Jumat, 05 Februari 2016

Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Bunda: "Lho, kok, gak bisa? Yaaa ... gimana, nih?"
Ayah: "Apaan yang gak bisa?"
Bunda: "Order Go-Jek gak bisa karena lebih dari batas maksimum. Padahal cuma lebih nol koma sekian."
Ayah: "Memang ada batas maksimumnya."
Bunda: "Bunda tau. Tapi sebel aja karena lebihnya cuma nol koma satuan. Udahlah Bunda naik bis aja!"

Secepat kilat Chi langsung memutuskan untuk naik bis. Rasanya gak mungkin minta tolong K'Aie buat nganterin. K'Aie dan anak-anak belum pada mandi. Lama lagi kalau nungguin mereka mandi. Itu aja udah mepet waktunya gara-gara kepedean bakal naik Go-Jek. Kalau naik motor, kan, kemungkinan sampenya cepet.

Huff! Untung aja, Sabtu (30 Januari 2016) jalanan masih cukup sepi. Mungkin karena masih pagi. Tepat pukul 10.00 wib *berdasarkan jam di HP*, Chi sudah sampai di Fx lantai F5. Tepatnya di Brawijaya Clinic dimana talkshow Health Parenting diadakan. *Harusnya bisa sampe lebih cepet lagi kalau aja waktu itu Chi gak salah turun dari bis hehehe."

Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Tema di hari itu adalah "Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat" dengan narasumber Dr. Nathanne Septhiandi, Sp.A. Saat ini, Dr. Nathanne praktek di Brawijaya Clinic.
"Kualitas generasi penerus tergantung dari kualitas tumbuh kembang, terutama batita. Karena usia batita adalah periode kritis, dimana otak berkembang di usia 2-3 tahun pertama," ujar Dr. Nathhanne.
Selanjutnya, Dr. Nathanne mengatakan bahwa permasalah tumbuh-kembang seharusnya bisa dideteksi sedini mungkin. Sebaiknya sebelum anak berusia 3 tahun agar intervensinya lebih baik. Semakin terlambat diketahui, maka semakin susah untuk diperbaiki.

Berbeda dengan orang dewasa, setiap anak mempunyai beberapa tahapan. Penting untuk dibagi menjadi beberapa tahap karena  tumbuh kembang anak dan juga permasalahannya berbeda-beda di setiap tahapannya. Tahapan-tahapan tersebut yaitu
  1. Infant (bayi hingga dibawah usia 1 tahun)
  2. Toddler (1-2 tahun)
  3. Pre-school (2-5 tahun)
  4. School ages (older child)
  5. Adolescence (remaja)
Tumbuh-kembang terdiri dari 2 kata, yaitu tumbuh dan kembang. Tumbuh berkaitan dengan ukuran fisik, seperti lingkar kepala, berat badan, dan tinggi badan. Sedangkan kembang (perkembangan) adalah tentang fungsi individu anak seperti melihat, mendengar, bergerak, berjalan, IQ, EQ, kemandirian dan lain sebagainya.
Faktor penentu tumbuh kembang adalah faktor internal misalnya genetik. Selain genetik, proses sejak kehamilan juga bisa mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak apabila sudah dilahirkan. Oleh karenanya sangat penting untuk selalu menjaga kondisi tubuh selama kehamilan. Selain faktor internal juga ada faktor eksternal, yaitu gizi, penyakit, aktivitas fisik, pengaruh pengasuh, kegiatan sekolah, dan teman.

Stimulasi

Stimulasi dilakukan untuk merangsang fungsi motorik, sensorik, emosi sosial, bicara, kognitif, dan lain-lain. Tujuan dari stimulasi adalah merangsang fungsi-fungsi tersebut agar berkembang secara optimal.
Stimulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, yaitu melalui rangsangan
  1. Suara
  2. Musik
  3. Gerakan
  4. Bernyanyi
  5. Corat-coret
  6. Dan lain sebagainya
Waktu terbaik untuk melakukan stimulasi adalah setiap saat. Lakukan stimulasi saat sedang beraktivitas bersama anak, misalnya saat mandi, makan, menonton tv, dan lain sebagainya. Stimulasi sudah bisa dilakukan sejak usia kandungan berusia 6 bulan. Seperti misalnya mendengarkan musik klasik atau stimulasi lainnya.

Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Sejak bayi berusia 6 bulan dalam kandungan, di otaknya sudah ada milyaran sel otak tapi belum saling terhubung. Hubungan antara sel otak disebut sinaps. Sinaps akan terjadi bila janin menerima berbagai rangsangan. Semakin sering dan kuat rangsangan yang didapat oleh janin, maka sinaps yang terbentuk akan semakin banyak. Stimulasi yang bervariasi akan merangsang otak kiri dan kanan agar kecerdasan majemuk menjadi lebih baik.
Kualitas otak tergantung dari kualitas sinaps. Semakin banyak dan kompleks sinapsnya maka semakin meningkat kecerdasan anak. Nutrisi dan stimulasi bisa mempengaruhi sinaps. Bayi yang nutrisi dan stimulasinya baik, maka sinaps akan semakin banyak dan kompleks. Begitu juga sebaliknya.
Secara umum, tumbuh kembang terbagi ke dalam 4 faktor
  1. Motor kasar - berhubungan dengan otot sendi besar, misalnya berjalan, duduk, merangkak, dan lain sebagainya
  2. Motor halus - berhubungan dengan presisi yang lebih bagus, misalnya mengambil benda menggunakan 2 jari, menggengam mainan, dan sebagainya
  3. Kemampuan berbahasa dan mendengar
  4. Sosial emosi dan tingkah laku
Orangtua sebaiknya mengetahui tahapan-tahapan perkembangan anak agar bisa mendeteksi secara dini apabila ada kecurigaan *bisa tanya ke dokter anak*. Misalnya, pada usia berapa anak seharusnya sudah mampu mengucapkan beberapa jumlah kata. Range usia berapa anak mulai bisa berjalan. Tapi ternyata, merangkak tidak termasuk dalam fase tumbuh-kembang, lho. Jadi, kalau ada anak yang tidak merangkan melainkan langsung berdiri kemudian berjalan, orang tua tidak perlu khawatir. *Keke dan Nai, bahkan Chi dan K'Aie juga gak ada yang merangkak ketika bayi :D*

Stimulasi dilakukan secara bertahap. Sesuaikan dengan usia bayi dan anak. Semakin besar usia anak, stimulasi semakin komplek. Jangan pernah bayi gak mengerti hanya karena belum bisa bicara. Bayi mengerti, kok, kalau sedang distimulasi. Bayi sudah bisa mengerti tentang kasih sayang.

Sebenarnya gak masalah anak menonton tv yang penting jangan berlebihan. Batasi waktu menonton tv. Semakin muda usia anak, waktu menonton tv harus semakin sedikit. Perbanyak aktivitas yang membuat anak banyak bergerak. Ketika menonton tv, anak harus didampingi sambil sesekali dijelaskan. Pilih juga tontonan yang layak untuk anak.

Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Pertumbuhan ada 3 hal, yaitu
  1. Berat badan
  2. Tinggi atau panjang badan
  3. Lingkar kepala
Di buku kesehatan, biasanya ada grafik pertumbuhan anak. Orangtua bisa menjadikan grafik itu untuk patokan apakah pertumbuhan anak normal atau tidak. Sebaiknya langsung konsultasi ke dokter bila ada indikasi pertumbuhan anak kurang atau tidak normal.

Memantau pertumbuhan anak tidak hanya melihat berat badan dan tingginya saja. Tapi perhatikan juga pertumbuhan lingkar kepala hingga usia tertentu. Karena besar dan kecil ukuran kepala menjadi tolok ukur besar-kecilnya otak.

Harus mulai waspada apabila tumbuh kembang anak mendapatkan red flags. Artinya, ada tahapan tertentu yang bayi atau anak tidak mampu melakukan padahal sudah saatnya. Segerap berkonsultasi ke dokter untuk dicari tau. Penyebabnya bisa bermacam-macam, termasuk adanya kekerasan terhadap anak atau memang ada penyebab lainnya.

Keterlambatan tumbuh kembang, bisa juga karena kurang stimulasi. Misalnya, orang tua jarang tersenyum kepada anaknya. Sehingga anak pun meniru. Padahal di usia 6 bulan, bayi seharusnya sudah mampu tersenyum apabila merespons orang sekitarnya.
Kunci sukses menstimulasi adalah repetisi atau berulang-ulang. Jangan lelah menstimulasi anak apabila ingin mendapatkan hasil maksimal.

Nutrisi
Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Selain stimulasi, pemberian nutrisi pada anak juga harus diperhatikan. Bahkan stimulasi banyak terjadi saat memberi anak makan. Faktanya 50-60% orangtua menghadapi masalah anak sulit makan. Masalah makan menjadi penting karena bisa menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, rentan infeksi, gangguan kognitif, dan perilaku.

Ada 3 masalah makan yang penting, yaitu

1. Inappropiate feeding practise
Perilaku pemberian makan pada anak yang tidak tepat, misalnya perilaku yang salah saat memberi makan atau pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia.
 Kurang pengetahuan orang tua atau pengasuh tentang tepat waktu, kualitas makanan, higienis makanan, serta tahapan pemberian makan pada anak. Salah satu contoh kasus masalah ini adalah anak berusia 1 tahun masih makan makanan yang diblender. Padahal di usia ini, anak seharusnya sudah bisa makan nasi padat. Kasus lainnya adalah bayi baru lahir sudah diberikan pisang akibat orangtua atau pengasuh tidak paham dengan resikonya.

Komposisi makanan untuk anak di setiap usia berbeda-beda. Di atas 1 tahun komposisinya adalah 70% makanan padat dan 30% susu. Penjadwalan makan pada anak juga penting. Anak sebaiknya makan utama 3x sehari dan snacking 2x sehari. Durasi waktu makan maksimal adalah 30 menit. Agar anak mempunyai sensor rasa lapar dan tidak.

Selain membiasakan makan teratur dengan pemberian jadwal, suasana makan juga harus menyenangkan, anak tidak boleh dipaksa, dan jauhkan dari segala distraksi. Jauhkan gadget, usahakan anak jangan makan sambil bermain, jangan sambil nonton tv, dan lain sebagainya. Usahakan anak fokus dengan proses makannya. Dan juga jangan membiasakan memberi anak hadiah kalau makannya benar.

Biasakan juga memvariasikan makanan untuk anak. Mempunyai banyak rasa. Agar anak semangat makannya dan tidak cepat bosan.

2. Small eaters
Feeding rules anak mungkin sudah benar, tapi anak makanya hanya sedikit sehingga status gizinya kurang. Small eaters biasanya terjadi pada anak yang aktif, perkembangan normal, lebih menyukai mengamati lingkungan daripada makan, dan tidak memiliki permasalahan medis yang mendasar, misalnya bibir sumbing, kelainan pada mengunyah, dan lain sebagainya.
Masalahnya adalah orang tua seringkali cemas kalau anak makannya sedikit. Akhirnya, camilan pun dikasih sebagai pengganti makan utama. Perut anak yang kenyang karena camilan membuatnya tidak ingin makan di waktu berikutnya. Kemudian orangtua pun menjadi kesal karena anak gak jmau makan yang banyak.
Jangan jadikan susu atau camilan menjadi penyelamat hanya karena anak makan dalam jumlah sedikit. Apabila orang tua terus-menerus khawatir akan hal ini, sebaiknya konsultasi dengan ahlinya.
 3. Food Preferense
Anak yang pilih-pilih makanan atau tidak menyukai makanan tertentu bisa dikatakan food preferense.
Food preferense terbagi 3, yaitu
  1. Picky eater  adalah tidak mau menyantap makanan tertentu. Misalnya, anak yang lebih suka nasi dan lebih memilih mie instant. Sebetulnya selama gak bermasalah dalam tumbuh kembang, gak apa-apa. Lagipula nasi dan mie kan kurang lebihsama saja.
  2. Selective eater ini lebih bahaya dari Picky eater. Anak yang selective eater biasanya tidak menyukai satu jenis makanan. Misalnya, semua sayur anak saya  gak suka.
Agar terhindar dari masalah makan adalah
  1. Sajikan makanan dalam porsi kecil
  2. Masak makanan jangan hanya sesuai selera
  3. Jangan langsung menganggap anak tidak suka makanan yang disajikan hanya karena baru sekali diberikan
  4. Dan lain sebagainya
Paparan anak terhadap menu baru bisa terjadi beberapa kali. Coba beri terus kalau anak masih belum suka. Tapi apabila sudah dicoba sebanyak beberapa kali dan masih belum menyelesaikan masalah, maka harus dicari tau penyebabnya. Anak juga ada periode acceptanche. Biarkan mereka merasakan makanan yang baru dicoba.
Tentang Brawijaya Clinic

Brawijaya Clinic - Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat

Brawijaya Clinic adalah bagian dari Brawijaya Women and Children Hospital. Beberapa pelayanan yang diberikan Brawijaya Clinic adalah
  1. Klinik tumbuh kembang anak
  2. Klinik endoktrin anak
  3. Klinik spesialis dermatologi
  4. Klinik spesialis gigi
  5. Klinik spesialis obsetri dan ginekologi
  6. USG 4D
 Brawijaya Clinic sudah ada di beberapa lokasi, yaitu di
  1. Fx lantai 5
  2. Oktroi Plaza Building, Kemang
  3. ANZ square UOB, plaza Thamrin 
  4. Buah batu
Bincang-bincang parenting ini adalah kali pertama diadakan oleh Brawijaya Clinic Fx. Kabarnya, bincang-bincang seperti ini akan diadakan secara rutin. Semoga lain kali Chi bisa ikutan lagi. Banyak dapat info bermanfaat :)
post signature

9 komentar:

  1. Penting banget sejak dini memberikan nutrisi yang baik buat buah hati kita ya Mba.. Agar tumbuh kembangnya sempurna..

    BalasHapus
  2. Wah nama KLINIKnya sudah seperti nama sebuah Kampus

    BalasHapus
  3. Ulasannya cukup lengkap...bagus buat referensi nih mbak

    BalasHapus
  4. lengkap mbak, makasih infonya ya mbak

    BalasHapus
  5. keren! tapi karena belum menikah, maka tulisan ini saya bookmarked dulu :D makasi sharingnya, bun!

    http://petitecovered.blogspot.com/

    BalasHapus
  6. Wah.. jd ni klinik bs atasi anak sulit makan? Termasuk picky eater? Boleh nih dicoba..

    BalasHapus
  7. Nah "Red Flags" apakah sama ya dengan gajal autis? Lengkap Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Red flags berbeda dari gejala autis.

      Terminologies red flags itu begini: Ada sebuah parameter bernama Kurva Denver yang menunjukkan bahwa pada setiap tahapan usia, anak akan menunjukkan kemampuan dalam bidang motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan bidang interpersonal. Jika anak terlambat dalam salah satu bidang ini, ia akan mendapatkan red flags. Artinya, ia mendapatkan peringatan bahwa ia mengalami keterlambatan perkembangan sehingga perlu memperoleh terapi stimulasi tertentu.

      Autis adalah sekumpulan gejala di mana anak hidup dalam dunianya sendiri dan tidak memiliki minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Seorang anak autis bisa saja punya kemampuan motorik yang sama dengan anak non-autis, tetapi kemampuan interpersonalnya tidak sebaik anak normal karena ia memang tidak berinteraksi dengan manusia lain.

      Begitu lho.

      Hapus
  8. ini nih Raissa kalo makan cepet kenyang, sayaynya yg khawatir dia kurang nutrisi paahal walo badannya kecil dia keliatannya sehat2 dan lincah

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge