Selasa, 17 Mei 2016

Ketika Nai Marah Saat Fotonya Diupload ke Social Media

Malam itu (12/5), Nai tidur dengan gelisah. Nai kalau tidur memang gak mau diem. Tapi, kali ini gak mau diemnya terlihat berbeda. Tadinya, Chi berpikir kalau Nai sedang menahan pipis karena gak ke wc.

Nai: "Bunda, Ima gak bisa tidur."
Bunda: "Pengen pipis, ya? Ya udah sana pipis dulu. Nanti malah ngompol kalau ditahan gitu."
Nai: "Ima gak pengen pipis."
Bunda: "Trus, kenapa? Gerah? Suhu ACnya Bunda turunin lagi, ya?"
Nai: "Enggak. Ima gak gerah."

Karena semua tebakan Chi disangkal olehnya, maka Chi pun hanya meminta Nai untuk segera tidur lagi, daripada besok kesiangan. Tidak lama kemudian, Chi mendengar isak tangis. Nai sedang menangis dengan wajah dibenamkan ke bantal.

Bunda: "Lho, kok nangis? Ada apa sebenarnya, Nak?"

Tadinya, Nai masih juga menggelengkan kepala. Setelah kepalanya Chi usap lalu terus dibujuk, mulai keluar curhatannya.

Nai: "Besok bawa caricanya 1 aja! Temen-teman gak usah dikasih!"

Chi kaget denger ucapan Nai. Beberapa hari sebelumnya, kami baru saja pulang dari Dieng untuk mendaki gunung Prau. Salah satu oleh-oleh yang kami bawa adalah manisa carica, oleh-oleh khas Dieng. Nai yang paling antusias ingin berbagi oleh-oleh dengan para sahabatnya. Makanya, Chi kaget ketika Nai tiba-tiba bilang gak jadi bawa carica. Ada apa sebenarnya?

Ternyata, Nai sedang kesal dengan salah seorang sahabatnya ...

Hari itu, Nai ulang tahun. Para sahabatnya mengucapkan ulang tahun untuk Nai dengan cara yang tidak diduga. Ada yang menscreenshot wajah Nai saat sedang video call dengan sahabatnya kemudian dikasih caption selamat ulang tahun. Lalu ada juga yang mengupload video Nai dan memberi caption selamat ulang tahun. Semuanya sama-sama mengupload di Instagram.

Yang menjadi masalah adalah video yang diupload. Video itu sudah Nai upload beberapa minggu sebelumnya. Gak lama kemudian dia hapus. Ternyata, tanpa sepengetahuan Nai, salah seorang sahabatnya secara diam-diam sudah menyimpan video tersebut. Kemudian diupload ulang saat Nai ulang tahun.

Sebetulnya, gak ada yang aneh dengan video singkat itu. Hanya kumpulan foto dia yang dijadikan video singkat. Kumpulan fotonya itupun menurut Chi gak ada yang aneh. Tapi tetap saja saja Nai gak suka dengan hasilnya, makanya dihapus. Ketika sahabatnya mengupload kembali, Nai sudah menghubungi sahabatnya via LINE untuk segera menghapus videonya. Tapi, (hingga kini) videonya gak dihapus juga.

Itulah yang menyebabkan Nai menangis .... Nai kesal ... Nai marah ...

Chi lalu menyarankan supaya besok bicara baik-baik dengan sahabatnya. Bicara empat mata saja, gak perlu mengajak sahabat yang lainnya. Utarakan alasan kenapa Nai tidak senang. Apabila sahabatnya tetap menolak keinginan Nai, cukup dengan bilang kalau dia kecewa. Setidaknya sahabatnya sudah tau kalau sudah bikin Nai kecewa. Chi juga menyarankan supaya Nai tetap bersahabat saja.

Setelah itu, Nai pun langsung tidur nyenyak ... Keesokan harinya, dia tetap ingin bawa oleh-oleh untuk sahabatnya.

Sepulang sekolah, Nai kembali ceria. Chi tanya lagi tentang masalahnya. Gak taunya, sahabatnya gak masuk sekolah hari itu. Tapi, Nai udah nyantai menghadapi masalahnya. Senyumnya udah ceria lagi.

Walaupun Nai sudah ceria, Chi ajak Keke dan Nai untuk berdiskusi tentang kejadian ini. Hasil diskusi kami adalah

Jangan tampil 'aneh' saat video call

Yang dimaksud jangan tampil aneh di sini tentu saja bukan berarti harus dandan full make up dulu ketika mau video call. Tapi berpenampilan wajar saja. Harus pakai baju, ya! Kali aja, ada yang merasa 'cuma' ngobrol dengan keluarga atau sahabat, jadi merasa cuek. Padahal siapa tau keluarga atau sahabatmu saat itu sedang usil.

Jangan upload foto atau video yang aneh-aneh

Kita gak akan pernah tau persis siapa saja yang melihat video atau foto yang diupload. Sekalipun akun media sosial sudah disetting privat.

Berpikir dulu sebelum upload foto atau video ke social media
Seringkali kecepatan screen shot lebih cepat daripada delete
Itu juga yang dialami Nai. Gak lama setelah fotonya diupload, dia delete lagi. Tetapi rupanya ada sahabatnya yang sudah lebih dulu save videonya. Sekalipun bukan foto atau video yang aneh, memang sebaiknya selalu membiasakan dulu untuk berpikir 2x sebelum upload. 

Hargai perasaan orang lain bila ingin mengupload foto atau videonya

Pernah gak baca artikel dimana ada seorang pria memutuskan pacarnya karena sudah mengupload foto dirinya saat sedang tidur? Menurutnya, aktivitas tidur itu sama halnya seperti ke kamar mandi, yaitu aktivitas sangat pribadi. Dan, dia tidak ingin seorang pun tahu.

Buat pacar atau (mungkin) kita juga mengupload / melihat foto seseorang yang sedang tidur adalah hal sepele. Tapi, kan belum tentu bagi yang orang yang ada difoto itu. Setiap orang punya pendapat yang berbeda.

Begitu juga dengan video yang pernah diupload Nai. Menurut Chi, gak ada yang aneh dengan videonya. Tapi kalau Nai gak suka, seharusnya tetap menghargai pendapatnya. Kan, yang ada di video itu adalah wajahnya.

Nai masih kecil, kenapa juga udah dikasih social media?

Hmmm ... kira-kira ada yang berpendapat seperti itu gak, ya? Baiklah, sebelum ada yang berpikir begitu, Chi akan jawab duluan hehehe. Menurut Chi, ini bisa menjadi bahasan yang berbeda. Kalaupun Nai sudah cukup umur untuk bersocmed sekalipun bukan berarti dia akan bersikap bijak atau dewasa, kan?

Karena menurut Chi untuk bersikap dewasa atau bijak saat bersocmed juga butuh pengetahuan. Anak-anak harus diberi bekal bagaimana harus bersikap di social media. Sering-sering aja mereka diskusi dan dipantau aktivitasnya. Sama aja, sih, sebetulnya seperti Chi mengajarkan tentang hal lainnya kepada Keke dan Nai.

Kejadian seperti ini gak lantas jadi membuat Chi untuk melarang anak-anak untuk bersocial media. Justru Chi harus terus mengajak anak-anak untuk berdiskusi. Berharap kami semua bisa ambil pelajaran dari semua ini.

Sampai saat ini, video itu belum juga dihapus oleh sahabatnya. Tapi, Nai sudah bisa menyikapinya dengan santai. Dan, mereka tetap bersahabat. Alhamdulillah :)

65 komentar:

  1. Keponakanku yang mulai ABG juga suka marah bila mengupload fotonya tanpa ijin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sebaiknya ketika anak sudah bisa diajak berdiskusi, bertanya dulu sebelum mengupload fotonya :)

      Hapus
  2. Hebat Nai, bijaksana .. Mak Chi jangan lupa ikutan giveaway ku yaa... Kayanya banyak tuh cerita yang bisa diceeitakan untuk tema giveaway di blog ku :)

    BalasHapus
  3. Kalau sudah menjelang abg, harus minta izin ke anaknya ya untuk upload foto.

    BalasHapus
  4. Mbak, saya suka sama solusi yg diajarkan Mba Chi ke anak2. Mereka bisa curhat dan open ke bundanya. Indahnya :)

    BalasHapus
  5. Banyak belajar dari tulisan Mbak Myra nih buat bekal kalau nanti anak-anakku seumuran Keke Naima.

    BalasHapus
  6. Keponakanku lebih aneh-aneh (udah SMA). Hapenya suka dibajak temennta, diganti nama alay, atau foto jelek. Aduh jd ngeri :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, itulah kenapa harus terus diingatkan. Karena usia gak berbanding lurus dengan kedewasaan. Kalau bisa, HP jangan dipinjam-pinjam, deh. Suka ada yang usil

      Hapus
  7. Duh perlu diajak ngobrol ya anak anak ABG. Kasihan, untuk Nak yang fotonya gak aneh2 saja sampai gelisah bgt. Bagaimana dengan yang lebih aneh? Semoga anak anak PRA remaja semakin paham y.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru semakin ABG harus semakin diajak ngobrol. Mereka kan mulai mausk masa puber. Mulai mencari jati diri. Mulai ikutan trend ini-itu. :)

      Hapus
  8. bener emang harus hati2 dalam meng-upload foto/video... harus dipikirkan dulu, nih kita ikhlas gak nih kalo foto/video ini dilihat orang banyak...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. termausk ketika kita mengupload foto orang. Harus dipikirkan lebih dahulu apakah orang tersebut suka atau tidak :)

      Hapus
  9. Dengan komunikasi, semua masalah biasanya bisa diselesaikan ya mbak. Tidak hanya dengan anak, dengan teman bahkan dengan pasangan juga. Kuncinya hanya satu : komunikasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. Kuncinya ada di komunikasi

      Hapus
  10. Foto anak gw masih kecil yg diupload pun sengaja dipilih yg paling ganteng dan paling cantik hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama. Saya juga pilih banget mana foto yang diupload. Kalau sekarang malah harus disetujui sama mereka dulu :D

      Hapus
  11. Saya suka dengan penjelasan mbak tentang memperkenalkan socmed untuk anak-anak.

    Oia, salah satu cara yg pernah diterapkan kakak saya keanak-anaknya adalah sedia wifi di rumah dan anaknya gak difasilitasi quota unk HPnya jadi semua tindakan masih terpantau, jg menghindari kejadian seperti akun yg dibajak saat HP dipinjam hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga seperti itu ke anak-anak, Mbak :)

      Hapus
  12. Wah bisa dimaklumi sih knapa Nai spt itu. Anakku yg cewek malah blm lama menghapus puluhan fotonya di IG dng alasan udah ngga dia bgt :p ada2 aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, kadang bikin kita geleng-geleng ya, Mbak. Perasaan itu foto gak aneh trus kenapa dihapus. Tapi, biar gimana itu hak mereka hehehe

      Hapus
  13. privacy sih ya mbak.. aku juga jujur aja paling ga suka kalo fotoku dipajang diem2 di sosmed ato di manapun tnpa sepengetahuan aku.. apalagi kalo sampe dibikin meme -__-.. sering bgt tuh mbak temen2 kantor begitu.. pulang dari outing, hasil foto2, kebanyakan candid, dipajang di sharing folder kantor dan siapapun bisa akses utk ngeliat.. yg parahnya bnyk dijadiin meme kalo ada foto2 yg aneh2, kan sebel ya.. makanya aku paling hati2 bgt kalo lg outing ama kantor, krn ga pgn aja fotoku juga dijadiin bahan lelucon gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, termasuk ranah privacy. Apalagi kalau udah ekspresi aneh-aneh memang sebaiknya jangan main upload aja. Buat mereka lelucon, buat kita yang wajahnya terpampang kan enggak

      Hapus
  14. Nai sama dengan anak pertamaku Mak Chi.., anakku suka wanti2 sama Emaknya ini kalo mau upload2 foto. Hihi..padahal emaknya gatel pengen upload..wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya suka diskusi atau izin dulu sama anak. Tapi karena cukup sering berdiskusi, jadinya udah cukup tau mana yang anak-anak saya suka dan tidak :)

      Hapus
  15. Aduh jadi ngeri..gimana ya kl naylah dah remaja trus dia gak suka dengan tulisan2 lama emaknya di blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya, ketika anak-anak masih kecil sebelum menulis dan publish tulisan (termasuk upload foto)selalu berpikir, apakah anak-anak saya akan suka dengan tulisan ini? Saya gak pernah menulis curhat yang terkesan akan membuat mereka malu, Mbak.

      Ketika anak-anak saya sudah bisa diajak diskusi, saya selalu ajak mereka ngobrol tentang tulisan saya. Mereka pun pembaca setia blog saya. Jadi, seluruh tulisan di blog ini, mereka suka.

      Kalaupun suatu saat mereka meminta privasi, saya harus menghormati permintaan mereka :)

      Hapus
  16. Oooo...bisa juga ya mak anak merasakan hal seperti ini. Kirain anak tuh cuek aja. Keinget anakku sih soalnya, yg daya narsisnya udah setara emaknya. Fotonya dipajang dimana saja dia seneng banget :))
    Perlu juga nih menyiapkan hati bila suatu saat dia mengalami hal seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa juga. Tpai memang gimana anaknya juga, sih. Cuma kita perlu siap aja kalau ngalamin kayak begini :D

      Hapus
  17. saya termasuk yang tidak setuju share segala hal berhubungan anak-anak ke medsos apapun...pernah menuliskan alasan panjangnya di blog sendiri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya termasuk yang gak masalah share foto atau cerita tentang anak di social media termasuk di blog. Tapi bukan berarti bebas sesukanya. Tetap aja saya punya rambu-rambu. Dan, saya pikir memang setiap orang pasti punya pertimbangan sendiri kenapa boleh dan tidak.

      Kalaupun ada masalah kayak gini, saya anggap itu sebuah pelajaran berharga saja bagi kami. Biar gimana, saya atau anak-anak juga perlu belajar dari masalah :)

      Hapus
  18. saya blm kasih anak sosmed, masih takut mak kalo ada masalah kaya gini menyikapinya. zaidan main game online sama temannya aja kalau kalah atau ada masalah suka bikin pusing kepala saya. harus menata hati dulu emaknya ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau masalah waktu memang saya kembalikan kepada masing-masing, Mbak. Setiap orang pasti punya kesiapan dan alasan yang berbeda. Kalau saya boleh kasih saran, yang terpenting adalah membangun komunikasinya. Kalaupun anak baru dibolehkan bersocmed setelah mereka remaja, saya rasa kemungkinan bermasalah di socmed akan ada. Buktinya banyak kasus di socmed justru terjadi sama orang yang seharusnya dewasa. Jadi, terus dmapingi dan kasih pengertian ke anak-anak :)

      Hapus
  19. Teman2nya mungkin suka ngerjain ya.
    Jangan2 lain kali upload foto mama sahabatnya yang tampil aneh juga hahaha
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka hanya becanda, Pakde. Tapi, Nai gak suka hehehe

      Hapus
  20. setuju banget mbaaa...jaman sekarang harus sudah ekstra hati-hati dengan media sosial, bahkan untuk anak-anak belia

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Kehati-hatian kayaknya berlaku untuk smeua usia, ya :)

      Hapus
  21. nai pinter.. seumuran nai aja udah ngerti kalo gak boleh aplot foto orang lain sembarangan.. mestinya yg seumuran kita juga menghargai provacy orang lain yaa..

    2 tumb up buat nai.. smoga ga ada kejadian yg sama ya naii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. emang pinter si nai :) Jempol dah

      Hapus
    2. Iya semoga jadi pengalaman berharga untuknya :)

      Hapus
  22. Anak-anakku ga terlalu suka medsos kayaknya pada jarang updet semua kecuali LINE utk chatingan sama teman sekolah n tugas sekolah. Nah anak keempat suka upload instagram tapi semua tentang hobi dia, rubik, fotografi dan sepeda hehe... jadi relatif agak tenang emaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. syukurlah kalau gitu, Mbak. Tpai memang sesekali harus dipantau :)

      Hapus
  23. Alahdulillah, anak-anak gak suka VC. paling smsan, WA dan FBan, itu juga yg sulung. Intensitasnya ya pas perpulangan.

    #sejujurnya, salut dgn sikap Nai yg tegas soal aplut foto tanpa ijin.
    Juga salut, akhirnya Nai bisa baikan lagi sama temannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, pokoknya harus selalu hati-hati aja, Mbak :)

      Hapus
  24. Beda banget ama keponakanku yg masih 5 tahun.. udah ketularan tantenya.. bentar2 minta cekrek.. terus foto.. minta jadi dp bbm :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. lingkungan memang bisa mempengaruhi :)

      Hapus
  25. Saya pernah banget seperti Nai. Masalahnya foto yang menurut saya membanggakan itu, justru diejekin sama teman yang tidak terlalu dekat dg saya. Apalagi waktu itu saya lagi mau cari kerja dan sosmed saya bisa jadi diintip sama HRD-HRD perusahaan saya melamar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau udah gitu jadinya gak lucu banget, ya :(

      Hapus
  26. selfreminder untuk saya juga nih yang belum minta ijin kalau mengunggah foto anak ke sosmed

    BalasHapus
  27. Untungnya saya sih amat sangat jarang upload foto anak disosmed, paling si kecil doang, yang udh pada bujangmah py urusan sendiri-sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketika anak-anak masih kecil pun, saya tetap berusaha sangat hati-hati. Jarang atau sering itu katiannya denga kuantitas, Mbak :)

      Hapus
  28. Kalo nai marah, coba ganti foto ku aja yg di upload dan jangan lupa kasih link blog cumilebay #Numpang iklan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau upload foto Cumi boleh pake nama asli, gak? :p

      Hapus
  29. Luar biasa jeng Chi, Nai merumuskan kehendak pribadinya, bahkan menyikapinya saat temannya belum menghapus permintaannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ini jadi pelajaran berharga untuknya, Mbak :)

      Hapus
  30. Jangankan anak kecil mak, aku kalo kecolongan dishoot tanpa pake jilbab aha rasanya kzl banget.
    Tapi salut si nai punya rasa ini. Kebanyakan anak2 pada sok2 eksis uplot dirinya sendiri -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, apalagi kalau kita sudah berhijab. MArah rasanya kalau sampe ada kejadian seperti yang Mbak Ratu bilang

      Hapus
  31. alhamdulillah deh. kdg ngeri jg ada video aneh2. Walaupun skrg terlihat lucu, tp kita nggak tahu apa jadinya video itu di mata org lain. tetep bijak deh

    BalasHapus
  32. Hallo mbak, salam kenal. Ini pelajaran berharga buat saya. Karena sekarang anak2 masih balita,jadi gak ada acara protes. Tapi ke depannya harus lebih bijak. Thanks for sharing

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge