Menjadi orang tua adalah anugerah terindah, tetapi sering kali rutinitas mengurus anak, sekolah, dan pekerjaan membuat kita tanpa sadar kehilangan momen berdua yang intim dengan pasangan. Di tengah hiruk pikuk parenting, quality time bersama suami atau istri seringkali menjadi korban pertama yang terabaikan. Padahal fondasi kuat dalam hubungan adalah kunci untuk menjadi orang tua yang bahagia. Penting untuk diingat bahwa sesekali, berhak 'egois' sejenak bersama pasangan. Bukan untuk mengabaikan anak, melainkan untuk mengisi ulang energi pernikahan agar rumah tangga tetap harmonis dan langgeng.

K'Aie: "Bunda, jadi gak cari makan di luar atau udah ngantuk?"


Menjelang tengah malam, K'Aie bangunin Chi yang baru aja tidur buat jalan-jalan cari makan. Emang udah rencana sih. Makanya, dibangunin sama K'Aie karena kalau enggak pasti Chi yang bakal protes hehehe.


Semangkuk Bakso Malang lengkap dengan pangsit goreng dan sambal, menu kuliner tengah malam untuk quality time berdua bersama pasangan.

Sejak anak-anak masuk usia remaja, Chi dan K'Aie jadi lebih leluasa punya waktu berduaan. Bahkan sejak anak-anak gak tinggal di rumah, kami berdua jadi suka kulineran malam-malam.

Silakan baca: 7 Tips Berdebat dengan Anak Remaja

Beberapa waktu lalu,  Chi melihat salah satu utas di Threads. Intinya, mengatakan kalau sudah menikah fokusnya lebih ke anak. Makanya, lupakan dulu jalan bedua sama pasangan dan lain sebagainya. 
 
Kemudian ada sanggahan dari salah seorang netizen. Menurutnya, sesekali orangtua juga harus egois. Bikin quality time bersama pasangan tanpa membawa anak. Supaya hubungan tetap langgeng.

Bagaimana menurut teman-teman?


Kapan Waktu yang Tepat Quality Time Bersama Pasangan Tanpa Membawa Anak?


Pasangan berdiri di pinggir jalan kota pada malam hari, meluangkan waktu berdua untuk quality time tanpa membawa anak.

Kalau Chi, termasuk yang seperti pemilik utas pertama. Tapi, juga sepakat dengan pendapat netizen yang kontra kecuali bagian egoisnya. Jadi begini...,

Keke dan Nai hanya diasuh oleh orangtuanya. Dalam artian, kami gak pakai ART atau baby sitter. Pernah sih cobain pakai ART waktu Nai baru lahir. Kami pikir kalau udah punya anak 2 akan menjadi lebih riweuh. Jadi, rasanya perlu asisten supaya Chi tetap punya waktu istirahat. Paling gak lebih fokus ke anak dan memasak, urusan beberes rumah diserahkan ke asisten.

Iya betul secara tenaga kebantu. Tapi, malah jadi lebih capek hati ketika punya asisten. Ada aja drama ART yang timbul. Makanya, cuma pake sebentar banget. Kami pun memutuskan gak mau lagi punya asisten. Capek dan kapok!

Konsekuensinya, jadi bener-bener ngurusin berdua. Meskipun saat itu kami juga masih tinggal sama orangtua. Tapi, kami juga yang gak mau terus-menerus meminta orangtua buat gantian mengasuh cucunya. Diajak jalan-jalan ma kakek nenek pun boleh. Pernah Keke dan Nai diajak liburan ke Bali, Chi dan K'Aie gak ikut.

Kebalikannya dengan adek Chi. Dia cukup rutin jalan berdua dengan istrinya. Malah pernah liburan cukup lama ke luar negeri hanya berdua. Anaknya diasuh sama neneknya selama mereka liburan.

Jadi, kapan waktu yang tepat? 

Gak ada jawaban yang saklek. Tergantung dari situasi dan kondisi keluarga masing-masing. Makanya, meskipun Chi dan K'Aie baru sering quality time sekarang, bukan berarti yang dilakukan adek dan istrinya tuh salah.

Kuncinya ada di mengurus anak. Makanya, di awal, Chi katakan gak sepakat dengan kata egois. Selama anaknya ada yang mengurus dengan baik, gak apa-apa sesekali quality time dengan pasangan.

Lain cerita kalau suami istri asik quality time, tapi sama anaknya cuek. Bodo amat diurus seperti apa ketika bersenang-senang berdua. Nah itu baru namanya egois.

Setiap kali adik quality time dengan istrinya, tentu sudah memastikan anaknya akan ada yang mengurus dengan baik. Chi pun meski gak sesering adik quality time bersama pasangan, tetapi juga melakukan hal sama.

Jadi, gak perlu merasa egois ketika ada yang mau bantuin buat mengurus anak dengan baik. Karena itu artinya orangtua gak lepas tangan mengasuh anak. Hanya sesekali melakukan quality time bersama pasangan.


Quality Time bersama Pasangan Tidak Harus dengan Bepergian


Suasana malam di depan gerbang ATM Center, menunjukkan lokasi sederhana untuk menikmati kuliner kaki lima sebagai quality time bersama pasangan.

Dulu, Chi dan K'Aie jarang banget bepergian cuma berdua. Bukan karena gak ada yang bersedia bantuin mengurus anak-anak. Chi yakin banget kakek dan nenek mereka mau diminta mengurus cucu-cucunya sementara kali pergi berdua. Tapi, kaminya aja, terutama Chi, yang lebih suka ke mana-mana sama anak-anak.

Lagipula, bukan berarti ketika anak-anak masih kecil, Chi dan K'Aie gak punya quality time. Kan, bisa tetap dilakukan meskipun tanpa bepergian. Biasanya nih setelah anak-anak tidur, kami menonton tv atau main konsol game berdua. Memang gak lama. Paling 2-3 jam aja. Tapi, karena bisa dilakukan setiap malam, jadinya berasa senang aja. Gak harus bepergian, kan?

So, setiap rumah tangga punya timeline masing-masing. Makanya kalau ada yang bilang, "Enak ya sekarang ke mana-mana berduaan ma suami. Gak diikutin anak-anak." Lho, dulu kami ke mana-mana selalu bawa anak. Tapi, kami pun tetap santai aja kalau ada pasangan muda yang udah bisa berduaan tanpa membawa anak.

Menjaga keintiman dan kualitas hubungan dengan pasangan sejatinya adalah investasi terbaik untuk kebahagiaan seluruh keluarga, termasuk anak-anak. Ingatlah, tidak ada "timeline" baku yang harus diikuti. Setiap pasangan memiliki ritme dan cara uniknya sendiri dalam menemukan waktu berdua yang berharga. Entah itu dengan liburan ke luar kota atau sekadar ngobrol santai setelah anak-anak tidur, yang terpenting adalah komitmen bersama untuk terus memprioritaskan dan merayakan ikatan pernikahan, karena pasangan yang bahagia adalah fondasi bagi keluarga yang harmonis.