solusi menghadapi tetangga menyebalkan dengan earphone dan musik 
Sumber gambar: Pixabay.com


TetPunya tetangga yang menyebalkan itu rasanya ... Errrggghhh!!!

Sudah sekitar setengah tahun ini, Chi lagi sebal dengan tetangga belakang rumah. Ya, kekesalan Chi ini mungkin akan bersifat sementara. Tapi setidaknya sampat detik ini masih kesal (banget).


Awal Mula Kekesalan: Renovasi Rumah Tetangga yang Berdebu dan Sangat Bising


Berawal dari rumah tetangga di renovasi total. Punya alergi debu, udah bikin Chi stress duluan kalau ada tetangga atau rumah sendiri direnovasi. Udah kebayang kalau debunya akan bikin sekujur tubuh Chi gatal. Tapi gak mungkin juga kan Chi melarang tetangga atau rumah sendiri direnovasi? Paling solusinya, Chi bakal sering ada di kamar dan pintu kamar selalu ditutup. Bukan berarti kamar steril dari debu, tapi setidaknya dengan pintu yang selalu tertutup bisa meminilisir debu yang masuk meskipun tetep aja pasti alergi tetap kambuh.

Jadi kalau urusan debu Chi masih berusaha sangat memaklumi, lah. Ternyata masalahnya gak hanya debu. Kali ini pembangunan rumah tetangga terdengar sangat bising. Sengaja Chi bold untuk menegaskan meskipun punya alergi debu tapi selama ini gak pernah kesal ma tetangga yang lagi renov. Apalagi rumah sendiri pun pernah direnov. Tapi baru kali ini punya tetangga yang renovasinya sangat bising sampe telinga rasanya sakit. Keselnya melebihi saat digosipin jadi korban KDRT hehehe.

Gak cuma sehari, tapi berbulan-bulan. Setiap hari mulai pagi sekitar pukul 08.00 hingga menjelang maghrib. Suaranya seperti mesin bor yang bikin telinga sakit. Bahkan Chi udah ngamar pun suara bisingnya tetap terdengar. Selama beberapa bulan, kami harus berteriak kalau ngobrol. Jadi kayak orang lagi marah-marah. Padahal karena bising, kalau ngomong dengan suara normal gak akan kedengeran.

Chi: "Berisik amat itu tetangga yang lagi bangun rumah! Bikin apaan, sih?"
Mamah: "Kalau mamah lihat sih kayaknya lagi bikin pondasi."
Chi: "Berisik tapinya ..."
Mamah: "Ya mau gimana lagi? Kita juga pernah renovasi total. Gak enak mau negurnya."
Chi: "Iya, Chi tau. Kita pernah renovasi total. Tetangga-tetangga lain juga pernah. Tapi perasaan gak pernah seberisik ini. Paling cuma debu aja yang di mana-mana. Ini sih bising banget sampe sakit telinga."
Mamah: "Anak yang punya rumah kan baru lulus kuliah arsitek. Mungkin pengen praktekin ilmunya. Tapi gak tau juga, sih."


Titik Batas Kesabaran: Protes dan Negosiasi Waktu


Sebetulnya Chi berharapnya mamah akan membantu untuk bilang ke tetangga. Karena yang lebih bergaul dengan tetangga kan mamah. Eh, malah mamah yang gak enakan. Chi awalnya coba mengalah demi orang tua, Tapi akhirnya protes juga.

Chi: "Mas! Mas! Ini suara apa, ya?"
Mas A: "Suara mesin xxxxx"

Chi lupa lagi nama mesinnya. Lagipula saat itu masih berisik. Sampe kemudian si mas A menyuruh mesinnya dihentikan dulu.

Chi: "Sampe kapan sih suara berisik ini?"
Mas A: "Gak tau, Bu?"
Chi: "Gak tau? Jadi saya masih harus keberisikan dan gak tau sampai kapan?"

Mulai emosi. Tenaaaaang ... tenaaaaanggg *tarik napas. Atur nada bicara 😇

Mas A: "Mungkin sekitar 2 minggu lagi, Bu."Chi: "Gini, ya. Mulai besok, selama 2 minggu ke depan anak-anak saya menghadapi UAS. Saya gak akan kasih perintah apakah mesin harus berhenti atau tidak. Tapi tolong carikan solusi gimana caranya anak-anak saya bisa belajar dengan tenang untuk menghadapi UAS selama mesin berisik itu masih menyala. Terima kasih!"

Selama beberapa bulan, mencoba tahan dengan suara berisik dari mesin apa lah itu. Padahal Chi baru jatuh dari motor dengan kepala membentur aspal duluan. Kepala sangat sakit, tapi bisa istirahat sama sekali karena suara berisik yang gak kenal waktu.

Masih mencoba tetap sabar meskipun akibatnya kepala pusing setiap hari efek dari jatuh. Setiap hari menenangkan anak-anak yang juga mengeluh karena kebisingan. Tapi, ketika mereka akan menghadapi UAS dan gak bisa  konsentrasi, pastilah Chi gak mau tinggal diam. *berubah jadi singa ketika belain anak hehehe


Malam harinya, Chi sempat sedikit berselisih paham dengan papah. Rupanya tetangga sms ke papah untuk menanyakan perihal Chi yang menghampiri tukangnya. Sebetulnya tetangga gak marah, malah ngajak cari jalan keluar bersama. Cuma papah sama kayak mamah, suka gak enakan ma tetangga. Padahal kita yang dirugiin.

Ini tetangga sebetulnya masih baik mengajak cari solusi. Gak tersinggung ketika diprotes. Tapi, tetap aja papah dan mamah yang gak enakan, makanya Chi pun ditegur. Singkat cerita. akhirnya diputuskan mesin menyala hingga menjelang Ashar.
Setelah itu mesin mulai dimatikan.


Ketika Kompromi 2 Minggu Mulai Dilanggar


Perjanjian itu berlaku selama 2 minggu. Tapi sayangnya belum juga sampai 2 minggu, mesin mulai nyala lagi hingga menjelang maghrib. Hadeuuuh! Ini tetangga gak ngawasin para pekerjanya atau memang malah tetangganya yang menyuruh melanggar?

Chi udah malas protesnya. Cukup tau aja kalau punya tetangga yang menyebalkan. Ya mungkin mengejar target supaya tahun baru rumahnya selesai. Tapi, jadinya bikin kesel tetangga.


Ternyata sampai saat ini rumahnya belum juga selesai. Udah mulai kelihatan sih bentuknya tapi masih jauhlah dari kata selesai. Bahkan udah sebulan terakhir ini mulai terdengar suara berisik lagi. Memang sih gak terus-terusan seperti di awal. Tapi setiap kali mesinnya dinyalakan, tetap mengganggu sekali. Belum lagi kalau para tukang menyetel lagu dengan volume yang sangat kencang. Chi ngerti kalau mereka pun butuh hiburan.
Tapi apa harus kencang banget sampe tetangga denger? 😡


Solusi Akhir: Earphone, Musik, dan Terapi Nyanyi Kencang

Sejak sedikit berselisih paham dengan papah dan perjanjian 2 minggu itu agak dilanggar, Chi udah males protes. Solusinya, ketika mesin sedang dinyalakan Chi dan anak-anak pada pake ear phone atau head set. Colokin ke laptop atau gadget masing-masing dan dengerin lagu favorit. Kadang kalau lagi rada gokil, kami pun nyanyi sekencang-kencangnya kalau perlu sambil joget-joget. Tentu masih dengan lagu dan gadget masing-masing.

Yakin sih gak bakal kedengeran ke mana-mana juga karena masih kalah ma suara mesin. Nyanyi sekencang-kencangnya juga sekalian untuk meluapkan emosi. Daripada marah-marah melulu dengerin suara yang bikin sakit telinga. Mendingan tutup telinga pake ear phone dan nyanyi dengan volume gas pol.

Biasanya kalau udah gitu kami bertiga ketawa-tawa karena melihat kelakukan masing-masing. Emosi pun hilang. Anggap aja sekalian kasih contoh ke Keke dan Nai, masih ada cara untuk mengatasi kekesalan selain ngomel. Lagu-lagu favorit yang paling sering nemenin Chi kalau lagi kesal 😂


Chi berharap kekesalan ini cuma sementara. Setelah renovasinya selesai, kekesalan pun sirna. Dari dulu juga Chi gak pernah kesal dengan tetangga.

Dengan earphone dan lagu favorit, Chi menemukan cara pribadi untuk bertahan. Intinya, menemukan cara meluapkan emosi adalah kunci menghadapi situasi sulit seperti ini.Teman-teman pernah punya tetangga yang menyebalkan juga? Bagaimana solusinya? Ayo ceritain di sini 😊