Minggu, 20 Desember 2015

Perlukah Uang Jajan untuk Anak?


Perlukah uang jajan untuk anak? Sebelum membahas perlu atau tidak, disamakan dulu pengertian tentang uang jajan, ya. Menurut Chi, uang jajan itu adalah uang yang memang hanya untuk jajan. Ya, boleh aja, sih, kalau uang jajan itu ditabung. Tapi hitungan uang jajan gak termasuk uang transport. Karena pernah beberapa kali ada obrolan tentang uang jajan, ternyata setelah uang jajannya dirinci, di dalamnya udah termasuk transport.

Perlu atau tidaknya anak diberi uang jajan itu tergantung alasan masing-masing orang tua. Chi gak sependapat kalau semakin mahal biaya sekolah, maka akan semakin besar uang jajannya. Ada anak yang bersekolah di sekolah mahal, tapi malah gak pernah dikasih jajan. Begitu juga sebaliknya, sekolahnya gak mahal tapi setiap hari anaknya jajannnya banyak. Keke dan Nai, masing-masing uang jajannya hanya Rp10.000,00/minggu. Itupun kadang-kadang mereka masih bisa nabung.

Kenapa Keke dan Nai uang jajannya segitu? Trus bagaimana mereka bersikap ketika tahu ada beberapa temannya yang mendapat uang jajan besar setiap harinya?

Bekal

Setiap hari Keke dan Nai bawa bekal ke sekolah. Masing-masing bawa 2 bekal yang dimasukkan ke dalam lunch box. Isi bekal bisa berubah-ubah. Dulu, Keke wajib bawa nasi untuk 2 bekalnya. Sekarang, dia udah gak mau. Keke maunya 1 bekal berisi nasi (bisa juga diganti dengan pasta atau mie). Bekal kedua berisi roti atau camilan lainnya. Membawakan bekal yang isinya mereka suka itu penting, supaya mereka gak merasa terpaksa.

Di sekolah Keke dan Nai memang ada kantin. Catering juga ada. Tapi setelah dihitung-hitung, sepertinya lebih irit bawa bekal. Walopun itu berarti Chi gak bisa santai setiap pagi karena harus menyiapkan bekal. Sekarang masih mending, sih, karena bekalnya udah gak dibento lagi hehehe.

Belajar Bertransaksi

Sebetulnya, dengan dikasih bekal setiap hari maka Keke dan Nai udah gak perlu uang jajan lagi. Tapi, Chi tetap kasih supaya mereka belajar bertransaksi. Belajar bertransaksi itu juga penting, lho. Pertama kali mereka diminta untuk bertransaksi sendiri, masih menolak karena malu. Udah gitu di awal-awal masih suka bingung sama uang kembalian. Pokoknya berapapun uang kembalian yang dikasih penjual, mereka terima aja. 

Kasih Penjelasan Hingga Mereka Mengerti

Ada beberapa teman Keke dan Nai yang memang dikasih uang jajan besar. Chi rutin kasih pengertian ke Keke dan Nai kenapa uang jajan mereka gak besar. Ajak mereka berdiskusi karena biasanya kalau cuma dikasih penjelasan masih kurang. Setidaknya begitu buat Keke dan Nai yang memang rajin bertanya :D

Jangan Mudah Iri dan Jangan Mudah Terima Gratisan Apalagi Sampai Meminta-minta

Walaupun mereka mengerti kenapa gak setiap hari mendapat jajan, tapi bukan berarti mereka gak bisa iri. Namanya juga manusia. Chi ingatkan mereka untuk jangan mudah iri ketika melihat temannya mendapatkan uang jajan yang jauh lebih banyak dari mereka. Ajarkan juga mereka mendapatkan jawaban yang tepat bila suatu saat ada temannya yang bertanya kenapa uang jajan mereka gak banyak.

Meminta-minta kepada teman, sangat Chi larang. Kalau memang mereka butuh uang jajan lebih, sebaiknya ngomong sama orang tua tapi sambil berikan alasan yang bisa diterima. Keke dan Nai pernah beberapa kali mencoba, tapi setelah dipertimbangkan, kami merasa uang jajan yang sekarang sudah cukup. Dan, mereka pun mengerti.

Ada beberapa temannya juga yang dengan mudah mentraktir. Keke dan Nai biasanya suka cerita kalau ditraktir temannya. Chi gak melarang tapi mengingatkan untuk selalu mengucapkan terima kasih. Chi juga mengimbau ke Keke dan Nai untuk tidak terus-terusan menerima traktiran apalagi dari teman yang sama. Tidak bermaksud berprasangka buruk, tapi memang sebaiknya jangan dilakukan. Sesekali Keke dan Nai juga harus bisa menolak bila ada temannya yang mau traktir. Walopun ada pepatah yang mengatakan 'Gratisan itu enak' :D

Jualan

Walopun gak sering, kadang mereka jadi kreatif untuk mendapatkan uang jajan. Keke pernah belajar jualan di sekolah, begitu juga Nai. Beberapa temannya juga ada yang begitu. Bahkan sempat menjamur sampai akhirnya sekolah membatasi kalau barang yang dijual maksimal hanya seharga Rp10.000,00 itupun dilakukan di jam tertentu. Gak boleh mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Bagus, sih, mereka pada punya semangat untuk berjualan. Chi paling ingetin aja untuk gak berjualan yang aneh-aneh (walopun belum pernah kejadian, tapi tetap wajib diingatkan) atau gak maksa teman-temannya untuk beli.

Jadi memang perlu atau tidaknya memberi uang jajan kepada anak-anak itu kembali ke alasan masing-masing. Chi pengennya, sih, anak-anak setiap hari bawa bekal. Tapi kembali lagi semuanya tergantung kondisi.

Kayak Chi dulu waktu masih sekolah setiap hari dikasih uang jajan. Pas SMA malah lebih sering memilih bawa bekal walopun dikasih uang jajan. Kuliah mulai jajan lagi. Tapi sejak SMA, Chi mulai minta jajan bulanan bukan harian. Ya, itung-itung belajar mengatur pengeluaran, lah. Mungkin Keke dan Nai juga akan mengalami berbagai perubahan untuk urusan uang jajan. Tapi untuk saat ini, uang jajan Rp10.000,00/minggu itu udah cukup, lah. :)

Senengnya, tuh, ketika saatnya mereka dapat uang jajan, senengnya kelihatan banget. Mungkin karena mereka gak setiap hari terima uang jajan, jadi begitu dapet uang kelihatan senengnya. Udah kayak orang dewasa kalau abis terima gaji kayaknya hahaha.

post signature

21 komentar:

  1. dibilang perlu...nggak...dibilang nggak juga perlu.
    suka ngbayangin air liur anak kita menetes melihat teman lainnya jajan atuh da

    BalasHapus
    Balasan
    1. perlu atau tidak memang terserah masing-masing. Dulu saya juga ada rasa gak tega ketika membayangkan anak saya membawa bekal sedangkan teman-temannya tidak. Rasanya pengen kasih uang jajan setiap hari. Tapi setelah dikasih pengertian, anak-anak saya senang dengan bekal yang dibawa, mereka juga gak ngiri dengan teman-temannya yang memilih jajan,jadi sampai sekarang gak ada alasan buat saya untuk memberi mereka jajan setiap hari.

      Hapus
  2. aku cari sekolah yang nggak pake uang saku, lagian paud kan belum ngerti duit..

    tapi cari sekolah yang ada snack timenya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak PAUD memang belum mengerti duit, tapi bisa jadi mereka sudah mengerti jajan kalau dibiasakan. Jadi memang kembali bagaimana membiasakannya juga, sih. Kalaupun di sekolah membolehkan jajan, tapi kalau dari rumah anak-anak sudah tidak dibiasakan untuk jajan, pasti bisa kok gak ikutan jajan :)

      Hapus
  3. menurutku ya perlu laah uang jajan..
    dari pada anak kita melongo, melihat teman2nya jajan.
    khawatir jadi anak yg suka minta2.

    gimana kita ngasih pengertian ke anak aja ya tentang uang jajan.
    dr sd kelas 1 aku slalu kasih uang jajan buat satu minggu.
    sampe sekarang, melatih buat bisa tanggung jawab dan bisa menyisihkan buat menabung juga hiii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keke dan Nai baru mulai jajan sejak kelas 3 SD, Teh. Alhamdulillah, mereka gak melongo melihat temannya ada yang jajan. Dan, mereka juga gak suka minta-minta jajan ke temannya. Ini berdasarkan laporan guru-guru di sekolah juga. Keke dan Nai tetap cuek walaupun mereka jarang jajan. :)

      Hapus
  4. Neskipun bawa makan siang uang jajan ttp aku kasih si mak cuma ga banyak emang yg penting ketika pengen jajan kaya temen2 ada uang trs kaya mak chi bilang blj bertransaksi juga

    BalasHapus
  5. kalau di sini aku ngg pernah kasih mak, karena makanan sudah kita bayar online ke sekolahnya. Tapi kalau di Indonesia pernah juga deh..tapi ya itu, dibatasi dan seperlunya saja..

    BalasHapus
  6. Anakku sehari 10rb tapi bawa bekal nasi & snack. Jadi uangnya masuk kotak tabungan. Tapi kadang habis juga buat jajan kalau diajak hangout temannya. Mrk nggak jajan kalau nggak diajak temannya. Waktu aku ultah, uangnya buat beli kadoku, jadi balik lagi ke aku. :))

    BalasHapus
  7. iya juga ya mak..tergantung kebiasann berarti ini mah... kalo anakku selalu bawa bekel ke sekolah, tapi tetep tinggalin uang ke ibuku kalo2 anakku minta beli jajan di indomaret..hihihihi kalo ga minta jajan, uangnya di taro di celengan punya anakku.. :)

    BalasHapus
  8. Lama baru komen2 di sini lagi :) Dulu di sekolah anakku ada aturan uang jajan maksimal, kalau nggak salah 2000/hari. Kalau bawa lebih wajib masuk kotak infaq :))

    BalasHapus
  9. Anakku juga bawa bekal, sampai mahasiswa nih si sulung meski nggak setiap hari. Repot emang tiap pagi siapin sarapan dan bekal. Tapi demi kesehatan anak2 sih, gak masalah ya mbak

    BalasHapus
  10. Sama mba,anak saya juga bawa bekal, uang jajannya paling sedikit, pernah di ledek temannya sebagai "anak sehat" (dengan nada nyinyir),uangnya jarang banget di pakai untuk beli jajanan, seringnya untuk jajan pulsa.

    BalasHapus
  11. walo Fylly masih 3 thn, aku ttp kasih uang jajan juga mba ke dia... apalagi deket rumahku itu ada indomart, ada warung, yg pasti bikin anak2 pgn jajan sesekali... baby sitternya juga udh aku ksh tau, kalo fylly mw cemilan biskuit, susu, ya tinggal ambil dr uang jajan yg udh aku siapin... limit adalah.. sebulan aku tetapin g boleh lbh dr Rp 250rb... kalo dlm bulan itu trnyata uangnya ada sisa, ya itu ditabung dlm celengan dia.. :) Aku emmang sengaja ngenalin uang dr kecil ke fylly, bukan dgn tujuan spy dia jd jajan trs2an.. tp spy dia ngerti, uang itu ga mudah didapet.. fyllypun kalo mw jajan, dia harus ngelakuin something nth itu beresin mainannya dulu, mijit kaki maminya walopun lbh terasa sperti gelitikin drpd mijitin ;p.. intinya dia hrs usaha dulu sblm uangnya dikasih :D

    BalasHapus
  12. hihi belum punya anak mak, tapi punya adik yang masih SD biasanya ibu bekalin juga, jajannya juga ngak banyak2.

    BalasHapus
  13. Setuju jika dikatakan perlu atau tidaknya kembali ke alasan atau tujuan. mungkin tergantung usia juga..nahusia yg tepat utk me-manage uangnya entah di-range usia brp..waktu itu kalo ngak salah ada juga pembahasan tentang ini langsung dari psikolog-nya tp saya lupaaa..haha...nice info

    BalasHapus
  14. Anak2ku gak sekolah, tp aku ttp kasih mereka uang bulanan (allowance) buat belajar memanage uang. Meski kdg2 uangnya mereka taro celengan, buat jajan ttp minta coba.

    BalasHapus
  15. Aku tipikal yang ga pernah kasih Naeema uang jajan juga mba. Dikasih kalau dia minta, kalau mintanya terlalu sering aq kasih pengertian. Maksimal 10ribu, biasanya ngiler sama jus atau biskuit diindomaret.

    Pernah dikasih uang sm neneknya, 20rb itu di irit2 sm dia, sayang kayanya hehehe.

    Jualan jg udah dikasih tau konsepnya secara langsung (karena sy Jualan).

    Kalo anak skr hrs kasih pengertian dan alasan yang ekstra

    BalasHapus
  16. Saya baca tulisan ini angguk-angguk terus karena sama dengan yg saya terapkan pd anak-anak, iya sih dulu waktu anak2 masih kecil masih rempong ngasih pengertian ttg mengatur uang jajannya, tapi sekarang mereka udah terbiasa memanage uangnya.

    BalasHapus
  17. Ya ampuuun, 10rb anakku ga sampai sehari. *Maknya jerit... hiks...

    BalasHapus
  18. Waktu masih sekolah dasar dulu, aku dibawain uang untuk transport (naik becak) dan uang jajan. Ortu kasih uang jajan karena nggak rutin bawain bekal. Kelas-kelas awal, uang jajan selalu habis. It means, aku nggak nabung sama sekali. Mulai kelas 6, kalau nggak salah, belajar "menyapih" diri sendiri. Yang tadinya berangkat-pulang naik becak, cukup berangkatnya aja yang naik becak. Pulang jalan kaki. Dari situ, aku punya uang saku tambahan yang bisa kutabung atau dibelikan barang kebutuhanku. Hehehe.

    Buat anakku kelak, aku kepikiran untuk bawain bekal, karena bagaimanapun makanan rumahan lebih sehat dan bersih. Cuma, yang bikin kepikiran adalah kalau gak dikasih uang saku gimana ya? Mungkin istilahnya bukan uang saku, ya, tapi dana darurat. Hanya boleh keluar kantong kalau bener-bener dibutuhkan. Anak diajak untuk menggunakan uang sesuai kebutuhan.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge