Apa yang teman-teman langsung ingat ketika mendengar/membaca judul film 3 Dara? Sebuah film komedi musikal klasik (1956) karya sutradara Usmar Ismail yang dibintangi oleh Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak? Pada tahun 2016 film ini direstorasi dan kembali ditayangkan di beberapa bioskop di Indonesia.

Bila teman-teman berpikir seperti itu, maka jawabannya adalah SALAH BESAR. Tetapi, kita toss dulu! Chi pun sempat berpikir begitu. Chi pikir film 3 Dara adalah sekuel dari Tiga Dara. Sempat heran juga ketika melihat posternya kok 3 orang cowok dengan 1 perempuan?

Ternyata 3 Dara dengan Tiga Dara adalah 2 film yang berbeda. Yup! Secara pengucapan memang sama, tetapi tulisannya berbeda. Kalau yang film klasik menggunakan huruf (tiga), sedangkan film yang baru Chi tonton ini menggunakan angka (3). Bingung? Ya intinya ini adalah 2 film yang tidak ada hubungannya sama sekali.


Review Film 3 Dara 2


Film ini menceritakan tentang 3 orang sahabat yaitu Affandy (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken), dan Richard (Tanta Ginting). Affandy memiliki ibu mertua / Eyang Putri (Cut Mini) yang selalu nyinyir kepadanya. Affandy selalu dianggap sebagai suami yang gak punya modal. Jabatannya sebagai salah seorang direksi pun tidak dianggap karena Affandy bekerja di perusahaan milik mertua.

Tidak tahan dengan tekanan tersebut, Affandy mengajak ketiga sahabatnya untuk berinvestasi. Mereka tergiur dengan penawaran dari Bowo (Dwi Sasono). Saking tergiurnya dengan keuntungan yang didapat, mereka bahkan berani langsung berinvestasi sebanyak 45 milyar. Sebulan kemudian, ketahuan kalau mereka ditipu.

Seluruh harta disita oleh bank. Mereka dengan istri dan anak terpaksa tinggal di rumah mertua Affandy. Di sinilah drama dimulai. Saat mereka bertukar peran. Para istri memutuskan untuk bekerja, dan suami menggantikan peran istri di rumah. Selama di rumah, 3 sahabat ini diawasi penuh oleh Jentu (Soleh Solihun), tangan kanan Eyang Putri.

Trus, gimana akhirannya? Nonton sendiri aja, ya. Biar gak dibilang spoiler.


Kesan dan Pesan 3 Dara 2


review 3 dara 2

Udah lumayan lama Chi gak ke bioskop. Tapi, sore tadi Chi lagi butuh me time. Pengen nonton film yang lucu gitu, deh. Akhirnya, Chi memilih 3 Dara 2 karena film ini lagi banyak dibicarakan. Banyak yang bilang kalau film ini tentang para suami yang berganti peran menjadi bapak rumah tangga. Pesannya supaya para suami juga bisa belajar paham bagaimana peran istri di rumah.

Film bergenre komedi ini ceritanya sederhana. Beberapa penonton di dekat Chi malah ngakak melulu. Tetapi, memang agak di luar ekspektasi Chi. Tadinya Chi pikir setelah para suami bertukar peran dengan istri, akan banyak kelucuan yang tergali di bagian ini. Bagaimana para suami yang biasa kerja kantoran harus menjadi bapak rumah tangga. Pasti akan banyak cerita heboh.

Ternyata hampir lebih dari setengah jalan cerita lebih banyak menceritakan tentang bagaimana ketiga sahabat ini terus mencari cara agar mereka bisa segera mendapatkan pengganti uang 45 milyar yang amblas. Dari mulai menyewa hacker untuk melacak keberadaan Bowo, menyewakan properti rumah Eyang Putri, hingga menggadaikan sertifikat rumah Eyang Putri. Tetapi, semua usaha tersebut selalu gagal.

Meskipun memang di luar ekspektasi Chi, bukan berarti gak ada pesan moral yang didapat dari cerita ini, ya. Paling gak ada 3 pesan yang bisa Chi dapatkan, yaitu


Mengurus Rumah Tangga Itu Berat, Kalau ...

Ada yang bilang kalau ibu rumah tangga itu pekerjaan 24 jam yang gak ada cutinya. Udah mengurus anak, masih juga mengurus rumah. Bahkan gajinya juga gak jelas. Kalau ngomongin gaji, seolah-olah kayak perhitungan dan gak ikhlas. Padahal memang kenyataannya berat. Nah, solusinya itu pekerjaan rumah tangga akan terasa lebih ringan kalau dengan pasangan saling bekerjasama. Tidak semuanya dibebankan kepada istri.

Walaupun cerita ini mendapatkan porsi yang kurang banyak seperti yang Chi ceritakan, tetapi tetap dapat pesannya. Mungkin karena merasa pekerjaan ini berat ditambah lagi dengan ego para suami yang masih juga belum menyadari pentingnya bekerjasama dengan istri, malah akhirnya 3 sahabat ini terus saja mencari solusi lain. Pada akhirnya hanya menemui kegagalan berkali-kali.


Pentingnya Menjalin Komunikasi dengan Pasangan

Ketika 3 sahabat ini berinvestasi secara diam-diam. Affandy bahkan sempat melarang Richard yang ingin berdiskusi dulu dengan istrinya. Ketika lagi-lagi mereka melakukan kebodohan saat berusaha mendapatkan kembali uang 45 milyar, bukannya mengurus rumah, juga tanpa sepengetahuan para istri.

Konflik agak serius lumayan dapat di sini. Ketika Affandy marah saat istrinya ngomelin dia. Biar bagaimanapun dia merasa sebagai kepala rumah tangga. Tetapi, buat Chi, momen paling dapat tuh saat Aniek (Fanny Fabriana) bilang kalau dia udah capek dengan ulah suaminya sambil matanya berkaca-kaca. Ya iyalah, siapa juga sih istri yang gak marah kalau suaminya kayak gitu. Bahkan karakter Aniek di sini kan digambarkan sebagai istri yang setia dan sabar banget sama suami.


Jadi Mertua Jangan Terlalu Nyinyir Sama Menantu

Chi belum pernah menonton film 3 Dara yang versi pertama. Tetapi, kalau sekuel ini, Chi taunya Affandy memang bekerja di perusahaan mertua dengan jabatan sebagai salah satu direksi. Trus, salahnya di mana ya sampai mertuanya senyinyir itu? Mungkin di versi pertama ada penjelasannya.

Intinya sih jangan nyinyir gitu lah sama menantu. Ya walaupun gak bisa digeneralisir juga. Memang ada juga menantu yang ngeselin hehehe. Tapi, sekesel-keselnya sama karakter Eyang Putri, gak lebih ngeselin dari karakter Jentu. Punya asisten kayak begitu mah tenggelemin aja sama kuda karetnya hahaha!

Etapi, sebetulnya Eyang Putrinya itu baik. Penasaran baiknya kenapa? Ya, harus nonton filmnya.


Menjalankan Rumah Tangga Itu Butuh DUIT


Menurut Chi, pesan moral dari film ini adalah tentang duit. Awal mula konflik rumah tangga di film ini memang karena duit. Tergiur investasi abal-abal. Istri harus bekerja demi mendapatkan duit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bolak-balik mengalami kegagalan saat berusaha mendapatkan kembali uang 45 milyar. Semua tentang duit.

Tetapi, seperti kata Windy (Rianti Cartwright), seorang psikolog di film ini, lelaki dan perempuan memang berbeda. Tetapi, bila sudah berumah tangga menjadi satu. Kira-kira seperti itu pesannya. Film ini ditutup manis dengan lagu lawas dari Jhonny Iskandar (PMR) yaitu Duit-Duitan.

Berumah tangga memang butuh DUIT (Do'a, Usaha, Iman, dan Takwa). Setuju?