Senin, 25 Agustus 2014

Kurikulum Yang Mencerdaskan

Sejujurnya, walopun pendidikan di Indonesia (katanya) berganti-ganti kurikulum, tapi cuma ada satupun nama kurikulum yang Chi hapal namanya, yaitu Kurikulum 2013 yang baru berlangsung dari tahun kemaren hehe. Walopun, katanya pendidikan di Indonesia itu begini-begitu (banyak cerita negatifnya), Chi sendiri cenderung santai menghadapinya.

Santai bukan berarti gak peduli, lho. Tapi, Chi memilih untuk menghadapi dengan tenang. Chi yakin, apapun bentuk kurikulum kita, akan ada celah atau sesuatu yang bisa kita lakukan supaya anak gak merasa terbebani. Di bawah ini beberapa hal yang Chi lakukan.

Belum mau memasukkan anak di kursus akademis atau bimbingan belajar

Kalau untuk alasan ini, Chi banyak memperhatikan para sepupu yang sekarang di SD hingga SMA. Malah ada sepupu Chi yang sekarang udah kerja sampe SMA gak ikut bimbel sama sekali. Alasannya, kapan punya waktu istirahat dan bermain kalau terus-terusan belajar? Kenyataannya, nilainya bagus-bagus aja.

Sepupu Chi semuanya masuk sekolah negeri. Tidak ada satupun yang ikut bimbingan belajar sepulang sekolah. Pulang sekolah ya pulang. Apalagi yang masih di SD, jam sekolahnya singkat. Paling 2-3 jam ajah.

Di rumah pun mereka belajar, tapi secukupnya aja. Ketika ujian akhir, belajarnya ditingkatkan lagi. Tapi, kelihatannya gak sampe level stress. Masih kelihatan santai. Alhamdulillah, nilai-nilainya pada bagus.

Hal ini, menimbulkan tanda tanya besar buat Chi. Kok, gak seperti yang selama ini Chi baca beritanya di socmed ataupun di berbagai media mainstream. Para sepupu Chi kelihatan santai aja, padahal mereka gak ikut les apapun. Jam sekolahnya juga gak panjang. Apa rahasianya?

Chi rasa yag namanya kecerdasan gak turun begitu aja dari langit. Pernah datang ke acara parenting, katanya kecerdasaan memang ada faktor genetik tapi gak serta merta kecerdasan itu timbul. Justru pengaruh terbesar adalah dari stimulasi. Nah, kayaknya bagian stimulasi ini yang harus dikasih garis merah. Chi harus berpikir bagaimana menstimulasi kecerdasan.

Chi juga berpikir, kalau para sepupu yang sekolah di negeri aja bisa bagus-bagus nilainya harusnya Keke dan Nai bisa lebih bagus. Alasannya, durasi belajar mereka lebih panjang karena sekolah di swasta. Ditambah lagi dengan belajar di rumah. Dan, gak perlu ada tambahan les ini-itu. Logika sederhananya begitu :)

Tapi, Chi juga gak cari sekolah yang durasinya terlalu panjang. Sehabis dzuhur kalau bisa sudah pulang. Pokoknya jangan sampai Ashar. Biar mereka masih punya waktu untuk bermain. Lagian (sekali lagi) kalau para sepupu Chi yang durasi jam sekolahnya pendek aja bisa bagus-bagus nilainya, Keke dan Nai boleh lah cari sekolah yang lebih lama durasinya tapi juga jangan kelamaan.

Belajar itu menyenangkan!

Seperti yang Chi tulis di atas tentang bagaimana menstimulasi kecerdasan. Menurut Chi, salah satu faktor utama untuk menstimulasi kecerdasan anak adalah dengan membuat suasana belajar itu menyenangkan. Chi sering menulis kegiatan belajar Keke dan Nai di blog ini dan diberi label Metode Belajar. Silakan diklik tulisan Metode Belajar (yang berwarna merah) kalau memang mau baca-baca :)

Karakteristik belajar anak juga berbeda-beda. Chi gak akan menjelaskan di sini tentang berbagai karakteristik belajar anak karena cari di Google udah banyak yang menuliskan tentang ini. Mengenali karakteristik belajar anak itu bisa sangat membantu, lho. Bikin anak lebih cepat mengerti dan belajar juga jadi menyenangkan.

Chi merasakan sendiri, punya 2 anak dengan karakteristik belajar yang berbeda. Harus selalu muter otak hihihi. Keke auditori, Nai visual. Untuk materi yang sama, belum tentu Chi bisa mengajarkan dengan cara yang sama walopun mengajarinya di usia yang sama. Contohnya, ketika mengajarkan nama-nama malaikat saat mereka kelas 1 SD. Kalau ke Keke caranya dengan membacakan materi tersebut beberapa kali. Kalau Nai, harus ditambah dengan melihat video Dodo dan Syamil yang tentang nama-nama malaikat.

Jadi, udah kebayang kan gimana beratnya tugas guru kalau dituntut harus bisa mencerdaskan semua muridnya padahal masing-masing murid mempunyai karakteristik gaya belajar yang berbeda-beda. Makanya, Chi gak mau terlalu mengandalkan guru. Dan, kalau ada seorang murid yang nilai akademisnya dirasa kurang mungkin bukan karena gak bisa. Tapi, gak pas gaya belajarnya. Coba dicari dulu karakteristik gaya belajar yang pas, deh. Kalau udah ketemu, tinggal 'diracik' materi pelajarannya sesuai dengan karakteristik gaya belajar anak. :)

Belajar itu harus menyenangkan. Bagaimana dengan bermain sambil belajar? Justru harus. Apalagi mengajar ke anak-anak. Dimana dunia anak adalah dunia bermain. Jangan dihilangkan dunianya. Tapi, gak masalah kalau dunia belajar dibikin seperti dunia bermain.

Mungkin aja ada yang berpikir kalau Chi bisa seperti itu karena tidak bekerja kantoran. Kalau kata Chi gak begitu juga. Teman seangkatan Keke di sekolah ada anak laki-laki yang cerdas akademis, kegiatan ekskulnya juga berprestasi.

Persepsi di masyarakat, umumnya banyak yang bilang kalau anak laki-laki itu lebih gak telaten dibanding anak perempuan. Setau Chi, teman Keke ini kedua orang tuanya bekerja kantoran. Trus, kok, bisa anaknya tetap berprestasi?

Chi pernah tanya ke Keke apa rahasia temannya supaya tetap berprestasi? Keke jawabnya, "Gak tau." Dia kayaknya males ngepoin temennya hehehe.

Sebetulnya, Chi gak cuma sekedar pengen tau aja. Chi pikir, bisa dijadiin cerminan bahkan semangat juga, khususnya untuk Keke. Chi beberapa kali bilang, kalau temannya itu bisa berprestasi padahal kedua orang tua bekerja, maka Keke pun harusnya bisa lebih berprestasi atau paling gak bersaing, lah. Sebetulnya kalimat Chi itu untuk memotivasi Keke.

Nah, kalau kita termasuk orang tua yang bekerja kantoran, coba aja tengok disekitar. Chi rasa banyak, kok, orang tua yang sibuk bekerja tapi anak-anaknya tetap berprestasi. Coba aja belajar bagaimana tipsnya.

Di setiap zaman selalu ada yang berprestasi

Biar kata banyak yang bilang kurikulum kita banyak kekurangan, tapi selalu ada aja yang berprestasi di setiap zamannya. Dan, sampai detik ini selalu menolak anggapan kalau Keke dan Nai termasuk anak-anak korban eksperimen pemerintah yang tidak becus mengatur pendidikan.Chi lebih memilih berkaca dari yang berprestasi. Mengaca dari yang berprestasi itu bisa menimbulkan semangat ketimbang hanya melihat yang gagal terus.

Yang berprestasi juga dari kalangan beragam. Ada yang dari kalangan orang kaya hingga miskin. Ada yang ibunya di rumah, tapi ada juga yang pekerja kantoran. Dan, banyak keragaman lainnya. Nah, kalau mereka bisa, kenapa Keke dan Nai enggak? Harus dicari tau caranya. Siapa tau ada yang bisa menginspirasi

Yup! Buat Chi apapun kurikulumnya dihadapi dengan santai aja tapi serius. Berhenti ngedumel dan mengeluh. Chi juga males berteori atau bahkan membanding-bandingkan dengan negara lain. Males berteori, karena kalau Chi yang jadi pemegang kebijakan juga belom tentu mampu. Males membanding-bandingkan juga karena Chi belom pernah merasakan langsung seperti apa pendidikan di luar negeri. Cuma denger atau baca katanya begini-begitu. Lagian, kami juga tinggal di sini. Suka atau enggak harus dihadapi hehe

Kalau memang kurikulumya dirasa terlalu berat, maka udah jadi kewajiban Chi dan K'Aie untuk meringankan. Pokoknya gimana caranya supaya Keke dan Nai bisa tetep belajar dengan cara yang nyaman dan menyenangkan, syukur-syukur kalau berprestasi. Prosesnya gak instan. Bahkan sampe sekarang, kami masih terus memutar otak bagaimana mengajarkan anak. Karena setiap saat kan selalu dapat materi baru. Semangat aja terus. Dan, anggap aja kalau semua kurikulum itu mencerdaskan :)

Seringkali Chi mendengar atau membaca komentar kalau anak-anak sekarang itu pinter-pinter urusan gadget. Cepet banget update dna ngertinya. Tapi, sering juga Chi membaca/mendengar keluhan orang tua ketika membahas tentang pelajaran. Kasihan anak-anak, alasannya. Nah, sebetulnya anak-anak itu cerdas, kan? Masalahnya, kenapa juga kita sebagai orang tua gak membuat kalau pelajaran itu menyenangkan seperti bermain gadget? Apalagi zaman sekarang banyak banget aplikasi yang menunjang anak untuk belajar. Gunakan itu secara maksimal.

Gak ada tips yang bisa ditiru persis

Kita bisa berkaca dan terinspirasi dari mereka yang berhasil. Tapi, rasanya gak bisa juga 100% persis meniru tipsnya. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tancapkan rasa positif di hati kalau anak kita itu bisa, walopun mungkin prosesnya gak instant. Kalau memang tetap merasa kurikulum di sekolah terlalu berat, maka tugas kita untuk meringankan. Meringankan bukan berarti membuatkan segala tugas mereka. Itu sama aja nyuapin dan gak bagus buat masa depannya. Meringankan yang Chi maksud itu yang seperti Chi jabarin diatas.

Apapun bentuk pendidikan yang kita pilih untuk anak-anak (sekolah formal ataupun homescholling), Chi yakin yang berhasil adalah orang yang berusaha sungguh-sungguh. Chi gak katakan kalau Chi udah berhasil, ya. Jalan masih panjang banget. Keke dan Nai aja masih kecil-kecil. Yang penting terus berusaha yang terbaik buat kami semua :)

post signature

2 komentar:

  1. Menyimak.... ternyata kurikulum ini sekarang menjadi perbincangan hangat ya!

    BalasHapus
  2. setuju mbak, tak ada metode yg bisa persis kita tiru. meskipun satu kurikulum yg sama, pd prakteknya ttp ada penyesuaian dgn msg2 kondisi di sekolah. Dan yg bersungguh-sungguhlah yg berpeluang utk sukses

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge