbagi juga tidak akan mengurangi harta. Malah bisa menambah rezeki bila kita bersedekah hanya karena Allah. Insya Allah akan diganti dengan rezeki yang lebih baik.

Papah wafat itu sekitar seminggu menjelang Ramadan. Kembali mengingatkan Chi kalau bersedekah di bulan Ramadan itu keuntungannya sangat besar. Termasuk salah satunya membayar zakat. Chi biasanya membayar zakat di Dompet Dhuafa. Zaman digital dan cashless begini, berzakat di Dompet Dhuafa jadi memudahkan karena tinggal transfer.

 
Dompet Dhuafa adalah Lembaga Filantropi Islam bersumber dari dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship). Dompet Dhuafa akan terus mewujudkan masyarakat berdaya yang bertumpu pada sumber daya lokal melalui sistem yang berkeadilan.

Selama 25 tahun ini, Dompet Dhuafa sudah menyalurkan zakat kurang lebih ke 19 juta penerima manfaat. Insya Allah, zakat mampu membantu dunia menangani kemiskinan. Dompet Dhuafa menyalurkan zakat di 4 bidang yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sosial.

Bulan Ramadan adalah bulan yang indah. Bulan penuh ampunan dan berkah. Biar tidak sekadar menahan lapar dan haus di bulan puasa. Sebaiknya memang semangat mencari pahala.

Sebuah pesan yang papah tinggalkan untuk kami sangat indah. Selalu berbagi dan berikan yang terbaik. Kami akan berusaha untuk mengikuti apa yang sudah papah lakukan. Insya Allah dimudahkan jalannya.

Terima kasih banyak untuk pesan indahnya, Pah.