Model Profesional

Nai: "Bunda, mulai sekarang kalau mau taro foto Ima di blog untuk postingan lomba atau job review harus bayar. Tapi, kalau untuk cerita biasa gak usah bayar."
Bunda: "Bayar berapa?"
Nai: "Bayar pake cilok"

Ampun, deh, udah mulai kaya model profesional pake minta bayaran segala hahaha. Tapi memang kalau untuk blog ini walopun yang menulis selalu Chi, pengawas dna (bahkan) penentunya adalah anak-anak. Kalau K'Aie sih paling bilang jangan aneh-aneh aja. Anak-anaklah yang paling menentukan.

Keke dan Nai gak cuma baca blog ini tapi mereka juga bisa menolak dan menentukan cerita apa aja yang boleh ditampilkan di blog. Chi sih hargai aja keinginan mereka itu karena yang diceritakan di blog ini kan semuanya tentang mereka. Kalau merekanya merasa gak nyaman, masa' Chi memaksakan tetep menulis?
Gak lama permintaan dibayar pake cilok pun diralat. Katanya cimol ajah hehehehe. Padahal kalau kata Chi, cilok di sekolah Keke dan Nai itu enak, lho. Chi aja yang tadinya gak terlalu suka cilok, tapi kalau beli cilok di sekolah Keke dan Nai rasanya pengen nambah terus hihihi.

Cilok, cimol, cireng, hmmm... masih ada 'ci' lainnya gak? *Waduh, malam-malam begini mendadak kepengen rujak cireng, nih* Yang jelas makanan yang terbuat dari aci (tepung kanji) ini memang salah satu camilan favorit kami. Chi pernah cobain sekali bikin cilok, tapi belum berhasil. Ciloknya sih jadi, cuma masih belum sreg sama rasanya. Walopun Keke dan Nai sih tetep suka :D

Beberapa waktu lalu, Nai ngajakin bikin cireng. Tapi, Chi belum juga menuhin keinginannya. Karena merasa bundanya gak juga menuhin keinginannya, akhirnya Nai bikin sendiri. Berguru sama youtube. Dari mulai nguleni sampe menggoreng, semua Nai lakuin sendiri.

Menurut Chi, untuk percobaan pertama itu Nai cukup berhasil, lho. Apalagi kalau bikin cireng itu kan harus diuleni. Untuk tangan yang masih mungil, dia cukup bagus nguleninya. Tekstur cirengnya gak keras.

Kekurangannya itu cuma kurang garam. Jadi rada hambar rasanya. Tapi, bisa diakalin, lah. Setelah digoreng, makannya dicocolin ke garam aja. Enak, kan, makan cireng hangat dicocol garam dan cabe rawit. Atau bikin aja bumbu rujak. Jadi, deh rujak cireng buatan Nai. Sayang makanannya keburu abis, uy! Gak sempet ke foto.

Chi juga kayaknya harus mulai belajar bikin aneka camilan dari aci lagi, ah. Kalau suatu waktu Nai minta bayaran sebagai model lagi, gak usah jajan. Tinggal bikinin aja, lebih murah meriah. Etapi dengan catatan kalau lagi semangat nguprek di dapur. Karena kalau lagi pengen praktis, mending aja. Udah banyak dimana-mana yang jual makanan dari aci ini. Apalagi rujak cireng, di toko online aja ada yang jual hehehe.

6 Comments

  1. Pertama-tama belum pernah bikin cireng. Kedua, iya dooong masa gratisan aja nih modelnya wkwkwkk

    BalasHapus
  2. Jadi pingin nyobain cireng, pasti enak rasanya ya. Tepung aci itu lain dengan tepung kanji ya?
    Btw anak sulungku juga pernah ngomong gitu, minta bagian fee kalo cerita tentang dia atau fotonya/ foto hasil jepretannya kupajang di blog hihihi *anak2 sekarang ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak,tapi jangan sering-sering aja hahaha

      Hapus
  3. Keke Nai diralat aja, bayaran modelnya penganan khas buatan Bunda Chi hehe...

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^