Kamis, 19 Desember 2013

Bunda Jangan Marah, Ya

"Ajaran yang tidak baik tapi disampaikan dengan cara baik, maka bisa diterima oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya, ajaran yang baik tapi kita menyampaikannya dengan cara yang tidak baik, akan membuat orang lain sulit untuk menerima ajaran tersebut."

Begitu kira-kira kalimat yang Chi dengar di salah satu radio. Dan setelah dipikir-pikir bener juga, ya.

Beberapa minggu lalu, Chi nonton tayangan Jo Frost. Di episode itu ceritanya ada anak yang susah banget disuruh tidur sendiri di kamarnya. Maunya sama ibunya terus.

"Kamu harus tidur di kamarmu sekarang, atau besok gak boleh main bersama teman-temanmu," kata si Ibu.

Bagaimana pendapat orang tua terhadap kalimat yang diucapkan ibu itu di atas? Kalau kata, Chi tergantung. Ya, tergantung intonasinya.

Di episode itu, Jo Frost juga bilang kalau kalimat yang diucapkan ibu itu udah tepat hanya intonasinya ketinggian. Lebih mirip kayak membentak. Intonasi yang tepat seharusnya terdengar tegas tanpa harus terlalu tinggi nadanya dan tidak diucapkan terburu-buru. Dan di episode tersebut, si ibu harus berkali-kali belajar intonasi untuk kalimat yang sama sampai dibilang tepat oleh Jo Frost.

Wew! Untuk 1 kalimat yang sama aja ternyata efeknya bisa berbeda kalau salah intonasinya. Chi jadi mikir sendiri apa jangan-jangan selama ini intonasi Chi banyak yang salah, ya? *langsung introspeksi :p

Tapi, kalau dipikir-pikir mengatur intonasi dan memperhatikan cara penyampaian itu ada benernya juga. Setiap kali Chi menyampaikan sesuatu dengan nada yang tinggi, biasanya anak-anak suka terlihat gak suka dan diekspresikan dengan sedih atau ngambek, minimal protes, lah. Padahal, Chi mungkin saat itu gak marah. Cuma tinggi aja nadanya, mungkin karena lagi terburu-buru atau lagi apa gitu.

Ketika anak-anak UAS, sama sekolah dikasih berbagai worksheet untuk bahan belajar di rumah. Chi minta mereka untuk menyelesaikan semua worksheet tersebut dengan cara dicicil tentunya.

Nai      : "Bunda, Ima udah selesai, nih, worksheet akidah. Tolong diperiksa, ya."
Bunda : "Mana, Bunda lihat."
Nai      : "Tapi, Bunda janji dulu gak akan marah kalau ternyata ada yang salah. Deal?"
Bunda : "Hihihi, kok, pake deal segala?"
Nai      : "Iya, pokoknya kalau Ima salah Bunda kasih tau aja. 'Ima, ini salah. Benerin, ya.' Kayak gitu, Bun. Jangan marah-marah."
Bunda : "Iya, Bunda janjiiiii..."

Chi ngikik denger celoteh Nai, tapi dalam mikir juga jangan-jangan memang Chi suka marah-marah kalau kasih tau? Ya, mungkin pernah walopun gak selalu. Kalaupun marah juga pasti ada alasannya. Atau bisa juga hanya nadanya yang terdengar tinggi, padahal sebetulnya gak lagi marah. Tapi, mendengar celoteh Nai membuat Chi berpikir untuk semakin belajar lagi tentang intonasi.

Nai, terima kasih udah mengingatkan Bunda dengan caramu, ya. :L

post signature

34 komentar:

  1. Hehehe anakku juga suka nagih deal dulu kalo mau ngasih laporan. ternyata memang dari intonasi aja, gak marah bisa dianggap marah :D

    BalasHapus
  2. waw.. intonasi ya... :D saya juga kayaknya harus belajar intonasi lagi...

    BalasHapus
  3. Pe er banget emang ya mba jaga intonasi kalimat. Bisa-bisa dianggep marah melulu nih ntar sayahnya....

    BalasHapus
  4. Bahasa bunda lebih di merngerti dengan anak ya Mba, begitu juga sebaliknya.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, tapi tetep aja intonasi harus dijaga :)

      Hapus
  5. he he aisyah jg prnh nyentil aku gni mba :) kdg dr pandangan mata aja anak udh nganggep kita marah,,

    BalasHapus
  6. iya..kadang diem dengan pasang muka cemberut aja anak2 udah mikir qt marah, sampe anakku juga pernah bilang, "bun..itu bibirnya dibikin senyum dong..kalo kayak gitu, bunda jadi keliatan galak tau.." hihi..

    BalasHapus
  7. Hahaha pinter ya anak2 teh ya?
    Kadang Quin juga ngingetin gini " Bunda..jangan bilang awas..tapi punten,ayo bunda ulangi ngomongnya..Quin punten yaa?Bunda ga kliatan kacanya " haha pas nyetir inihhh..

    BalasHapus
  8. sama mak saya juga harus belajar intonasi ehee :D

    BalasHapus
  9. emangnya Bunda suka marah ya Nai?

    BalasHapus
  10. Siapa sih yang suka dimarahin???
    hiks....hiks....
    jangan marah ya . . . .
    ^_^

    BalasHapus
  11. wah aku juga nih harus memperbaiki intonasi

    BalasHapus
  12. Kadang kalo ngomong suka ngga nyadar suara meninggi, mgk kesanya jadi kaya marah ya bun padaal belum tentu maksudnya begitu :D

    BalasHapus
  13. mengajarkan kebaikan itu harus dengan cara yang baik-baik pula. mudah diucapkan. tapi prakteknya sangat sulit. apalagi bila tiap hari dihadapkan dengan anak-anak dan keluarga kita sendiri :)

    salam

    BalasHapus
  14. Iya ya, kadang kita ka bermaksud marah, tapi dihati anak2 ngena. Anakku masih bayi, kadang kata2ku dgn nada ketinggian dia langsung mewek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, bayi juga katanya mengerti bahasa ibu :)

      Hapus
  15. terkadang kita ditegur oleh bahasa bocah yang masih polos tentang sikap dan prilaku kita yang oleh anak- anak dianggap kelewatan batas, namun terkadang juga kita mengabaikan hal itu.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,, dari anak kita bisa belajar :)

      Hapus
  16. saya sepakat dengan apa yg diutarakan pada paragraf awal artikel ini, bahwa baik buruknya daya serap orang lain terhadap apa yang kita sampaikan itu tergantung kepada bagaimana cara kita menyampaikannya...yg penting bunda jangan suka marah-marah ya...
    salam dari Kalimantan Selatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, namanya juga manusia. Kadang ada marahnya :p

      Hapus
  17. wah Naima udah pinter bikin deal-deal an ya...
    Trus jadinya ada yang salah enggak Bun ?

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge