Featured Post

Terapi Air Alkali, Pristine 8+, Untuk Kesehatan Lambung

Keringat dingin mulai terasa lagi. Beberapa kali Chi meringis di sepanjang perjalanan ketika perut mulai protes. Rasa diaduk-aduk sehingg...

Jumat, 27 Februari 2015

Tip Cerdik Hemat Bujet Liburan di Jakarta

tip hemat bujet liburan di Jakarta

Sebagai kota metropolitan, Jakarta dikenal sebagai kawasan yang kurang ramah dalam hal harga untuk para wisatawannya. Bagi para pelancong berkoper tentu itu bukan masalah. Namun, bagi para backpacker, harga tentu menjadi prioritas utama kala berwisata.

Para wisatawan yang mengandalkan dana pas-pasan harus berpikir ekstra keras agar uang yang dibawanya cukup menghidupnya selama berpelesiran ke Ibu Kota. Namun tidak jarang, bujet sudah habis saat liburan belum usai. Alhasil, meminjam dana ke teman ataupun terpaksa pulang lebih awal menjadi pilihan yang realistis dilakukan.

Untuk itu, sebelum berpetualang dengan ransel ke Jakarta, Teman-teman harus menyiapkan segala rencana dengan matang. Ada baiknya pula Teman-teman menyediakan dana tambahan sebagai bahan jaga-jaga jika kehabisan uang di Ibu Kota.

Kamis, 26 Februari 2015

Koleksi Diecast Keke dan Ayah

Salah satu diecast koleksi K'Aie :)

2 malam lalu, Chi nonton serial Castle, ceritanya penjahatnya itu koleksi mobil diecast yang dipajang di kantornya. Chi jadi inget koleksi diecast Keke dan ayahnya. Ketika sekarang trend koleksi batu akik, Keke dan ayahnya tetep aja koleksi diecast hehehe.

Hobi Keke mengkoleksi diecast memang menurun dari ayahnya. Bedanya, kalau Keke segala jenis mobil diecast biasanya dia suka. Asalkan seperti mobil aslinya. Maksudnya itu diecast kan ada yang bentuk mobilnya ‘aneh-aneh’. Nah, kalau Keke lebih suka mobil yang seperti di dunia nyata. K’Aie juga sama. Tapi, K’Aie lebih suka diecast jeep.

Kalau semua diecast yang Keke punya itu untuk dimainin. K’Aie untuk dikoleksi. Tapi, namanya sama anak, akhirnya beberapa koleksinya harus rela dimainin sama Keke :D

Diecast bisa dikoleksi?

Senin, 23 Februari 2015

Ketinggalan ke Bali dan Singapura. Tancap Gas Mengejar ke Hongkong !

Tahun 2015 itu tahunnya liburan. Gimana enggak, banyak juga tanggal merah yang mendekati wiken. Itu artinya bakal banyak long wiken di tahun ini. Yippiie!
Etapi, emangnya mau jalan-jalan kemana?

Ya, belom tau juga, sih. Tapi, buat Chi yang penting liburan itu bisa dimana aja termasuk di luar rumah. Syukur-syukur kalau bisa keluar rumah. Emak rumahan kayak saya ini, butuh melihat suasana luar sesekali hihihi. Lagian semakin banyak jalan-jalan, semakin banyak pula postingan baru di blog jalan-jalan saya *modus* :p

Ketika lagi asik melihat keramaian cit-cit cuwit para netizen di akun twitter, Chi melihat ada tweet yang di retweet teman-teman. Bikin kuping Chi langsung tegak dan mata terbelalak *drama abis ini, sih, ekspresinya*. Tapi, apa yang Chi lihat itu bukan drama, lho. Bener-bener sesuatu yang menarik


Festival Budaya di Sekolah Keke dan Nai

Setiap tahun, menjelang akhir tahun ajaran, sekolah Keke dan Nai selalu mengadakan pentas seni yang biasanya dibarengi dengan Festival Budaya atau Culture Festival. Sepanjang Keke sekolah di sana, sudah tiga kali sekolahnya mengadakan Culture Festival. Acara culture festival biasanya membawakan tema dari daerah yang sudah ditentukan. Tidak hanya hiburan yang berasal dari daerah tersebut, tapi seluruh warga sekolah (murid, guru, hingga orang tua) diharapkan memakai pakaian dari daerah yang sudah ditentukan.

Pentas seni dan culture festival kali ini, agak sedikit terasa beda. Gak cuma karena dipercepat, yaitu dilaksanakan di akhir semester ganjil. Dengan alasan, saat kenaikan kelas nanti berbarengan dengan puasa Ramadhan. Jadi, kegiatan pentas seni dimajukan. Pentas seni kali ini juga merupakan pentas seni yang terakhir buat Keke.

Di sekolahnya, pentas seni hanya dilakukan oleh siswa dari kelas 1 hingga 5. Kelas 6 sudah mempunyai acara sendiri. Dan, tahun ini jadi pentas seni Keke yang terakhir, tahun depan sudah bikin acara sendiri bersama angkatannya. Duh, cepet banget waktu berlalu, ya. Chi suka terharu kalau kayak gini. *Terharu karena sadar semakin tua hahaha!*

Sabtu, 21 Februari 2015

Gak Ngerti Sama Cara Berpikir Anak Perempuan

Beberapa minggu lalu, Chi pernah nulis cerita ini di status FB. Tentang Keke yang lagi gak ngerti sama cara berpikir anak perempuan di sekolahnya

Begini ceritanya ...

Pulang sekolah, Keke cerita kalau dia pusing sama temen-temen sekelompok belajarnya yang perempuan.

Keke: "Keke, pusing sama girls, Bun. Nentuin tempat belajar aja, sampe seminggu gak selesai-selesai. Ditawarin belajar di salah satu rumah mereka, pada gak mau. Ditawarin belajar di rumah Keke, gak mau. Di rumah boys yang lain, juga gak mau. Giliran ditanya, 'maunya belajar dimana?' Mereka pada kompak jawab, 'Terseraaah...' Keke gak ngerti maunya girls."
Saya: "Perempuan memang begitu mikirnya, Ke." *ngejawab kalem sambil nyengir*

Status yang Chi tulis di FB hanya sampai situ. Sebetulnya ada pembicaraan lanjutan lagi ...

Kamis, 19 Februari 2015

MPASI Rumahan untuk Anak 6 Bulan Harus Diblender?

MPASI rumahan untuk anak 6 bulan harus diblender?

Ketika masa ASI Eksklusif Keke sudah lewat, ada rasa senang karena pengen coba berbagai masakan bayi untuk Keke. Selain, coba MPASI rumahan, Chi juga coba berbagai makanan instan untuk Keke. Gak taunya, gak ada satupun yang Keke suka.

Beberapa orang bilang, untuk kasih anak MPASI memang harus terus dicoba karena belum tentu sekali dikasih anak langsung suka. Karena anak butuh waktu untuk membiasakan diri, terutama lidahnya. Khusus untuk makanan instant, Chi udah cobain dari yang cair sampai yang agak kental, gak ada satupun yang berhasil.

Ketika, Chi kasih MPASI rumahan juga gak langsung berhasil, sih. Tapi, bukan karena rasa. Penyebabnya karena tekstur. Setelah diamati, Keke gak suka MPASI yang diblender. Apapun makanannya, kalau diblender pasti ditolak. Setelah, Chi coba haluskan dengan garpu di atas saringan kawat, dia baru mau makan dengan lahap.

Memang gak takut kesedak kalau anak usia 6 bulan MPASInya gak diblender dan disaring?

Selasa, 17 Februari 2015

Perlengkapan Ibu Menyusui

“Myr, biasa … aku ke belakang dulu, ya.”

Chi udah ngerti kalau atasan Chi bilang ‘biasa’. Itu artinya beliau akan memompa ASI untuk bayinya. Setelah itu, ASI yang dihasilkan akan disimpan di kulkas, dalam keadaan botol yang tertutup rapat. Setiap hari atasan Chi ini bawa perlengkapan ibu menyusui ke kantor.

Cerita di atas adalah waktu Chi masih kerja kantoran. Jadi, walopun saat itu Chi belum menikah, tapi sudah ada bayangan seperti apa perjuangan seorang ibu kantoran yang sedang menyusui anaknya. Chi sempat berpikir kalau suatu saat nanti juga akan mengalami hal sama.

Tapi, jalan hidup memang gak bisa kita tebak. Ketika mempunyai anak, justru Chi sudah tidak lagi bekerja. Chi memutuskan untuk resign, beberapa bulan sebelum menikah. Walopun begitu, bukan berarti Chi gak punya perlengkapan ibu menyusui, lho. Berikut ini, perlengkapan apa aja yang pernah Chi punya ketika masih menyusui Keke dan Nai.

Minggu, 15 Februari 2015

Benarkah Anak Pertama Itu Eksperimen?


Benarkah anak pertama itu eksperimen?

Sudah membaca buku Mommylicious tulisan duo mama, yaitu Mama Arin dan Mama Rina? Mommylious adalah buku kisah tentang pengalaman duo mama tersebut saat mengasuh anak-anaknya. Sebuah buku yang berisi beberapa kisah unik dan lucu yang diceritakan secara sederhana dan tidak terasa menggurui. 2 paragraf akhir dari cerita pertama yang berjudul "Pengalaman Pertama (Catatan Mama Arin)", lah yang membuat Chi ingin membuat postingan ini.
Saat saya menulis buku ini, Cinta telah berusia 9 tahun, dan mempunyai adik bernama Asa, 4 tahun. Saya bukan lagi mama baru. Namun rasanya masih demikian, karena selalu saja ada hal baru yang saya rasakan setiap harinya.
Kehadiran Asa membuat saya merasa memutar ulang kisah romantis saya dan Cinta semasa awal kelahiran dulu. Rasanya tak kalah mendebarkan. Setiap anak adalah unik, setiap tumbuh kembangnya juga unik. Saat Cinta kecil adalah pengalaman pertama saya dalam mengasuh anak. Sekarang, mengasuh Asa kecil juga tetap menjadi pengalaman pertama, yaitu pengalaman pertama mengasuh dua-kakak beradik. Saya bersyukur memiliki cukup waktu untuk menuliskannya.
Pernah beberapa kali Chi mendengar kalau anak pertama itu seperti sebuah eksperimen. Chi sendiri pun kadang merasa dan berpikiran seperti itu. Baik itu karena di dalam keluarga, Chi adalah anak pertama. Maupun ketika mengasuh Keke, yang menjadi anak pertama Chi.

Jumat, 13 Februari 2015

Memilih Mainan untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan

Banyak yang bilang, antara memilih mainan untuk anak lak-laki dan perempuan, lebih mudah memilih mainan untuk anak perempuan. Kalau menurut pengalaman Chi, justru lebih mudah memilih mainan untuk Keke daripada untuk Nai.

Pernah membeli beragam mainan untuk Keke, tapi seleranya memang hanya kepada mobil. Die cast, buku tentang mobil, dan lain sebagainya selalu dipilihnya yang bertema mobil. Bahkan gak cuma mainan banyak pakaian hingga spreinya pun bergambar mobil. Kalau di jalan, dia senang sekali mengamati mobil.

Kalau sekarang sih, selera Keke udah lebih beragam. Gak melulu mobil. Tapi, setidaknya dulu waktu masih kecil gak susah, lah, kalau mau beliin dia mainan. Pasti sama dia dimainin dan dirawat.

Rabu, 11 Februari 2015

Butiran Debu

Beberapa minggu lalu, Chi lagi merasa sedih berat. Bikin Keke dan Nai nanya kenapa bundanya menangis. Karena Chi gak mau jawab, Nai nebak bundanya sedih karena di antara kami, cuma bundanya yang gak bisa senam hidung sampe sekarang hahaha. Bikin suasana pagi itu, kami sekeluarga jadi ngakak gara-gara tebakan Nai. Yang mau tau apa itu senam hidung, bisa baca postingan Chi yang berjudul "Ibu Harus Serba Bisa."

Siang harinya, sepulang sekolah, Nai kembali bertanya apa bundanya masih sedih.

Nai: "Bunda masih sedih?"
Bunda: "Enggak."
Nai: "Gak apa-apa lagi, Bun. Sedih itu wajar yang penting jangan berlebihan."

Oke, sampe kalimat itu, Nai memang meniru bundanya. Chi sering bilang ke anak-anak, gak apa-apa punya perasaan sedih selama gak berlebihan.

Senin, 09 Februari 2015

Coklat Valentine Dimana-mana

Walopun gak merayakan valentine, tapi yang Chi suka di bulan Februari menjelang valentine ini adalah banyak penawaran coklat valentine dimana-mana. Coklat memang bukan makanan yang susah dicari. Gak lagi valentine aja, coklat gampang didapat, kok. Tapi seneng aja kalau pergi ke super/minimarket aneka coklat dipajang di barisan depan. Kita tinggal pilih, mana yang pengen dibeli.

Kami sekeluarga memang penggemar coklat. Coklat yang paling sering dibeli itu dark atau white chocolate. Kedua jenis coklat yang paling kami suka. Dark chocolate itu enak, karena rasanya yang gak terlalu manis. White coklat lebih manis dari yang dark, tapi gak semanis yang milk.

Gak selalu coklat batangan, sih. Selai coklat, minuman coklat, pokoknya apapun yang serba coklat diusahakan selalu ada stoknya dirumah. Apalagi kalau musim hujan begini, menyeruput secangkir coklat hangat itu enak banget. Saing-saingan sama kopi, deh, enaknya hehehe.

Jumat, 06 Februari 2015

"Bunda Laper, Gak?"

"Bunda laper, gak?"

Setiap sore, Keke dan Nai selalu bertanya seperti itu ke Chi. Kalau Chi bilang enggak lapar, sudah dipastikan wajah mereka akan merengut, sedikit ngambek. Mereka bertanya begitu karena pengen bikinin bundanya masakan ala Keke dan Nai.

Setiap kali ditanya seperti itu, Chi suka serba salah. Sebetulnya sih Chi juga pengen makan sore, supaya menghilangkan kebiasaan makan yang (terlalu larut) malam. Tapi setiap sore, perut seringkali masih terasa kenyang.

Tapi Keke dan Nai itu kan suka gak kasih pilihan. Kalau mereka lagi pengennya bikin makanan berat, biasanya mereka gak mau bikinin Chi camilan atau hanya sekedar es lemon tea. Mereka lebih memilih gak jadi bikin.

Beberapa potong brownies dan lemon tea. Segelas lemon tea hangat ini, enak diminum sore hari. Apalagi kalau cuaca lagi hujan.

Selasa, 03 Februari 2015

Mie Instan Saus Coklat

Suka makan mie instan saus coklat? Bukannya (katanya) makan mie instan dengan saus coklat itu bahaya? Kami pernah dan alhamdulillah aman. Di postingan ini, Chi ceritain gimana rasanya, ya :)

 Udah pernah nyobain makan mie instan pakai coklat? :)

Mulai semester genap ini, di sekolah Keke dan Nai ada mata pelajaran baru namanya Speaking. Ada 4 guru baru asal US yang akan mengajar mata pelajaran tersebut. Mata pelajaran ini hanya khusus untuk melatih anak-anak supaya berani berbicara saja. Karena untuk mempelajari grammar dan lain sebagainya tetap ada di dalam mata pelajaran English.

Nai: "Nanti, kalau guru barunya udah dateng, Ima mau nanya, ah."
Bunda: "Mau nanya apa?"
Nai: "Ima mau nanya gini, 'Can you speak Bahasa?' Nanti kalau gurunya bilang, 'Yes,' Ima mau ajak ngobrol pake Bahasa Indonesia aja."
Bunda: "Deeek ... Guru-guru baru itu kan ada buat ngajarin kalian lebih berani berbahasa Inggris. Ini malah mau diajak ngobrol pake bahasa Indonesia."
Nai: "Hehehe ... Iya ... Iya ..."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge