Kamis, 29 Oktober 2015

"Bayangkan di Posisi Ima, Bun. Bagaimana Perasaannya?"

Bunda: "Nai, mau gak?"

Chi menawarkan sepotong cheese cake untuk dimakan bersama. Tadinya, Chi kirain itu ice cream cake. Gak taunya bukan, untung aja gak dipotong besar.

Nai: "Kenapa? Bunda gak mau abisin, ya."
Bunda: "Mau, sih. Tapi, kali aja Ima mau juga." *Chi mulai membuat berbagai alasan*
Nai: "Bunda harus habisin. Bayangkan di posisi Ima, Bun."
Bunda: "Kenapa harus membayangkan posisi Ima?"
Nai: "Iya, setiap hari Ima harus menghabiskan bekal sekolah. Kalau gak habis nanti dicerewetin sama Bunda. Coba Bunda bayangkan ... Bayangkan gimana perasaan Ima waktu harus menghabiskan bekal."
Bunda: "Hahahha itu beda kali, Nai."
Nai: "Ih, enggak! Sama ajah."

Hahaha, Nai lebay, deh :p Nai memang harus selalu diingatkan untuk menghabiskan bekalnya. Karena kalau gak gitu bekalnya suka gak dihabiskan. Udah diingatkan aja, masih suka bersisa. Kalau dibolehkan memilih, Nai memang paling malas bawa bekal ke sekolah. Alasannya, jadi berkurang waktu bermainnya atau ada beberapa alasan lain. Tapi, gak mungkin juga Chi turutin kemauannya. Jam sekolahnya kan panjang, masa iya dia gak makan sama sekali.

Selasa, 27 Oktober 2015

Keke dan Nai pun Bersekolah Sejak Dini

Keke dan Nai pun bersekolah sejak dini, padahal awalnya Chi gak tertarik sama sekali, lho.

Hingga suatu hari ...

Keke

Selembar pamflet tentang pembukaan salah satu PAUD di dekat rumah. Kegiatannya seminggu tiga kali di sore hari. Bayarannya harian dan tanpa seragam. Chi yang tadinya gak tertarik untuk cepet-cepet nyekolahin anak, mulai galau.

Bukan berarti Chi udah gak sanggup dan gak punya waktu untuk ngajarin Keke. Tapi. Chi pengen coba untuk cari pengalaman aja. Biar Keke semakin banyak temannya. Sekolahnya kan cuma 3x dalam seminggu, itupun cuma 2 jam saja. Artinya, waktu terbanyak tetap bersama Chi. Lokasinya dekat sama rumah, tinggal jalan kaki. Sore juga waktunya Keke bermain di luar rumah. Jadi anggap aja, dia sedang bermain. Udah gitu bayarannya harian. Kalau gak masuk, ya gak usah bayar. Gak memberatkan sama sekali.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Keke pun mulai sekolah dengan semangat. Tapi, cuma semangat berangkatnya aja. Begitu sampai sekolah, Keke nempel banget sama Chi. Diajak dan ditanya oleh gurunya, dia gak mau.

Senin, 26 Oktober 2015

Balita Sekolah Sejak Dini? Harus atau Tidak?


Balita sekolah sejak dini? Harus atau tidak?
Menurut Chi, jawabannya tidak harus. Tapi gak perlu juga diperdebatkan, karena setiap orang punya kondisi berbeda.

Beberapa bulan lalu, Chi dihubungi oleh majalah Ummi untuk diwawancara secara online. Majalah Ummi mendapatkan info tentang Chi melalui internet. Setelah baca beberapa artikel di blog ini *terima kasih banyak, ya :)*, majalah Ummi merasa topik yang akan mereka angkat di bulan April 2015, pas dengan artikel parenting yang selalu Chi tulis. Majalah tersebut meminta pendapat Chi tentang perlu atau tidak kalau anak sudah sekolah sejak dini. Sekaligus tanya juga Keke dan Nai mulai sekolah sejak usia berapa?

Keke mulai sekolah saat usianya 4 tahun. Nai lebih muda lagi. Dia sekolah sejak usia 2 tahun. Sebetulnya, Keke sudah pernah sekolah sejak usia 2 tahun. Tapi kemudian cuma berjalan beberapa minggu, kemudian kapok. Akhirnya, vakum hingga usia 4 tahun.

Awalnya, Chi bukan yang termasuk tertarik menyekolahkan anak sejak dini. Playgroup, Pre-school, PAUD atau apapun namanya, tidak ada dalam kamus Chi. Buat Chi, untuk usia dini, sekolah yang terbaik adalah di rumah.

Jumat, 23 Oktober 2015

Menghitung Biaya sekolah

Mari kita menghitung biaya sekolah. Tahun ajaran baru memang baru berjalan seperempatnya. Tapi, biasanya sekolah swasta sudah berancang-ancang untuk membuka pendaftaran baru bagi tahun ajaran berikutnya. Jadi, gak ada salahnya mulai berhitung dari sekarang.

SPP vs Uang Tahunan

Ibu A: "SPP di sekolah Keke dan Nai berapa?"
Chi: "Kalau Keke Rpxxx, Nai Rpxxx." *SPP Keke dan Nai memang berbeda. Cuma selisih 50 ribu, sih."
Ibu A: "Lebih murah, ya."
Chi: "Emang SPP di sekolah anak ibu berapa?" *SPP di sekolah anak ibu A lebih mahal.*
Ibu A: "SPP di sekolah anak saya itu Rpxxx. Di sana ada uang tahunan?"
Chi: "Ada."
Ibu A: "Berapa?"
Chi: "Antara Rpxxx sampai Rpxxx, lah. Tergantung kelasnya."
Ibu A: "Wah, kalau gitu berarti sekolah di sana lebih mahal, ya, dibanding sekolah anak saya. Kalau di sana gak ada biaya tahunan. Cuma SPP aja."

Itu salah satu percakapan Chi dengan salah seorang teman. Sebetulnya gak cuma sekali itu aja Chi ada percakapan seperti itu dengan beberapa orang. Cuma, kalau dilihat dari percakapan Chi dan ibu A, benarkah biaya sekolah Keke dan Nai lebih mahal? Ternyata, enggak. Sama aja totalnya.

Mungkin sekolah Keke dan Nai kelihatan lebih mahal karena ada biaya tahunan. Tapi SPPnya kan lebih murah. Sedang ibu A, SPPnya lebih mahal walopun gak ada biaya tahunan. Kalau Chi dan K'Aie lebih suka kayak di sekolah Keke dan Nai. Setidaknya bisa nabung dulu untuk biaya tahunan. Biaya tahunan yang kami bayarkan itu untuk anggaran kegiatan dan juga buku pelajaran.

Rabu, 21 Oktober 2015

Apakah Nai Banyak Membaca?

Tuh, Nai juga punya hobi membaca, kan? :)

"Bunda, apakah Nai banyak membaca?" tanya wali kelas Nai, saat Chi ambil raport bayangan, awal Oktober lalu.

Chi bilang kalau Nai cukup banyak membaca. Kemudian, wali kelas menjelaskan, guru PKn dan IPS bilang kalau Nai seperti agak kesulitan untuk pelajaran tersebut. Setidaknya dibandingkan dengan Keke pada saat kelas 4, Nai dianggap agak lebih lambat menangkap pelajaran ilmu sosial dan juga matematika. Sama nilai UTS matematikanya terlihat cukup menurun dibandingkan ulangan harian.

Keke dan Nai jadi dibanding-bandingin. Tapi, Chi sama sekali gak tersinggung. Sebaiknya dicerna dulu kenapa bisa dibandingkan dan kemudian berdiskusi. Lagipula udah jadi resiko karena mereka berdua kan satu sekolah. Apalagi para guru yang pernah mengajar Keke, sekarang mengajar Nai. Jadi, sadar atau tidak bisa aja membanding-bandingkan. Terlebih guru PKn dan IPS yang ngajar Nai sekarang itu pernah 2 kali jadi wali kelas Keke. Pastinya hapal banget gimana plus-minus Keke di sekolah termasuk kegiatan belajar mengajar.

Chi jelaskan aja, kalau Nai mungkin terlihat lebih lambat dari Keke karena gaya belajarnya berbeda dibanding Keke. Nai memiliki gaya belajar visual. Nyaris semua pelajaran harus dia tuangkan dulu secara visual, baru dia mengerti. Cara menuangkannya bisa dengan membayangkan, bercerita, menonton film, atau menggambar. Itu juga yang menjadi alasan kemana-mana Nai selalu membawa kertas dan alat tulis.

Senin, 19 Oktober 2015

Matematika Catering



Urusan venue udah beres. Kami berhasil mendapatkan tempat yang diinginkan. Sebuah tempat semi outdoor (sekitar 2/3 adalah area terbuka) yang masih berada di sekitar tengah kota Bandung. Urusan selanjutnya adalah catering.

Untuk catering, kami tidak menemui terlalu banyak kendala. Karena resepsinya di café jadi cateringnya pun sekaligus dari sana. Tinggal hitung jumlah porsi dan biaya aja. Chi sempat agak pusing ketika baca berita kalau setelah tahun baru harga-harga berbagai kebutuhan pokok akan naik. Duh! Bakal naik nih biaya catering. Mana catering kan termasuk pos yang paling memakan biaya besar.

Alhamdulillah, ternyata harga awal yang diberikan pihak café tidak mengalami kenaikan. Menurut mereka, karena kami sudah membayar penuh. Mereka pun sudah order ke supplier, sehingga harga tidak mengalami kenaikan.

Mengurus catering pernikahan itu gak cuma urusan biaya aja yang bikin pusing. Tapi, kekhawatiran kalau kami salah menentukan porsi. Sehingga tamu masih banyak, makanan sudah habis. Untungnya kami tidak perlu mengalami kekhawatiran seperti itu. Menurut pihak café karena menu yang pesan adalah menu yang biasa mereka jual, jadi tentu saja mereka sudah siap stok bahan lebih. Apalagi kalau café atau resto kan punya dapur. Jadi, kalau udah ada tanda-tanda makanan kurang sedangkan tamu masih banyak, mereka siap untuk menambah porsi baru.

Kalaupun sudah tidak tersisa bahan makanannya, mereka siap mengganti dengan menu lain. Kalau sampai terjadi memang akan ada biaya tambahan. Tapi, gak apa-apa lah daripada kami kekurangan makanan. Chi gak tau apakah semua resto atau café punya kebijakan seperti ini. Atau hanya café tempat kami menyelenggarakan resepsi saja. Yang jelas kami lega karena urusan makanan sudah beres.

Sejak itu, kami sempat membantu adik dan kerabat untuk mengurus pernikahan. Dari pengalaman kami membantu mengurus beberapa wedding, mencari venue dan catering adalah hal pertama yang harus dilakukan. Biaya catering termasuk yang memakan biaya besar. Nah, supaya teman-teman gak salah berhitung, ada baiknya mempelajari matematika catering pernikahan.

Minggu, 18 Oktober 2015

Ngeblog Itu Harus Fun

Sumber foto: FB Shinta Ries

Fun Blogging 1, Chi gak bisa ikut ...
Fun Blogging 2, lagi-lagi gak bisa ikut ...

(Sok) sibuk sekali Chi ini hahaha *langsung dijitak*. Ya, pokoknya waktunya gak cocok terus. Udah agak lemes aja pas Fun blogging 2, Chi gak bisa ikut lagi. *Kira-kira bakal ada lanjutannyannya gak, ya?* Begitu dibuka pendaftaran Fun Blogging 3 dan waktunya cocok, langsung daftar. Da, pas hari-H, Chi dateng kepagian ajah. Sampe kantor Qwords, tempat Fun Blogging 3 diselenggarakan aja masih dikunci hehehe.

Sedikit flashback, Chi pernah ada masa agak menyesal karena ngeblog sejak tahun 2007, tapi monetize blog baru Chi rasakan sekitar 2-3 belakangan. Gak lama setelah tau kalau blog itu ada komunitasnya. Padahal blogger yang mulainya sama dengan Chi ada yang udah menghasilkan pundi-pundi tabungan dari blog. Walaupun banyak juga, sih yang nonaktif dari dunia blog.

Jumat, 16 Oktober 2015

"Ayah, Beliin Duren!"

Di kereta, dalam perjalanan menuju stasiun Cisaat, kami duduk bersebrangan dengan 1 keluarga. Keluarga yang terdiri dari 1 orang ayah, 3 orang anak yang maish kecil-kecil, 1 orang nenek, dan 1 orang perempuan remaja yang tebakan Chi adalah sepupu atau tante dari anak-anak tersebut. Anak yang terkecil kemudian menelepon ibunya. Suaranya cukup keras. Telponnya juga di loud speaker, jadi Chi bisa dengan jelas mendengarkan percakapan mereka. Kita sebut aja anak itu bernama Andi, ya. Usianya mungkin sekitar 6-8 tahun *aslinya Chi lupa nama anak tersebut hahaha*

Andi: "Ibu, kapan pulang?"
Ibu: "Nanti malam ibu nyusul pulang"
Andi: "Ibu, semalam Andi mimpi ketemu Ibu. Trus Andi meluk Ibu."

Chi membayangkan kalau jadi ibu Andi kayaknya bakal mewek denger anak ngomong begitu. Manis banget ini Andi ngomongnya. Mana suaranya imut-imut, khas anak kecil banget. :)

Ibu: "Iya, Nak. Nanti malam, ya."
Andi: "Ibu kalau nanti datang, bawain Andi oleh-oleh, ya. Yang banyak!"
Ibu: "Mau oleh-oleh apa?"
Andi: "Andi mau baju renang 10! Bener ya, Bu. Nanti bawain Andi baju renang yang banyaaaaakk."

Chi yang tadinya terharu mendengar percakapan Andi dengan ibunya, menjadi cekikikan. Anak-anak dimana-mana sama ajah. Kalau orang tuanya pergi pasti pada minta oleh-oleh. Cuma ini Andi lucu ajah. Biasanya anak-anak, kan, mintanya mainan atau camilan. Ini Andi malah minta baju renang yang banyak hahaha. Yah, namanya anak-anak memang menggemaskan. Apa yang mereka pikirkan seringkali gak terduga.

Rabu, 14 Oktober 2015

Kisah The Lorax yang (Sepertinya) Mulai Menjadi Kenyataan

http://www.kekenaima.com/2015/10/kisah-lorax-yang-mulai-menjadi-kenyataan.html

Bunda: "Mataharinya mulai menggigit, nih!"
Nai: "Maksudnya menggigit itu apa, Bun?"
Bunda: "Mulai berasa panasnya. Tadi pagi, masih dingin banget. Tapi, Bunda cuma ngomong aja, kok. Gak bermaksud mengeluh, malah bersyukur."
Nai: "Kenapa gak mau mengeluh?"
Bunda: "Ima tau, bencana asap yang ada di Sumatera dan Kalimantan?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Nah, di sana sodara-sodara kita di sana katanya udah lebih dari 2 bulan gak bisa melihat matahari."
Nai: "Kok, gak bisa? Memangnya mataharinya gak mau bersinar di sana, Bun?"
Bunda: "Matahari, sih, tetap bertugas seperti biasa. Cuma asap yang bikin matahari jadi kelihatan tidak bertugas. Begini, deh, Ima inget waktu deket sekolah ada kebakaran besar?"
Nai: "Iya, inget."
Bunda: "Kayak gimana tuh asapnya di langit?"
Nai: "Item banget, Bun."
Bunda: "Nah, langit yang biru juga jadi gak kelihatan gara-gara asap, kan? Trus kalau angin bertiup ke sekolah, bau asapnya gak enak banget, kan?"
Nai: "Iya, sih."
Bunda: "Ya, seperti itu kondisi sodara-sodara kita di sana. Malah ini lebih parah karena yang terbakar itu hutan. Bayangin aja luasnya hutan kalau terbakar, asapnya kayak gimana. Kira-kira Ima masih inget, gak, kejadian bencana asap itu kayak film apa?"
Nai: "Hmmm ... apa, ya?"
Bunda: Itu, lho yang tokohnya warna orange, badannya berbulu semua. Trus, semua manusia tinggal di suatu tempat yang dikelilingi tembok pembatas."
Nai" "Oooohh, the borax!"
Bunda: "Bukan borax, Nai. Tapi, The Lorax"
Nai: "Oh, iya. Tapi, di film the lorax kan manusianya masih ada oksigen untuk bernapas, Bun."
Bunda: "Memang, iya. Tapi, untuk mendapatkan oksigennya bagaimana? Mereka harus beli."
Nai: "Oh iya, oksigennya dijual di botol kayak air galon, ya, Bun."
Bunda: "Iya. Itu, lah, sebagian ulah manusia. Setelah melakukan pengrusakan, solusinya bukan dengan cara menyembuhkan hutan. Tapi, dengan membuat hutan yang sudah rusak menjadi daerah terlarang. Manusia hidup di dalam ruang besar dimana untuk bernapas saja oksigennya harus beli. Padahal udah jelas kalau oksigen dikasih gratis sama Allah. Tugas manusia cuma menjaga aja, kok."

The Lorax, sang penjaga hutan

Selasa, 13 Oktober 2015

Memahami Arti Tangisan Bayi

memahami arti tangisan bayi

Kenapa sebagai orang tua, kita harus memahami arti tangisan bayi? Karena sesungguhnya, mereka sedang melakukan komunikasi.

Awalnya, Chi gak berpikir kesana. Chi pikir kalau bayi nangis ya berarti nangis aja. Tinggal kita aja menerka-nerka, mereka menangis karena lapar mengantuk, ngompol, sakit, atau karena hal lain? Ya, berarti sebetulnya mereka sedang berkomunikasi juga, sih. Tapi Chi jadi lebih tau tentang tangisan bayi, membaca di salah satu media cetak.

Di media tersebut tertulis kalau tangisan bayi itu berbeda-beda. Bayi yang aru lahir hingga usia tertentu memang hanya bisa menangis. Tapi kalau diperhatikan lebih saksama, tangisan bayi bisa berbeda-beda tergantung apa yang sedang dikomunikasikan saat itu. Yup! Tangisan bayi juga ada polanya.

Minggu, 11 Oktober 2015

Tip Mengajak Anak Menonton Bioskop

Tip Mengajak Anak Menonton Bioskop

Tip mengajak anak menonton bioskop. Awalnya diantara kami berdua, K'Aie yang lebih suka menonton film. Walopun begitu gak sering juga, sih, kami nonton bioskop. Apalagi sejak punya anak, kegiatan menonton bioskop sempat berhenti selama beberapa tahun. Kurang lebih sampai Keke usia 4-5 tahun gitu, lah.

Rasa kangen untuk nonton bioskop jelas ada. Tapi, ketika pertama kali mau mengajak anak-anak nonton bioskop, Chi harus melakukan berbagai pertimbangan dulu.

Pastikan Keke dan Nai sudah betah nonton lama sambil duduk manis

Hal pertama yang Chi pikirkan adalah apa Keke dan Nai sudah betah nonton berlama-lama sekitar 1-1,5 jam. Keke dan Nai, kan, gak dibiasain nonton dalam waktu lama. Kalaupun mereka menonton televisi atau distel film untuk anak kayak Barney, Dora the Explorer, dan lain sebagainya, biasanya mereka nonton sambil gak mau diam. Cuma sesaat aja diamnya. Nah, gak asik kalau nanti di bioskop mereka juga gak mau diam. Mondar-mandir, teriak-teriak, atau melakukan hal lain yang bisa mengganggu penonton.

Bahkan untuk film anak sekalipun, akan ada anak-anak yang merasa kurang nyaman kalau melihat penonton lain berisik atau monda-mandir. Sekalipun yang melakukan itu, anak-anak juga. Jadi menurut Chi, memastikan anak sudah bisa duduk manis dalam jangka waktu cukup lama itu penting.

Kamis, 08 Oktober 2015

Julie's Biscuit, Camilan Favorit Keluarga


"What we DON'T eat, we DON'T let other people eat" - Martin Ang, Direktur Perfect Food Manufacturing (M) Sdn Bhd

Selasa (29/9) bertempat di XXI Club Djakarta Theatre, Chi hadir di acara "Media and Blogger Gathering : A Day with Julie's". Julie's adalah biskuit asal Malaysia yang sudah ada sejak tahun 1981 dan sudah tersebar di 70 negara. Kali ini, Julie's Biscuit, camilan favorit keluarga, dengan logonya bergambar perempuan muda berambut pirang dan dikuncir 2, ingin mengenalkan varian terlarisnya, yaitu Julie's Peanut Butter Sandwich.


Selasa, 06 Oktober 2015

Oksitosin si Hormon Cinta

Oksitosin si hormon cinta. Apa, nih? Malam-malam ngomongin cinta hehehe

"Siapa yang ketika menyusui tidak sambil pegang gadget?" tanya MC di sebuah acara parenting. Ternyata selain Chi hanya segelintir ibu yang angkat tangan.

"Siapa diantara yang angkat tangan ini, ketika masih menyusui sudah mengenal segala macam social media?" MC acara melanjutkan pertanyaannya. Dan, kali ini Chi tidak angkat tangan. Ketika Chi masih menyusui Keke dan Nai memang gak sambil pegang gadget. Tapi, di saat itu Chi juga belum kenal socmed satupun. Bahkan handphone aja masih standar banget yang cuma bisa buat nelpon dan sms aja :D

Mungkin kita sering mendengar atau membaca kalau menyusui akan menciptakan bonding antara ibu dan anak. Makanya, sangat disarankan untuk memberi ASI kepada anak. Karena ketika memberi ASI, satu tangan untuk menyanggah bayi, tangan lain bebas untuk memberikan kasih sayang. Tapi ternyata, bonding tidak serta-merta tercipta begitu saja, lho.

Minggu, 04 Oktober 2015

Lebaran Kok di Hotel? Kebersamaannya Dimana?

 
Walaupun sekarang kalau lebaran nginepnya di hotel, tetep aja banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Salah satunya shalat ied ini

Sejak kecil, hari raya Idul Fitri selalu jadi yang paling ditunggu. Kumpul dengan keluarga besar di dalam satu rumah. Kalau udah kumpul keluarga besar kayak gitu, Chi gak pernah kebagian tidur di kamar. Selalu gelar kasur di depan tv bersama para sepupu.

Buat Chi gak masalah karena yang penting kebersamaan. Mau tidur dimanapun selama masih bisa bergosip eh melepas kangen, ding hehehe. Kan, jarang bisa kumpul. Apalagi dengan sepupu yang tinggal di Jawa Tengah sana. Paling lebaran aja ngumpulnya.

Setelah kami semakin besar, rutinitas pun mulai berubah. Bahkan sejak lebaran 2 tahun lalu, Chi dan keluarga menginap di hotel ketika lebaran. Sempat terpikir, apa yang dilakukan ini gak akan mengurangi kebersamaan? Ternyata enggak, tuh.

Sabtu, 03 Oktober 2015

#PhilipsRiceCooker Membantu Menjaga Kehangatan Keluarga

philips rice cooker, anti gores, masakan nusantara, masakan indonesia, harga rice cooker, tahan lama, rice cooker yang bagus

Philips Rice Cooker Membantu Menjaga Kehangatan Keluarga. Chi termasuk yang meyakini kalau makan adalah salah satu momen untuk tetap menjaga kehangatan keluarga. Itukah kenapa walopun kami termasuk keluarga gadget mania, tapi saat waktunya makan dilarang ada gadget antara kita. Waktunya makan adalah saatnya kebersamaan. Lebih baik berbincang-bincang sambil makan, daripada diam tapi konsentrasi ke arah gadget masing-masing *walaupun mulut tetap mengunyah*.

Sayangnya, kami jarang menghabiskan waktu untuk makan bersama. Kalau pagi, biasanya anak-anak yang sarapan lebih dulu. Sementara mereka sarapan, Chi menyiapkan berbagai keperluan sekolah. Begitu juga dengan K'Aie yang membantu Chi. Ketika anak-anak berangkat, Chi baru sarapan. Kalau K'Aie sangat jarang sarapan.

philips rice cooker, anti gores, masakan nusantara, masakan indonesia, harga rice cooker, tahan lama, rice cooker yang bagus
Nasi campur bali

Siang hari, Chi makan sendiri. Anak-anak baru makan di rumah lagi menjelang sore saat baru pulang sekolah. Kemudian mereka pun makan malam lagi dan tidak bersama Chi *alasannya sedang berusaha gak makan malam*. K'Aie pulang larut malam, biasanya  makan sendiri atau kadang Chi temenin juga, sih *gagal lagi dietnya hahaha* Intinya kami jarang makan bersama saat weekdays. Paling weekend baru kami bisa makan bersama.

Walaupun jarang makan bersama, kami punya selera yang sama, yaitu makanan harus dalam keadaan hangat termasuk nasi. Makan nasi dingin itu gak enak. Tapi, kalau masak nasi setiap kali mau makan itu ribet. Enaknya sekali masak trus nasi tetap hangat dalam jangka waktu lama. Masalahnya kalau nasi dibiarkan lama di rice cooker, suka jadi kuning. Jadi serba salah kalau begini, deh.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...