Sabtu, 06 Februari 2016

Melarang Anak Boleh Saja Asal ...

Baidewei, sekarang udah masuk musim hujan. Teman-teman termasuk yang melarang anak mandi hujan, gak? :)

Jadi begini ... Teman-teman mungkin pernah baca artikel yang katanya gak boleh mengucapkan kata 'jangan' ke anak. Berbagai macam artikel tentang pelarangan tersebut dibahas dari berbagai sudut pandang. Gak sedikit juga yang akhirnya membuat postingan balasan berlawanan.

Kalau Chi, termasuk yang tidak 'mengharamkan' kata 'jangan' kepada anak. *Berarti Chi termasuk yang kontra, ya? :D* Ya, tapi kalau dibaca lagi isi artikelnya, rasanya Chi bisa paham kenapa kemudian ada artikel seperti itu.

Kata 'jangan' biasanya identik dengan larangan. Jangan jajan sembarangan. Jangan loncat-loncat. Jangan larut malam. Jangan dekati anak itu. Jangan ... Jangan ... Dan, jangan lainnya ... Seringkali ketika kata 'jangan' itu ditujukan ke kita, bawaannya udah kesel duluan. Ngapain, sih, ngelarang-larang? Mungkin begitu pikirnya, ya. Gak heran kalau anak pun suka kesal. Tapi, buat Chi melarang anak boleh saja, asal ...

Dikasih penjelasan.

Di salah satu artikel tentang pelarangan kata 'jangan' kepada anak yang Chi baca, alasannya adalah karena kata 'jangan' itu negatif. Usia anak-anak adalah masa dimana mereka masih sulit menerima kata negatif. Masa dimana masih sulit untuk dilarang.

Oke, mungkin memang ada kajian ilmiahnya dan Chi gak akan berdebat di sana karena memang bukan ahlinya. Tapi, sebelum menyatakan pro atau kontra, Chi coba pikir begini ... Bagaimana reaksi kita ketika melihat artikel yang berjudul "Orangtua Dilarang Mengatakan 'Jangan' Kepada Anak-Anak."

Kalau Chi, sih, dibaca dulu artikelnya. Karena sering kejadian, sebuah judul artikel terkesan menghebohkan. Padahal setelah dibaca isinya, kita akan berkata, "Oooh ... Itu maksudnya." Tapi, banyak juga yang baru baca judul udah langsung kesal trus langsung share sambil kasih kata pengantar yang begini-begitu. Nah, kalau kita yang dewasa aja bisa langsung kesal ketika mendengar/membaca kata 'jangan', mungkin ada benarnya alasan dari larangan itu. Anak-anak akan kesal dan akhirnya gak mau nurut.

Tapi, (sekali lagi) Chi bukan ibu yang anti dengan kata jangan ...

Sering juga Chi melarang Keke dan Nai. Jangan begini ... Jangan begitu ... Tapi, sebisa mungkin selalu dibarengi dengan alasan. Memang gak selalu sukses saat itu juga. Yang namanya dilarang memang ngeselin. Keke dan Nai aja sering protes kalau dilarang. Buat Chi dan K'Aie, kuncinya adalah menjelaskan. Kalau mereka belum ngerti juga, ya, jelaskan lagi. Begitu terus dan harus konsisten.

Memang ada beberapa larangan dimana kami sebaiknya kompromi. Belum tentu karena gak konsisten. Lihat situasi dan kondisinya juga. Misalnya, larangan tidur lebih dari pukul 9 malam. Kalau lagi weekend atau musim liburan, biasanya kami agak sedikit longgar. Boleh sedikit larut malam, tapi paling hanya sampai sekitar pukul 10 malam saja. Atau saat tahun baru lalu, Keke ikutan begadang saat kumpul keluarga besar. Ya, Chi dan K'Aie bolehin, lah. Itu, kan, situasional bukan menjadi kegiatan rutin.

Chi beberapa kali melihat anak nangis di jalanan karena ingin dibelikan mainan. Biasanya karena keinginannya gak dipenuhi. "Pokoknya gak boleh!" Setelah masing-masing bersikeras, biasanya suka ada yang 'kalah'. Kalau orang tua yang sampe 'kalah' alias menuruti keingingan anak, biasanya diturutinnya sambil ngomel. Hayoo .. Iya, kan? Hehehe ...

Keke dan Nai juga pernah merengek minta dibelikan mainan ketika sedang di mall atau di tempat wisata. Kami jelaskan kalau mereka sudah ada jatah dan waktunya untuk beli mainan. Kalau mereka gak nurut, jelasin lagi. Masih gak nurut juga, ajak pulang. Selama ini, sih, belum pernah ngambek yang sampe tantrum karena gak diturutin. Mungkin karena tau kalau permintaan mereka akan sia-sia :D

Dengarkan alasan.

Walaupun sudah memberikan penjelasan saat melarang, sebaiknya dengarkan juga alasan mereka. Kenapa mereka ngambek? Kenapa mereka melakukan itu? Biar anak juga merasa dihargai pendapatnya.

Bunda: "Keke! Jangan begitu sama adeknya!"

Pertama kali Chi membentak Keke adalah ketika Nai masih bayi. Sebetulnya, bentakan Chi itu spontan. Melihat Keke menarik tangan Nai yang masih bayi. Bayi yang usianya belum sampai 3 bulan, kan, masih rapuh banget. Chi khawatir aja Keke menarik tangan Nai terlalu keras. Kadang Keke juga gak mau diam bila di dekat adeknya. Bikin Chi (lagi-lagi) membentaknya. Walaupun udahannya feeling guilty banget.

Keke: "Keke cuma mau main sama adek, Bunda. Memang gak boleh?"

Duh! Chi sempat salah sangka. Chi pikir Keke seperti itu karena cemburu sama adiknya. Ternyata Keke hanya ingin mengajak adiknya bermain. Makanya, dia akhirnya bingung kenapa bundanya jadi sering membentak. Chi jadi sadar kalau bertanya dan mendengarkan alasan anak juga sama pentingnya.

Saat itu Keke masih berusia 2 tahunan. Wajar kalau dia masih belum paham bagaimana bermain bersama bayi. Apalagi bayi yang baru lahir. Dia pikir semuanya bisa bermain seperti yang dia mau. Udah bisa langsung diajak loncat-loncatan, lari-larian, dan lain sebagainya. Kalau sudah tau masalahnya, berarti Chi tinggal menjelaskan disesuaikan dengan masalah yang ada. Jangan lupa, disampaikan dengan cara berpikir anak sesuai usianya.

Untuk banyak hal Chi dan K'Aie juga masih menggunakan kata 'jangan'. Tapi, sering juga memutar akal supaya menghindari kata 'jangan'. Misalnya anak-anak mulai corat-coret tembok di ruangan yang gak boleh corat-coret. Daripada bilang jangan, Chi lebih memilih bilang, "Kayaknya Bunda pernah bilang kalau mau corat-coret di tembok bolehnya di kamar aja, deh. Pindah, yuk, ke kamar. Biar puas corat-coretnya." :)

Bagaimana dengan teman-teman? Bagaimana menanggapi kata 'jangan' untuk anak? :)

post signature

9 komentar:

  1. Melarang anak2 kudu penting juga ya Mba..tetapi harus diberikan pengertian dan alasan2 kpd mereka kenapa dilarang..

    BalasHapus
  2. Penjelasannya ,, alasannya juga kudu yang bisa diterima anak ya mak..

    BalasHapus
  3. Terus terang saya enggak pernah menggunakan kata 'jangan', karena biasanya anak kecil kalo dilarang malah dikerjakan. Jadi saya biasanya jelasin dengan bahasa yang mudah dipahami serta akibatnya kalo anak-anak melakukan sesuatu yang buruk. Saya pilihkan alternatifnya gitu, mbak

    BalasHapus
  4. Kadang nggak sadar masih suka pake kata "jangan" ini. Padahal waktu kuliah di PG PAUD ada materi tentang ini..hehe

    BalasHapus
  5. yessss... yang penting kudu 'hadir' kasih pengertian dan siap mendengarkan...

    BalasHapus
  6. Kalau ngelarang keseringan malahan digigit :D

    BalasHapus
  7. aku juga sama dg alasan , krn kalau anak-anak tiba2 mendekati hal yang berbahaya masa kita gak boleh bilang jangan sih!!!!. begitu juga saat anak abg dan dewasa aku selalu membatasi mereka dg kata jangan dg alasan . lalu anak-anak akan memberikan beberapa masukan dan kita bahas bareng2. Saat melanggar dia akan merasa menyesal krn apa yg dibilang ortu benar.

    BalasHapus
  8. Menjadi orangtua jaman sekarang musti pintar ya Mbak
    mendidik anakpun ada ilmunya
    Beda dengan jaman saya dulu, anak2 nuruutt saja

    BalasHapus
  9. Hmm.. Aku zaman dulu kalau mau mainan ga pernah dilarang sih, mba. Biasanya, orang tuaku dulu mengiyakan apa yang aku minta dan dijadikan hadiah sama mereka.

    "Mau ini.. Boleh ga?" dan dijawab "Boleh, asalkan rajin makan sayur!" ya seperti itulah. Entah nanti aku punya anak bakalan ngelarang apa ga :)

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge