Soal UKK IPS - Ayah mempunyai peran utama untuk mencari nafkah. Ibu ikut bekerja di kantor dengan tujuan untuk meningkatkan PENGELUARAN KELUARGA *sengaja di capslock untuk bedain soal dan jawaban

Saya : "Dek, kok jawabannya pengeluaran, sih?"
Nai : "Ya, kan selama ini yang cari uang ayah, tapi yg ngeluarin bunda."
Saya : "Iya, tapi ini kan soalnya ibunya juga kerja. Berarti tambah pendapat, dong."
Nai : "Enggak, Bun. Tugas ayah itu cari nafkah dan bertanggungjawab sama keluarga. Tugas bunda mengeluarkan."
Saya : "Maksudnya, tugas bunda yang abisin uang?"
Nai : "Iya hehehe"


Tulisan di atas udah Chi jadiin status semalem di FB. Nah, kali ini ada tambahannya. Chi penasaran, dong kenapa Nai sampe kekeuh kalau bunda yang kerjanya abisin duit. Padahal kan enggaaaakk *gak salah maksudnya hahaha.

Chi : "Nai, kok bunda yang abisin duit? Kan, di sini ceritanya bundanya itu kerja."Nai : "Ya kan, bunda juga yang suka ngomong gitu."
Chi : "Ngomong gimana?"
Nai : "Ya misalnya kalau Bunda ada undangan dari blog trus sama Ima gak boleh dateng. Bunda suka bilang, 'sesekali Nai, anggap aja Bunda lagi kerja. Kalau Bunda kerja kan enak, nanti kita bisa jalan-jalan, bisa jajan.' Itu kan artinya kalau Bunda kerja artinya Bunda ngeluarin uang."

Ya ampuuuunnn, ternyata Chi juga yang salah menjelaskan hahaha. 

Selama ini, Chi taunya kalau pelajaran di sekolah itu terbagi 2, yaitu ilmu pasti dan bukan. Pelajaran kayak IPS ini pastinya bukan ilmu pasti. Tapi, kendalanya ketika si anak di beri pertanyaan, terutama pilihan ganda, mereka dituntut menjawab yang seragam dan pasti.

Contohnya kalau ada pertanyaan, Siapa yang bertugas ke pasar? Gak, salah kan kalau anak menjawab yang ke pasar adalah Mbak. Tapi, dalam ujian jawaban yang benar adalah ibu. Jawaban yang pasti (padahal bukan ilmu pasti)

Buat Chi itu termasuk kekurangan dalam pendidikan. Tapi, lagi-lagi Chi coba mencari jalan tengah. Kalau anak dihadapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang  seperti itu, Chi minta mereka untuk belajar berkompromi. Chi minta ke anak-anak untuk menjawab sesuai text book kalau dihadapkan dengan soal UTS dan UKK (kalau ulangan harian biasanya fleksibel. Jawaban akan dibenarkan kalau jawaban anak masuk akal walopun tidak sesuai buku). Nah, sikap Chi pun sama seperti guru ketika menilai ulangan harian. Lebih fleksibel.

Selama ini sih Keke dan Nai ngerti. Mereka bisa membedakan kapan saatnya harus menjawab baku mengikuti text book dan tidak. Karena Chi juga selalu ngajak mereka diskusi.

Nah, trus gimana kalau kasusnya kayak soal jawaban Nai di atas itu. Karena ini soal UKK, jelas jawabannya salah. Tapi, Chi selalu minta anak-anak untuk menjelaskan kenapa jawab seperti. Karena penjelasan Nai bisa diterima oleh Chi, ya dia gak ditegur. Malah kami sekeluarga sama-sama ketawa dengernya. Namanya juga anak-anak hehehe

Sekolah tinggal seminggu lagi, nih. Alhamdulillah hasil UKK Keke dan Nai bagus semua. Di atas 90 semua, ada juga yang 100. Semoga rapor mereka bagus-bagus lagi. Aamiin

Oiya, Chi tambahin sedikit lagi. Kenapa Chi sampe ngejelasin ke Keke dan Nai kapan harus menjawab secara text book dan kapan mereka bisa fleksibel, alasannya adalah:


  1. Sekolah itu seringkali punya keterikatan. Contohnya, di sekolah Keke dan Nai kalau UTS dan UKK semua soal datang dari pusat. Berarti, jawabannya pun harus sama persis dengan yang diberikan pusat. Sementara kalau ulangan harian bisa lebih fleksibel karena yang memberikan soal adalah guru di sekolah itu sendiri.
  2. Tentu aja, Chi beberapa kali berdiskusi dengan wali kelas. Tapi, karena lagi-lagi ada ikatan-ikatan, gak mungkin juga kita memaksakan merubah ikatan-ikatan tersebut seorang diri. Chi pun memilih untuk menyesuaikan. Makanya, Chi mengajarkan ke Keke dan Nai kapan harus jawab begini atau begitu.
  3. Sebaiknya memang tidak ada soal yang ambigu dalam ulangan. Apalagi di pilah berganda. Tapi, Chi lihat jumlahnya aja. Kalau hanya 1-2 dari sekian banyak soal yang diberikan, Chi lebih memilih untuk mengabaikan. Apalagi kalau anaknya paham. Kecuali kalau memang terlalu banyak soal yang ambigu. Selama ini sih paling cuma 1-2, malah sering juga gak ada. Jadi, santai aja.
  4. Selalu berikan penjelasan biar mereka gak bingung. Misalnya, ketika ada soal yang ambigu dan mereka merasa apa yang dijawab itu benar tapi ternyata disalahkan, pasti mereka akan bingung. Nah, Chi selalu jelasin ke mereka. Jangan sampe mereka kebingungan sendirian trus cari kesimpulan sendiri 
  5. Chi tentu seneng banget kalau anak-anak dapat nilai bagus. Apalagi kalau bisa dapet nilai 100.  Tapi, kalau ternyata jawaban anak tetep disalahin jawabannya, maka harus pastikan kalau soal yang jawabannya disalahkan itu adalah soal yang ambigu. Pastikan kalau anak sebetulnya paham. Hanya saja kembali ke masalah segala keterikatan tersebut. Nilai bukan yang diatas segala, walopun kita seneng dan bersyukur anak mendapat nilai bagus :)
  6. Kita yang dewasa bisa mengerti  mana jawaban yang text book dan realita. Tapi, sebetulnya anak-anak juga bisa kok diajarkan seperti itu. Terbukti dengan Keke dan Nai. Kuncinya sih di komunikasi. Sesuaikan dengan gaya bahasa dan daya tangkap mereka saat itu.