Senin, 14 September 2015

Bila Anak Kecanduan Game, Cari Solusi Hingga Ke Akarnya

Bila anak kecanduan game, cari solusi hingga ke akarnya. Haruskah melarang anak bermain game ketika sudah mulai kecanduan? Jawabannya ternyata tidak.

Beberapa hari lalu, Chi nonton salah satu episode serial parenting - Jo Frost. Serial favorit Chi dan beberapa kali Chi menceritakan di blog ini setiap kali ada episode yang menarik. Episode yang beberapa hari lalu Chi tonton sebetulnya udah pernah tayang ulang beberapa kali. Tapi rasanya tetap menarik untuk ditonton dan masih cocok dengan persoalan pola asuh zaman sekarang, yaitu anak yang kecaduan game.

Episode kali itu ada seorang anak bernama Bailey, usia sekitar 10-11 tahun, setiap hari kerjanya main game selama berjam-jam. Pulang sekolah langsung main game. Makan sambil main game, itupun makanan dan minunamnnya harus disediakan oleh ibunya. Pelajaran sekolahnya jelas terganggu karena yang ada di pikirannya hanyalah game. Tidur malam selalu mengigau tentang game yang sedang dia mainkan. Pokoknya hidupnya hanya seolah-olah untuk bermain game. Ibunya sudah merasa putus asa dengan anaknya lalu meminta pertolongan Jo.

Yang pertama kali dilakukan Jo adalah mengajak Bailey ngobrol. Bertanya seberapa banyak dia bermain game setiap hari. Cara Jo bertanya ke Bailey tidak dengan cara menginterogasi tapi berbicara seperti layaknya teman. Bailey sampai tertawa-tawa ketika diajak ngobrol.

Kemudian Bailey diajak bikin jadwal sendiri tapi peraturannya sehari hanya boleh 1 jam saja bermain seusai pulang sekolah game. Terserah jam berapa yang penting cuma 1 jam. Sisanya terserah Bailey mau berkegiatan apapun. Karena merasa dilibatkan, Bailey jadi semangat walopun dia belum tau sisa waktunya akan dipake untuk kegiatan apa.

Berhasil dengan cara ini? Ternyata belum. Bailey baru sebatas semangat ketika diajak terlibat untuk mengatur jadwalnya sendiri. Tapi dia belum menyadari kalau selama ini kan dia tidak terbiasa memanfaatkan waktunya untik kegiatan lain. Jadi ketika sisa waktu 1 jam bermain gamenya habis, dia langsung merasa jenuh luar biasa kemudian ngambek.

Kejenuhan itu satu masalah awal. Pertanyaan selanjutnya, kenapa Bailey bisa jenuh? Karena dia gak terbiasa memanfaatkan waktu luangnya selain bermain game. Dia lalu curhat kalau ibunya gak pernah mengajak dia bermain karena terlalu sibuk mengurus adik-adiknya. Setiap kali Bailey ajak ibunya bermain, ibunya selalu menyuruh Bailey bermain game. Secara gak sadar, game dijadikan baby sitter Bailey oleh ibunya. Akibatnya lama-kelamaan Bailey pun kecanduan.

Menurut Jo berarti ibu Bailey harus mulai mempunyai waktu supaya bisa mengajak anaknya bermain. Tapi ternyata gak mudah. Salah satu adik Bailey selalu rewel setiap malam ketika tidur. Padahal maunya tuh kalau anak-anak bisa tidur tanpa rewel, ibunya bisa mengisi waktu dengan beberes rumah dan sedikit menikmati me time. Tapi karena selalu rewel, ibunya jadi kurang istirahat. Akibatnya kalau siang hari, ibunya sudah tidak lagi punya tenaga untuk mengajak anak-anaknya bermain.

Kemudian Jo Frost memberi saran tentang bagaimana membuat anak bisa tidur nyenyak setiap malam tanpa harus terus-menerus ditemani. Awalnya memang gak mudah. Butuh kesabaran, disiplin, serta konsisten ketika melakukannya. Tapi setelah berhasil lama-lama permasalahan lainnya mulai selesai.

Ketika adik Bailey sudah mulai bisa tidur nyenyak setiap malam, ibunya jadi bisa mempunyai waktu beristirahat yang berkualitas. Karena malam hari istirahatnya berkualitas, pagi hingga sore hari ibunya bisa mempunyai energi yang lebih. Energi yang lebih itu salah satunya dimanfaatkan untuk bermain bersama anak. Mengajak mereka jalan-jalan sore, olahraga bareng walopun sekadar bermain trampoline, melakukan art & craft bersama, atau cuma ngobrol seru. Ternyata Bailey suka dengan semua kegiatan tersebut. Diapun gak masalah kalau jam bermain gamenya sudah sangat berkurang karena dia memiliki kegiatan pengganti yang menyenangkan.

Bagaimana dengan Keke dan Nai?

Keke dan Nai juga penggemar game. Chi pernah menuliskan manfaat bermain game yang memang dirasakan oleh Keke dan Nai. Chi dan K'Aie juga sadar kalau game juga berpotensi membuat kecanduan. Nah, ngomong-ngomong tentang kecanduan, Chi seringkali berpikir apa sih yang menyebabkan seseorang bisa kecanduan game? Chi pun berkesimpulan karena game itu mengasyikkan. Segala yang mengasyikkan memang bisa menimbulkan kecanduan kalau tidak bisa mengontrol. Tapi buat anak seumuran Keke dan Nai sepertinya masih sulit kalau cuma sekadar mengontrol begitu saja dengan alasan kesadaran kalau terlalu banyak bermain game itu gak baik. Untuk anak seumuran mereka harus dicari kegiatan pengganti yang sama atau kalau bisa lebih menyenangkan daripada bermain game.

Nai kebetulan saat ini selain suka menggambar, dia sedang suka memasak. Jadi kami berikan dia berbagai kebutuhan memasak serta kepercayaan untuk bereksplorasi dengan berbagai menu di dapur. Baginya itu kegiatan yang sangat menyenangkan. Keke masih punya teman seumuran di komplek. Kadang-kadang mereka bermain sepeda atau bola di luar. Kalaupun lagi gak berkegiatan fisik, Chi biarkan aja kalau Keke lagi bermain game. Karena waktu bermain game memang gak pernah lama setiap harinya. Tetap ada batasan waktu yang harus mereka penuhi. Apalagi sejak Keke mulai bersepeda ke sekolah, pulangnya jadi agak lebih sore karena dia lebih memilih bermain sepeda atau futsal dulu di sekolah. Otomatis makin sedikit lah waktu dia untuk bermain game.

Keke dan Nai pun pernah merasa bosan. Main game dilarang, mau kegiatan lain gak tau mau apa atau lagi gak kepengen. Kalau udah begitu, saatnya Chi mencoba mencari kegiatan yanga sik buat mereka. Kalau gagal, coba cari lagi kegiatan lain. Libatkan juga anak-anak untuk mencari kegiatan. Karena kalau gak dicari kegiatan pengganti, biasanya Keke dan Nai akan tidur siang. Tidur siang bisa jadi masalah baru. Karena alau sampe Keke dan Nai tidur siang, maka malamnya akan tidur sangat larut. Walopun tidur siangnya gak sampe 1 jam. Kalau tidur malamnya udah sangat larut, besoknya susah bangun pagi, ke sekolah jadi uring-uringan. Nah jadi panjang kan masalahnya hanya karena mereka gak berkegiatan di siang hari? :)

Ya, anak-anak memang masih butuh dibimbing untuk mengisi waktu luang. Belum bisa dibiarkan berpikir 'silakan cari sendiri kegiatan waktu luang, mu'. Apalagi kalau yang udah kebiasaan dengan kegiatan itu-itu aja. Begitu dihentikan tentunya si anak akan bingung harus berkegiatan apa. Padahal mereka butuh berkegiatan.

Bukan berarti melarang total anak-anak bermain game gak boleh dijadikan solusi, lho. Chi pernah datang ke satu acara parenting, solusinya kurang lebih sama dengan tayangan Jo Frost. Cari dulu akar permasalahannya lalu selesaikan. Berikan juga mereka kegiatan pengganti yang menyenangkan. Tapi kalau ternyata anak memang sudah sangat kecanduan game, mungkin sudah saatnya untuk dihentikan total kalau perlu konsultasi ke psikolog anak.

post signature

25 komentar:

  1. wah Nai bisa memasak..jadi aku kalah ya sama Nai...ajari donk Nai resep masaknya :)

    BalasHapus
  2. anak2 juga suka main game minescraft itu...

    dikasih di weekend dan dibatasi waktunya ..

    BalasHapus
  3. alhamdulillah noofa udah ga ngegame di tablet lagi setelah skolah

    BalasHapus
  4. Masalah anak dan game ini memang harus diberikan perhatian penuh ya Mbak. Gak melulu langsung menghentikan gamenya dan mengambil langkah ekstrim. Makasih ilmunya Mbak. :)

    BalasHapus
  5. awalnya emang susah ya mak,tapi lama2 jadi terbiasa..kayaknya bentar lagi nai punya blog sendiri deh,dapur nai hehehe

    BalasHapus
  6. Wah disekitarku banyak contoh tuh, bagaimana anak bermasalah karena kecanduan game, mungkin juga ortu bisa koreksi diri ya, kenapa anak kecanduan game.

    BalasHapus
  7. anak saya yg pertama nih mak seneng banget nge game :(

    BalasHapus
  8. Setuju sekali harus dicari dulu akar permasalahannya kemudian dicari solusi. Memang game ini bener-bener magnet kuat bagi anak, saya pun merasakanya mak :( anakku suka main game di hp tantenya, itupun kami beri batasan.
    Makasih bangeeet sharingnya mak..

    BalasHapus
  9. Anakku juga main game, semoga gak kecanduan karena dibatasi sih jamnya. Yang penting pelajaran sekolah ga keteter dan dia masih mau main yg lain.

    BalasHapus
  10. iya ya mak.. intinya energi anak itu memang harus disalurkan di jalan yg benar. PR bgt buat saya :)

    BalasHapus
  11. iya kelamaan ngegame juga bikin bosen ya. ortu musti kreatif spy anak tidak ngegame mulu dan bosen. kalau anak-anak saya di rumah tidak nyandu game. mereka lebih suka main pasar-pasaran bareng tetangga hehe. maklum tinggal di desa :)

    BalasHapus
  12. NOTED: Belum bisa dibiarkan berpikir 'silakan cari sendiri kegiatan waktu luang, mu'.
    Ini jadi catatan sendiri buat bahan tulisan juga :))
    thanks idenya mak

    BalasHapus
  13. aku pernah loh mbak jadi pecandu game beberapa tahun lalu. Tiap hari pulang sekolah main game sampe malem, liburan? lebih parah lagi! Mulai subuh sampe larut malem lanjut aja ngegamenya hahaha. Tapi alhamdulillah sembuh semenjak aku masuk SMP pas mulai kenal sama sibuknya ekskul dan organisasi :DDD

    BalasHapus
  14. Tentang anak kecanduan game ini pernah saya alami juga Mbak...
    Ini kisah anak pertama saya. Dulu sejak waktu SMP ia suka banget main game di hp. Saya lihat raportnya masih tetap bagus, jadi saya biarkab saja.
    Singkat kata ia kuliah, ambil jurusan TI. Skripsinya ia bikin game, semacam education game yang berlatar belakang perjuangan di Bojongkokosan, Sukabumi. Allhamdulillah kini ia sudah lulus dan bekerja sesuai bidangnya.
    Jadi, asal tak mengganggu kegiatan belajarnya, biarkan saja anak bermain game. Siapa tahu memang itu jalan hidup nantinya, sbg develepor game atau sbg ahli teknologi informatika.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    BalasHapus
  15. Anak2ku gitu kalau liburan tapi setelah masuk langsung nggak sempat ngegame aja. Jadi sering aku biarin.

    BalasHapus
  16. bener mba.... kdg2 kenapa anak bisa kecanduan di hal2 yg kurang baik, itu krn kurang perhatian dr ortunya aja sih ... aku sndiri slalu ngebatasin fylly utk main ato nonton you tube anak2 di tabletnya. Sebisa mungkin pulang dr kantor ngajakin dia ngobrol ato yg paling dia suka sih aku dongengin dia ama cerita2... :)

    Btw, aku kagum bgt ih ama anakmu yg udh pinter masak itu.... umur segitu kyknya makanan dia lbh enak dan berkelas dr yg aku bisa bikin hahahah ..Maluuu ih...

    BalasHapus
  17. Arya dulu jg mulai tunjukkan gejala kecanduan game. Akhirnya, tiap aku kerja, aku sembunyika gadgetnya. Dan alhamdulillah, gejalanya mulai ga nampak dan dia bisa enjoy beraktifitas yg lain :)

    BalasHapus
  18. Rayyaan udah jarang main game. Karena ya ntu tadi. Sekecil dia belum paham kalo kelamaan main game or gadget itu efeknya ga bagus. Keponakan pun kadang suka rebutan main gadget emaknya. Rebutan gadget tantenya juga pernah. Karena ga mau berbagi akhirnya saya ambil lagi heheheheh.

    BalasHapus
  19. Sebagai antisipasi, dari awal aku terapkan durasi maximal main game. Sampai saat ini belum dikenalkan pada game komputer, masih yg pake gadget smart phone aja. Itupun mulai terjadi pelanggaran-pelanggaran dari aturan yg sudah ditetapkan, jadilah emaknya keluar tanduk ^_^

    BalasHapus
  20. anak2 saya gak terlalu senang bermain game, walaupun ada game yg suka dimainkan juga, tapi gak sampai lupa waktu. Yang mereka senangi adalah kegiatan bergerak. Jadi keg monoton sprti main game, gak disukainya. Bermain game bagi anak memang perlu dibatasi ya, supaya anak tidak kecanduan, karena kalau sudah kecanduan, akan lebih sulit mengobatinya

    BalasHapus
  21. Wah, jangankan anak kecil Mbak kita yang dewasa aja kalau udah kecanduan game susah banget berhentinya. Semangat belajar memasaknya ^^

    BalasHapus
  22. bener. anakku juga dulu nggak mau lepas dari game tapi setelah dikasi kegiatan lain yang asyik dan dia sukai, dia suka rela meninggalkan game gadgetnya...

    BalasHapus
  23. Sependapat bgt.. bukan cuma larangan tp juga ngasi solusi..

    BalasHapus
  24. setuju mak..perlu dicari penyebab utama dan dialihkan dengan kegiatan postif yang lain. Susah untuk benar-benar mencegah anak-anak menggunakan gadgets karena memang mereka pun perlu paham dan mengerti mengenai hal ini, tapi secukupnya. Untungnya Bo suka main sepeda dan Obi masih happy main boneka dan masak-masakan dengan mamanya :)

    BalasHapus
  25. Anakku yg pertama sekarang udah kuliah juga nyandu game mbak.
    Sudah berbagai cara kulakukan tapi sekarang sudah agak berkurang ngegamenya eh malah ganti nonton video lucu atau meme.
    Tapi dgn ketegasan bila ngegame sehari maka hukumannya uang jajan dikurangi dan nyuci piring atau ngepel sekarang udah mau aktivitas basket .
    (Maaf panjang :) )

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge