Berhati-hatilah Para Orang Tua

Seperti biasa setiap hari kamis sore Chi nganterin Keke & Nai kursus menggambar. Waktu anak-anak udah mulai masuk kelas, Chi pergi ke warung sebelah tempat kursus buat beli minuman. Ketika Chi lagi di warung itu, masuk anak kecil kalo liat badannya kayaknya sih sekitar anak kelas 5-6 SD gitu deh.

Si Anak : "Permisi bu, rokok merk **** berapa harga sebatangnya?" *merk rokok yang di sebutinnya Chi lupa*
Ibu Warung : "Harganya Rp. 1000,- sebatang dek"
Si Anak : "Makasih ya bu. Saya mau tanya dulu"

Pada saat itu udah ada rasa aneh di hati Chi. Kenapa anak sekecil ini mau beli rokok? Untuk dia sendiri atau ada yang nyuruh?

Chi keluar dari warung hampir berbarengan dengan anak ini, bedanya si anak langsung ke arah kiri & Chi harusnya ke arah kanan. Cuma langkah Chi terhenti, karena gak jauh dari Chi berdiri dengan jelas Chi melihat anak ini menghampiri seseorang yang sedang duduk di motor. Yang bikin Chi kaget adalah dialognya mereka.

Si anak : "Bang uangnya kurang"Pengendara motor : "Gimana bisa kurang?!!!! Emang dasar lo aja yang goblok!!! Dasar lo tuh @!%&%$%*&%$ *maaf Chi gak tulisin kata2nya. Karena terlalu banyak kata yang sangat kasar terlontar dari mulut si pengendara motor itu. Pokoknya segala macam binatang & dedemit keluar semua*. Pokoknya gue gak mau tau, itu uang harus cukup buat beli rokok!!!"
Si anak : "Tapi uangnya beneran kurang bang"
Pengendara motor : "Lo tuh emang goblok ya!!!!! Lo mau gue hajar apa??? Beli gak itu rokok!!!"

Sempet beberapa saat dialog itu terjadi. Si anak dengan memelasnya bilang kalo uang yang di kasih kurang. Sementara si pengendara motor tetap memaksa si anak membeli rokok dengan uang yang kurang itu plus segala umpatan & ancaman kalo ga nurut mau di hajar.

Chi marah banget liat kejadian itu. Sempet terpikir untuk nyamperin & ngomelin si pengendara motor. Tapi Chi berpikir, itu orang bawa pisau gak ya. Kalo liat kelakuan yang error itu bisa iya, bisa enggak. Atau bisa juga mungkin pada saat itu si pengendara motor akan nurut sama Chi, tapi siapa menjamin begitu Chi gak ada di depannya, dia akan tetap jadi baik sama anak itu. Bisa-bisa si anak malah di hajar beneran.

Akhirnya karena terus di paksa oleh pengendara motor itu, si anak pun kembali ke warung. Chi gak tau deh dengan apa dia membayar kekurangannya. Mungkin dengan uang jajannya kali ya.. Setelah membeli rokok, si anak langsung naik keboncengan dan mereka berdua pergi menjauh.

Yang Chi pikirin setelah melihat kejadian itu adalah siapa kah mereka? Apa hubungannya mereka berdua? Kalo liat dari wajahnya Chi gak yakin kalo mereka bersaudara, karena terlihat sangat jauuuuhhh baik dari wajah maupun penampilan.

Chi perkirakan si pengendara motor ini adalah ojek langganan atau pembantu di rumahnya si anak itu. Pertanyaan Chi selanjutnya apabila si pengendara motor itu bener tukang ojek langganan atau pembantu di rumah adalah apakah orang tua anak itu gak tau kalo anaknya suka di bentak-bentak? Kayaknya sih gak tau. Kalo tau mungkin udah di pecat. Lagian bisa jadi kan di depan orang tuanya anak ini si pengendara motor bersikap manis?

Lalu kenapa si anak gak ngadu aja ke orang tuanya. Bisa jadi karena di ancam. Kalo Chi liat ucapan-ucapannya & ancaman-ancaan dia ke si anak, gak menutup kemungkinan kalo anaknya di ancam.

Pemandangan kemaren sore jadi pelajaran buat Chi untuk selalu lebih berhati-hati lagi dalam menjaga anak. Mungkin salah satunya adalah tetap menjaga keterbukaan dalam berkomunikasi. Jadi apapun yang terjadi dengan anak kita sebagai orang tua kita bisa langsung tau. KArena yang kadang kita lihat baik-baik aja, belom tentu sebenarnya seperti itu.

Semoga kejadian kemaren sore gak terjadi sama anak-anak kita ya. Amin...

Posting Komentar

0 Komentar