Bulan Februari 2014, pernikahan kami memasuki usia 11 tahun. Alhamdulillah 1 dekade udah lewat. Sekarang menjalani dekade berikutnya. Dan semoga kami selalu langgeng. Aamiin.

Tiba-tiba jadi pengen nostalgia sama masa lalu, nih. Nostalgia tentang persiapan pernikahan yang semuanya kami urus berdua aja. Bolak-balik Bekasi-Bandung, karena rencananya pernikahan akan digelar di Bandung. Untungnya, kami punya keinginan yang sama tentang resepsi pernikahan. Pengennya membuat pernikahan di tempat terbuka (outdoor) trus gak usah ngundang orang terlalu banyak, lah. Cukup keluarga dan teman-teman terdekat aja.

Ternyata, walopun kami kompak, untuk mewujudkannya bukan perkara mudah. Dulu di Bandung belum musim pernikahan outdoor gitu. Susah banget cari tempat. Bukan karena gak cocok, tapi memang gak ada yang ditengah kota. Kebanyakan di daerah atas seperti di Lembang. Wah, kasian tamu-tamunya karena gak semua tamu punya kendaraan pribadi, pikir kami saat itu.

Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu juga di salah satu café. Café yang gak terlalu besar, tapi punya halaman yang cukup untuk menampung sekitar 500 tamu.

Kendala lainnya adalah biaya. Sesederhananya sebuah resepsi pernikahan, pasti ada biaya kan. Kalau bisa sih jangan terlalu besar lah biayanya. Tapi, tetep pengennya berkesan. Nah, ini yang bikin saya dan calon suami (dulu masih calon hehehe) cukup pusing. Harus puter otak, supaya biayanya gak membludak.

Saya sempet stress, waktu harga-harga bahan pokok naik cukup tinggi. Waduh, bisa-bisa naik juga nih harga makanan untuk resepsi kami. Eh, ternyata enggak. Menurut pihak café, kami sudah melunasi seluruh pembayaran sebelum harga-harga naik, jadi kalau di pasar ada kenaikan harga tidak akan dibebankan ke kami. Hufff… legaaa…

Saya dan calon suami beberapa kali jalan ke Mayestik, cari bahan kain dengan harga murah tapi berkualitas untuk kebaya siraman, akad, dan resepsi. Mendatangi berbagai toko bunga supaya bisa dapat ratusan bunga mawar untuk dijadikan souvenir pernikahan. Minta tolong om saya, bikinin background dari bambu untuk di pelaminan. Bambunya nebang sendiri yang tumbuh subur di depan rumah mertuanya hihihi.

Gak cuma itu, kami mendesain sendiri undangan pernikahan menggunakan photoshop. Setelah selesai baru kami berikan ke tukang cetak. Untuk foto yang dipajang di acara resepsi, kami foto seru-seruan berdua di photo booth! Dan dengan kecanggihan photoshop, rasanya hasil foto kami gak kalah bagusnya dengan foto-foto pre wedding yang pakai jasa photographer hahaha! Paling untuk foto di acara akad dan resepsi aja pake photographer professional. Itu juga kakak ipar, jadi harga keluarga, lah. Semua demi 1 kata, PENGIRITAN :D

Hasilnya? Bagus dan memuaskan. Makanannya enak, jumlahnya cukup malahan masih ada lebihnya. Dekorasi dan lain-lainnya bagus.
 

Salah satu pernikahan yang saya dan suami bantu untuk akad dan resepsinya.


Lancarnya akad hingga resepsi pernikahan dengan hasil yang memuaskan, membuat saya dan suami beberapa kali diminta keluarga untuk mengurus pernikahan. Istilah kerennya wedding organizer.

Walopun begitu, saya belum ada niatan untuk bikin bisnis wedding organizer, sih. Tapi seneng aja kalau ada yang kasih kepercayaan ke kami untuk mengurus pernikahannya.

Dari beberapa pengalaman, saya bisa berkesimpulan biaya itu memang menjadi faktor penting. Buat saya dan suami selalu mengusahakan gimana caranya bisa mendapatkan biaya yang sesuai budget tapi hasilnya maksimal. Syukur-syukur kalau budgetnya bisa lebih hemat lagi tanpa mengurangi kualitas.