Banyak orang tua merasa tenang saat melihat logo SU (Semua Umur) di poster film. Padahal, label dari Lembaga Sensor Film (LSF) bersifat umum, sementara nilai keluarga dan ambang batas sensitivitas setiap anak berbeda-beda. Jangan sampai niat hati ingin bonding lewat nonton film di bioskop, malah berakhir dengan anak yang ketakutan atau meniru perilaku yang belum saatnya dilihat. Itulah mengapa kita butuh persiapan sebelum mengajak anak menonton film agar pengalaman tersebut tetap edukatif.
Mengapa Kenyamanan Bersama Lebih Penting daripada Ego Orang Tua Saat Menonton Bioskop?
Membayar harga tiket yang sama bukan berarti kita memiliki hak untuk merampas ketenangan orang lain. Seringkali, dengan dalih 'namanya juga anak-anak', orangtua terjebak dalam ego untuk tetap bertahan di dalam bioskop meski anak sudah mulai rewel dan mengganggu penonton lain Beberapa orangtua lupa bahwa bioskop adalah ruang berbagi, sebuah simulasi sosial di mana empati sebagai orang tua sedang diuji. Mengajak anak menonton film bukan sekadar soal hiburan, melainkan momen krusial untuk mengajarkan mereka bahwa kenyamanan orang lain di sekitar sama berharganya dengan kesenangan pribadi kita sendiri.
Suasana bioskop malam itu cukup ramai. Ada lumayan banyak anak kecil. Chi tebak semuanya akan menonton Na Wila. Karena sisa film lainnya di bioskop adalah film horror.
Sambil menunggu pintu studio dibuka, beberapa anak terdengar menyanyi lagu "Sikilku Iso Muni" yang merupakan OST Na Willa. Ada yang sambil joget-joget kecil. Chi membayangkan, suasana bioskop mungkin akan sedikit ramai. Apalagi ketika adegan Na Willa dan Dul menyanyikan soundtrack ini. Mungkin beberapa akan akan semangat ikut bernyanyi. Bagi Chi gak masalah. Malah kayaknya seru kalau mereka ikut bernyanyi. Berarti menikmati filmnya.
Sudah setengah durasi film berjalan, Chi mulai merasakan ada hentakan-hentakan kecil di punggung. Meskipun gak nengok ke belakang, Chi yang yang menendang-nendang kursi adalah anak-anak. Awalnya, Chi biairin karena gak merasa terganggu. Etapi, lama-lama tendangannya makin keras dan main naik ke atas.
Dari yang cuma nendang, mulai nyentuh kepala. Ada tangan mungil yang mulai ngeplak kepala Chi. Awalnya pelan, lama-lama kencang bikin Chi jadi terganggu karena kepala jadi kayak terantuk-antuk. Coba memberi kode dengan mengibas-ngibaskan kepala dan menengok ke belakang, tapi gak berhasil. Sampai akhir film, kepala tetap dikeplak.
Kenapa gak ditegur?
Males! Gak semua orangtua bakal berbesar hati ketika anaknya ditegur oleh orang lain. Malah bisa jadi lebih nyolot, padahal jelas anaknya mengganggu kenyamanan. Saat itu, Chi juga lagi masa pemulihan setelah sakit lebih dari sebulan. Gak ada energi buat ngeladenin keributan.
Lagian, ornag tua harusnya peka dengan perasan anak. Itu anaknya bosan. Beberapa kali terdengar rengekan kecil minta keluar, tapi gak digubris orangtuanya. Itulah yang bikin Chi makin kesal karena orang tuanya cuek. Biasanya yang begitu kalau anaknya ditegur, mereka gak terima dan dengan alasan 'namanya juga anak-anak'.
Chi gak kesal dengan anak tersebut karena gak salah. Kekesalan Chi ke orangtuanya. Lebih mementingkan ego pribadi dan daripada kenyamanan bersama. Harusnya orang tua berusaha mencegah anaknya mengganggu penonton lain.
Tahun lalu, Chi menulis artikel tentang beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang tua sebelum dan sesudah mengajak anak menonton film. Waktu itu, kan, ramai pro kontra tentang beberapa adegan di film Jumbo. Nah, di film Na Willa ini bukan tentang pro kontranya, tapi pengalaman dikeplak-keplak ma anak kecil.
Memahami Definisi "Ruang Publik" bagi Anak
Bioskop bisa menjadi salah satu tempat belajar bagi anak untuk memahami batasan. Orang tua harus mengajarkan konsep menghargai orang lain saat sedang menonton. Jangan pernah membiarkan anak berteriak atau menendang kursi. Tentunya, edukasi ini dimulai dari kesadaran orang tuanya sendiri. Gimana anak bisa belajar kalau orangtuanya juga tidak memberikan contoh atau malah membiarkan perilaku anaknya seperti itu?Tiket yang Anda Beli Tidak Termasuk "Izin Mengganggu"
Setiap penonton datang dengan ekspektasi yang sama yaitu ingin menikmati visual dan audio tanpa gangguan. Kalau sekadar ikut bernyanyi, menurut Chi itu bukan gangguan, ya. Apalagi film drama musikal keluarga. Artinya penonton, khususnya anak, menikmati filmnya. Tapi, kalau udah teriak-teriak, menangis jejeritan, nendang-nendang kursi di depannya, ngeplak kepala penonton lain, buang sampah sembarangan, dan lainnya tentu sudah termasuk mengganggu. Ego orang tua yang tetap bertahan di dalam studio saat anak berperilaku seperti itu bisa merusak mood orang lain. Padahal kita semua beli tiket dengan harga sama, gak ada tuh "izin mengganggu" termasuk dalam pembelian.Dampak Psikologis pada Anak
Gimana rasanya tidak didengar? Tentu snagat gak nyaman. Jangan deh berpikiran mereka hanya anak kecil. Biar masih anak-anak juga harus didengar suaranya. Memaksa anak tetap di dalam bioskop saat mereka tidak nyaman demi memuaskan keinginan orang tua menonton adalah bentuk egoisme. Anak yang rewel biasanya memberikan sinyal bahwa mereka bosan, takut, atau lelah. Mendengarkan kebutuhan mereka adalah bagian dari parenting yang bijak.Etika "Keluar Studio" sebagai Bentuk Berempati Kepada Penonton Lain
Tidak ada salahnya keluar studio saat anak mulai tidak terkendali. Kalau ajak anak menonton bioskop memang harus siap dengan risiko seperti itu. Jangan berpikir "sayang nih udah keluar uang beli tiket". Kalau udah dirasa terlalu mengganggu, keluarlah sejenak bersama anak. Itu menunjukkan sebagai orangtua memiliki empati tinggi terhadap lingkungan sekitar. Setelah itu, bisa tanya ke anak mau lanjut menonton atau enggak. Bila anak menolak dan gak bisa dibujuk, sebaiknya dituriuti daripada jadinya mengganggu orang lain.Lebih dari Sekadar Membeli Popcorn, Lakukan 5 Langkah Persiapan Orang Tua Berikut Sebelum Mengajak Anak Menonton Bioskop
Mengajak anak menonton di bioskop terkadang gak sesederhana sekadar beli tiket dan seember popcorn caramel, lalu duduk manis hingga film selesai. Tanpa persiapan matang, niat hati ingin menikmati waktu berkualitas (quality time) justru bisa berubah menjadi drama di dalam studio.
Penting bagi orangtua untuk memahami bahwa pengalaman menonton film bagi anak itu akan merasakan suara dentuman yang menggelegar hingga visual raksasa yang bisa terasa mengintimidasi, apalagi kalau baru pertama kali. Agar momen keluarga ini tidak berakhir "zonk", melakukan riset mandiri jauh lebih krusial daripada sekadar memilih kursi ternyaman. Berikut adalah panduan langkah agar agenda nonton bareng keluarga tetap aman, edukatif, dan bebas stres.
Jadilah "Filter" Pertama dengan Menonton Trailernya!
Langkah pertama dan paling sederhana yang harus dilakukan orang tua adalah menonton trailer. Seperti yang Chi katakan di awal tulisan ini, rating SU itu hanyalah bersifat umum. Dalam 2-3 menit durasi trailer, orang tua bisa memperhatikan visual, intensitas suara, dan gaya bahasa film tersebut. Kira-kira aman gak untuk anak? Ingat! Tolok ukur aman atau tidak bisa berbeda-beda karena setiap anak punya ambang sensivitas masing-masing.Cek Review dari Sudut Pandang Parenting
Ingat gak waktu Jumbo tayang sempat ramai pro kontra tentang kehadiran hantu Merry? Dalam film Na Willa juga ada adegan di mana Na Willa dikata-katai "Cina As*" oleh teman-teman baru di sekolahnya. Apakah kemudian film-film tersebut menjadi layak ditonton oleh anak, setiap orangtua boleh berpendapat beda-beda. Pastinya, sebelum memutuskan ada baiknya menyimak banyak ulasan di berbagai artikel blog atau platform medsos. Rating SU bisa saja mengandung unsur "komedi kasar" atau konflik yang terlalu kompleks untuk dipahami anak usia dini. Ulasan dari sesama orang tua akan memberi tahu orang tua dengan detail yang tidak ada di sinopsis resmi. Setelah menyimak dan mempertimbangkan, barulah membuat keputusan.Berikan "Pemanasan" Cerita Sebelum ke Bioskop
Anak-anak biasanya lebih tenang jika mereka tahu apa yang akan dihadapi. Ceritakan sedikit tentang jalan cerita filmnya, siapa tokoh utamanya, dan apa masalah yang mereka hadapi. Kasih lihat juga trailernya. Untuk anak yang baru pertama kali diajak menonton, orang tua bisa juga sekalian menggambarkan seperti apa suasana di bioskop dan tata tertib yang harus dipatuhi.Pertimbangkan Jam Tayang, Durasi, hingga Pakaian yang "Ramah Mood"
Menonton di jam tidur anak berpotensi menjadi drama. Anak kalau udah mengantuk dan gak bisa langsung tidur biasanya cenderung jadi rewel. Di dalam bioskop memang dingin, tetapi suara yang berisik bisa jadi akan membuat anak susah tidur padahal udah mengantuk. Pastikan juga perut anak sudah terisi sebelum film dimulai. Mengingat durasi film bisa lebih dari 1,5 jam, pastikan anak juga mengenakan pakaian yang nyaman.Sekadar info. durasi film Na Willa itu 2 jam, lho. Animasi Jumbo gak selama itu, tapi rasanya udah panjang untuk film anak menurut Chi. Bukan berarti filmnya gak rekomen buat anak, ya. Bagus banget filmnya. Tapi, sebelum ajak anak menonton, pertimbangkan dulu apakah anak udah betah menonton dengan durasi panjang di bioskop. Kalau ternyata gak betah, pikirkan juga langkah antisipasinya. Membuat anak tetap "ramah mood" itu harus dipertimbang bila berada di ruang publik, ya.
Jangan Ragu Keluar Studio Bila Sudah Tidak Nyaman
Tidak hanya tentang menghargai kenyamanan orang lain. Kenyamanan mental anak juga harusnya menjadi prioritas utama, bukan harga tiket. Jika di tengah film anak menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, ketakutan, atau mulai rewel karena bosan, jangan ragu untuk keluar dari studio. Menghargai batasan anak saat itu jauh lebih penting daripada memaksakan durasi film sampai habis.Kapan Anak Siap Diajak Menonton Bioskop Pertama Kali?
Berdasarkan pengalaman kami, gak ada aturan baku di usia berapa anak siap menonton bioskop pertama kali. Tapi, pastinya bukan di usia bayi. Selain belum mengerti jalan cerita, suara bioskop tentunya gak baik untuk pendengaran bayi.
Pertama kali Keke dan Nai menonton bioskop itu di usia 5 dan 3 tahun. Selain melakukan 5 tips mengajak anak menonton bioskop, kami juga memastikan mereka sudah betah duduk manis menonton kartun di rumah dalam waktu lama. Film pertama yang kami tonton adalah Cloudy with A Chance of Meatball.
Meskipun persiapan dirasa sudah matang, ternyata tetap gak menjamin berhasil 100%. Setengah durasi akhir, Nai mulai terlihat bosan. Beberapa kali bertanya, "masih lama?" dan sedikit berjalan-jalan di depan kami.
Kami memang tidak keluar sampai film selesai. Pertimbangan kami karena Nai bertanya dengan berbisik. Kami duduk di paling belakang dan Nai masih pendek. Dia juga tidak mengganggu penonton lain. Kami pun melihat, kebosenannya masih batas yang bisa ditolerir dan dia masih menurut. Sesekali masih terlihat menikmati filmnya.
Lain cerita, dulu sepupu Chi ketika masih kecil takut banget sama gelap. Waktu itu, kami ramai-ramai ingin menonton Harry Potter. Tante Chi ingin ikut meskipun tau anaknya takut gelap. Katanya coba aja dulu, kali aja kalau rame-rame jadi berani.
Saat masuk bioskop masih ceria. Tapi, begitu lampu dimatikan, mulai ketakutan dan menangis. Coba dibujuk tapi gak berhasil. Akhirnya tante dan sepupu memilih keluar daripada mengganggu kenyamanan penonton lain.
Nah, ini lho yang Chi maksud. Kalau dirasa udah mengganggu kenyamanan orang lain, orang tua harus 'ikhlas' mengajak anaknya keluar studio. Berapa lama keluarnya ya tergantung sikon. Ada anak yang setelah dikasih tau dan dibujuk, akhirnya mau diajak lagi masuk ke dalam. Tapi, kalau anak tetap gak mau, sebaiknya diturutin.
Menonton film di bioskop seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus mempererat ikatan antara orang tua dan anak. Dengan melakukan persiapan matang, teman-teman gak hanya sekadar membeli tiket hiburan, tetapi juga sedang menjaga ruang aman bagi imajinasi anak. Ingat! Label SU hanyalah panduan dasar; kurator terbaik bagi anak tetaplah ada di orang tuanya.
Pernahkah gak teman-teman punya pengalaman tak terduga saat mengajak anak menonton film berlabel Semua Umur? Atau punya tips andalan lain agar anak tetap tenang di dalam studio? Yuk, ceritain di kolom komentar!




0 Comments
Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)
Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^