Beberapa hari lalu, Chi menyimak ceramah Ustadz Aam Amiruddin di channel Youtube-nya. Beliau bilang sering diminta ceramah tentang menangani kenakalan anak. Tetapi, jarang yang meminta tema tentang orangtua yang nakal.

Generasi Stroberi Terbentuk dari Pola Asuh Strawbery Parents

Padahal, menurut beliau, kenakalan anak itu tergantung orangtua. Kalau, orangtuanya sudah memberi pendidikan yang baik, InsyaAllah anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Meskipun di luar sana banyak tantangan dan rintangan.

Pas banget dengan yang Chi pikirkan. Selama ini suka gregetan ketika ada yang mengeneralisir kalau Gen Z adalah generasi strawberry. Chi yakin memang ada yang 'bermental strawberry'. Tapi, jangan digeneralisir juga! Karena kembali ke pola asuh. Didikan dari strawberry parents lah yang membentuk anak menjadi generasi stroberi.


Apa Itu Generasi Strawberry?


Istilah generasi stroberi atau strawberry generation berawal dari negara Taiwan. Merujuk kepada generasi baru yang kreatif, tetapi rapuh. Ibarat buah stoberi, terlihat indah dipandang tetapi mudah lembek.

Generasi strawberry katanya mudah banget meromantisasi mental health. Ya memang bagus kalau sadar tentang pentingnya kesehatan mental. Asalkan jangan dikit-dikit bilang kesehatan mentalnya terganggu. Apalagi mengatakan itu hanya dengan melakukan diagnosa sendiri. Bukan konsultasi ke ahlinya.


Pola Asuh Berawal dari Rumah


4 kelompok pola asuh

Memang ada beberapa hal yang membentuk anak menjadi generasi stoberi. Salah satunya adalah pola asuh orang tua. Chi sepakat dengan Ustadz Aam Amiruddin kalau peran orangtua sangatlah penting.

Tetapi, bukankah semakin anak besar, semakin banyak pula pengaruh dari luar, misalnya teman-teman?

Iya betul. Bahkan zaman sekarang pengaruh dari luar gak harus menunggu anak besar dulu. Sejak kecil, udah banyak anak yang terpengaruh dari luar yaitu gadget. Memang anaknya tetap di rumah, tapi pengaruh gadget bisa luar biasa dampaknya.

Meskipun begitu, pola asuh pertama anak berasal dari rumah. Selain dari orangtua, bisa juga datang dari kakek nenek, hingga pengasuh. Tetapi, bagi Chi, tetap orangtua lah yang seharusnya memiliki peran utama untuk mendidik anak. Memberikan benteng yang kuat dan bekal yang cukup. InsyaAllah, anak tetap bisa tangguh sebesar apapun rintangannya kalau bekalnya cukup dan bentengnya kuat.

Kalaupun anak tetap terpengaruh hal negatif meskipun orangtua sudah merasa mendidik yang baik, ucapkan "Hasbunallah Wanikmal Wakil (Cukuplah Allah sebagai pelindung kami)." Intinya orangtua tetap berdoa dan berikhtiar untuk kebaikan anak.

Ketika hadir di salah satu acara bertema parenting beberapa tahun lalu, Dr. Rose Mini, A.P., M.Psi biasa dipanggi Bunda Romi sebagai salah satu narasumber, mengatakan ada 4 macam pola asuh yaitu otoriter, demokratis, tidak terlibat, dan permisif. Menurut beliau, dari keempat pola tersebut tidak ada yang paling benar atau paling salah. Orangtua boleh banget menggunakan semuanya, tergantung situasi dan kondisi.

Chi termasuk yang gak saklek dengan salah satu pola asuh. Setuju banget dengan pendapat Bunda Romi untuk menyesuaikan dengan sikon yang ada. Bunda Romi juga memberikan contoh, ketika anak yang masih kecil memaksa menyebrang jalan sendirian. Di sini, orangtua bisa bersikap otoriter. Mengontrol penuh untuk melarang anak menyebrang sendirian karena sangat berbahaya. Kalau pake nanya dulu ala demokratis gitu, bisa-bisa kelamaan waktunya. Langsung larang aja, deh. Nanti setelah itu baru anaknya diajak ngobrol.


Lebih Mengenal tentang Strawberry Parents


Kalau lihat bagan tentang pola asuh di atas, strawberry parents sepertinya masuk ke kelompok indulgent (permisif). Anak cenderung menjadi 'bos' orangtuanya. Karena minim diberi pengarahan dan jarang disanksi.

Bila melihat sumbunya, orangtua yang permisif memberikan rasa nyaman yang tinggi ke anak. Tetapi, kontrolnya sangat kurang. Nah, lama kelamaan anak menjadi generasi strawberry. Karena ketika mendapatkan kontrol atau tekanan yang lebih kuat, langsung gak kuat. Merasa mental health-nya terganggu.
 
Ketika Chi gak setuju dengan generalisir kalau Gen Z ke bawah adalah Generasi Strawberry, bukan karena merasa udah jadi ibu yang sempurna bagi Keke dan Nai, Tetap, masih banyak yang harus dipelajari sebagai orang tua, kok. Dalam prosesnya juga mengalami jumpalitan dan terkadang menangis.

Tetapi, selama masih diberi kesempatan, akan terus berusaha memberikan yang terbaik. Meminimalisir dampak buruk dari pola asuh. Salah satunya dengan cara terus update ilmu parenting atau menyimak pengalaman banyak orang.

Berikut beberapa penyebab dari pola asuh yang membuat anak menjadi generasi stroberi:


Selalu Memberikan yang Anak Inginkan

Gak semua keinginan anak harus dituruti! Anak harus tau mana kebutuhan dan keinginan. Termasuk mana keinginan yang gak bagus untuk anak.

Kebanyakan orangtua ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Tetapi, keinginan ini seringkali disalahartikan. Apalagi kalau perekonomian keluarga termasuk yang baik. Apapun permintaan anak bisa dengan mudah dipenuhi karena punya uang.

Padahal selalu memberikan apapun yang anak minta bukanlah hal baik. Lama-lama anak menjadi penuntut. Semua keinginannya harus dipenuhi. Gak peduli orangtuanya keberatan atau tidak.


Semua Dikompensasikan ke Uang

Sekarang semakin banyak orangtua yang sibuk bekerja. Sehari-hari anak bersama kakek nenek atau pengasuh. Tentu Chi gak akan bilang hal ini salah. Karena orangtua Chi juga gitu, kok. Mamah termasuk ibu yang bekerja kantoran.

Orangtua yang bekerja memang akan lebih sedikit memiliki waktu bersama anak. Tetapi, kuantitas gak berbanding lurus dengan kualitas. Minimnya durasi interaksi dengan anak gak bisa jadi alasan tidak memberikan momen berkualitas.

Orangtua yang lebih banyak di rumah pun juga belum tentu memiliki lebih banyak momen berkualitas berasa anak. Kalau kedekatan itu tidak dibangun, ya gak bakal jadi dekat juga.

Sayangnya lagi, beberapa orang tua mengkompensasikan berbagai hal termasuk waktu ke uang. Alih-alih terus menjalin kedekatan dengan anak, malah menggantinya dengan uang. Dipikirnya, semakin banyak uang yang dikasih, anak akan semakin sayang. *Nanti kayak tulisan di truk "Ada uang Abang disayang, gak ada uang Abang ditendang" 😅


Terlalu Menyanjung Anak

Boleh banget merasa bangga sama anak. Memuji pun boleh. Tapi, jangan sampai berlebihan.

Anak tetaplah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebagai orangtua, kita juga bukan manusia sempurna. Jadi, bagaimana mungkin memiliki anak yang sempurna.

Beri apresiasi dan pujian memang baik. Tetapi, sesekali juga perlu mengevaluasi. Kenali karakter setiap anak. Cari tau di mana letak kelebihan dan kekurangannya.

Anak juga perlu belajar mengenali dirinya. Supaya jangan mudah baperan kalau menerima kritikan. Dan juga gak suka merendahkan orang lain karena menganggap dirinya paling sempurna.


Terlalu Meproteksi Perasaan Anak

Jangankan ditegur sama orang lain. Kalau lihat Keke dan Nai lagi ditegur oleh ayahnya aja suka bikin Chi sedih. Padahal paham banget, ayahnya menegur untuk kebaikan anak. Tapi, tetap aja merasa sedih. Rasanya pengen segera meproteksi perasaan anak.

Pernah beberapa kali juga kan ada kasus di mana orangtua gak terima anaknya dimarahi oleh guru. Kemudian orangtua ke sekolah untuk memarahi balik guru tersebut. Bahkan kalau perlu diberi hukuman.

Sebaiknya jangan terlalu memproteksi perasaan anak. Karena anak juga perlu tau rasanya memiliki berbagai perasaan. Jangan taunya senang terus.

Anak perlu belajar mengelola emosinya. Jadi, ketika menghadapi sesuatu gak bersikap berlebihan. Ya itu tadi, kalau ada masalah langsung merasa kena mental health-nya. Padahal sebetulnya masalahnya juga gak seberapa berat.


Gak Tegas ke Anak

Terkadang, suka gak tega membangunkan anak-anak untuk shalat Subuh. Apalagi kalau tidurnya malam karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Tetapi, tetap harus dibangunkan, karena shalat adalah kewajiban.

Terkadang suka merasa bersalah ketika menegur anak. Apalagi kalau sampai dimarahi dan diberi sanksi. Suka jadi merasa orangtua yang tega.

Lama-lama Chi semakin memahami kalau tega dan tegas adalah 2 hal yang berbeda. Tegas bukan berarti tega. Boleh banget membuat aturan yang tegas bahkan kalau perlu memberikan hukuman ke anak. Asalkan tujuannya untuk kebaikan anak. Bukan karena emosi yang gak terkontrol.


Tidak Menjadikan Anak Mandiri

Chi pernah cerita di blog ini kalau dulu gak pernah dibolehin membantu beberes rumah dan memasak. Alasannya karena udah ada asisten. Makanya sampai besar, Chi sempat untuk ambil segelas minum aja manggil bibi. "Biiii ... Tolong ambilin minuuuuum!"

Bersyukur gak menjadi generasi strawberry. Cuma sempat jadi orang yang mageran aja. Makanya terkadang suka takjub sendiri, kalau sekarang bisa melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga termasuk memasak. Tetapi, seriusan untuk bisa mengubah kebiasaanya tuh beraaaat.

Mungkin juga karena beberapa pola asuh yang ditulis di sini gak dilakukan orangtua. Makanya gak 'bermental strawberry'. Tetap ada aturan yang harus dipatuhi, ada sanksi, gak selalu memberikan apa yang diminta, dll. Ya paling hanya gak dibiasakan mandiri.


Gen Z Bisa Menjadi Generasi yang Tangguh


Tahun lalu, ada netizen yang mengeneralisir kalau gen Z dan generasi ke bawahnya adalah Generasi Strawberry. Alhasil opininya menuai protes netizen.

Menurut Chi juga 'lucu banget' opininya. Dia adalah orangtua muda yang memiliki anak kecil. Kalau kemudian beropini mengeneralisir gen Z ke bawah adalah strawberry generation, berarti anaknya juga termasuk, dong!

Kalau begitu, ngapain juga orangtua harus mendidik anak jadi generasi tangguh kalau udah pasti jadi generasi strawberry?

Nah, makanya Chi gak suka digeneralisir. Anak-anak dari generasi manapun, termasuk Gen Z, bisa banget jadi generasi tangguh.

Jadi, sebelum kita menyalahkan generasi muda menjadi generasi strawberry. Lebih baik introspeksi dulu. Apakah kita sebagai orangtua termasuk strawberry parents atau bukan?