Minggu, 15 Februari 2015

Benarkah Anak Pertama Itu Eksperimen?


Benarkah anak pertama itu eksperimen?

Sudah membaca buku Mommylicious tulisan duo mama, yaitu Mama Arin dan Mama Rina? Mommylious adalah buku kisah tentang pengalaman duo mama tersebut saat mengasuh anak-anaknya. Sebuah buku yang berisi beberapa kisah unik dan lucu yang diceritakan secara sederhana dan tidak terasa menggurui. 2 paragraf akhir dari cerita pertama yang berjudul "Pengalaman Pertama (Catatan Mama Arin)", lah yang membuat Chi ingin membuat postingan ini.
Saat saya menulis buku ini, Cinta telah berusia 9 tahun, dan mempunyai adik bernama Asa, 4 tahun. Saya bukan lagi mama baru. Namun rasanya masih demikian, karena selalu saja ada hal baru yang saya rasakan setiap harinya.
Kehadiran Asa membuat saya merasa memutar ulang kisah romantis saya dan Cinta semasa awal kelahiran dulu. Rasanya tak kalah mendebarkan. Setiap anak adalah unik, setiap tumbuh kembangnya juga unik. Saat Cinta kecil adalah pengalaman pertama saya dalam mengasuh anak. Sekarang, mengasuh Asa kecil juga tetap menjadi pengalaman pertama, yaitu pengalaman pertama mengasuh dua-kakak beradik. Saya bersyukur memiliki cukup waktu untuk menuliskannya.
Pernah beberapa kali Chi mendengar kalau anak pertama itu seperti sebuah eksperimen. Chi sendiri pun kadang merasa dan berpikiran seperti itu. Baik itu karena di dalam keluarga, Chi adalah anak pertama. Maupun ketika mengasuh Keke, yang menjadi anak pertama Chi.

Eksperimen yang dimaksud bukan seperti jargon sebuah iklan produk yang cukup terkenal "untuk anak, kok, coba-coba." Eksperimen disini adalah karena untuk anak pertama seringkali semuanya serba pertama. Pertama kali hamil, melahirkan, menyusui,  memberi makan, masuk sekolah, dan masih banyak kisah pertama lainnya.

Seperti halnya sebuah eksperimen, kadang kita harus coba berbagai metode dulu untuk mengetahui berhasil atau tidak. Misalnya, ketika menghadapi anak menangis, sebagai orang tua baru, Chi masih sangat meraba-raba kira-kira apa yang membuat ana menangis dan bagaimana mendiamkannya. Tentu harus mencoba berbagai cara. Mungkin itu tidak akan terjadi kepada anak kedua dan seterusnya.

Ketika mulai hamil anak pertama, Chi mulai banyak mengkoleksi buku tentang parenting, hingga berlangganan majalah dan tabloid tentang ibu-anak. Pada masa itu, Chi belum akrab sama yang namanya dunia maya. *biaya internetannya masih mahaaal untuk ukuran kantong kami saat itu. Mau ke warnet males hehehe*

Walopun banyak membaca buku, majalah, maupun tabloid tapi pada prakteknya tetep aja gak semudah itu. Ketika hamil, sih masih cukup mudah, ya. Karena mengurus diri sendiri. Kehamilan Chi juga termasuk hamil kebo dan alhamdulillah anak-anak selama dikandungan selalu sehat. Tapi, ketika bayi mulai dilahirkan, disinilah perjuangan baru dirasakan dan semuanya serba pertama. Banyak menerka-nerka harus melakukan apa.

Melahirkan dan membesarkan Keke hingga punya adik masih bisa Chi jalanin dengan mudah. Seingat Chi, Keke gak pernah tantrum, susah makan, atau hal-hal lain yang bikin kepala Chi cenat-cenut dan menguji emosi. Kami seperti saling mengerti. Karena itu pula Chi sempat berpikir, "Kalau mengasuh anak pertama aja mudah, berarti kalau dikasih anak kedua dan seterusnya akan lebih mudah. KArena anak pertama kan seperti eksperimen."

Ternyata, apa yang Chi pikirkan itu gak sepenuhnya benar. Ketika Nai lahir, memang gak seluruhnya pengalaman pertama. Pengalaman ketika hamil dan melahirkan Keke atau Nai, tidak memiliki cerita yang terlalu berbeda. Ketika hamil anak kedua pun Chi kembali hamil kebo. Lahirnya juga kembali melakukan operasi caesar. Alhamdulillah, Nai pun selalu sehat. Menyusui, memandikan, dan beberapa aktivitas lainnya juga gak banyak perbedaan.

Ketika bilirubin Nai tinggi, Chi masih bisa tenang menghadapinya. Bahkan, dengan setelah izin dari dokter anak, kami lebih memilih merawat Nai di rumah. Menaruhnya di tempat tidur bayi yang diberi lampu, penutup mata, dan lainnya. Pokoknya, persis seperti bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit karena bilirubinnya tinggi. Hanya saja, kami melakukannya di rumah.

Berbeda ketika Keke mengalami bilirubin tinggi dan disarankan dirawat. Chi langsung sedih luar biasa. Kepala rasanya sakit sekali hingga sulit untuk bangun. Tapi, Chi harus memaksakan dir untuk bangun. Supaya bisa ke rumah sakit dan tetap menyusui Keke. Ketika Nai yang mempunyai bilirubin tinggi, Chi bisa jauh lebih tenang menghadapinya. Mungkin ini juga termasuk eksperimen terhadap anak pertama, ya. Karena belum ada perbandingan. Jadi, kadang masih meraba-raba ketika mengambil keputusan. Termasuk masih suka panikan.

Ujian pun kembali datang ketika Nai lahir. Seperti yang Mama Arin bilang, pengalaman pertama mengasuh kakak-adik. Chi yang tadinya merasa saling mengerti satu sama lain dengan Keke mulai merasa diuji emosinya. Chi merasa Keke mulai berulah sejak punya adik. Beberapa kali emosi Chi meledak. Walopun semuanya baik-baik saja, tapi sampai sekarang kalau mengingat saat-saat itu perasaan bersalah masih juga hinggap :(

Sekali lagi, Chi setuju dengan pendapat Mama Arin kalau setiap anak itu unik, perkembangannya pun unik. Keke dan Nai pun 2 anak yang memiliki kepribadian berbeda walopun lahir dari rahim yang sama. Makanya, Chi suka heran juga kalau sampe ada mom war. Yang lahir dari rahim yang sama aja bisa berbeda, kok, cara kita mengasuhnya. Apalagi kalau dibandingin anak orang lain.

Jadi, benarkah anak pertama itu eksperimen? Ya, mungkin untuk banyak hal, anak pertama akan banyak mengalami segala hal terlebih dahulu. Begitu juga dengan orang tua. Sehingga, ketika mengasuh anak pertama, kadang masih suka menerka-nerka, sebaiknya bagaimana? Tapi, semua itu kan berproses. Sebagai orang tua, kita yang lebih tau anak kita. Pokoknya, mau itu anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, sebagai orang tua kita harus terus berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

Jangan lupa baca buku Mommylicious. Membuat kita berpikir, kalau kita tidak sendiri. Kita semua bukan perfect mom tapi pasti akan selalu sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk anak-anak :)

post signature

56 komentar:

  1. Sayabelum baca bukunya mak. *malu

    BalasHapus
  2. bukunya juga belum saya baca, tapi menurut saya kalau anak pertama adalah sebuah ekpsrimen, kayaknya sedikit agak kasar mbak,... terlepas soal isi buku tersebut, untuk saya pribadi keinginan untuk memiliki anak pertama kalinya bukan karena eksperimen,.. salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya Mas Zulham hanya membaca judul atau sebagian isi postingan saya saja. Kalau dibaca lagi, jelas terbaca kok dari awal kami menginginkan anak bukanlah niatan ingin bereksperimen. Buku Mommylicious pun menceritakan tentang keseharian 2 mama ketika mengasuh anak-anaknya. Salam kembali


      Hapus
  3. Belum baca bukunya. Tapi.. bener sih...anak pertama itu ngasi kita pelajaran pertama jadi lebih siap kketika menghadapi anak berikutnya

    BalasHapus
  4. belum baca bukunya.... dikatakan eksprimen, krna kita blm tahu apaa..yang tepat dilakukan untuk anak-anak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak pertama masih meraba-raba, ya, Mak :)

      Hapus
  5. Bukan experimen tapi lebih kepada pertumbuhan kedewasaan dalam pola asuh anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedewasaan bisa terjadi karena banyaknya pengalaman. Seperti umumnya menjadi orang tua untuk pertama kalinya, bisa jadi kita masih banyak menerka2 harus bagaimana. Lama-lama semua itu bisa berubah menjadi kedewasaan dalam pola asuh. Biasanya untuk anak kedua dan seterusnya

      Hapus
  6. Kebetulan aku adalah anak pertama.. Sebutan anak pertama itu eksperimen kayaknya ekstrem banget ya, hehe... Mungkin maksudnya adalah anak pertama itu seringkali diposisikan sebagai panutan bagi adik2nya.. sehingga orangtua seringkali mengarahkan anak pertama untuk bertingkah laku lebih baik dengan pembentukan karakternya.. Aku ingat dulu orangtua aku sering berkata begini, "Kalau si kakak sekolahnya bagus ntar si adik insyaAllah sekolahnya bagus juga." Terbukti nih, karena aku sbg si anak pertama sekolah dan karirnya bagus, eh...menular juga pada keempat adik2ku, alhamdulillah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang terasa ekstrim, ya. Tapi, di postingan sy pun menulis arti 'eksperimen' yang saya maksud.

      Anak pertama sering dijadikan panutan bagi adiknya-adiknya. Memang bagus, sih. Tapi, kalau orang tua juga terlalu menekankan panutan kepada anak pertama sehingga si anak tidak mempunyai ruang untuk berbuat salah. Itu juga gak beban buat anak pertama, lho :)

      Hapus
  7. hehe iya ya kebanyakan anak pertama itu anak percobaan.....makanya harus baik2 pada si sulung...blogwalking salam kenal.

    BalasHapus
  8. Bukan eksperimenn tapi pelajaran pertama.
    Anak pertama Emak meninggal dunia pada usia 2 tahun karena sakit diare katanya. Sejak saat itu Emak menjaga dengan ketat anaknya yang kedua. Bahkan, anak bungsunya dilarang main sepakbola ketika bocah ganteng itu sudah menjadi perwira....

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, halusnya begitu, Pakde. Tapi, sesekali saya bikin judul yang rada ekstrim, ah hehe

      Emak menjaga Pakde seperti itu karena ada alasannya, ya :)

      Hapus
  9. Kebanyakan anak pertama itu "eksperimen", bisa jadi sih begitu, soalnya saya ngalamin banget pa berhadapan pada anak pertama rasanya gagap, khawatir berlebih, apa2 dipikirin, perubahan ini itu kayanya semuaaaa keluhatan dan mudah terbawa emosi jiwa, hehheee... eh pas muncul anak kedua, ngehadapinya lebih santai, bukan karena udah tahu, tapi justru mentalnya lebih kalem dan ga dibawa rumit. Posting yg asik, Mak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengalaman juga yang merubah sikap kita, ya :)

      Hapus
  10. menurutku bukan eksperimen Mak, karena masing-masing anak membutuhkan pola pengajaran yang berbeda. cara asuh yg kita pakai untuk anak pertama beum tentu cocok diterapkan untuk anak kedua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang iya. Di berbagai postingan di blog ini pun saya sering bercerita kalau pola asuh anak pertama dan kedua belum tentu sama.

      Cuma maksud saya dnegan eksperimen adalah, banya hal pertama yang dilakukan oleh anak pertama. Dari mulai menggendong, memandikan, hingga menangani sifatnya. Walopun untuk urusan sifat setiap anak berbeda tapi tetap aja buat saya dengan anak pertama itu smeuanya serba pertama :)

      Hapus
  11. membaca postingan ini, saya menduga: jangan2 sama seperti ngidam (saya pernah baca di artikel entah di mana di internet), tantrum juga dipengaruhi oleh budaya cara mendidik anak. Jadi anak mau tantrum atau tidak mengalami tergantung cara budaya orangtua mendidik anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya anak tantrum juga bisa karena pola asuh :)

      Hapus
  12. Anak pertama tentunya sumber inspirasi buat anak2 berikutnya kalo menurut saya :D
    Pingin baca bukunya :D

    BalasHapus
  13. seenggaknya aku bisa belajar dari tulisan2 mak chi saat mendidik anak, bagaimana cara berdiskusi dengan anak dll... :)

    BalasHapus
  14. Hai Chi, Mak chi...aku yang sudah memiliki dua anak, merasakan anak pertama begini, anak ke dua begini, tapi sebatas dulu aku melakukannya begini, dan untuk yang kedua harus lebih siap... dan ternyata haduuuh, sama saja..semua serba baru.... tantangannya lebih setelah melahirkan anak kedua, mungkin iya, karena harus mengasuh anak pertama dan ke dua. Eksperimen? eeem... buat aku bukan sekedar eksperimen malah, hehee...mosting aach..tapi gak bs ikutan GA mak arin, blm punya bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo, Mak. Rajin2 ceritain pengalaman anak pertama dan kedua :D

      Hapus
  15. buku yang menarik nih..sayang saya belum punya..dan perlu waktu untuk bisa dapat :)..tapi aku setuju..setiap anak berbeda, tapi pengalaman pertama membuat kita lebih siap dengan yang berikutnya...sukses mbaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Setuju. Kalau pulang ke Indonesia, berburu bukunya, Mak :)

      Hapus
  16. setiap anak memang berbeda ya mak, jadi memang pengasuhannya juga berbeda, walaupun kakak-adik

    BalasHapus
  17. setuju tiap anak beda2...dulu waktu anak pertama serba riweh, dan panik.. tapi pas anak kedua, jauuuh lebih santai :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena udah pengalaman juga, sih, ya :)

      Hapus
  18. Sama Chi, saya juga anak pertama. Malah buat saya, anak pertama malah yang paling beruntung, merasakan kasih sayang berlimpah dan punya barang baru. Kalo anak kedua ketiga kan biasanya pake barang lungsuran dari anak pertama :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lungsuran selama masih bagus gak apa-apa. Tinggal pintar2nya orang tua menjelaskan, kenapa dikasih lungsuran. Kalau kasih sayang berlimpah, saya rasa harus berusaha adil terhadap semua anak. Tapi, kalau dibilang mendapatkan kasih syaang lebih dulu memang iya, Karena anak pertama kan lahir duluan :)

      Hapus
  19. Pelajaran banget bwt saya, Mak.
    Hihihi belum ada pengalaman soalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga diberi momongan di saat yang tepat :)

      Hapus
  20. Aku setuju sama pendapat teman2 di atas mba. Anak pertama lebih ke arah pengalaman pertama kali yaa.. Jadi tempat belajar, namanya juga baru. Tapi begitu ada anak kedua pasti harus belajar lagi deh. Toh pasti watak dllnya beda semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. sesuatu yang baru bikin kita kadang deg2an. Yup, bener, untuk anak kedua dan seterusnya pun kemungkinan menemukan sesuatu yang baru itu ada :)

      Hapus
  21. saya anak pertama dan alhamdulillahnya memang untuk anak eksperimen.. kebayang kayaknya dulu apa-apa gak dibolehin ama mama, eh giliran adek sepertinya apa-apa dibolehin.. hihihihihi.. tapi bersyukur jadi anak pertama karena dapat kasih sayang orang tua yang utuh selama 4 tahun, kalau anak kedua kan harus dibagi dengan anak pertama kasih sayangnya,,, ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. lumayan jauh juga jarak usia dengan adik, ya, Mak :)

      Hapus
  22. Maaf, saya ga bisa komentar.
    Coz, belom nikah jadi gimana punya anak :)

    eh, tapi kata temen2 yang udah merit, sebagian dari tulisan ini bener
    tapi ga tahu juga sih, belom bisa dibuktiin

    BalasHapus
  23. saya belum baca bukunyaaa, huhu *ketinggalan*

    emang ya setiap anak itu unik. duh, jadi mau punya anak lagi nih :D

    BalasHapus
  24. Suka kalimat terakhirnya mak,...setiap ibu akan memberikan semua yg terbaik untuk anak-anaknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena ibu pasti begitu pada umumnya, ya :)

      Hapus
  25. ada betulnya juga..semuanya serba baru untuk anak pertama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi, kita banyak dapat pelajaran dari anak pertama :)

      Hapus
  26. Kalo pengalaman saya yang udah punya 2 anak, emang bener anak pertama itu memberikan pelajaran untuk pengasuhan anak ke-2. Yang saya rasakan sih, menghadapi anak ke-2 lebih tenang, mentalnya lebih siap, lebih stay cool.. hehehe..

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge