Anak Gagal SNBT? Pelukan Orang Tua Lebih Berharga dari Nilai UTBK

Anak Gagal SNBT? Pelukan Ibu Lebih Berharga dari Nilai UTBK

Eits! Jangan langsung ke-trigger dengan judul artikel ini tanpa membaca isinya dulu, ya. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan nilai UTBK, apalagi menganggap remeh perasaan ketika anak gagal SNBT.

Beberapa hari lalu, saat pengumuman PTN jalur SNBT keluar, linimasa Threads ramai sekali. Ada yang merayakan berita gembira, namun tak sedikit pula yang tenggelam dalam kesedihan.

Hati Chi luar biasa terenyuh saat membaca beberapa utas dari remaja yang merasa sudah gagal, tetapi justru dihakimi oleh orang tuanya sendiri. Bahkan, ada yang sampai terbersit pikiran untuk mengakhiri hidup karena kesedihannya tidak divalidasi. Padahal, merasa sudah belajar mati-matian. Duh, sedih banget bacanya!


Berhasil atau Gagal SNBT, Langsung Peluk Anak!


Keke pernah gagal SNBT, tapi dia berhasil lolos di 2 PTN ternama melalui jalur mandiri. Nai masuk eligible, tapi gak lolos jalur SNBP. Tujuan utama Nai memang sebetulnya bukan PTN juga. Mau itu berhasil atau gagal, Chi selalu langsung peluk anak.

Kenapa? Karena emosi anak butuh divalidasi. Meskipun anaknya mungkin terlihat santai sekalipun, seperti Nai yang memang gak terlalu antusias kuliah di perguruan tinggi. Tetap aja Chi peluk. Karena kan gak tau persis juga isi hatinya seperti apa.

Kalau K'Aie gak memeluk Keke dan Nai, tapi juga tidak menghakimi. Sama kayak Chi, terus memberi dukungan untuk anak-anak. Jadi, memang tidak harus memvalidasi emosi dengan cara dipeluk. Setiap orang tua punya caranya sendiri memberikan dukungan terhadap anak. Intinya, kami berdua sama-sama tidak ingin membuat anak menjadi jatuh mentalnya.

Menurut kami, anak kalau divalidasi emosinya akan merasa kalau dia dihargai. Orangtua akan selalu berusaha ada untuk anak dalam situasi apapun. Anak gak dibiarkan sendirian mengelola emosinya, apalagi kalau sedang sedih. Jangan sampai hatinya menjadi kosong karena merasa gak ada yang peduli.


Setelah Tenang, Ajak Anak Evaluasi Nilai UTBK Bersama


Jangan terburu-buru mengajak evaluasi. Beri waktu untuk tenang. Gak hanya anak yang menjadi tenang, orangtua pun harus.

Ketika Keke gagal di SNBT, perasaan Chi campur aduk. Udah pasti sedih banget. Apalagi Keke juga terlihat sedih. Kalau pun lolos di tes mandiri, biayanya tentu bisa sangat jauh berbeda. Kalau anak-anak bilangnya PTN rasa swasta. Karena uang pangkalnya kemungkinan bisa jauh lebih mahal.

Tapi, Chi harus tetap berusaha lebih tenang. Langsung kasih Keke pelukan dan memberi ucapan yang menenangkan. Sambil berusaha juga menenangkan diri sendiri.


Evaluasi Sebelum SNBT Dimulai

Evaluasi sudah sering kami lakukan dari sebelum SNBT. Berkali-kali diskusi dengan anak-anak, mempelajari hasil tes minat dan bakat, juga berdiskusi dengan wali kelas bimbel.

Ada beberapa alasan, kenapa Chi lebih sering berdiskusi dengan wali kelas bimbel. Pertama, pelajaran di bimbel hanya matpel yang akan diuji di SNBT. Kedua, orang tua dapat raport tiap bulan, sedangkan kalau sekolah rapotannya per semester meskipun ada raport bayangan. Bahkan gak perlu menunggu rapotan. Kapan pun Chi bisa berdiskusi dengan walas bimbel. Ketiga, jumlah murid per kelas jauh lebih sedikit di bimbel daripada sekolah. jadi walas bimbel lebih mengenal muridnya.


Evaluasi Setelah Nilai UTBK Keluar

Karena rutin mengevaluasi sebelum SNBT, Chi jadi tau seberapa besar usaha Keke untuk belajar. Nilainya selalu baik, bahkan sempat optimis dia bisa masuk PTN yang diinginkan karena nilai try outnya seringkali tinggi. Setiap kali berdiskusi dengan wali kelas juga seringkali bilang optimis.

Kalau anaknya udah berusaha serius, masa' iya masih harus dimarahin ketika mengalami kegagalan. Bisa-bisa jadi terpuruk karena merasa usahanya gak dihargai. Bahkan mungkin jangka panjangnya bisa membuat anak melegalkan berbagai cara supaya berhasil dan diakui. Duh, jangan sampai kayak gitu, ya. Tetap harus pakai cara yang benar. Makanya, meskipun sedih, Chi gak merasa marah ke Keke. Karena tau proses dia belajar.

Lain cerita kalau Keke memang malas-malasan belajarnya. Mungkin hal pertama yang akan kami lakukan setelah memeluk adalah emnegur karena malas belajar.

Menurut Chi, itulah pentingnya orangtua tau proses anak berusaha. Jangan hanya menuntut harus berhasil tanpa mau tau prosesnya. Semua sama-sama berusaha. Anak berusaha untuk lolos ujian, sedangkan orangtua berusaha mencari dananya. Bila sampai gagal, sama-sama berbesar hati kemudian mencari solusinya.

Setelah semua tenang, Chi dan K'Aie mengajak Keke berdiskusi. Kami sempat menawarkan gap year, tapi Keke memilih tetap kuliah meskipun bukan di pilihan pertamanya. Ya sudah memang itu jadi keputusannya. Pesan kami, mau pilihan ke berapa pun pastikan bukan asal memilih.

Seperti yang diceritakan di awal, Keke lolos di 2 PTN ternama melalui jalur mandiri. Tapi, dengan berbagai pertimbangan melalui diskusi bersama, kami memutuskan kuliah di universitas swasta yang kualitasnya juga termasuk bagus di Indonesia.

Chi paham banget kesedihan orangtua ketika anak gagal masuk PTN. Apalagi kalau kondisi keuangan juga membuat orang tua tidak leluasa memilih anak masuk PTN jalur mandiri atau PTS ternama. Sedangkan di sisi lain juga ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Belum lagi berbagai macam ekspetasi yang sudah dibayangkan kalau anak lolos PTN yang diinginkan. Tapi, apapun hasilnya, tetaplah berusaha menjaga mental anak. Chi lihatnya aja sedih lho ketika membaca berbagai utas mereka yang gak lolos, tapi menjadi down justru karena sikap orangtua. Apalagi sampai ada yang kepikiran mengakhiri hidup.

Yuk, buat para orangtua yang anaknya tahun depan atau beberapa tahun lagi akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi, mulai ikut terlibat dalam prosesnya. Setidaknya orang tua tau persis seperti apa effort anak. Mulai belajar untuk menghargai dan bersiap bila anak gagal SNBT. Jangan hanya menuntut harus mencapai nilai UTBK bagus dan berhasil masuk PTN. Jangan sampai terjadi penyesalan dan terlambat mengantisipasi. Naudzubillah.

Saat anak gagal SNBT, pelukan dan dukungan orangtua adalah obat terbaik untuk bangkit kembali.

Post a Comment

15 Comments

  1. Kasih semangat dan dukungan yang paling penting daripada membandingkan anak sendiri ke orang lain. Yang penting sudah berusaha.

    ReplyDelete
  2. Sepakat. Orangtua itu ibarat rumah bagi sang anak. Kalau orangtua langsung menghakimi dan memarahi karena anaknya gagal SNBT, bisa hancur hatinya dan ngeri kalau sampai berbuat hal tidak diinginkan saking frustasi atau putus asa.

    Memeluk anak apapun hasil perjuangannya memberi kekuatan dan waktu setelah itu barulah di evaluasi. Langkah yang Mbak lakukan sangat menarik dan bermanfaat sekali.

    ReplyDelete
  3. Sepakat, saat anak menghadapi kegagalan, hal pertama yang mereka butuhkan bukan ceramah atau tuntutan, melainkan dukungan dan penerimaan dari orang tuanya. Tidak semua perjuangan berakhir sesuai harapan, tetapi mengetahui bahwa usaha mereka dihargai akan membantu anak bangkit dan melangkah ke tahap berikutnya dengan lebih kuat

    ReplyDelete
  4. Yaa Allah... sedih banget bacanya. Kebetulan si bungsu tahun ini juga kecewa banget karena tidak lolos di manapun. Padahal dia merasa nilainya memuaskan, dan dia juga belajar mati matian untuk itu...

    Karena anak laki-laki, bener Chi, mereka butuh waktu sejenak dan ketika udah lewat beberapa hari, aku baru tersadar dia nangis di tempat tidur... 😭

    aku juga memeluk lamaaa dan cerita tentang perjuangan anak se Indonesia yang juga berjuang sama seperti dia, yang ngga punya pilihan ketika tidak berhasil masuk PTN:(((((

    dia beruntung masih ada orang tua yang lengkap dan masih bisa membiayai masuk ke PTS yang lumayan bagus.

    salah satu teman malah mendiamkan anaknya berminggu-minggu padahal dia sudah masuk UGM jalur eligible, karena di semester 2 sepertinya dia dibully.

    well semoga tulisan ini mencerahkan banyak ibu lainnya

    ReplyDelete
  5. Saya dan suami juga bukan tipe orang tua yang memaksa anak harus A, B, atau C. Selama akhlak mereka baik, rajin ibadah, dan berusaha keras itu sudah cukup. Gak keterima PTN seperti ortunya gapapa. Banyak kok PTS dengan akreditasi bagus dan mentereng kualifikasinya. Dengan status PTN yang sudah "diswastakan" sesungguhnya keduanya equal. Yg penting anak kuliah atas minat, ketertarikan, yang dipilih oleh mereka sendiri. Dan mereka wajib bertanggung jawab atas pilihan itu. Orang tua adalah supporter dalam segala hal. Gak cuma finansial tapi juga mendorong mentalitas mereka. Ini pendapat pribadiku ya. Dan kebetulan seide dan sejalan dengan suami.

    ReplyDelete
  6. Adikku nih. Dia baru lulus SMA. Waktu itu, dia lapor kalau ada kemungkinan nggak lolos nilai UTBK-nya (yang beneran nggak lolos). Tapi aku nggak menghakimi dia. Meskipun aku tahu, dia juga nggak antusias untuk kuliah.

    Yang jelas aku dukung dia untuk kemajuannya.

    ReplyDelete
  7. Tulisan yang sangat mengingatkan bahwa hasil ujian memang penting, tapi kesehatan mental anak jauh lebih penting. Kadang yang paling dibutuhkan anak setelah gagal bukan nasihat panjang, melainkan merasa didengar dan diterima apa adanya.

    ReplyDelete
  8. Betul bangeeet. Anak butuh sekali divalidasi perasaannya. Tidak adil kalau orang tua serta merta menghakimi hasil ujian masuk PT-nya yang buruk. Orang tua mesti mengjargai perjuangannya juga.

    ReplyDelete
  9. Membaca tulisan ini rasanya campur aduk, tapi bener-bener menenangkan. Gagal SNBT itu emang berat banget buat mental anak, tapi bener kata Kakak, ini bukan akhir dari segalanya. Masih banyak jalur mandiri, swasta, atau bahkan gap year yang bisa jadi jalan sukses yang lain. Semangat terus buat para orang tua yang lagi mendampingi anaknya melewati fase ini!

    ReplyDelete
  10. Soal didik mendidik, emang ibu paling punya kompetensi, maka ada pepatah ibu itu madrasah pertama bagi anaknya, walaupun dalam konteks yang berbeda ya. Jadi inget istri, kalo belajar itu pasti digunakan terus sampe anak bosen, tapi pas hasilnya tidak sesuai ekspektasi, tidak pernah marah justeru anaknya dibesarkan hatinya, dipeluk. Saya juga bukan tipe ambisius, jadi kalo udah ada hasilnya ya tinggal tawakal dan evaluasinya.

    ReplyDelete
  11. Saya membaca artikel ini dan merasa relate, karena kadang beberapa orang tua lupa bahwa di balik sebuah angka ada perjuangan, harapan, dan perasaan seorang anak yang sudah berusaha keras. Apapun hasilnya, sebaiknya kita percaya bahwa anak-anak sudah memberikan usaha maksimal.

    ReplyDelete
  12. Proses berjuang menurut saya lebih penting dibandingkan hasil. Belajar menghargai perjuangan anak jaauh lebih berarti daripada hasil nilai itu sendiri. Tetap memberi apresiasi apapun hasil SNBT anak-anak kita karena mereka telah berjuang.

    ReplyDelete
  13. Peran orangtua yang paham seperti ini yang tentunya diharapkan si anak, karena bukan penghakiman kenapa gagal, kenapa nilainya ga nyampe, kamu gak fokus, kamu ga bener belajarnya, dan segala macamnya. Hal seperti ini jadi masukan untuk orangtua dan calon orangtua

    ReplyDelete
  14. Terima kasih buat pengingatnya, mbak. Kadang sebagai orang tua kita hanya memikirkan keinginan anak yang harus lulus ptn padahal ketika anak tidak lulus seharusnya kita bisa memberikan pelukan dan tidak menyalahkan anak yang sudah berusaha mati-matian buat masuk ptn incarannya

    ReplyDelete
  15. Kalau anak gagal, aku juga akan terus kasih semangat dan pelukan, masih ada swasta. Mungkin ini yg akan aku alami 3 tahun lalu. Waktu adikku juga selalu kasih dia dukungan, akhirnya dia sendiri yg memilih swasta aja

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^