Malam itu (12/5), Nai tidur dengan gelisah. Nai kalau tidur memang gak mau diem. Tapi, kali ini gak mau diemnya terlihat berbeda. Tadinya, Chi berpikir kalau Nai sedang menahan pipis karena gak ke wc.

Nai: "Bunda, Ima gak bisa tidur."
Bunda: "Pengen pipis, ya? Ya udah sana pipis dulu. Nanti malah ngompol kalau ditahan gitu."
Nai: "Ima gak pengen pipis."
Bunda: "Trus, kenapa? Gerah? Suhu ACnya Bunda turunin lagi, ya?"
Nai: "Enggak. Ima gak gerah."

Karena semua tebakan Chi disangkal olehnya, maka Chi pun hanya meminta Nai untuk segera tidur lagi, daripada besok kesiangan. Tidak lama kemudian, Chi mendengar isak tangis. Nai sedang menangis dengan wajah dibenamkan ke bantal.

Bunda: "Lho, kok nangis? Ada apa sebenarnya, Nak?"

Tadinya, Nai masih juga menggelengkan kepala. Setelah kepalanya Chi usap lalu terus dibujuk, mulai keluar curhatannya.

Nai: "Besok bawa caricanya 1 aja! Temen-teman gak usah dikasih!"

Chi kaget denger ucapan Nai. Beberapa hari sebelumnya, kami baru saja pulang dari Dieng untuk mendaki gunung Prau. Salah satu oleh-oleh yang kami bawa adalah manisa carica, oleh-oleh khas Dieng. Nai yang paling antusias ingin berbagi oleh-oleh dengan para sahabatnya. Makanya, Chi kaget ketika Nai tiba-tiba bilang gak jadi bawa carica. Ada apa sebenarnya?

Ternyata, Nai sedang kesal dengan salah seorang sahabatnya ...

Hari itu, Nai ulang tahun. Para sahabatnya mengucapkan ulang tahun untuk Nai dengan cara yang tidak diduga. Ada yang menscreenshot wajah Nai saat sedang video call dengan sahabatnya kemudian dikasih caption selamat ulang tahun. Lalu ada juga yang mengupload video Nai dan memberi caption selamat ulang tahun. Semuanya sama-sama mengupload di Instagram.

Yang menjadi masalah adalah video yang diupload. Video itu sudah Nai upload beberapa minggu sebelumnya. Gak lama kemudian dia hapus. Ternyata, tanpa sepengetahuan Nai, salah seorang sahabatnya secara diam-diam sudah menyimpan video tersebut. Kemudian diupload ulang saat Nai ulang tahun.

Sebetulnya, gak ada yang aneh dengan video singkat itu. Hanya kumpulan foto dia yang dijadikan video singkat. Kumpulan fotonya itupun menurut Chi gak ada yang aneh. Tapi tetap saja saja Nai gak suka dengan hasilnya, makanya dihapus. Ketika sahabatnya mengupload kembali, Nai sudah menghubungi sahabatnya via LINE untuk segera menghapus videonya. Tapi, (hingga kini) videonya gak dihapus juga.

Itulah yang menyebabkan Nai menangis .... Nai kesal ... Nai marah ...

Chi lalu menyarankan supaya besok bicara baik-baik dengan sahabatnya. Bicara empat mata saja, gak perlu mengajak sahabat yang lainnya. Utarakan alasan kenapa Nai tidak senang. Apabila sahabatnya tetap menolak keinginan Nai, cukup dengan bilang kalau dia kecewa. Setidaknya sahabatnya sudah tau kalau sudah bikin Nai kecewa. Chi juga menyarankan supaya Nai tetap bersahabat saja.

Setelah itu, Nai pun langsung tidur nyenyak ... Keesokan harinya, dia tetap ingin bawa oleh-oleh untuk sahabatnya.

Sepulang sekolah, Nai kembali ceria. Chi tanya lagi tentang masalahnya. Gak taunya, sahabatnya gak masuk sekolah hari itu. Tapi, Nai udah nyantai menghadapi masalahnya. Senyumnya udah ceria lagi.

Walaupun Nai sudah ceria, Chi ajak Keke dan Nai untuk berdiskusi tentang kejadian ini. Hasil diskusi kami adalah


Jangan tampil 'aneh' saat video call

Yang dimaksud jangan tampil aneh di sini tentu saja bukan berarti harus dandan full make up dulu ketika mau video call. Tapi berpenampilan wajar saja. Harus pakai baju, ya! Kali aja, ada yang merasa 'cuma' ngobrol dengan keluarga atau sahabat, jadi merasa cuek. Padahal siapa tau keluarga atau sahabatmu saat itu sedang usil.


Jangan upload foto atau video yang aneh-aneh

Kita gak akan pernah tau persis siapa saja yang melihat video atau foto yang diupload. Sekalipun akun media sosial sudah disetting privat.


Berpikir dulu sebelum upload foto atau video ke social media

Seringkali kecepatan screen shot lebih cepat daripada delete

Itu juga yang dialami Nai. Gak lama setelah fotonya diupload, dia delete lagi. Tetapi rupanya ada sahabatnya yang sudah lebih dulu save videonya. Sekalipun bukan foto atau video yang aneh, memang sebaiknya selalu membiasakan dulu untuk berpikir 2x sebelum upload. 


Hargai perasaan orang lain bila ingin mengupload foto atau videonya

Pernah gak baca artikel dimana ada seorang pria memutuskan pacarnya karena sudah mengupload foto dirinya saat sedang tidur? Menurutnya, aktivitas tidur itu sama halnya seperti ke kamar mandi, yaitu aktivitas sangat pribadi. Dan, dia tidak ingin seorang pun tahu.

Buat pacar atau (mungkin) kita juga mengupload / melihat foto seseorang yang sedang tidur adalah hal sepele. Tapi, kan belum tentu bagi yang orang yang ada difoto itu. Setiap orang punya pendapat yang berbeda.

Begitu juga dengan video yang pernah diupload Nai. Menurut Chi, gak ada yang aneh dengan videonya. Tapi kalau Nai gak suka, seharusnya tetap menghargai pendapatnya. Kan, yang ada di video itu adalah wajahnya.

Nai masih kecil, kenapa juga udah dikasih social media?

Hmmm ... kira-kira ada yang berpendapat seperti itu gak, ya? Baiklah, sebelum ada yang berpikir begitu, Chi akan jawab duluan hehehe. Menurut Chi, ini bisa menjadi bahasan yang berbeda. Kalaupun Nai sudah cukup umur untuk bersocmed sekalipun bukan berarti dia akan bersikap bijak atau dewasa, kan?

Karena menurut Chi untuk bersikap dewasa atau bijak saat bersocmed juga butuh pengetahuan. Anak-anak harus diberi bekal bagaimana harus bersikap di social media. Sering-sering aja mereka diskusi dan dipantau aktivitasnya. Sama aja, sih, sebetulnya seperti Chi mengajarkan tentang hal lainnya kepada Keke dan Nai.

Kejadian seperti ini gak lantas jadi membuat Chi untuk melarang anak-anak untuk bersocial media. Justru Chi harus terus mengajak anak-anak untuk berdiskusi. Berharap kami semua bisa ambil pelajaran dari semua ini.

Sampai saat ini, video itu belum juga dihapus oleh sahabatnya. Tapi, Nai sudah bisa menyikapinya dengan santai. Dan, mereka tetap bersahabat. Alhamdulillah :)