Senin, 28 Desember 2015

Mau 3 Jam, 8 Jam, atau Seminggu, Sekali Ibu Tetaplah Ibu


Seperti apa, sih, kriteria ibu sejati? Biasanya pertanyaan seperti ini akan memicu mom's war tiada ujung. Dari zaman rikiplik hingga sekarang udah zaman gadget, perdebatan ini masih aja ada. Mungkin sampe banyak orang udah bisa wisata ke bulan pun bisa jadi masih ada. Dan, akan semakin ramai kalau menjelang hari ibu hahaha!

Ibu sejati itu (katanya) yang melahirkan secara normal. Hmmm ... berarti Chi bukan ibu sejati. Dua kali melahirkan dan keduanya caesar. *Okeh, melipir cantik, memilih melihat senyum anak-anak :)

Ibu sejati itu (katanya) yang memberikan ASI Eksklusif lalu lanjut menyusui hingga paling tidak si anak berusia 2 tahun. *Yeay! Berarti Chi termasuk ibu sejati.*

Lha tapi yang bener gimana, nih? Kan, Chi gak melahirkan secara normal, tapi memberi ASI hingga berusia 2 tahun (malah lebih). Jadi, Chi termasuk ibu sejati atau bukan? Yang pasti Chi gak akan menjawab. Karena Chi bukan termasuk yang suka mengkotak-kotakkan seperti itu. Jadi silakan bertanya kepada yang suka mengkotak-kotakkan. Kalau Chi terserah, lah, orang mau bilang apa. Buat Chi cukup lihat anak-anak aja. Selama mereka masih nyariin bundanya berarti Chi masih dibutuhkan oleh mereka :D

Etapi, pas hari ibu yang baru saja lewat ada 1 lagi yang rame. Tentang tweet dari salah seorang public figure yang mempertanyakan peran ibu. Menyinggung peran ibu yang hanya bisa 3 jam bertemu anak-anaknya dalam sehari. Apakah yang seperti itu masih bisa dianggap ibu atau lebih cocok dianggap karyawan? :D

Chi gak akan kasih tau siapa public figure ini. Tapi, Chi rasa udah banyak yang tau karena screenshotnya viral sekali hehehe. Kenapa Chi gak mau kasih tau orangnya karena kabarnya itu status dibuat 2-3 tahun lalu. Saat ini Chi gak tau persis apa orang tersebut masih berpendapat yang sama atau tidak. Chi gak follow satupun akun socmednya.

Pesan moralnya yang Chi bisa dapat adalah hati-hati ketika membuat status. Sekali ada orang yang screenshot statusmu kemudian menjadi viral, bisa jadi hingga beberapa tahun ke depan statusmu akan tetap beredar. Walaupun mungkin yang membuat status itu sudah berubah sikap atau jalan pikirannya. Ibaratnya seperti masakan yang dihangatkan terus-menerus walaopun rasanya udah gak nikmat.

Oke, balik lagi ke status tersebut. Teteuupp ... ya, Chi gak mau menyebutkan nama orangnya. Tapi, Chi tergelitik untuk memberikan pendapat pribadi tentang status tersebut. Dan, masih berhubungan juga dengan mengkotak-kotakkan kriteria ibu sejati.

Ada seorang ibu yang setiap pagi sebelum pukul 6 pagi sudah harus berangkat kerja. Menghindari macet adalah alasan kenapa harus berangkat pagi sekali. Karena berangkat lewat pukul 6, beresiko terlambat masuk kantor. Hanya sempat berucap, "Mamah berangkat dulu, ya." Atau malah gak sempat mengucapan apa-apa karena anak-anaknya baru bangun atau sedang di kamar mandi.

Pulangnya paling cepat sampai rumah pukul 9 malam. Waktu dimana anak-anaknya sudah bersiap untuk tidur. Bisa dikatakan dalam sehari belum tentu ada komunikasi antara ibu dan anak. Kuantitas komunikasi lebih banyak dilakukan anak dengan asisten rumah tangga yang sudah mengasuh sejak kecil hingga si anak dewasa. Asisten rumah tangga ini sangat telaten dan setia. Mungkin sesuatu yang langka mencari asisten seperti ini di zaman sekarang.

Ketika hari weekend tiba, biasanya ibu ini akan mengajak anak-anaknya ke mall. Belanja atau hanya sekadar makan bersama. Memangnya ibu ini gak bisa masak? Ho ... Ho ... Jangan salah. Ibu ini pintar masak. Gak hanya memasak, menjahit pun jago. Ketika anak-anaknya masih kecil, semua bajunya gak ada yang beli di toko. Semua hasil jahitan ibu ini. Sempat berhenti menjahit karena anak-anaknya sudah mulai memilih baju sendiri. Sekarang ketrampilan menjahitnya kembali diasah karena setelah resign mulai membuka usaha jahit kecil-kecilan sekadar mengisi waktu.

Ibu ini adalah Mamah Chi. Yup! Kalau secara kuantitas, mungkin tidak sebanyak anak-anak lain yang ibunya di rumah. Bahkan Chi lebih banyak berinteraksi dengan asisten rumah tangga yang Chi sebut Bi Enoh. Tapi, tetep aja Chi menganggap beliau mamah. Mamah Chi yang (dulunya) seorang karyawan. Gak pernah sedikitpun Chi berpikir apakah mamah lebih pantas disebut karyawan atau ibu? Atau berpikir mamah Chi adalah bi Enoh karena sehari-hari lebih banyak bersamanya. Enggak sampe segitunya, lah, yaaa ... Mau 3 jam, 8 jam, atau seminggu sekali,  ibu tetaplah ibu.

Lagipula yang mamah lakukan itu bukan keluyuran gak jelas. Chi memang gak pernah sekalipun bertanya kenapa mamah harus bekerja. Tapi, Chi cukup tau kalau yang mamah lakukan juga pasti untuk keluarga. Papah juga gak keberatan kalau mamah bekerja.

Itulah kenapa Chi juga gak pernah mau berdebat dengan urusan ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Lha, Chi ini kan anak dari seorang ibu yang bekerja. Kalau Chi anggap ibu bekerja itu gagal, berarti Chi menyesal dengan kehidupan Chi sekarang. Nyatanya Chi happy aja, tuh. Kalaupun pilihan Chi sekarang menjadi ibu rumah tangga pastinya karena sudah ada pertimbangan sendiri tanpa menyalahkan pilihan yang bersebrangan.

Jadi, kenapa sih kita harus mengkotak-kotakkan peran ibu? Jujur aja, Chi gagal paham hehehe. Bahkan ada peran-peran pekerja perempuan yang bikin kita nyaman, kan? Contohnya, nih, peran dokter kandungan perempuan. Hayo, yang merasa lebih nyaman diperiksa kandungannya oleh SPOG perempuan ikut menyalahkan perempuan pekerja, gak? Atau sekarang, kan, ada ojek khusus perempuan, tuh. Gimana tanggapannya kalau begitu? Hehehe ...

Tapi, saran Chi, sih, kalau ada yang mengkotak-kotakkan seperti itu mendingan cuekin aja. Mom's war (dan laki-laki juga ada yang memicu. Contohnya yang tweet itu hahaha) akan berhenti kalau kita gak ikutan terjun ke dalamnya. Cuekin aja, lah, walaupun hati panas. Pengalaman Chi lebih baik lihat ke diri sendiri. Lihat juga ke wajah (perasaan) anak-anak. Hanya kita yang bisa mengukur kebahagian diri sendiri.

Chi udah mengalaminya. Ketika ada yang berkomentar miring tentang ibu pekerja, Chi melihat diri sendiri. Anak dari seorang ibu pekerja. Chi baik-baik aja, kan? Ketika ada yang berkomentar miring tentang ibu rumah tangga, maka Chi akan melihat anak-anak. Selama Keke dan Nai masih butuh ibunya berarti gak masalah hahaha. Udah, lah, mendingan dibawa happy aja :)

post signature

64 komentar:

  1. itulah, kadang pemikiran orang terlalu berlebihan pada ibu bekerja atau full time, padahal sama - sama seorang ibu dan sama memiliki kasih sayang melimpah utk anaknya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita sibuk mengkotak-kotakkan. Lupa kalau anak juga butuh diurus hehe

      Hapus
  2. Betul mbak, Ibu akanlah tetap menjadi ibu. Apapun jalan pilihannya. Semua dinilai dari hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Gak usah terlalu terpengaruh dengan pendapat orang lain, ya. Apalagi yang bikin panas hati :)

      Hapus
  3. Duuh klo ada pengkotak2an maka saya gak jelas ada di kotak yg mana. Banyak irisannya.
    Apapun...aku hanya perempuan yg terus belajar menjadi Ibu untuk anak2ku dg segala kurang lebihku... *jiyaa jd baper nih mak chi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia. Semua pasti banyak irisan. Jaid kenapa juga harus dikotak-kotakkan? :)

      Hapus
  4. Hanya orangtua yang tahu bagaimana kasih sayang kepada anak. Semangat buat para orangtua tangguh terutama emak-emak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Jadi cuek ajalah orang mau bilang apa hehehe

      Hapus
  5. saya gatau nih public fgur yg dimaksud, jarang nonton infotainment. tapi setuju bgt ibu tetaplah ibu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya itu status 2-3 tahun lalu. Tapi beredar terus sampai sekarang hehehe

      Hapus
  6. yang tahu tentang kehidupan kita ya diri kita sendiri
    orang nyinyir yah biarin, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena katanya hidup kita yang jalanin, orang yang komentarin wkwkwkw

      Hapus
  7. Saya sih belum menikah jadi kurang tau juga^^.. Idealnya memang seperti itu tadi tapi keadaan kan tidak selamanya ideal contohnya ada yang kedua orang tuanya bekerja demi memenuhi standar kelayakan hidup bagi anak-anakny baik itu salam hal pendidikan atau pun hal lainnya .atau seorang singel parent yang harus berjuang demi memenuhi semua kebutuhan hidup anak-anaknya . intinya mungkin kualitas kebersamaan lebih penting daripada kuantitas . mungkin seperti itu .kalau menurut saya . perkara melahirkan normal atau tidak sepertinya berhubungannya dengan medis .

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itulah maksud saya. Setiap orang punya alasan masing-masing. Dengan berbagai latar belakangnya. Makanya kenapa harus dikotak-kotakkan? :)

      Hapus
  8. Iya setuju mbak Myra, ibu tetaplah ibu mau bagaimanapun keadaannya..anak adalah segalanya bagi setiap ibu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Jadi memang mendingan fokus sama anak sendiri, ya :)

      Hapus
  9. Kayaknya aku tahu Tweet siapa itu Mbak Myra. Yang katanya Ustadz itu kan? Ah sudahlah... Setiap orang kan memiliki pilihanya masing2. Dan itu yg terbaik menurut mereka. Ah semudah itukah seorang public figure memberikan judgment/Statement?

    Gak usah pikiran dah tuh omongan orang :)
    Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, sayangnya yang seperti public figure, ya. Jadinya malah semakin bikin membuat orang berpro-kontra.

      Yup! Cuekin aja. Tetap semangat :)

      Hapus
  10. iya mbak,sy tau yg nulis,dan memang bliau orgnya agak "keras" kalo ngetweet atau ngesosmed, aku males kalo yg begini ujungnya bikin ribut tanpa solusi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha beneeerr ,,, Makanya saya males ikutan pro-kontra. Mending ngemil di pojokan :D

      Hapus
  11. Ngacuung....saya saya saya yang berangkat pagi pulang malam itu saya...sampai dengan awal November.

    Trus sekarang ibu rumah tangga dong, nyesel? engga juga...manusia punya pilihan hidup masing-masing dan mengukur kebutuhannya masing-masing juga

    saling menghormati aja lah :)

    BalasHapus
  12. Jadi inget mamaku, persis gambaran mamaku nih mak... bahkan sampai hari ini mama masih ngantor baru dua tahun lg beliau pensiun :)

    Mama tetaplah ibu meski waktunya terbatas, cintanya tanpa batas ;)

    BalasHapus
  13. setujuuu..
    aku jg gagal paham mak chi soal pengkotak2an begitu. menurutku mah, entah itu ibu bekerja atw irt yg penting punya bonding aja sm si kecil. Manfaatkan quality time sebaik mungkin. Karena blm tntu jg kn irt pasti anak2nya jg kece2, begitu jg sebaliknya. Bonding is the king. Pengkotak2an irt vs ibu bekerja is the kingkong...Woaaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! sering bertemu anak kalau bonding gak ada juga sangat disayangkan

      Hapus
  14. ga ikutan ah sama yang kotak kotak gitu mak chi, anak anak aja happy dengan keterbatasan aku menjadi Ibu mereka koq hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mendingan kita menghargai aja, ya. Gak usah oake kotak hehehe

      Hapus
  15. Ibu sejati itu bukan karna dia melahirkan dengan proses normal ataupun ceasar tapi ibu sejati itu ibu yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk suami, anak dan keluarganya...

    BalasHapus
  16. Mengutip dari WA : ibu yang baik adalah ibu yang bahagia, menerima dirinya apa adanya, mengasuh anak-anaknya dengan bahagia, tanpa penghakiman dan ego bahwa dia ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, karena kita lebih tau dapur masing-masing. Jadi memang sebaiknya urus dapur sendiri dan saling support aja

      Hapus
  17. saya juga termasuk ibu bekerja Mbak, satu minggu sekali baru bertemu anak karena kami tinggal terpisah..
    sedih rasanya saat mendengar ada yang berkata bahwa ibu yang baik itu adalah ibu yang 24 jam bersama anaknya..padahal mereka gak tau apa alasan seorang ibu memutuskan untuk tetap bekerja :( (jadi curhat)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedih itu manusiawi. Tapi tetap semangat, ya! :)

      Hapus
  18. Wah, gak update nih, saya gak tau siapa public figurenya. Saya kenyang dianggap miring sbg ibu rumahtangga mak Chi,qeqeqe. Cuek sajalah... Kalau dipikirkan bikin kepala pening.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju... mendingan menikmati hidup hehehe

      Hapus
  19. nggak mau mikirin lah apa kata orang yg penting berusaha aja jadi ibu yg baik meskipun waktu ini terbagi untuk berbagai urusan lain dan anak orang lain(mahasiswa) tp setiap kali pulang kantor dan dapet pelukan dari Nadia itu aja udah cukup membuatku bahagia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju. Mendingan lihat wajah anak aja :)

      Hapus
  20. jadi siapa public figurenya mba?? #kepo :))
    sebodo amat apa kata orang, yg penting si anak gak ngerasa ditelantarkan. krn yg tau bagaimana ibu bekerja sewktu di rumah adalah anak dan keluarganya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! cuekin aja yang berpendapat seperti itu

      Hapus
  21. Iya ya, lagian si itu mikirin banget deh peran wanita, padahal sendirinya laki2 hahahahaha rempong

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ... nah, kenapa bisa begitu, ya? :p

      Hapus
  22. Aku baca tuh status itu tapi lupa dr siapa, hehe. Sebagaimana pun ibu ya tetep ibu namanya, dan orang nyinyir akan tetap ada dr hari ke hari ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya orang nyinyir akan ada terus sepanjang masa hehe

      Hapus
  23. manakala sependapat ya manggut-manggut, ketika tidak sependapat ya abaikan, hihihi....

    BalasHapus
  24. Sedih kalau ada yang terlibat status war atau semacamnya gitu deh

    BalasHapus
  25. Kita jadiin introspeksi aja ucapan bliau ya mak. Mari buktiin kalo emak yg kerja 8 jam ternyata quality time untuk anaknya juga bisa sama or lebih baik dr yg gak kerja 8 jam

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, memang sebaiknya begitu, sih. Daripada balas dengan sindiran :)

      Hapus
  26. Ibu sejati adalah ibu yang memperjuangkan kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anaknya. Semoga gak ada lagi pemikiran sempit yang seperti dikatakan orang-orang itu ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju. Yang penting gimana sama anak-anak :)

      Hapus
  27. Bun, aku juga pernah menulis di blog ttg status public figure itu di Twitter yang jadi rame banget. Sempat sedih sih kok nge judge seperti itu ttg ibu bekerja tapi lama lama biarin aja deh yg tau keadaan keluarga kita kan diri kita sendiri :)

    BalasHapus
  28. Marii kita bawa happy aja mbak :D

    BalasHapus
  29. hidup memang nggak perlu dikotak - kotakan mbak hehe. dibawa selow aja, selama mbak memegang teguh kebaikan yang embak yakini insyaAllah, Allah tetap memandang embak dengan derajat yang tinggi, lebih dari seorang ibu hehehe. (eh padahal derajat ibu itu udah tinggiiii sangat loh hehe)

    btw, public figure yang embak maksud saya juga tahu, saya follow, saya beli bukunya juga. tapi yang pasti saya tidak sepakat dengan apa yang dia katakan. toh ibu saya juga bekerja, dari pagi sampai siang, sore kerja lagi sampai malam. bahkan jatah ketemu saya kurang dari 3 jam. boleh jadi cuma setengah jam (itupun akumulasi waktu sebelum saya berangkat sekolah ditambah waktu sebelum tidur). daaaaaaan perlu embak ketahui, aktivitas ini berlangsung terus dan terus dari saya tk sampai saya sekarang mau sidang kuliah. (karena saya sudah tidak punya ayah alias meninggal sejak bayi)

    dan tau nggak mbak, saya masih menganggap ibu, adalah ibu nomer satu di dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, sebaiknya memang dibawa slow. Makanya saya bisa menulis ini tanpa emosi negatif hehehe

      Nah, berarti memang selalu ada alasan kenapa ibu memilih bekerja atau tidak :)

      Hapus
  30. hihi, membahasa kultwitnya ustadz anu, yah dibahas :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi saya gak bicarakan personalnya, ya. Makanya namanya dan bahkan kehidupan pribadinya, saya tutup di postingan ini. Saya hanya membahas salah satu status yang pernah dibuatnya :)

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge