Penuh drama saat tangan Nai (diduga) retak. Hasil rontgen di amplop ini yang jadi saksi bisunya.


Teman-teman pernah panik saat menghadapi anak sakit? Chi pernah banget. Bahkan yang penuh drama juga ada. Seperti cerita yang satu ini. Kejadiannya udah sekitar 5 tahun lalu. Tapi masih lumayan melekat diingatkan apalagi mengingat sekian ratus ribu melayang karena drama ini.

16 Juni 2011. Hampir 5 tahun yang lalu ...

Saat itu Nai masih duduk di bangku TK A. Seperti biasa, Chi yang menjemput anak-anak setiap hari. Hari itu, Nai gak mau langsung pulang. Dia masih ingin bermain dengan teman-temannya. Chi pun duduk di panggung kecil yang ada di dalam sekolah untuk menunggu Nai.

Nai: "Yuk, pulang, Bun."

Chi pun memakaikan Nai sepatu, kemudian menarik tangannya untuk berdiri. Tiba-tiba, Nai menjerit dan menangis dengan sangat keras. Katanya, lengannya sakit karena Chi menarik tangannya terlalu keras. Chi bingung ... Perasaan cuma menarik tangan Nai dengan sangat pelan?

Chi coba usap tangan Nai, tapi baru disentuh saja tangisannya semakin kencang. Kata Nai, tangannya sakit sekali. Dari bingung berubah jadi panik setelah satu per satu mulai menghampiri Nai. Pemilik sekolah, kepala sekolah, teman-teman Nai, dan lainnya pada mendekati Nai.

Nai: "Bunda narik tangan Ima keras bangeetttt. Huaaaa ...!"

Waaa ... Chi jadi makin panik saat Nai bilang begitu di depan orang banyak. *Pengen tutup muka pakai panci rasanya*

Awalnya, Chi sempat berpikir kalau ini adalah akal-akalan Nai. Dia sedang cari perhatian karena gak ingin diajak pulang. Tapi, perasaan Chi gak maksa dia untuk segera pulang. Lagipula, seumur-umur Chi belum pernah lihat Nai seperti itu.


Tips 1 - Berusaha bertanya secara lemah lembut kepada anak. Apa yang terjadi? Apa yang dirasakan? Bagian mana yang sakit? Dan lain sebagainya.

Chi bujuk Nai ke minimarket di samping sekolah. Biasanya dia paling senang beli es krim favoritnya setiap pulang sekolah. Setiap hari, dia harus makan es krim. Tapi, kali ini gak mempan dan Nai tetep menangis. Padahal Chi udah tawarin dia boleh beli es krim sampai 5, lho.  Tapi tetap aja gak mempan. Duh! Chi mulai goyah. 

Jangan-jangan memang benar tadi secara gak sadar sudah menarik tangan Nai terlalu keras?

Tangisan Nai gak berhenti juga. 'Sogokan' es krim jelas gagal total. Hampir sejam lebih dia menangis dan jejeritan di rumah. Gak hanya itu, tangan sebelah kirinya yang sakit pun terus ditekuk. Kalau memang Nai hanya akting, masa iya sampai hampir sejam dia tahan untuk menekuk tangannya? Disentuh pun dia gak mau.

Dengan ketakutan dan menangis, Chi mulai melepon K'Aie. Chi takut banget K'Aie akan marah setelah mendengar ceritanya. Menganggap Chi udah lalai menjaga Nai. Alhamdulillah, K'Aie memang gak seperti itu. Dia meminta Chi untuk segera membawa Nai ke rumah sakit. Apalagi Nai sudah menangis sangat lama. Mamah pun menyarankan hal yang sama.


Tips 2 - Pada saat seperti ini, memang sebaiknya dengan pasangan saling mendukung bukan saling menyalahkan.

Chi pun segera membawa Nai ke rumah sakit. Sebelumnya, emput Keke dulu ke sekolah. Keke terpaksa izin pulang cepat karena gak ada yang jemput dia kalau Chi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, Nai masih tetap menangis sampai akhirnya dia tertidur di pangkuan asisten rumah tangga mamah.

Sesampainya di rumah sakit, Nai langsung dibawa ke IGD. Setelah mendengarkan cerita Chi, dokter jaga memeriksa tangan Nai. Dokter tidak melihat ada yang aneh di tangan kiri Nai. Tapi karena Nai terus-menerus menjerit dan menangis selama pemeriksaan, dokter meminta Chi untuk membawa Nai periksa tangannya ke bagian radiologi. Melakukan rontgen di tangan untuk memastikan apakah benar ada yang retak atau patah pada tangannya.

Maafkan Bunda, Nak. Maafkan, Bunda ...

Hanya itu yang bisa Chi ucapkan berulang-ulang dalam hati ketika melihat Nai menjerit-jerit saat tangannya harus diluruskan agar bisa dirontgen. Ngilu rasanya melihat kejadian itu.Walaupun chi belum pernah merasakan patah tulang, tapi membayangkan saja kalau tangan patah dipaksa harus diluruskan pasti rasanya akan sakit banget.

Malah saking sedihnya, Chi sempat berpikir gak mau menyentuh Nai sebagai tindakan pencegahan. Khawatir Chi salah lagi. Bener-bener, deh, saat itu Chi sangat feeling guilty kepada Nai. *Hadeuuuhh ... Chi ini mikirnya begitu banget, ya?*

Yah, ada di sini, dooong. Yah, Bunda takuutt ... Bunda sediiihh ...

Andai ada pintu kemana aja Doraemon, Chi sangat berharap K'Aie bisa langsung hadir saat itu juga. Rasanya pengen ikutan nangis bersama Nai. Tapi, Chi harus pura-pura kuat karena bisa-bisa Nai tambah kencang tangisannya. Biasanya kalau urusan begini, memang K'Aie yang lebih tegar dari Chi. Dulu, waktu pertama kali Keke vaksin aja yang menemani adalah K'Aie. Chi gak tega melihat Keke disuntik. *Ih, Chi memang cengeng!*


Tips 3 - Ketika anak sedang sakit, orang tua sebaiknya berusaha untuk tetap tenang dan tegar. Apalagi dengan adanya bonding antara ibu anak, maka anak bisa semakin rewel bila ibunya sedih.

Proses rontgen rasanya luar biasa lamanya. Mungkin ini perasaan Chi aja karena melihat Nai yang terus-menerus menjerit dan menangis. Lega banget ketika proses rontgen selesai. Apalagi setelahnya tangisan Nai mulai reda. Sambil menunggu hasil rontgen, Chi pun mengurus segala administrasi.

Untuk pembayaran, biaya rontgen saja mencapai Rp250.000,00. Belum termasuk biaya dokter dan obat. Gak apa-apa yang penting Nai bisa segera pulih.

Nai: "Bun, Ima mau es krim."

Seneng banget ketika Nai mulai berhenti nangisnya. Chi pun segera ajak ke kantin rumah sakit. Nai makan es krim dengan lahap. Dia mulai tertawa-tawa ketika ngobrol bersama kami. Yang mengejutkan, tangannya juga sudah bisa digerakkan!

Bunda: "Dek, tangannya gimana, tuh? Udah gak sakit?"
Nai: "Iya, udah sembuh."
Bunda: "Hah? Seriusan? Begitu doang? Beneran udah sembuh?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Lah, terus tadi nangis ... Trus rontgen ...? Trus ...?"
Nai: "Iya tadi sakit, Bun. Sekarang udah enggak."

Perasaan Chi saat itu campur aduk banget. Tentu aja, Chi seneng Nai udah terlihat sembuh. Tapi, kok, cepat amat kejadiannya. Aaahhh ... Mendadak banget jadi bunda labil! Masih terselip rasa deg-degan karena belum lihat hasil rontgen.

Setelah menunggu beberapa saat, hasil rontgen pun keluar lalu kami segera mendatangi dokter jaga. Menurut dokter, dilihat dari hasil rontgen tidak terlihat ada masalah di tangan Nai. Dokter menduga, kemungkinan tadi Nai hanya kaget karena tangannya ditarik.

Ah, apa iya tadi Chi segitu kencang menarik tangan Nai? Kayaknya enggak. Tapi trus kenapa Nai nangis? Aaarrggh! Binguung! *Galau lagi*

Dokter hanya memberi paracetamol untuk menghilangkan rasa sakit. Apabila obat sudah habis dan Nai masih merasa sakit, disarankan untuk kembali ke rumah sakit untuk konsultasi kesehatan lanjutan.

Sampai sekarang, Chi gak mengerti apa yang sebetulnya terjadi. Kalau dibilang Nai sedang mencari perhatian, rasanya enggak juga. Sebelum dan setelah kejadian, Nai gak pernah bersikap seperti itu. Hingga sekarang pun dia gak begitu. Bukan berarti dia gak pernah cari perhatian, tapi rasanya gak segitunya yang sampe bikin bundanya panik dan feeling guilty luar biasa.


Tip 4 - Bila terjadi sesuatu dan tidak tau bagaimana menanganinya, sebaiknya langsung dibawa ke orang yang ahli. Seperti hal ini, kami memutuskan untuk bawa Nai ke dokter. 

Lega dan tersenyum kecut, ketika baru melewati kejadian itu. Lega karena tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan dari tangan Nai. Tersenyum kecut karena ratusan ribu melayang untuk sesuatu yang ternyata gak kenapa-napa. Aduh, Dek! Mending lain kali uangnya dipakai buat beli es krim yang banyak aja, ya! *Ups! Becanda, ding hehehe*

Hasil rontgen tetap disimpan hingga saat ini. Kalau dulu, sempat tersenyum kecut membayangkan uang ratusan ribu itu. Sekarang, sih, kami cekikikan aja kalau mengenang kejadian waktu itu. Anggap aja itu misteri yang gak terpecahkan hihihi. Mungkin inilah salah satu warna-warni menjadi orang tua. Panik saat anak sakit!


Tips 5 - Panik dan sedih saat anak sakit itu wajar. Tapi, usahakan tetap berkepala dingin agar bisa berpikir baik harus melakukan tindakan apa.

Teman-teman pernah panik saat anak sakit, gak? Cerita di sini, yuk!

 
Ini Nai waktu masih playgroup. Gedean dikit dari ini, dia bikin panik bundanya karena menduga tangannya retak. Drama banget ya, Dek! Hehehe :D