Na Willa dan Nostalgia Masa Kecil: Film Parenting dalam Balutan Musik

Review Na Willa. film drama musikal keluarga yang sarat pesan parenting dan nostalgia

Pernahkah teman-teman menonton sebuah film yang rasanya seperti diingatkan oleh kenangan masa kecil sendiri? Itulah yang Chi rasakan saat menyaksikan Na Willa, sebuah film drama musikal yang tidak hanya memanjakan mata dan telinga. Film ini juga mengajak bernostalgia dengan masa kecil sekaligus menyentuh peran saat ini sebagai orang tua. Ada rasa senang, sedih, campur-aduk pokoknya! Melalui artikel ini, Chi ingin membagikan review film Na Willa, menceritakan sisi nostalgia, hingga pesan parenting yang ditangkap.

Awalnya Chi gak antusias menonton Na Willa. Beda banget ma Jumbo, baru keluar posternya aja udah langsung niat harus nonton! Lebaran hari ke-3, kami udah menonton filmnya.

Mungkin karena kesehatan lagi rada ngedrop dari sejak seminggu sebelum Ramadan sampe lewat Idulfitri. Saat Ramadan, per sekali keluar rumah sebentar untuk belanja di Supermarket dan beli takjil. Gak nyaman banget. Pengennya buru-buru pulang. Padahal biasanya seneng jalan-jalan apalagi belanja hehehe. Tapi, lebih dari sebulan kemarin itu memilih bener-bener di rumah.

Alhamdulillah badan dan mood semakin membaik. Jadi tertarik melihat konten film Na Willa yang membanjiri algoritma. Apalagi kalau udah denger OST "Sikilku Iso Muni". Gemesin banget!


Nostalgia Masa Kecil dalam Alunan Musik Na Willa


"Emang ada, ya, yang bisa diceritain tentang masa kecil kita?" tanya Farida. Seperti diceritakan kembali oleh Reda Gaudiamo saat bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya.

Singkat cerita, film Na Willa diangkat dari novel seri pertama berjudul sama yang merupakan kisah masa kecil (sekitar tahun 60-an) penulisnya yaitu Reda Gaudiamo dan 3 sahabatnya yaitu Farida, Dul, dan Bud. Mereka tinggal di gang Krembangan, Surabaya.

Sepintas memang terkesan biasa aja. Tapi, tidak hanya 4 karakter anak yang gemesin, visual filmnya yang warna-warni sangat memanjakan mata. Pernah baca komen salah seorang netizen yang katanya gang Krembangan dulu gak warna-warni gitu rumahnya. Ya tapi ini kan kita bicara film. Meskipun berdasarkan kisah nyata, sudut pandangnya dari anak-anak dalam hal ini Na Willa. Anak-anak yang masih polos, cerita, dan bahagia.


Deretan Angklung di Sekolah dan Rumah Dekat Rel Kereta yang Membangkitkan Memori

"Bangku dan mejanya persis zaman kita sekolah, Bun".

Chi dan K'Aie berbeda sekolah, standar kelasnya sepertinya mirip.
Bangku dan meja siswa di kelas pada era 80-an itu khas ya. Bentuknya panjang dan terbuat dari kayu jati. Dibikin panjang karena satu meja dan bangku untuk 2 siswa. Mejanya tidak datar, tapi agak miring dan di dalamnya bisa buat menyimpan alat tulis atau buku. Chi suka lho meja dan bangku sekolah yang begitu. Kuat dan modelnya bagus. Zaman sekarang masih ada gak yang kayak gitu bangku dan meja sekolahnya?

Bedanya, di film itu settingan kelas Na Willa ketika TK di sekolah yang pertama. Sedangkan, Chi dan K'Aie kelas seperti itu ketika SD. Suasana TK Chi mirip kayak kelas di sekolah Na Willa yang kedua. Warna-warni, banyak mainan, dan menyenangkan.


Melihat ada angklung di sekolah pertama Na Willa, ingatan Chi langsung terlempar ke masa duduk di bangku sekolah dasar. Belum lagi penggambaran rumah dekat rel kereta. Etapi, kalau Chi, sekolahnya yang persis di berhadapan dengan rel kereta. Ya, meskipun gak pernah tinggal di Surabaya, tetapi beberapa elemen di film ini seolah menjadi mesin waktu. Diingatkan kembali pada masa kecil. Membangkitkan nostalgia akan momen-momen sederhana yang mungkin terkadang dilupakan.

Gak ada guru seperti bu Tini di SD Chi. Semuanya baik. Cuma 1 yang galak banget yaitu alm pak Obi, guru angklung. Alm terlihat sangat serius hanya saat mengajar, apalagi kalau denger ada salah bunyi. Telinganya sangat tajam, Langsung marah banget. Melempar angklung juga pernah. Meskipun begitu, angklung justru jadi salah satu mata pelajaran favorit para siswa. Mungkin karena alm aslinya baik banget dan murah senyum ketika tidak sedang mengajar. Gak nyebelin kayak bu Tini di film Na Willa hehehe. Keseriusannya mengajar juga seringkali berbuah manis. Sekolah Chi sering juara 1 lomba angklung. Pak Obi sering jadi dirijen di acara 17 Agustus di Istana Negara pada era Presiden Soeharto. Bangga banget rasanya meskipun kami hanya melihat di layar kaca.

Setelah besar baru kepikiran kenapa angklung jadi mata pelajaran wajib padahal sekolah di Jakarta. Tapi, hanya ada di sekolah dasar. Bahkan ada lomba angklung antar sekolah yang rutin diadakan dan berjenjang, lho. Sampe sekarang gak tau jawabannya hehehe. Rasa penasaran itu kembali bangkit ketika melihat angklung di kelas Na Willa. Kan, itu sekolahnya di Surabaya. Jangan-jangan belajar angklung memang jadi mata pelajaran wajib di era 80an untuk anak SD? Entahlah. Etapi, K'Aie ternyata gak ada pelajaran angklung, ding, di sekolahnya hehehe.

Rumah Na Willa dekat rel kereta. Mak selalu melarang Na Willa bermain dekat rel karena berbahaya. Ada adegan di mana Na Willa kabur dari sekolah. Berlari pulang karena marah dengan bu Tini. Mengingatkan Chi ketika pulang ke rumah sendirian karena bibi kelamaan jemput.

Kalau Chi, bukan rumah tapi sekolahnya yang depan rel. Setiap hari dijemput oleh Bibi. Tapi, pernah kelamaan dijemput, nekat pulang sendiri. Alhasil dimarahin abis-abisan seperti Mak marahin Na Willa. Sebetulnya mamah khawatir karena berarti Chi menyebrang rel sendiri. Apalagi itu nyebrangnya bukan di tempat penyebrangan. Gak ada rambu-rambu dan penjaga kereta. Dulu, sih, sebel karena dimarahin. Tapi, setelah menjadi ibu, semakin paham kenapa mamah sampe marah banget.


Mak Na Willa dan Mesin Jahitnya

Mak Na Willa hobi menjahit. Meskipun tidak diceritakan apakah semua baju Na Willa buatan Mak atau beli di toko. Tapi, bajunya lucu-lucu. Gemesin.

Mamah juga pintar menjahit. Baju-baju Chi selalu mamah yang jahit. Mamah lihat model baju di majalah, lalu buat pola dan jahit sendiri. Dulu, sempat sebel (meskipun gak berani diungkapkan hahaha!) karena dijahitin. Kan, pengen gitu beli baju di toko!

Sejago-jagonya mamah menjahit, akhirnya kalah sama zaman. Mamah gak pernah bisa menjahit pakai mesin yang modern. Padahal udah punya, akhirnya gak pernah dipakai. Bisanya pakai mesin jahit Singer jadul yang manual. Sampai sekarang masih ada di rumah. Masih kokoh, tapi ada sedikit spare part yang rusak dan udah susah dicari. Makanya udah gak pernah menjahit pakaian lagi.

Mamah tuh sebetulnya kepengen anaknya bisa menjahit. Tapi, dulu Chi suka malas-malasan kalau diajarin jahit. Sekarang agak menyesal juga gak bisa ngikutin skill yang mamah punya.


"Sikilku Iso Muni" - OST dengan lirik Sederhana yang terasa Magis

Dari mulai Jumbo hingga Na Willa ini OSTnya terasa 'magis'. Lagu yang langsung disukai sejak pertama kali mendengar. Belum ada bosan mendengarnya dan terkadang ikut menyanyikan. Liriknya Chi anggap sederhana tentu bukan bermaksud meremehkan. Tapi, maksudnya mudah dipahami, termasuk oleh anak-anak.

Apa akan menjadi ciri khas dari karya Visinema Studios dengan membuat film musikal? Kalau iya, Chi pengen deh lebih dibanyakin lagi lagunya. Kayak film Petualangan Sherina, Annie, atau Sound of Music. Ya, meskipun tetap ada 1 lagu jagoannya dari setiap film, tapi lagu lainnya juga enak didengar.

Ngomongin tentang musik. juga ada nostalgianya zaman SD. Sekolah Chi di Menteng, tepatnya di Pegangsaan. Terkadang terdengar suara piano. Rumornya, Chrisye lagi main piano. Buat Chi kecil, kayak yang bodo amat siapa pun yang main. Tau Chrisye aja enggak wkwkwk! Lagi-lagi, setelah gede baru tau kalau lokasi sekolah juga dekat dengan rumah "Gang Pegangsaan" yang kabarnya juga jadi tempat berkumpul para seniman termasuk Chrisye dan Guruh Soekarno Putera. Hal yang paling dipedulikan saat itu  hanyalah menikmati masa sekolah dengan jajanan kaki lima yang banyak wkwkwk!


Pelajaran Parenting dari Film Na Willa yang Relevan Saat Ini


Meskipun Na Willa berlatar waktu masa lalu, era 60-an, bukan berarti pesan yang disampaikan menjadi usang. Justru, Chi merasa film ini adalah cermin besar bagi kita, para orang tua di era digital. Di tengah gempuran gadget dan ekspektasi pola asuh yang serba sempurna, film drama musikal ini mengajak kita kembali tentang pentingnya membangun koneksi dengan anak melalui kehadiran yang utuh. Banyak pelajaran parenting dari film Na Willa yang bisa diterapkan untuk menghadapi tantangan mendidik anak saat ini.


Pentingnya Mendengarkan Suara Anak

Kehadiran utuh yang Chi maksud bukan berarti harus selalu ada setiap hari menemani anak. Pak (ayah Na Willa) bekerja di pelayaran. Kalau sudah bepergian bisa sangat lama. Bahkan pernah kejadian, Na Willa sampai tidak mengenali ketika Pak pulang. Lupa sama wajahnya, saking Pak lama perginya.

Pak selalu rutin mengirim surat untuk Mak dan Na Willa. Tau lah ya berapa lama surat sampai ke penerima. Tidak seperti zaman sekarang, kita mengirim pesan di e-mail hingga WA bisa sampai dalam hitungan detik. Tapi, intinya, Pak dan Mak selalu berkomunikasi.

Para suami zaman dulu katanya mayoritas patriarki dan kurang berkomunikasi dengan anak. Urusan anak adalah urusan ibu. Tapi, itu tidak terjadi dengan Na Willa Bisa dikatakan, Na Willa mendapaktan privilledge kasih sayang dari orang tuanya. Pendapat Na Willa selalu didengarkan.

Ketika saat ini terjadi perdebatan "Gentle vs VOC Parenting". Mak mengkombinasikan keduanya. Oiya, catatan dulu, nih. Chi sebetulnya kurang setuju dengan istlah VOC Parenting. Bahkan Gentle parenting pun terjadi salah kaprah. Kapan-kapan lah ditulis. Tapi, Chi juga sama kayak Mak, mengkonbinasikan keduanya. Tidak saklek dengan satu metode parenting.

Ada beberapa adegan di mana Mak sangat marah ke Na Willa. Tapi, di saat marah pun, Mak selalu menanyakan dan mendengarkan pendapat putrinya. Pak juga mengingatkan Mak pentingnya mendengarkan suara anak di dalam suratnya.

Mengingatkannya tidak dengan berteori. Mak bercerita di surat kalau Na Willa sepertinya kesepian karena semua sahabatnya sudah bersekolah. Mak lalu membelikan anak ayam yang diberi nama "Ayam Kuning Kecil Sekali" agar putrinya tidak kesepian. Tapi, menurut Pak, membelikan anak ayam hanyalah solusi karena Mak terlalu khawatir Na Willa di luar rumah sejak Dul tertabrak kereta. Pak malah menyarankan menyekolahkan karena itu yang diinginkan putrinya.


Ketika Na Willa membongkar radio, Mak marah besar. Bukan karena radionya dibongkar, Mak marah karena Na Willa hampir kesetrum karena saat membongkar, kabel listrik gak dicabut. Sebesar apapun Mak marah, tetap memberikan ruang bagi putrinya untuk menjelaskan dan kemudian berdiskusi. Na Willa berpikir di dalam radio ada Lilis Suryani, penyanyi favorit Mak. Kemudian dijelaskan secara sederhana tentang radio oleh Mak.


Memahami Dunia Imajinasi Anak

Seperti yang Chi tulis di awal, film Na Willa memanjakan mata dengan warna-warninya. Filmnya dilihat dari sudut pandang anak yang ceria dan penuh imajinasi. Contohnya ketika adegan membaca surat dari Pak, digambarkan secara teaterikan. Atau ketika Na Willa melihat sekolah yang kedua. Senang sekali dia melihat sekolahnya yang penuh warna dan gurunya juga sangat baik.

Adegan terharu lainnya, ketika Na Willa menjenguk Duldi rumah sakit. Salah satu kaki Dul harus diamputasi dan diganti kaki kayu setelah tertabrak kereta. Bagi orang dewasa, menjenguk yang sakit mungkin akan membawa suasana haru. Apalagi ini yang jadi korban adalah seorang anak.

Ternyata, Dul malah bahagia. Dengan bangganya dia memamerkan kaki palsunya ke Na Willa. Katanya sekarang kakinya kalau diketuk bisa berbunyi. Gak sakit kalau kakinya dijiwit (dicubit). Dul yakin dengan kaki barunya akan bisa menang lomba lari. Kemudian Na Willa dan Dul pun bernyanyi "Sikilku Iso Muni" dengan riang gembira.


Kebersamaan di Momen Spesial menjadi Alasan Menonton Na Willa bersama Keluarga


Bagi Chi, menonton film ini bukan sekadar duduk di depan layar, melainkan menciptakan momen spesial keluarga yang berkualitas. Na Willa hadir memberikan kesempatan bagi kita untuk duduk berdampingan dengan anak, ikut bernyanyi, dan mungkin sedikit bercerita tentang masa kecil kita dulu yang mirip dengan kisah Na Willa. Film ini bisa menjadi jembatan komunikasi yang manis.

Anak-anak bisa belajar dan melihat tentang dunia tanpa gadget. Lihat bagaimana menyenangkannya Na Willa dan 3 sahabatnya bermain layangan, berlarian di lapangan, dan lain sebagainya. Orang tua juga mendapatkan pelajaran parenting di film ini tanpa terkesan digurui. Menonton bersama juga menjadi cara sederhana merayakan kebersamaan yang mungkin selama ini luput dari perhatia

Dulu, ya, salah satu momen libur Lebaran yang paling ditunggu dan diingat sampai sekarang adalah diajak menonton film Warkop DKI sama mamah papah di bioskop. Gak usah dibahas panjang ya tentang filmnya hahaha! Dulu, mah, rasanya biasa aja nonton filmnya. Banyak anak-anak juga yang menonton bersama orangtua. Berasa kayak diajak nonton film komedi.

Ya sebetulnya Chi udah pernah bahas sedikit juga waktu animasi Jumbo sempat menimbulkan kontroversi cocok untuk semua umur atau enggak. Chi termasuk yang bilang cocok meskipun ada adegan yang memang harus dijelaskan ke anak. Tapi, seringkali anak hanya menangkap bagian lucunya. Rasanya itu juga yang Chi kecil tangkap ketika diajak menonton Warkop DKI. Meskipun gak bisa dijadukan pembenaran apalagi untuk zaman sekarang yang penontonnya lebih sadar tentang rating usia film.

Silakan baca: Film Jumbo, Animasi Indonesia yang Sap Sap Sap!

Nah, yang ingin Chi bahas di sini adalah momen kebersamaannya. Seneng banget diajak jalan-jalan. Itu yang diinget terus sampe sekarang. Makanya, bagus juga kalau Visinema Studios membuat karya yang tayang setiap Idulfitri atau momen spesial lainnya. Tentu film untuk anak, ya! Tahun lalu tayang animasi Jumbo, sekarang Na Willa, semoga aja Lebaran berikutnya juga ada film anak menarik lainnya dari Visinema Studios atau rumah produksi lain.


Na Willa, Film untuk Semua Umur dan Beberapa Catatan Di Baliknya


Na Willa adalah bukti bahwa sebuah karya tidak butuh konflik yang meledak-ledak untuk bisa menyentuh hati. Film ini benar-benar tontonan untuk semua umur. Anak-anak akan menyukai warna dan musiknya yang penuh imajinasi menyenangkan. Sedangkan kita yang dewasa diajak bernostalgia dan menangkap pesan parentingnya.

Namun, film dengan rating semua umur, sejatinya belum tentu cocok untuk semua orang. Ada bagian yang perlu dijelaskan ke anak. Contohnya ketika Na Willa ditertawakan dan dikatain "Cindo As* oleh teman-teman sekelasnya di sekolah pertama. Tidak perlu menjadi perdebatan panjang di medsos, komunikasikan saja dengan baik ke anak.

Durasi film Na Willa juga termasuk panjang, lho. 118 menit alias hampir 2 jam. Animasi Jumbo aja cuma 102 menit, tapi rasanya udah panjang untuk ukuran film anak. Jadi, pertimbangkan juga hal ini, apalagi kalau baru pertama kali mengajak anak menonton bioskop.

Satu lagi, ada kejadian kurang menyenangkan ketika kami menonton. Bukan tentang filmnya, tapi penontonnya. Tulisan berikutnya kali ya Chi ceritain. Tapi, yang pasti, Chi tetap berpendapat, rating semua umur juga tetap harus lihat sikon.

Semoga film Na Willa ini bisa membantu teman-teman menemukan alasan untuk kembali duduk bersama keluarga, menikmati alunan musiknya, dan memetik pelajaran hidup di dalamnya. Etapi, gak harus bawa anak juga. Chi menonton berdua sama K'Aie tetap enjoy banget. Memang sebagus itu filmnya. Semoga aja ada Na Willa 2 yang juga bagus jalan ceritanya. Selamat menonton dan bernostalgia, ya!

Post a Comment

15 Comments

  1. Auto langsung liat ost nya donk,,,dan bener aja begitu liat ost nya berada berwarna warni dan langsung otomatis senyum karena liat kemeriahan warna dan kegembiraan yg tergambar di video klip nya...jujur aku gak terlalu ngeh sama film Na willa ini mbaa dan setelah baca ini baru deh ngeh hehe jadi tertarik juga buat liat..semoga saja nanti tiap tahun keluar film buat anak2 yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gemesin kan OSTnya. Saya juga berharap film anak akan terus ada. Minimal setahun sekali, deh

      Delete
  2. Yeay... Aku akhirnya nonton juga film Na willa ini juga kak. Suka ... Ceritanya khas anak-anak banget nggak banyak drama yang berarti jadi habis nonton bawaannya bahagia bukan suntuk

    ReplyDelete
  3. Beberapa teman ku juga bilang kalau NA WILLA ini bagus. Alur ceritanya sederhana dengan penyajian digital yang menarik. Dan lagu SIKILKU ISO MUNI itu juga lucu. Baca judulnya aja bikin penasaran. Yah setidaknya, film anak-anak jadi perhatian dan dapat slot khusus bagi para pekerja sinema dan dunia kreatif. Setidaknya setahun sekali lah anak-anak Indonesia dapat sajian di genre khusus mereka.

    ReplyDelete
  4. Jaman aku masih SD dan sekolah di Kalimantan tuh yang kayak gitu, Kak. Mejanya panjang buat dua orang. jadi istilah teman sebangku yang beneran semeja gitu. Hehehe...

    Aku jadi pingin nostalgia juga rasanya dengan nonton Na Willa.

    ReplyDelete
  5. Wah jadi pingin nonton
    Kemarin lihat Pandji Pragiwaksono bikin reviewnya di channel YouTube-nya tapi belum sempet lihat
    Jadi nostalgia ya? Saya juga pakai meja kayu miring gitu (baru ingat sesudah ditulis Mbak Mira :D ), tapi kayaknya di SD deh, karena SD saya jadul banget, sekolah susteran
    Sesudah SMP baru deh gaya furniturnya serba kontemporer

    ReplyDelete
  6. Jadi pengen nonton juga nih. Nostalgia zaman SD/SMP. Bangkunya juga masih berdua². Jadi ada istilah teman sebangku. Baru liat trailer dikit², jd belum terlalu tahu alur ceritanya.

    ReplyDelete
  7. Beberapa kali baca ulasan film Na Willa, semuanya pada puas. Baik dari sisi orangtua, maupun anak-anak. Mengsedih karena gak sempat nonton ini usai momen lebaran kemarin, balik mudik udah disibukkan dengan urusan rumah, sampai kelupaan pengen nonton. Huhuhu. Ngecek lagi, eh udah turun...

    ReplyDelete
  8. Film Na Willa ini memang sangat menarik sekali. Tone nya ceria, musikal banget memang.

    Banyak pembelajaran yang bisa dipetik juga serta ada momen-momen bikin nostalgia. Parenting Mak juga terasa keren banget.

    Memang sih durasinya lumayan panjang, kalau anak-anak yang nggak betah diem lama, kemungkinan bakalan rewel. Kejadian kurang mengenakkan nya apa mba? Penasaran.

    ReplyDelete
  9. One of best family movie. Na Willa penuh pesan yang dibalut dalam alur cerita sederhana dengan penyajian digital yang menarik. Ditambah juga elemen musikal dan pemilihan lagu yang nostalgia sekali. Tidak hanya menghibur dan mengedukasi anak, tapi juga membawa nostalgia untuk orang tuanya.

    ReplyDelete
  10. Kalau istilah gaulnya : "Gokil!"

    Na Willa memang game changer banget, baca artikel ini rasanya kayak ditarik naik time machine tapi tetep dapet vibe modern..

    Memori personal soal Pak Obi (guru angklung), sekolah di Pegangsaan, sampe mesin jahit Singer. Ini yang bikin pembaca betah, karena kita nggak cuma baca review film, tapi baca storytelling kehidupan.


    OST Sikilku Iso Muni" secara teknis entah kenapa lagu ini bisa terasa magis, mungkin karena frekuensi suaranya atau kesederhanaan aransemen folk-nya.

    ReplyDelete
  11. Aku senang banget nonton na Willa ini kak sambil mengingat masa zaman aku kecil, jalan ceritanya bagus apalagi ajak anak2 nonton sambil kasih edukasi

    ReplyDelete
  12. Wah ma kasih mba myra udah diingatkan soal rating semua umur. Ternyata ga diperhatikan detailnya secara umum ke anak2 yaa.. Saya tadinya mau ajak Adek Fi nobar, tapi baca tulisan mba myra kayaknya ga jadi deh. Nanti tunggu turun aja trus donlot dan nobar di rumah aja bedua

    ReplyDelete
  13. Libur lebaran kemarin alhamdulillah bisa nonton film ini sama ortu dan anak-anak, sekalian pas mudik juga. Makasih sudah menceritakan dengan meyeluruh gini, Kak, aku serasa nonton lagi filmnya dan jadi ikut mikirin juga beberapa perenungan sebagai orang tua yang sempat terpikir tapi lupa karena berjalannya hari.

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^