Rabu, 16 Desember 2015

Ketika Teori vs Realita Parenting Beradu


Chi selalu berharap punya anak yang sholeh/sholehah. Berbakti kepada orang tua, cerdas, dan semua nilai ideal lainnya. Rasanya itu harapan semua orang tua. Setuju, gak? Untuk mencapai harapan itu, orang tua memberikan berbagai upaya maksimal demi kebaikan anak. Tapi sadar gak, sih, kalau kadang yang kita kasih itu hanya teori? Kita sebagai orang masih susah atau bahkan gak bisa mempraktekannya untuk diri sendiri. Padahal anak, kan, lebih mudah dengan cara mencontoh perilaku sekitarnya. Terutama perilaku orang tua.

Ketika teori vs realita parenting beradu, apa yang dirasakan orang tua? Haruskah gak percaya lagi dengan segala teori parenting dan membiarkan mengalir begitu saja seperti air? Buat Chi, teori parenting itu perlu. Karena semua teori itu seperti salah satu panduan. Apalagi menjadi orang tua gak ada sekolahnya. Prakteknya memang harus mengalir seperti air. Tapi jangan sampai pasrah terombang-ambing. Tetep aja harus dikendalikan.

Ada beberapa contoh tentang teori vs realita yang semuanya berasal dari pengalaman Chi sendiri.

Teori vs Realita 1 - Berdiskusi

Ini kejadian beberapa tahun lalu yang masih Chi ingat dengan jelas. Saat itu, Chi lagi ngajarin Keke pelajaran PKn. Sambil ngajarin, Chi pindah-pindahin channel TV untuk mencari tayangan yang menarik. Ketika berhenti di salah satu televisi swasta, ada tayangan berita tentang para wakil rakyat kita yang terhormat sedang bertengkar. Langsung aja Chi ganti channel.

"Bunda, kenapa mereka ribut? Kan, di buku pelajaran katanya kalau berdiskusi harus ada bermusyawarah untuk mufakat.

Yak! Deziiiiiggg!!! Kontras banget momennya di saat Chi sedang mengajarkan PKn dengan tema bermusyawarah anak, di televisi ada segerombolan manusia kekanak-kanakan yang sepertinya lupa dengan pelajaran PKn. Oke, lah untuk angkatan para yang 'terhormat' itu mungkin zaman PMP. Tapi intinya sama aja apa yang dipelajari. Dan, Chi yakin banget ini bukan karena faktor U mereka lupa dengan yang namanya musyawarah. Errrgggh! *Nambah-nambahin PR orang tua buat ngejelasin*

Yang dilakulan:

Chi jelasin ke Keke kalau mereka itu kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan berbeda dengan anak-anak. Kekanak-kanakan tidak lebih baik dari anak-anak, bahkan lebih buruk. Mereka adalah sosok dewasa yang seharusnya berpikiran dewasa. Sayangnya itu tidak terjadi.

Mungkin gak terlalu sulit saat Chi menjelaskan itu. Apalagi di tangan ada buku PKn. Chi tinggal jelasin aja sekaligus meminta Keke dan Nai supaya jangan pernah bersikap kekanak-kanakan seperti itu ketika mereka dewasa. Tapi bagaimana dengan orang tua yang sering melakukan Mom's War?

"Ah, anak saya gak bakal tau ini. Kan, anak saya belum bersocmed, gak saya kasih gadget pula."

Yakin anaknya gak bakal tau? Bagaimana kalau ketika seorang ibu sedang melakukan mom's war kemudian ada yang screenshot lalu disebarluaskan? Anaknya mungkin gak dikasih gadget, tapi dia akhirnya bisa tau secara (tidak) sengaja saat sedang meminjam gadget temannya. Kalau begitu, apa yang akan dijelaskan kepada anak? Orang tua mengajarkan kepada anak untuk bisa berdiskusi dengan baik, tapi di sisi lain orang tua malah seneng ikutan mom's war. Chi gak tau apa yang akan dilakukan kalau sampai itu terjadi. Karena Chi memang selalu menghindari mom's war ;)

Teori vs Realita 2 - Gadget Addict

"Anak saya udah bener-bener kecanduan gadget, deh. Susah banget dikasih taunya."

Pengalaman Chi, nih, anak itu kalau cuma dikasih tau, gak bakal mempan. Yang ada malah kita cape sendiri karena merasa punya anak, kok, susah bener nurutnya. Padahal mereka itu sebetulnya buka susah nurut, tapi butuh contoh.

Setelah maghrib, Chi selalu melarang anak-anak untuk pegang hape atau buka laptop. Usai maghrib adalah waktunya belajar, menonton tv, atau melakukan kegiatan lain selain internetan. Tapi, gak bakal mempan kalau cuma melarang. Malah bisa-bisa mereka bakal protes. Misalnya ketika mereka belajar, Chi mendampingi sambil pegang hape. Iya, bener memang mendampingi karena selalu berdekatan dengan mereka. Tapi, fokus Chi saat itu kemana? Ke hape! Nah, kalau gitu gimana anak-anak gak protes. Kalau memang saat itu Chi harus pegang hape, biasanya anak-anak dikasih kelonggaran juga untuk berinternet..

Yang dilakukan:

Tidak ada hal lain selain memberikan contoh seperti yang Chi di atas. Contoh lainnya adalah kalau orang tua melarang anak untuk pegang gadget saat makan,  berarti orang tua duluan yang harus mempraktekkan. Orang tua bisa aja beralasan sedang melakukan pekerjaan ketika tetap pegang hape saat makan. Okelah kalau cuma 1x anak biasanya akan diam. Tapi kalau udah setiap saat, anak-anak gak akan peduli apakah yang dilakukan orang tuanya adalah pekerjaan penting atau bukan. Mereka taunya, kalau dilarang pegang hape sambil makan berarti itu juga berlaku untuk orang tua.

Teori vs Realita 3 - Makan Jangan Pilih-Pilih

"Bunda, mau makan? Keke/Nai buatin, ya."

Siapa coba yang gak seneng punya anak suka bikinin makanan buat bundanya? Tapi, masalahnya kadang makanan yang mereka buat bukanlah selera Chi. Roti dan kue bukan makanan yang Chi suka. Selama masih ada nasi, kenapa juga harus makan roti? Hahaha ...

Chi beberapa kali bilang kalau bisa jangan roti, lah. Tapi, apa yang terjadi? Mereka membalikkan omongan bundanya. "Bunda, kan, selalu bilang kalau makan itu gak boleh pilih-pilih. Apa yang disediain di rumah, itu yang dimakan."

Yang dilakukan:

Ya, mau gak mau Chi harus konsisten sama ucapan, walopun rasanya sangat susah sekali menelan roti hahaha. Tapi daripada nanti kalau Chi masak trus mereka menolak karena gak suka trus ngebalikin kejadian penolakan bundanya terhadap roti, mending dipaksain makan, deh. Lama-lama Chi jadi terbiasa juga makan roti dan kue. Walopun tetep, sih, mendingan nasi wkwkkw. Buat teman-teman yang putri/putrinya picky eater, coba dilihat lagi. Jangan-jangan penyebabnya adalah kita sendiri. Anak mencontoh orang tuanya yang memang picky eater.

Teori vs Realita 4 - Live Tweet

"Bunda, kan, suka bilang kalau lagi di luar rumah dilarang nyetatus di socmed untuk ngasih tau kita lagi ada dimana. Karena kalau sampe ada orang jahat yang lihat itu bisa bahaya. Tapi kenapa Bunda suka ikutan live tweet? Bukannya itu berarti Bunda kasih tau saat itu lagi ada dimana?"

Chi langsung nyengir kuda saat mereka bilang begitu hehehe ... Keke dan Nai belum punya akun twitter, tapi IG punya. Dan, kadang Chi share foto di IG dengan caption mau melakukan live tweet. Dari situlah Keke dan Nai tau kalau bundanya suka melakukan live tweet. Dan kemudian timbul pertanyaan kenapa Bundanya melakukan live tweet? Padahal bundanya selalu melarang Keke dan Nai untuk langsung nyetatus apabila saat itu sedang jalan-jalan.

Yang dilakukan:

Chi jelaskan kalau itu adalah tuntutan kerjaan. Tapi tentunya alasan itu gak cukup karena poin yang ditangkap oleh Keke dan Nai selama ini adalah tentang keamanan. Chi lalu jelaskan kalau terkadang memang suka ada rasa gak nyaman karena seperti snegaja mengabari saat itu kita sedang berada di mana. Kalau bukan karena pekerjaan, itu bukan hal yang biasa Chi lakukan. Menjelaskan tentang apa yang Chi rasakan kepada anak-anak juga dirasa penting untuk menunjukkan kalau Chi macih tetap berusaha konsisten walopun akhirnya harus 'mengalah' dengan alasan pekerjaan.

Kemudian, Chi kembali menjelaskan kalau berusaha tetap menjaga keamanan. Setidaknya, apa yang kita tweet benar-benar tentang pekerjaan. Gak menulis hal-hal detil yang personal. Dan, tetap aja Chi mengingatkan Keke dna Nai untuk tetap tidak nyetatus mereka sedang berada dimana saat itu atau berbagai hal yag terlalu pribadi lainnya. Chi tekankan juga kalau mereka masih anak-anak yang tentunya kemungkinan lebih rawan.

Teori vs Realita - Uji Kesabaran

"Bunda selalu bilang kalau ada pelajaran yang gak ngerti langsung tanya ke guru. Tapi kalau masih gak ngerti juga, baru tanya ke Bunda. Tapi, kenapa Bunda kadang suka gak sabar kalau lagi ngajarin?"

Huaaaa ... ujian kesabaran ini termasuk yang paling sering diuji, ya. Dan, berasa jleb aja ketika anak-anak bilang begitu. Iya, lah, Chi selalu meminta mereka untuk menjadi anak yang sabar. Tapi, Chi sendiri malah masih suka ilang kesabaran :p

Yang dilakukan:

Langsung meminta maaf. Biar gimana, Ci juga salah karena sudah tidak sabar walopun mungkin karena mereka juga yang berulah duluan. Lalu Chi jelasin, kalau mungkin aja saat itu sedang cape atau kurang enak badan. Chi juga bilang akan terus berusaha untuk sabar. Bukan bermaksud memberi janji palsu, tapi memang harus terus berusaha untuk menjaid lebih baik.

Sekaligus aja Chi kasih tau kalau mereka harus lebih menghargai usaha guru. Sekian banyak murid dengan karakter berbeda-beda harus dihadapi guru hampir setiap hari. Dan para guru tetap dituntut harus sabar menghadapinya. Sedangkan Chi yang 'cuma ' mengajar 2 anak aja masih suka hilang rasa sabar. Padahal anak kandung, pastinya Chi lebih hapal karakter mereka ketimbang guru. Tapi tetep aja Chi masih suka ilang sabar. Makanya, Chi minta anak-anak menghargai guru, jangan suka memancing kesabaran para guru.

Sebetulnya kalau mau ditulis apa aja teori vs realita parenting yang bisa beradu itu list bakal panjang banget. Malah mungkin bisa lebih dari 1 postingan. Tapi, silakan aja teman-teman lanjutkan masing-masing hehehe.

Kalau Chi, sih, termasuk yang gak sepaham bahwa orang tua pasti benar dengan alasan sudah lebih banyak makan asam garam. Orang tua harus dihormati itu Chi setuju. Tapi kalau selalu benar, Chi kurang setuju. Kadang, Chi banyak belajar dari anak. Dari celotehan hingga kritikan mereka. Seperti setiap saat harus siap dikasih cermin oleh mereka. Makanya, Chi bersyukur Keke dan Nai masih mau berkomunikasi baik dengan orang tuanya. Jadi, sebagai orang tua bisa langsung tau dan introspeksi. Jangan sampe anak terlihat menurut, tapi di belakang diam-diam berkata, "Halah, orang tua bisanya cuma teori."

post signature

31 komentar:

  1. Saya nyimak dulu Mba...
    Salam kenal,

    BalasHapus
  2. Noofa juga udah protes kalo umine omdo. Haha

    BalasHapus
  3. hihihihi bener banget anak itu bener2 kritis sekarang, tinggal kitanya yang harus pinter jelasin ke anak tanpa takut bilang maaf kalo kita sebage orangtua suka salah juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! orang tua gak perlu gengsi meminta maaf :)

      Hapus
  4. Emang teori kudu saling berhubungan dg praktek. Aku yg blm punya anak aja pernah dibalikin omongan sama ponakanku yg 3 th. Wkt itu aku bilang baca jgn sambil bobok, eh wkt aku baca sambil senderan bantal bentar langsung dibales

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, berarti emang harus konsisten hihihi

      Hapus

  5. Anak jaman sekarang pinter ya mak..klo udah di protes gitu jd geli sendiri tp juga bangga berarti mereka mendengarkan apa yg kita bilang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mbak. Ada positifnya juga karena mereka yang selalu mengingatkan orang tua :)

      Hapus
  6. Harus cerdik ya jadi ortu & selalu memberi contoh sesuai dengan teori. :))

    BalasHapus
  7. Hehehee...
    Sama nih, Mba. Anakku yang pertama mulai ceriwis. Kritis banget, ga boleh emaknya salah dikit. Harus hati-hati.

    BalasHapus
  8. nah itu kalau kenyataannya suka beda,palagi yang suka ribut orang dewasa ya, Anak-anak lihat pula jadinya bikin mereka bingung

    BalasHapus
  9. Sering banget ngalamin kayak gini ni Mak...:)

    BalasHapus
  10. Wah, emang jadi orang tua harus pinter-pinter ngasih jawaban yang bisa dimengerti anak seumuran gitu.
    Makasih udah share, jadi ngerasa harus belajar lebih banyak lagi, mumpung masih belum punya anak :D

    BalasHapus
  11. Kalau soal addict gadget, mmg ortunya kudu cerdik mengatur siasat dan strategi. Mmg perlu tegas dan tega, agar anak-anak bisa proporsional menggunakan gadget. Walau prakteknya, masih sih kadang-kadang ngalah juga ngasih bonus waktu pegang gadget

    BalasHapus
  12. kita sebagai orang tua memang contoh paling dekat utk anak2 ya... apalagi anak2 yg peka, pasti bawaannya protes melulu :)
    betewe... kalo saya malah suka sama kue dan roti hehe

    BalasHapus
  13. Iyah mba chi, anak2 butuh contoh yah realitanya. Kadang suka senjata makan tuan hehe klo ngga bisa nahan juga, misal ngga gadget, ortu jg hrs puasa gadget.

    BalasHapus
  14. Ghifa yg baru 3 bln aaja udah pintar niruin apa yg saya lakukan mak. Saya julurin lidah eh dia malah ikutan. Saya berdecak dia juga niruin. Hihihi
    Siap2 deh kalau besar dia pasti banyak protes kalau saya nggak konsisten.

    BalasHapus
  15. Benerrr semuaaa. Apalagi soal makanan. Kalo aku ga suka kentang jadi kalo makan sop kentangnya suka dipisahin. Abhi suka liat dan dia ngikutin. Hahaha. Ga bs kalo yg satu itu

    BalasHapus
  16. Bener banget soal "kalau dilarang sesuatu sambil makan berarti itu juga berlaku untuk orang tua" itu kadang bikin aku juga sering terjebak hahaha. Tapi apa mau dikata yaa, namanya harus konsisten ya kudu ikut jg kritiknya anak.

    BalasHapus
  17. Berasa ketabok pipi kiri-kanan, ya, Chie ^_^

    BalasHapus
  18. Harus belajar banyak nih sama mbak, anakku sudah mulai banyak bertanya kenapa gini kenapa gitu

    BalasHapus
  19. wah dunia anak" emang penuh warna y mbak mantap....

    BalasHapus
  20. yg skr srg aku hadapin itu, gadget-an sambil tiduran.. aku sndiri selalu melarang Fylly kalo lg nnton you tube film2 kartun fav nya, ato main game utk baby, jgn smbil tiduran.. tp dia jd protes wkt ngeliat maminya sendiri gadget an sambil tidur ;p.

    BalasHapus
  21. Maaak, aduh itu bener bgt kita hrs kasih contoh baik klo ada peraturan d rmh. Di rmh kami jg magrib stop gadget dan kerjain hal lain sperti solat, belajar dan ngaji. Kalo ortunya msh pegang gadget pasti pada protes dua anak sy d rmh

    BalasHapus
  22. tricky benar ya mba mendidik anak itu, anak saya yg masih di dalam perut aja kadang saya suka was-was sendiri, kadang suka bilang ke suami gak boleh gini gak boleh gitu nanti dicontoh anaknya eehhhh lha kok saya juga belum bisa konsisten hehe

    BalasHapus
  23. Sebenernya saran2 parenting itu ga ada yang salah sih ya mbak, cuma perlu sedikit penyesuaian sama kondisi yang sedang berlangsung :)

    BalasHapus
  24. Mantep mba postnya, konsistensi memang sangat dibutuhkan ya ketika mendidik anak, dan benar sekali bahwa justru dr anaklah orang tua juga banyak bercermin dan belajar :) Kita memang gak perfect, tapi selalu mengusahakan yang terbaik utk anak, semangat! XD

    BalasHapus
  25. Memang paling asyik belajar dari contoh. Aku aja yang udah gede gini kalau diomongin suka manyun, lebih suka diberitahu lewat tindakan. Btw, soal makan pilih-pilih, ibuku dulu ngajarin untuk suka sama semua makanan, tapi mempannya sampai SD gara-gara tahu kalau yang suka aku makan sehari-hari itu tadinya mahluk hidup juga, hahaha :D

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge