Senin, 16 Maret 2015

Jumpalitan dan Tip Menghadapi Anak Puber


Akhir-akhir ini, Chi rasanya jumpalitan menghadapi Keke yang sedang puber. Emosi yang mudah berubah pada anak yang sedang puber, ternyata gak bisa dianggap hal yanga lami yang akan kembali normal begitu saja. Malah beberapa sumber mengatakan kalau anak yang sedang puber dan tidak tertangani, bisa membuat si anak depresi, lho. Sampe segitunya, kah? Yup! Mungkin aja.

Bunda: "Ke, masih inget, gak, dulu pas ada lagu ini Keke joget-joget trus dividioin dan diupload ke youtube?"
Keke: "IYA!"

Kejadian sekitar 2 bulan lalu. Saat itu, kami lagi jalan-jalan. Di salah satu radio mengalun lagu lama yang iramanya energik. Chi bener-bener kaget ketika Keke jawabnya pake ngebentak. Rasanya, kami lagi senang-senang aja. Kok, tiba-tiba Keke ngebentak.

Chi pun memarahi, K'Aie juga ikut menasehati. Boro-boro meminta maaf, Keke lebih memilih merebahkan kursi depan dan tiduran. Makin jengkel aja Chi saat itu melihat Keke. Tapi, gak lama kemudian, Keke kembali ceria seolah-seolah gak terjadi apa-apa. Chi yang masih jengkel karena dibentak, cuma diam. Bingung juga melihat sikap Keke yang berubah-ubah. Keke juga akhir-akhir ini suka mengungkapkan rasa iri terhadap adiknya.

Emosinya yang kerap kali mendadak berubah, membuat Chi jadi suka kepancing emosi. Beberapa kali, Chi marahin Keke. Kemudian, Chi pun dapat laporan dari wali kelas Keke yang katanya sikap Keke agak berubah. Nilai-nilai pelajarannya pun menurun. Arrgghh... Ada apa dengan Keke??

Setelah Chi cari info sana-sini tentang anak puber, Chi berpikir mungkin gaya komunikasi terhadap Keke yang harus diubah. Chi coba ajak dia bicara 4 mata. Coba tebak-tebak perasaannya. Coba berbicara lebih luwes lagi, seolah-olah dia sedang berbicara dengan teman.

Anak yang sedang mengalami puber itu adalah anak yang bingung. Dia sedang mempertanyakan jati diri dan perubahan terhadap tubuh maupun perasaannya. Di satu sisi, dia merasa jiwanya masih jadi anak-anak. Di sisi lain, dia melihat tubuhnya sudah mulai berubah jadi lebih dewasa.

Keke: "Bun, banyak teman yang bilang, kalau suara Keke udah berubah. Udah gak kayak anak-anak lagi. Memang iya, Bun?"
Bunda: "Ya, suara Keke memang kayaknya udah mulai pecah, sih."
Keke: "Pecah itu apa, Bun?"
Bunda: "Perpindahan dari suara anak-anak ke dewasa. Biasanya akan pecah dulu. Tapi, ini cuma anak laki-laki yang ngalamin. Kalau teman-teman Keke, udah ada yang pecah belum?"
Keke: "Belum, baru Keke. Tapi, Keke tetep masih anak-anak, kan, Bun? Iya, kan, Bun?"
Bunda: "Iya, Nak"

Waktu itu, Chi hanya menanggapi seperti itu tanpa kelanjutan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya itu salah satu kekhawatiran Keke. Dia gak pengen berbeda dari teman-temannya. Dia merasa aneh kalau jadi berbeda. Dengan puber lebih dulu, dia merasa berbeda dengan temannya. Dan, itu bikin perasannya gak nyaman.

Selesaikah permasalahannya setelah Keke bercerita? Untuk sesaat iya. Tapi, gak lama kemudian, wali kelas laporan lagi. Katanya, Keke berkata kurang pantas terhadap salah seorang temannya dna dilakukan beberapa kali. Tiap kali ditegur, dia hanya diam atau cengengesan. Wali kelas masih mentolerir sikap Keke karena setau wali kelas, Keke tidak seperti itu anaknya. Bahkan waktu semester ganjil, attitudenya nomor satu dibandingkan teman-temannya. Wali kelas pun mendadak bingung kenapa Keke akhir-akhir ini berubah. Kelakuannya seperti segelintir anak yang memang dalam pengawasan guru karena attitude.

Chi kembali mengajak Keke bicara. Tapi, kali ini Chi gak bisa menutupi rasa kecewa. Keke membela diri kalau yang melakukan itu gak cuma dia. Lagipula dia hanya becanda, begitu alasannya. Walopun, dia akhirnya minta maaf. Tapi, dari wajahnya, kayaknya Keke maish terlihat kurang nyaman.

Chi kecewa karena Keke itu, kan, udah bisa bersikap. Dia tau mana candaan yang baik dan bukan.Tapi, akhir-akhir, dia seolah-olah seperti mengikuti arus. Sayangnya, yang dia ikuti adalah arus yang kurang baik. Setelah hati tenang, Chi mulai berpikir lagi, sepertinya Keke memang masih belum nyaman sepenuhnya dengan masa puber yang sedang dialaminya. Dia ikut-ikutan berbuat tidak baik, tujuannya untuk menunjukkan kalau dia itu SAMA.

Trus, kalau memang ingin menunjukkan kalau dia sama dengan temannya kenapa malah memilih yang gak baik. Itu karena memilih mengikuti perbuatan teman yang gak baik akan lebih menonjol. Akan lebih menunjukkan kalau dia emang bener-bener sama dengan temannya.

Sekarang, sih, belom kelihatan ada masalah lagi. Pengennya, sih, jangan ada cerita yang bikin deg-degan lagi. Tapi, memang harus terus dipantau dan semakin memperbaiki kualitas komunikasi. Terutama mempelajari komunikasi dan memahami perasaan anak puber.

Katanya, anak yang sudah puber itu akan mulai menjauh dari orang tua dan dekat ke teman. Alasannya, karena si anak merasa orang tua gak mengerti dengan perasaannya. Sedangkan, orang tua merasa anaknya mendadak bandel. Dua pemikiran yang berbeda akan membuat saling ribut. Makanya, anak yang sedang puber akan sering berantem sama orang tua. Dan, anak yang sedang puber jaid lebih dekat ke teman. Karena teman merasa lebih mengerti dia. Padahal belum tentu yang disarankan oleh teman itu benar, ya. Kalau memang seperti itu, masuk akal juga kalau anak puber itu bisa mengalami depresi.

Di awal masa puber, memang sering terjadi pertengkaran antara Chi dan Keke. Setelah Chi tau kalau Keke sedang puber, Chi berusaha untuk lebih mengerti. Gak pengen juga Keke jadi jauh sama orang tua gara-gara dia merasa orang tua gak memahami dirinya.

Kalau udah begini, Chi kadang merasa lebih mudah mendidik mereka ketika masih kecil. Sehebohnya anak kecil, tetep aja gak mau jauh dari orang terdekatnya. Tapi, kali ini, Chi suka merasa was-was. Khawatir, salah memahami Keke akan menjauh dan mendekat kepada temannya.

Tapi, jangan salah sangka. Chi bukannya gak pengen Keke dekat dengan teman-temannya. Chi malah pengen punya anak itu supel. Cuma, kalau alasan dekat dengan temannya karena merasa orang tua gak mengerti perasaannya, itu yang bikin Chi sedih. Ada rasa khawatir juga, kalau terus didiamkan bisa berakibat salah pergaulan. Naudzubillah min dzalik. Semoga jangan sampai kejadian.

Tip menghadapi anak puber adalah dengan terus menjalin komunikasi dan lebih berusaha memahami perasaannya. Walopun di rumah, Chi juga sebaiknya gak berusaha menyelesaikannya sendiri. Chi juga teru berkomunikasi dengan ...

K'Aie - Sebagai ayahnya, K'Aie jangan cuma sekedar tau kalau anaknya sedang puber. Sejak anak-anak lahir. K'Aie juga termasuk sosok ayah yang gak segan ikut mengasuh anak-anak. Tapi, untuk kali ini Chi pengen K'Aie lebih sering-sering lagi berkomunikasi. Chi akan lebih sering meminta K'Aie yang lebih dulu berperan ketika Keke menghadapi masalah. Alasannya adalah:
  1. Keke sudah mulai menjadi remaja. Rasanya, sebagai sesama laki-laki akan lebih mudah memahami apa yang sedang dirasakan. Apalagi ayahnya pasti juga pernah merasakan masa puber
  2. Emosi yang labil semasa puber juga karena pengaruh hormon. Salah satu sumber menyebutnya Puberity Blues. Tapi, apakah puberity blues itu sama dengan Baby Blues atau PMS? Chi lebih bisa membayangkan kalau Nai yang mengalami puber. Membayangkan ketika dia uring-uringan saat PMS. Atau mengalami Baby Blues saat dia punya anak kelak. Mungkin, karena Nai itu perempuan. Tapi, Chi gak begitu bisa membayangkan ketika laki-laki yang mengalami perubahan hormon. Pengen seperti apa dia diperlakukan? Makanya, Chi minta K'Aie yang lebih berperan menangani.
  3. Menurut ibu Elly Risman, di salah satu seminar parenting yang Chi ikuti, dalam sehari, laki-laki hanya punya 7.000 kata dalam otaknya. Sedangkan, perempuan itu 20.000 kata. Gak heran kalau perempuan memang pada cerewet. Tapi, cerewet terhadap laki-laki, malah gak akan 'ditangkap' karena kemampuan mereka memiliki kata-kata, jauh lebih kecil daripada perempuan. Itulah, kenapa kalau laki-laki bicaranya to the point. Makanya, kami sepakat kalau urusan Keke, K'Aie lebih dominan lagi. Kapan-kapan, Chi coba menulis tentang kemampuan kata laki-laki dna perempuan, deh.
  4. Tentang kekhawatiran yang Chi tulis di atas, rasanya nyaman kalau dengan suami saling berkomunikais dan bekerja sama. Saling support.
Guru, terutama wali kelas - Sebagai orang tua, gak mungkin Chi mengawasi 24 jam. Terus menjalin komunikasi dengan wali kelas merupakan salah satu cara supaya tetep bisa mengetahui keadaan anak-anak di sekolah. Dan, diharapkan bisa menemukan solusi yang sejalan apabila anak-anak mengalami masalah di sekolah.

Mungkin ada yang berpikir, kok, cepet banget pubernya? Tapi dipostingan sebelumnya yang juga tentang puber, udah Chi jelaskan kenapa anak-anak sekarang umumnya puber lebih cepat.

Trus, kenapa juga harus ribet banget menanganinya? Perasaan zaman dulu, biasa aja. Masalahnya, zaman dulu dan sekarang itu berbeda. Tantangan dan godaan zaman dulu dan sekarang itu berbeda. Zaman sekarang, anak banyak dipengaruhi ini-itu. Kalau gak terus diperbaiki pola asuhnya, kemungkinan untuk terpengaruh hal-hal gak benar itu lebih terbuka.

Keke yang lagi puber, berimbas juga ke Nai. Dia pun sempat ikutan sedih dan nangis sesenggukan karena masa puber Keke ini. Kapan-kapan Chi ceritain, ya :)

Sejak kapan Keke mulai puber? Baca tulisan Chi sebelumnya di "Keke Mulai Puber? Yuk! Kenali Tanda-Tanda Pubertas pada Anak Laki-Laki"

post signature

44 komentar:

  1. Usia Keke sekrang brp si Mak?
    Aku dulu waktu masa puber malah jauh dr ortu mak, krn harus nyantri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang Keke usianya 11 tahun :)

      Hapus
  2. Kok aku jd kuatir juga ya mba -_- Rada takut aku ga bisa handle pas ankku puber:( . Apalagi aku tipe yg ga sabaran sbnrnya ama ank. INI juga sbnrnya yg bikin aku ga pgn nambah anak lagi walo suami masih mau -_-

    BalasHapus
  3. Hehehe, serasa baca pengalaman sendiri. Sekarang anakku yang nomor dua tuh lagi masa transisi dari anak-anak ke pra remaja, duh riweuh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Indah malah sekarang menghadapi 2 anak yang lagi puber hihihi

      Hapus
  4. Mbak emang masa puber yang normal itu di usia berapa tahun perempuan atau laki-laki?

    BalasHapus
    Balasan
    1. rasanya ini pertanyaan yang sama. Dan, saya sudah menjawabnya di postingan saya tentang puber yang pertama :)

      Hapus
  5. wah tingginya hampir ngejar ayahnya nih...pastinya keke tambah cakep ya....hehehe

    BalasHapus
  6. Waaaa ternyata kalo puber gitu ya? Aku lupa dulu waktu puber gimana hahahaha

    BalasHapus
  7. usia Keke berapa sekarang mak? wah jd dag-dig-dug nih. usia anak saya sekarang 10thn. berapa tahun lagi ya saya akan mengalami masa2 itu?

    BalasHapus
  8. Harus siap2 mental nih dr sekarang, hiks.. Ya Allah, mohon selalu dibimbing dalam mendampingi anak2, aamiin

    BalasHapus
  9. ya ampun,,nggak kerasa ya keke udah puber hehhe..perasaan masih anak2 aja,tapi pas buka ini link,keke jalan sama ayahnya,sempat mbatin...iya ya keke dah gede hehehe.
    anak sekarang bener2 harus extra perhatiannya ya mak,meresahkan gitu,gimana nanti zaman anakku ya....^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mak. Harus extra perhatian :)

      Hapus
  10. Kudu tetap dapat pernatian mbak, memang kalau puber kayak gitu heee

    BalasHapus
  11. waduh..hiks..menanti masa itu...menanti kehebohan yg berbeda..thans for sharing mak

    BalasHapus
  12. Koq beda dengan anak saya ya...? Kalau anak saya malah tambah rajin, nurut sama sok dewasa gitu nasehatin adik adiknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sifat dan karakter anak itu kan beda-beda, Mas. Gimana hormon, keluarga, lingkungan, dan lainnya. Jadi, apa yang terjadi saat anak puber memang gak bisa disamakan satu dengan yang lain

      Hapus
  13. Sharing terus ya Myr, aku juga akan mengalami masa pascal puber nantinya ya

    BalasHapus
  14. oaaalah maaak...aku jadi ikut deg2an bacanya..karna kita sama punya anak laki2 dan perempuan..
    dan kayaknya aku harus banyak belajar banyak dari pengalaman mak Myra gimana ngasuh anak yang mulai remaja kayak Keke ini...

    BalasHapus
  15. Nah, ini juga kekhawatiranku berhubung punya anak lanang. Kalo anak perempuan seenggaknya masih bisa dingertiin perasaannya.
    Semangat, Mak Chi! ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah, Mak. Mungkin karena kita perempuan jadi rasanya bisa lebih ngerti anak perempuan, ya :)

      Hapus
  16. postingan yang ok mba chi...bisa buat referensi besok kalau anak-anak pada mulai puber.

    BalasHapus
  17. Anakku juga lagi masuk masa puber kayaknya, tapi untungnya sih sejauh ini masih biasa aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap anak melewati fasenya dengan sikap yang berbeda-beda, Mbak :)

      Hapus
  18. Ternyata repot dan belibet juga yaa hadapi anak yg masuki masa puber :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. waktu Cumi puber, belibet juga, gak? hehe

      Hapus
  19. Wah kudu pandai2 mendekati anak dalam masa periode ini.

    BalasHapus
  20. Masa puber memang membuat kelakuan dan sikap anak ikut berubah juga ya.. apalagi laki-laki.. Ponakan saya yang cowok juga gitu mbak. Sikapnya sdh berubah ketika memasuki SMP, cuek dan merasa sdh dewasa ajah, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, suka serba salah menghadapi anak puber :)

      Hapus
  21. Siap2 menghadapi Destin puber. hihihi..... makasih ya mbak, bagi infonya

    BalasHapus
  22. Kurang lebih sama kali ya dengan anak cewek? Akan tak ingat2 ni mak tips nya ;)

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge