Minggu, 29 November 2015

Normal vs Caesar Lebih Sakit Mana?

Normal vs caesar lebih sakit mana? Hmm ... sebetulnya Chi gak bisa menjawab secara pasti karena dua kali melahirkan semuanya dilakukan dengan operasi caesar. Bedanya waktu melahirkan pertama, caesarnya spontan setelah bukaan komplit dan berusaha untuk mengejan. Kemudian dengan beberapa pertimbangan dari dokter, diputuskan untuk caesar saat itu juga. Kalau kelahiran yang kedua, operasi caesarnya sudah direncanakan. Terkena plasenta previa sehingga sangat disarankan untuk caesar. Ya, walopun keduanya caesar, setidaknya Chi sudah merasakan sedapnya mules ketika mau melahirkan. Sampe lengkap pembukaannya hehehe.

Setelah masuk ruang inap, dikamar sudah ada 2 orang ibu yang lebih dulu melahirkan. Chi memang sengaja pilih kamar kelas 2 yang isinya untuk 3 orang ibu. Chi pikir selama proses melahirkan tidak memerlukan perhatian khusus alias dilancarkan, kayaknya kelas 2 juga cukuplah. Biar di kamar juga gak sepi hehehe *Bilang aja penakut :p

Kamis, 26 November 2015

Seberapa Penting Melengkapi Kotak P3K di Rumah?

Seberapa penting melengkapi kotak P3K di rumah? Sebelum dijawab, kepoin dulu aja isi kotak P3K yang ada di rumah Keke dan Nai, ya :)

Obat Penurun Panas

Obat penurun panas selalu kami sediakan. Waktu mereka masih balita, kami hanya menyetok 1 merk penurun panas karena memang merk itu yang cocok. Kalau sekarang sih merk apa aja asalkan kandungannya paracetamol. Keke dan Nai gak cocok dengan obat penurun panas berbahan ibuprofen. Pasti gak lama setelah mengkonsumsi obat yang mengandung ibuprofen suka menangis karena lambungnya sakit. Ternyata, setelah Chi cari tau, ibuprofen memang bisa berefek ke lambung kalau gak cocok. Paracetamol cenderung aman untuk Keke dan Nai.

Walopun selalu menyediakan obat penurun panas, gak otomatis begitu mereka demam langsung dikasih obat, lho. Tunggu sampai suhu tubuhnya mendekati angka 38 derajat celcius baru dikasih obat sesuai dosis. Kalau sampai 3x24 jam belum sembuh juga, bawa ke dokter anak. Tapi kalau sudah diatas 39,5 suhu tubuhnya, Chi langsung bawa mereka ke dokter walopun belum 3 hari.

Selasa, 24 November 2015

Aaahh ... Jerawat!

Temen A: "Ke, kok jerawatnya lama ilangnya, sih?"
Keke: "Gw sih santai aja karena semua pasti ada hikmahnya. Kalau muka gw udah gak jerawatan nanti kegantengan gw balik. Kalau gw balik ganteng, ntar dikejar banyak cewek. Cape dong gw dikejar-kejar."

Hehehe itulah obrolan Keke dengan salah seorang temennya. Salah satu ciri anak puber itu memang gak cuma suara aja yang berubah. Fisik pun mengalami beberapa perubahan. Keke semakin tinggi sekarang, perutnya semakin langsing. Bahkan Chi mulai kalah tinggi sama Keke. Mukanya mulai berjerawat di sana-sini.

Untuk urusan jerawat, Chi gak pernah melihat dia risau. Memang ketika di awal puber, Keke sempat gampang uring-uringan sikapnya. Udah gitu lebih senang menyendiri. Pokoknya Chi sempat rada jumpalitan menghadapi sikapnya, lah. Menurut beberapa artikel memang salah satu ciri anak puber seperti itu. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai terlewati. Chi juga sudah berbagi melalui tulisan sebelumnya, yaitu "Jumpalitan dan Tip Menghadapi Anak Puber"

Setelah masa jumpalitan sedikit demi sedikit terlewati, ada hal baru lagi yang terjadi pada Keke. Chi perhatiin dia sekarang lagi memperhatikan penampilnnya. Terutama di bagian rambut. Kalau mau sekolah, suka rada lama dia berkaca untuk merapikan rambut. Padahal dulu mah boro-boro peduli sama urusan rambut.

Minggu, 22 November 2015

Kenapa dan Kapan Butuh Me Time?

Kenapa dan kapan butuh me time? Butuh me time supaya pikirna gak mumet. Dan, Chi butuh me time setiap hari hehehe. Udah berarti segini aja postingannya :p *enggak, ding ...*

Me time dibutuhkan untuk menjaga pikiran tetap waras. Begitu menurut kebanyakan orang. Iya, sih, Chi juga merasa kalau abis menikmati me time pikiran dan suasana hati kayak di charge lagi. Rasanya kalau udah lama gak me time pengen teriak. Bawaannya uring-uringan.

Chi pernah dengar saran kalau me time itu sebaiknya dilakukan secara berkala. Jangan tunggu sampai hati udah keburu lelah. Nanti me timenya kayak orang kalap. Gak akan ada puasnya. Begitu me time selesai, kembali jadi uring-uringan.

Semua orang bahkan bayi sekalipun membutuhkan me time. Tapi, yang paling sering terlihat berteriak menginginkan me time sepertinya kaum perempuan. Itu dikarenakan perempuan lebih kompleks. Mau perempuan rumahan kayak Chi atau pekerja sekalipun, tugas perempuan lebih kompleks. Ditambah lagi perasaan perempuan yang lebih sensitif. Bahkan ada masa-masa' dimana perempuan suka kelihatan lebih galak. Tau lah .. itu yang dinamakan PMS hehehe. Ya perempuan seringkali terlihat membutuhkan me time.

Me time juga gak perlu selalu menghabiskan waktu banyak, kok. Dan, gak perlu juga selalu menghabiskan biaya mahal. Setelah membaca blog Happy Fresh, ternyata me time juga bisa dilakukan secara sederhana.

Kalau teman-teman, kenapa dan kapan butuh me time, nih? Yuk, sesekali kita me time :)

post signature

Sabtu, 21 November 2015

Debat Kusir dengan Anak? Bikin Cape

Rio *bukan nama sebenarnya*: "Mah, kalau makannya gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Harus habis."
Rio: "Tapi kalau gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Harus habis! Biasanya juga habis."
Rio: "Iya, tapi kalau gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Mama kan udah bilang harus habis!"

Nada mama Rio semakin meninggi terlebih Rio menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya, Mama Rio menjadi marah. Rio juga ngambek karena gak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Acara makan jadi bubar jalan. Chi pun geleng-geleng ngelihatnya. Debat kusir dengan anak memang bikin cape.

Iya, Chi memang melihat kejadiannya. Chi juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Biasanya kalau lagi begitu karena Chi lagi cape. Maunya anak langsung nurut sama orang tua. Kalau disuruh A ya harus melakukan A. Gak usah pake bantah, pokoknya nurut. Maksudnya biar cepet supaya Chi bisa istirahat. Namanya juga anak-anak, dikasih jawaban belun tentu selesai. Bisa-bisa nyambung dnegan berbagai pertanyaan kenapa. Tapi langsung memaksa mereka menurut juga gak jaid solusi, nyatanya malah urusan jadi panjang. Bahkan emosi jadi kepancing juga. Keduanya sama-sama cape, tapi pilih mana?

Chi punya beberapa solusi, berdasarkan pengalaman pribadi tentunya.

Kamis, 19 November 2015

#IndonesiaDigitalNation - Harapan Sederhana dari Seorang Ibu Penjual Buah



Chi tersenyum melihat video di atas. Ibu Sri Yatmi, seorang penjual buah, menyadari kalau internet dibutuhkan bagi anak-anak sekolah. Sekarang banyak tugas sekolah di jenjang apapun memerlukan internet. Apakah ibu Sri Yatmi juga akrab dengan dunia internet? Ternyata tidak. Ibu Sri hanya berharap internet tidak membawa dampak yang aneh. Pokoknya yang positif aja, lah.

Cukupkah hanya sekadar berharap, sedangkan kita adalah orang tua yang gaptek?

Teman-teman suka nonton serial CSI Cyber? Kalau parnoan, rasanya pengen jauh-jauh deh dari dunia internet. Tapi, bagaimana mungkin bisa menjauh kalau ternyata kejahatan cyber bisa menyentuh lapisan apapun. Bahkan bagi kita yang tidak internetan sekalipun bisa ikut menjadi korbannya. Karena kejahatan cyber yang diceritakan gak cuma sekadar akun socmed yang dihack.

Di salah satu episode diceritakan seorang anak tewas tertembak. Setelah diinvestigasi, korban ternyata penggemar berat game online. Diimingi-imingi oleh salah satu akun akan diberi banyak hadiah game asalkan mau jadi kurir. Korban pun setuju tapi karena ketakutan, barang yang dibawa yang ternyata senjata terjatuh dan melesatkan peluru ke tubuhnya.

Awalnya orang tuanya gak percaya. Dengan menunjukkan tampilan tab anaknya yang terlihat bersih dan aman, orang tuanya menganggap tim CSI telah salah. Mereka juga selalu mengingatkan dan mengecek tab anaknya. Orang tuanya dkasih tau kalau di tab anaknya itu ada aplikasi parenting control. Aplikasi ini harusnya untuk orang tua. Digunakan untuk menyembunyikan berbagai aplikasi yang dianggap terlarang bagi anak untuk dilihat. Tapi orang tuanya gaptek, aplikais parenting control yang seharusnya mereka yang punya kuasa justru malah anaknya yang menggunakan untuk menyembunyikan berbagai aplikasi. Begitu dibuka, kagetlah orang tuanya karena ternyata di dalam tab banyak diinstal aplikasi yang berbahaya bagi anak.

Chi yakin dalam dunia nyata banyak kejadian seperti itu. Anak lebih cepat mengikuti penrkembangan dunia maya dibanding orang tua. Chi salah satu contohnya. Beberapa kali, Chi lihat Keke dan Nai lebih tau aplikasi apa aja yang lagi hits. Untungnya mereka selalu bercerita dan selalu minta izin kalau mau install. Chi juga beberapa kali minta tolong ke anak-anak untuk urusan digital. Seperti beberapa hari lalu, HP baru aja diupgrade, eh banyak tampilan yang berubah trus Chi mendadak gaptek lagi, dong. Cara tercepatnya adalah nanya ke anak-anak. Kenapa bukan Tanya ke K’Aie? Karena nunggu dia pulang kantor bakalan lama ajah hehehe. Dan, terbukti cukup dengan tanya ke anak-anak udah bisa dapat jawaban cepat :D

Internet memang seperti 2 sisi mata pisau. Kalau cuma mikir kejahatannya aja memang bikin seram. Tapi, sebetulnya banyak banget hal positif yang bisa didapat dari internet. Dampak yang paling Chi rasain ketika ada internet adalah:

Blogging

Sebagai blogger, udah pasti internet adalah salah satu perangkat ‘perang’ utama yang dibutuhkan. Udah banyak banget manfaat yang Chi dapatkan dari dunia blog. Chi bisa menuliskan beratus-ratus bahkan sekarang sudah lebih dari seribu catatan kehidupan kami terutama anak-anak. Catatan digital yang bisa kapanpun kami baca untuk bernostalgia. Dari sebuah catatan perjalan, berbonus pertemanan, networking, hingga pundi-pundi uang.

Teman Belajar

Hari gini, siapa yang belum pernah mengandalkan Google untuk mencari berbagai info? Kalau zaman Chi kecil dulu mungkin andalannya buku ensiklopedia. Tapi kalau sekarang, Google lah yang menjadi andalan. Karena kita membutuhkan informasi secara cepat.

Sejak kurikulum sekolah menjadi tematik, internet semakin dibutuhkan. Tapi apapun kurikulumnya, Chi gak pernah memposisikan diri sebagai orang yang paling tau di depan anak-anak. Ada kalanya ketika anak mengalami kesulitan belajar dan Chi gak tau jawabannya, kami bersama-sama mencari tau lewat internet.

Sebetulnya gak hanya 2 hal itu aja, sih. Banyak banget manfaat yang bisa Chi rasain. Bisa dikatakan internet buat Chi saat ini gak hanya untuk berkomunikasi dan belanja online, tapi berbagai kegiatan sudah bersentuhan dengan internet.

Harapan Chi untuk dunia internet ini sangat besar. Zaman globalisasi tentu aja kebutuhan internet semakin dibutuhkan. Chi sih berharap kecepatan internet di Indonesia semakin baik karena katanya kecepatan internet di kita masih jauh dibandingkan negara lain. Tapi, kecepatan yang jauh aja, pengguna internetnya Chi yakin semakin banyak. Nah, harapan Chi selanjutnya adalah semakin banyak yang menggunakan internet untuk hal positif. Cape gak, sih, setiap kali buka social media yang dlihat Cuma nyinyir sana-sini, atau pada debat kusir yang gak jelas? Padahal seharusnya dunia internet dimanfaatkan untuk saling berbagi informasi bermanfaat. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Perkembangan internet memang dibutuhkan, tapi perkembangan dewasa dalam berinternet juga seharusnya mengikuti.

Teman-teman pernah lihat web www. Indonesiadigitalnation.com? Coba buka webnya, deh. Banyak video yang mengispirasi dari berbagai lapisan masyarakat yang sudah merasakan manfaatnya internet. Ya, banyak-banyakin aja melihat yang positif di dunia internet biar bisa mengurangi dampak negatifnya :)  

post signature

Rabu, 18 November 2015

Undangan pernikahan, kok begini?


Foto milik: For The Love of Stationary
Sumber: Bridestory

“Undangan pernikahan, kok begini? Mirip kayak undangan ulang tahun M** (menyebut salah satu nama resto fastfood yang sering ngadain acara ulang tahun buat anak-anak)”, ujar salah seorang sesepuh di keluarga Chi. Gak ditanggapi, hanya nyengir mendengarnya. Chi pikir yang penting orang tua udah setuju.

Undangan pernikahan Chi dan K’Aie saat itu memang hanya selembar. Konsepnya memang mau dibikin seperti kartu pos. Tapi, sesepuh malah ingetnya kayak kartu undangan ulang tahun hahaha.

Undangan yang hanya selembar itu, satu sisinya menampilkan foto Chi dan calon suami. Fotonya juga cuma lewat photo box yang hasilnya kami scan. Kemudian, kami utak-atik lewat photoshop biar gak kelihatan photo box banget hihihi. *maaf, Chi gak kasih lihat contoh undangannya, ya. Karena waktu itu belum berhijab* Dikasih tulisan juga nama kedua mempelai. Di sisi lainnya, berisi beberapa detil yang memang harus ada di setiap undangan pernikahan. Warnanya kami bikin sephia biar terkesan alami seperti warna tanah.

Senin, 16 November 2015

Ngeblog Asyik Itu Diawali Dari Niat

Ngeblog asyik itu diawali dengan niat. Awal November lalu, Chi sekeluarga camping ke Tanakita. Kali ini, kami camping di riverside, salah satu new camp area Tanakita (sekarand Tanakita punya 4 camp area). Pilih di sana karena memang udah gak ada pilihan lain. Semua area penuh hehehe.

Di riverside ini suasananya tenang banget. Camping di pinggir sungai, aktivitas yang terdekat ya bermain air di sungai. Kalau mau kegiatan lain seperti yang selama ini biasa kami lakukan, harus berjalan kaki dulu. Naik kendaraan pribadi atau carter angkot juga boleh kalau males ngos-ngosan :D

Gak cuma rada jauh dari aktivitas. Di riverside juga susah signal internet.Jadi, selama 2 hari 1 malam di sana, kami benar-benar family time. Ya, sesekali Chi memang buka laptop untuk ngedraft tulisan. Dan, jadilah sekitar 5 draft tulisan selama disana yang siap untuk dipublish.

Membuat 5 draft tulisan selama di sana, gak terlalu mengurangi family time, kok. Karena ternyata, yang selama ini banyak menyita waktu adalah godaan untuk bersocmed. Buat Chi, socmed itu gak cuma menguntungkan tapi juga godaan. Ketika membuat 1 postingan aja bisa berlama-lama, ternyata kalau dipikir lagi waktu terlama adalah karena tergoda socmed melulu huahahaha! Nah, karena di sana gak ada signal internet sama sekali, jadi Chi bener-bener fokus.

Kalau lihat perkembangannya, dunia blog sekarang ini semakin ramai, ya. Bahkan gak sedikit brand yang mulai melirik blogger sebagai perpanjangan marketing. Selain biayanya lebih murah, blogger juga dinilai mampu menyampaikan pesan secara viral. Sebut aja beberapa blogger ternama yang seringkali bikin blogger lain iri karena kesuksesan mereka.

Lalu apa hubungannya camping dengan monetize blog?

Minggu, 15 November 2015

Anak Berulah, Belajar Dari Siapa?

Anak berulah, belajar dari siapa? "Anak saya kuat banget jajannya di sekolah, Teh. Setiap hari pasti minta jajan. Mana dia udah tau duit. Kalau minta jajan selalu bilang pengennya yang biru. Tau lah belajar dari siapa. Kami orang tuanya gak pernah ngajari begitu."

Seseorang yang Chi kenal bercerita tentang anaknya yang masih TK tapi seneng banget jajan kalau di sekolah. Sebetulnya kami ngobrol berbagai macam topik. Salah satunya tentang anak-anak.

Kalau dipikir-pikir lagi, atau coba dibalikin ke diri sendiri, pernah atau sering gak ketika anak berulah trus langsung ngebatin sendiri 'belajar dari siapa, sih? Perasaan gak pernah ngajari begitu?' Kalau Chi pernah, bahkan lebih dari sekali. Pertanyaan selanjutnya adalah apa trus cuma diam aja?

Pernah satu hari Keke bercerita kalau beberapa teman di sekolahnya, terutama yang perempuan, seneng nonton sinetron GGS *Udah pada tau dong GGS singkatan dari apa? Hehehe*. Keke bisa menceritakan lho seperti apa jalan cerita GGS. Bahkan dia tau siapa aja pemainnya.

Ketika mendengarkan Keke bercerita, dalam hati Chi rada membatin 'Duh, Keke kenal juga sama sinetron.' Rasanya rada kesel juga karena di rumah bisa dikatakan steril dari yang namanya sinetron. Lebih memilih beberapa channel di tv kabel atau televisinya dipake buat main game. Tapi kalau Chi cuma sekadar membatin atau nyimpen kesel sendirian kayaknya gak bagus juga. Dan, gak mungkin juga melarang Keke bermain dengan temannya hanya karena mereka suka nonton sinetron.

Kamis, 12 November 2015

Happy di Hari Ayah Nasional


Happy di hari Ayah Nasional. Etapi kayaknya setiap hari berusaha dibikin happy aja, deh *apaan, Bunda setiap hari main hayday cerewet melulu! Mungkin anak-anak akan jawab begitu wkwkwk*

Teman-teman, tahukah kalau hari ini adalah Hari Ayah Nasional? Hari Ayah memang gaungnya belum seperti Hari Ibu. Padahal Ayah juga punya peran penting dalam pola asuh anak. Tapi, kali ini Chi skip dulu ah ngobrolin serius tentang parenting. Obrolin yang ringan aja tentang sosok ayah :)

Tanggal hari Ayah di berbagai negara berbeda-beda. Tapi yang terbanyak adalah minggu ke-3 di bulan Juni. Amerika dan lebih dari 75 negara lainnya termasuk negara tetangga, Malaysia, hari Ayah jatuh di minggu ke-3 Juni. Di Indonesia, hari Ayah jatuh pada tanggal 12 November

Konon, sejarah terbentuknya hari Ayah Nasional pemrakarsanya justru bukan para ayah tapi para ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Putra-Putri Ibu Pertiwi. Deklarasi yang dilakukan pada tanggal 12 November 2006 ini dilakukan di Pendapi Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah. Ayah dianggap sebagai sosok penting dalam keluarga yang juga ikut membentuk karakter pada anak. Itulah alasan dibalik adanya deklarasi Hari Ayah.


Rabu, 11 November 2015

Sedia CNI Ester-C Sebelum Hujan


Sedia CNI Ester-C sebelum hujan, yuk! Sekarang kan udah mulai masuk musim hujan. Selalu sedia payung aja gak cukup, lho. Butuh juga asupan yang baik bagi tubuh. Sebetulnya gak hanya saat musim hujan aja, Chi merasa butuh Ester-C. Ini ada 3 alasan kenapa Ester-C dibutuhkan oleh Chi.

Membantu menjaga stamina tetap fit terutama saat musim hujan

Diantara 2 musim, kemarau dan hujan, Chi paling suka musim hujan. Rasanya pengen mandi hujan terus *eh :p* Walopun seringkali Chi harus khawatir apabila hujan turun di malam hari saat K'Aie belum pulang. Ketika curah hujan sedang tinggi, bisa hampir tiap hari dia kehujanan. Kalau gak dijaga staminanya mungkin akan mudah sakit. Biasanya, nih, 3 penyakit yang suka mengintai saat musim hujan adalah influenza, diare, dan demam berdarah.

Mengencangkan kulit

Apakah perempuan harus bermake-up? Mungkin jawabannya bisa beragam. Tapi apakah perempuan harus menjaga kesehatan kulit? Chi yakin mayoritas akan menjawab iya. Kita boleh aja gak suka atau gak biasa bermake-up tapi bukan berarti harus cuek dengan muka yang kusam dan kasar. Apalagi menjelang usia 35 tahun ke atas biasanya problemnya makin bertambah, deh. Mulai timbul flek hitam hingga keriput halus.

Senin, 09 November 2015

Pilah-Pilih Sekolah

Dalam beberapa bulan ke depan, saat tahun ajaran baru berganti, Keke akan mulai menyandang status baru menjadi anak SMP. Chi pun semakin gencar pilah-pilih sekolah untuk Keke. Dari dulu, Chi selalu punya kebiasaan mencari sekolah untuk anak-anak, terutama Keke, sejak paling tidak 2 tahun sebelumnya. Kenapa terutama Keke, karena Nai biasanya tinggal ngikut aja pilihan sekolah yang udah duluan dimasukkin kakaknya. Lagipula Nai selalu setuju, Dia seneng kalau bisa sekolah bareng kakaknya. 

Malah dulu waktu Keke mulai SD dan Nai masih di TK, sempat untuk beberapa saat Nai sedih karena kakaknya udah gak ada di sekolah. Selama 2 tahun mereka sempat pisah karena bersekolah di 2 tempat berbeda. Nah, menjelang Keke masuk SMP ini, Nai udah dibilangin kalau kemungkinan akan pisah sekolah. Memang masih ada kemungkinan Keke akan sekolah di tempat yang sama dengan SDnya sekarang. Tapi, ada beberapa alternatif sekolah pilihan lain yang kami tuju.

Sejak kelas 5, Chi sudah mulai memikirkan sekolah lanjutan untuk Keke. Di awal lebih banyak diisi dengan pedebatan antara Chi dan K’Aie. Negeri vs Swasta yang menjadi perdebatan kami berdua. Chi pilih swasta dengan alasan jumlah murid per kelas lebih sedikit dan lokasi dekat dengan rumah. Malah masih di lokasi yang sama, jadi Chi gak terlalu ribet kalau harus antar jemput anak. Keke bahkan udah terbiasa naik sepeda ke sekolah kalau lokasinya dekat. Kekurangannya memang di biaya karena udah pasti mahal. Tapi, pengalaman selama ini, sih, walopun mahal tidak ada biaya ini-itu lagi selama tahun ajaran berlangsung. Cukup sekali bayar aja setiap menjelang tahun ajaran baru.

Rabu, 04 November 2015

Anak Bersikap Kritis. Positif atau Negatif?


Anak bersikap kritis. Positif atau negatif?

Beberapa kali ketika Chi bercerita tentang Keke atau Nai di blog ini atau di social media, suka ada aja yang berpendapat kalau mereka adalah anak-anak yang kritis. Sebetulnya, gak cuma Keke dan Nai yang sering dibilang anak kritis. Seringkali Chi perhatiin setiap ada anak yang berani berpendapat selalu ada aja yang komen kalau anak tersebut kritis.

Reaksi pertama Chi ketika ada yang menganggap Keke dan Nai adalah anak kritis adalah senang. Chi anggap itu komentar yang positif. Tapi, lama-lama penasaran juga sebetulnya seperti apa sih yang dimaksud anak yang kritis? Apa jangan-jangan semua anak yang berani bicara dianggap kritis?

Chi coba mencari tau berbagai hal tentang anak kritis melalui berbagai artikel di internet. Dari sekian banyak ciri anak yang dianggap kritis di berbagai artikel, Chi menangkap benang merahnya adalah di komunikasi. Anak yang kritis adalah anak yang pintar dan berani berkomunikasi.

Senin, 02 November 2015

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatima

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatima. Banyak yang menganggap kalau meminum air rendaman rumput fatima akan memperlancar persalinan,. Ternyata ...

Suster: "Ibu pernah mengkonsumsi rumput fatima?"
Saya: "Enggak. Memangnya kenapa, Sus?"
Suster: "Sebaiknya jangan, Bu. Biasanya yang minum rumput fatima, suka over mulesnya. Pembukaan baru 1 tapi mulesnya udah kayak bukaan 10. Malah bisa lebih besar lagi resikonya. Bisa ke nyawa, Bu. Bahaya."

Obrolan di atas adalah tanya-jawab saat Chi sedanng diperiksa kandungan waktu hamil anak pertama. Saat itu sudah bukaan satu, dokter kandungan meminta Chi ke ruangan persalinan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan, Chi langsung keringet dingin mendengar jawaban suster tersebut sampe gak berani bertanya lebih lanjut.

Chi berbohong ketika mengatakan gak pernah meminum rumput fatima. Kira-kira sehari sebelum ke rumah sakit, Chi mengkonsumsi rumput fatima. Gak banyak, sih, cuma beberapa teguk aja. Dan, gak sampe segelas.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge