Featured Post

Terapi Air Alkali, Pristine 8+, Untuk Kesehatan Lambung

Keringat dingin mulai terasa lagi. Beberapa kali Chi meringis di sepanjang perjalanan ketika perut mulai protes. Rasa diaduk-aduk sehingg...

Rabu, 27 September 2017

Nai dan Pesantren Kilat di Jambuluwuk Puncak Resort

Nai dan Pesantren Kilat di Jambuluwuk Puncak Resort

Ini cerita waktu Nai kelas 5. Setiap bulan Ramadhan suka ada acara buka puasa bersama untuk setiap angkatan. Tetapi khusus anak kelas 5 wajib ikut pesantren kilat selama 3 hari 2 malam. Kalau waktu Keke kelas 5 pesantren kilatnya di hotel Bukit Indah Puncak. Sedangkan untuk angkatan Nai diadakan di Jambuluwuk Puncak Resort.

Berbeda dengan Keke, Nai paling gak mau bepergian tanpa bunda. Kalau hanya field trip sehari aja sih dia masih semangat banget. Tapi kalau harus menginap, nangisnya bisa berhari-hari. Udah gitu nangisnya bukan yang meraung-raung tapi yang diem trus mengeluarkan air mata. Terlihat banyak murungnya gitu.
Tips 1: Chi coba tanya pelan-pelan ke Nai alasan kenapa gak mau jauh dari bunda. Seringkali dia jawabnya, "Gak mau aja." Gak apa-apa juga kalau begitu jawabannya. Pokoknya tarik ulur aja. Sesekali juga tegasin kalau dia harus ikut pesantren karena memang kewajiban dari sekolah.
Kalau kayak gitu, Chi sih pengennya Nai gak usah ikut aja. Tapi ini kegiatan wajib. Bila kelas 5 berhalangan maka saat kelas 6 harus ikutan kalau mau ijazah sekolah keluar. Malah lebih gak enak lagi kan kalau ikut di kelas 6 karena harus bergabung dengan adik kelas.

K'Aie sempat gak tega dan udah siap untuk cuti serta booking villa di Jambuluwuk supaya kami bisa menemani Nai. Chi juga pengennya begitu tapi nanti gak adil untuk Keke. Kalau ada kegiatan sekolah, Keke gak pernah ditemani kecuali memang ada undangan untuk orang tua. Lagipula kalaupun kami ikut menginap di sana juga gak akan boleh mendekati area pesantren. Jadi percuma aja, kan?
Tips 2: Ceritakan juga berbagai hal menyenangkan saat pesantren. Nai sempat ceria ketika dikasih tau bakal ada apa aja saat di pesantren nanti.
Tanpa diduga, sehari menjelang keberangkatan Nai jadi semangat dan ceria. Bahkan seperti biasa, dia mempersiapkan segala kebutuhannya sendiri. Chi hanya tinggal cek dan ricek aja. Tapi begitu saatnya tidur, Nai kembali gelisah dan menangis. Katanya dia takut gak bisa tidur kalau jauh dari bunda. Duh!

Pagi harinya dia kembali ceria bahkan langsung bergabung dengan teman-temannya. Chi dicuekin meskipun gak boleh pulang dulu kalau dia belu naik bis 😂 Untuk barang bawaan, Nai sama aja kayak Keke setiap kali ada acara menginap. Cuma bawa 1 ransel saja. Pokoknya beda banget dibandingkan kebanyakan teman-temannya yang bawa koper besar bahkan beberapa anak lebih dari 1 tas.

Sebelum pulang, Chi titip pesan dulu ke wali kelas. Chi juga ceritain tentang kesedihan Nai. Ya kali aja nanti di sana Nai murung lagi. Walasnya agak kaget karena kalau di sekolah Nai termasuk anak yang mandiri. Ternyata kalau malam hari belum bisa jauh dari bunda.
Tips 3: Ketika orang tua dilarang ikut, wali kelas seharusnya menjadi perwakilan orang tua. Alhamdulillah, guru-guru anak-anak saat SD termasuk yang baik-baik. Chi selalu tenang kalau anak-anak sedang field trip atau menginap untuk acara sekolah meskipun tidak ditemani orang tua.
Besoknya wali kelas Nai nge-WA untuk minta maaf. Katanya semalam Nai menangis gak bisa tidur. Trus dia ditemani temannya tturun ke bawah untuk mengetuk pintu kamar wali kelas. Tapi gak dibuka pintunya karena walas udah terlanjur pulas. Akhirnya Nai masuk lagi ke kamar hingga dia tertidur.

Wali kelas minta maaf karena gak terbangun saat Nai mengetuk pintu. Chi bilang gak apa-apa asalkan Nai udah kembali ceria. Kalau kata walasnya sih udah ceria lagi pas bangun. Dan Nai dijanjiin bakal dibolehin telpon ke bunda saat sore hari.

Sore harinya, Nai telpon. Udah diduga deh dia menangis ketika ngobrol. Chi juga jadi ikutan nangis. Nai gak minta pulang, nangisnya juga gak jejertitan cuma suaranya aja yang terdengar seperti menangis.

Setelah ngobrol sama Nai, lanjut ngobrol sama walas. Menurutnya, Nai sebetulnya cukup mandiri. Termasuk kalau mau mandi atau sekadar ke toilet gak pernah minta ditemani. Cuma saat malam hari aja ada kejadian Nai menangis karena ingat bunda.

Chi berusaha untuk gak mengingat Nai selama di sana. Ya kan katanya bonding antara ibu dan anak itu kuat. Kalau ibu gelisah, anak juga jadi gelisah. Makanya Chi tetap berusaha untuk tidur selama Nai di sana.

Hari ketiga pun tiba, Chi seneng banget bisa ketemu Nai lagi. Nai walaupun terlihat letih juga sangat senang. Di mobil dia cerita ngapain aja selama di sana. Intinya sih semua kegiatannya menyenangkan. Kalau lihat dari foto-foto yang dikirim walas pun Nai terlihat ceria.

Bunda: "Malam kedua adek masih gak bisa tidur?"
Nai: "Enggak, Ima bisa tidur."
Bunda: "Tapi nangis dulu."
Nai: "Enggak juga. Kan malam kedua dibebasin mau tidur sama siapa aja asalkan dari villa yang sama. Trus Ima pilih sekamar sama temen tapi ngobrol dulu sampe ngantuk. Akhirnya tidur, deh. Tapi jadi malam banget tidurnya karena ngobrol."
Bunda: "Nah, Ayah dan Bund ajuga bilang begitu, kan?"
Nai: "Iya hehehe."
Tips 4: Kami tidak memaksakan Nai untuk berani ketika dia bilang khawatir gak bisa tidur kalau jauh dari bunda. Kami menawarkan solusi. Kami bilang ke Nai supaya ngobrol atau cari kegiatan apapun sampai ngantuk biar gak keingetan bunda terus. Awalnya Nai gak yakin bisa tapi akhirnya dia mencoba juga.
Yah begitulah cerita Nai saat pesantren kilat. Tiap anak memang punya cerita masing-masing. Anatara Keke dan Nai aja ceritanya berbeda 😁

[Silakan baca: Pesantren Kilat Antara Terharu dan Cerita Lainnya]

7 komentar:

  1. Ntah kalo Nai dan Keke udah gede mereka bakal punya pilihan sendiri pengennya gimana, nikmati aja sekarang sambil bikin buat adeknya lagi *eh

    BalasHapus
  2. Asik ya disekolah Nai ada pesantren kilat. Hemmm...pasti momen mengharukan saat pisah sebentar atau pun lama dgn anak. Salah satu pasti mewek. Hehehe...merasakan juga soalnya setelah jd ibu. Sayangggg bget ama si buah hati...hehehe

    BalasHapus
  3. Kdg aku kagum ama anak yg bisa kuat banget bondingnya ama ortu gini. Aku kok pas seumuran Nai, malah seneng banget tiap jauh dr ortu. Tp hrs diakui, hub ku ama ortu dulu memang ga deket sih mba. Jd kalo ada kesempatan bisa menjauh kyk acara pesantren kilat gini, aku paling happy biasanya..

    BalasHapus
  4. Pesantren kilat akan mengajarkan anak mandiri dan mengatasi masalahnya sendiri, bagaimana dia harus bertindak dan bersikap.


    Apalagi kalau pesantren beneran jangka panjang. Akan semakin buanyak pelajaran hidup yg didapat anak. Tapi ini butuh keteguhan hati orang tua

    BalasHapus
  5. Jadi ingat dulu sering ikut pesantren kilat, dampaknya biasa mandiri

    BalasHapus
  6. selalu ada fase bagi anak, pada saatnya dia akan mandiri juga

    BalasHapus
  7. Anakku hampir semuanya merasa 'merdeka' kalau nginep di tempat neneknya atau om-nya. Kayaknya mereka mau bilang ' udah sana Ibu pulang sana' hahahaha. Ga ada mewek2nya.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge