Rabu, 04 November 2015

Anak Bersikap Kritis. Positif atau Negatif?


Anak bersikap kritis. Positif atau negatif?

Beberapa kali ketika Chi bercerita tentang Keke atau Nai di blog ini atau di social media, suka ada aja yang berpendapat kalau mereka adalah anak-anak yang kritis. Sebetulnya, gak cuma Keke dan Nai yang sering dibilang anak kritis. Seringkali Chi perhatiin setiap ada anak yang berani berpendapat selalu ada aja yang komen kalau anak tersebut kritis.

Reaksi pertama Chi ketika ada yang menganggap Keke dan Nai adalah anak kritis adalah senang. Chi anggap itu komentar yang positif. Tapi, lama-lama penasaran juga sebetulnya seperti apa sih yang dimaksud anak yang kritis? Apa jangan-jangan semua anak yang berani bicara dianggap kritis?

Chi coba mencari tau berbagai hal tentang anak kritis melalui berbagai artikel di internet. Dari sekian banyak ciri anak yang dianggap kritis di berbagai artikel, Chi menangkap benang merahnya adalah di komunikasi. Anak yang kritis adalah anak yang pintar dan berani berkomunikasi.

Sumber informasi (nyaris) tanpa batas

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa anak-anak sekarang seringkali dibilang generasi yang kritis dibanding anak-anak pada zaman Chi kecil? Chi gak percaya kalau hanya sekadar mendapatkan jawaban memang sudah beda zamannya. Chi rasa ada pemicunya, gak mungkin hanya karena beda zaman trus otomatis anak jadi kritis.

Kalau dulu orang tua udah kasih nasehat atau menegur, paling Chi cuma diam dan menunduk. Abis gak tau juga harus bagaimana. Mau berargumen juga serba salah. Berbeda banget dengan Keke dan Nai sekarang, seringkali kalau Chi ajak berdiskusi, nasehati atau menegur, mereka akan bertanya "Kenapa?" Satu pertanyaan kenapa akan dilanjutkan dengan rentetan kenapa lainnya. Kalaupun gak bertanya kenapa, mereka akan membela pendapatnya. Memang kadang belum tentu saat itu juga. Ketika Chi sedang marah, mereka juga seringkali diam tanpa sedikitpun membantah. Tapi, kemudian setelah suasana mereda mereka mulai memberikan pembelaan.

Chi rasa salah satu penyebab anak zaman sekarang menjadi lebih kritis adalah karena lebih banyak pilihan sumber informasi. Dulu, sumber informasi terbesar adalah dari orang tua dan guru. Iya, teman memang bisa memberikan informasi tapi gak banyak. Hiburan seperti channel televisi pun cuma ada 1, yaitu TVRI yang isinya adem banget, ya. Kalau sekarang kayaknya udah lebih dari generasi MTV, deh. Karena hiburan seperti musik, film, hingga game sudah ada dimana-mana. Dengan mudah didapat. :D

Beda banget sama zaman sekarang, informasi bisa dari manapun bahkan nyaris tanpa batas. Informasi yang semakin banyak bisa berakibat semakin banyak pula yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Ketika Chi mengajak anak-anak berdiskusi, mereka akan bisa membanding-bandingkan berdasarkan apa yang mereka tau. Begitu juga ketika Chi menegur mereka. Biasanya mereka akan memberikan pembelaan. Seringkali Chi mengingatkan diri sendiri untuk selalu update dengan sesuatu yang kekinian. Tujuannya untuk bisa memahami cara berpikir mereka.

Komunikasi terbuka


Sebisa mungkin, Chi memang memberikan anak-anak kebebasan berkomunikasi. Karena Chi dan K'Aie gak mau kalau mereka melakukan sesuatu secara diam-diam. Iya, kalau yang mereka lakukan itu untuk hal yang benar. Tapi, kenapa juga harus diam-diam kalau melakukan sesuatu yang benar?

Yang terjadi, beberapa kali mereka melakukan secara sembunyi-sembunyi dan begitu ketahuan alasannya karena takut bunda marah. Duh! Kesel juga sih sebetulnya kalau Chi sampe tau belakangan. Tapi, alasan mereka memang rada menusuk juga. Takut bunda marah, apa itu artinya Chi segitu galaknya? Kalau udah gitu langsung mengajak mereka berdiskusi. Mencoba untuk introspeksi juga. Sepertinya yang namanya berkomunikasi memang seperti harus belajar sepanjang hidup, nih.

Kayaknya bentuk komunikasi yang lebih terbuka ini juga bikin anak menjadi lebih kritis. Ini, sih, berdasarkan pengalaman pribadi dan juga pengamatan Chi terhadap sekitar. Kalau Chi perhatiin, orang tua zaman sekarang seringkali menempatkan diri seperti seorang teman kepada anaknya. Dan, biasanya anak akan lebih terbuka kalau caranya seperti itu.

Anak kritis itu positif atau negatif, nih?

Dari beberapa artikel yang Chi baca, anak yang kritis itu mengarah ke hal positif. Mereka lebih berani dan percaya diri saat mengeluarkan pendapat. Tapi, ada beberapa anak yang memang terlalu berani hingga terkesan tidak sopan. Misalnya, mentang-mentang orang tuanya bersikap seperti teman, anak lalu bersikap semaunya. Padahal anak tetap harus tau kalau yang mereka hadapi adalah orang tua. Nah, kalau yang seperti ini jangan dibungkam suara kritisnya tapi diarahkan. Bagaimana agar anak tetap kritis tanpa terkesan kurang sopan.

Bagaimana? Teman-teman senang dong punya anak yang bersikap kritis? Atau malah jadi ribet menghadapi ocehan mereka? :D

post signature

30 komentar:

  1. mmmharusnya senang ya mak, ignin tahu mereka besar, otak mereka lagi mencerna yg terjadi di esekeliling. cuma kadang orang dewasa nya (baca: saya) yg kurang sabar dlm menjelaskan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, problemnya justru kadang di orang dewasa :)

      Hapus
  2. biasanya anak kritis pinter2 bun...

    senang sih punya anak kritis bun..kalau diam aja pastinya saya yang gregetan he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. diam aja gregetan. Banyak nanya suka cape jawabnya wkwkkw

      Hapus
  3. seneng mak chiiii, pasti seru, qt jd hrus lbh bnyak beljr jg, dan satu lg, pastinya hrs lbih sabar..
    kenai memang top

    BalasHapus
  4. Semua tergantung pendekatan ortunya gimana sih memang Mbak Myra. Bener banget kalo anak harus belajar How to thinknya. Bukan What to think.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kembali gimana di rumah masing-masing :)

      Hapus
  5. Dari dua anakku yang kritis itu Sean mak,...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kirain Sean pendiam. Ternyata enggak, ya :)

      Hapus
  6. Seneng kok mba punya anak kritis.. ;) malah kdg lucu apalagi kalo msh batita kyk anakku.. Suka bingung jg jwb pertanyaan dia.. Trs hobinya kritik .. Kan dia dibesarin ama adat jawa bgt d rmh.. Smntara aku batak.. Jd kdg suka ga ngeh ama kebiasaan jawa.. Anakku itu diajarin utk mnjwab 'dalem eyang/papi/mami' kalo dipanggil.

    Nah pernah pas giliran dia mangil aku, aku ngejawabnya , 'yaaaa apaan?'

    Hahahhahah dia lgs ngomel. 'Mami ngejawabnya ga boleh gt. Hrs jawab, dalem Piyi' wkwkwkkkkw...

    Ah sudahlah... Anak2 ini emg suka lucu kalo kritis begini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk nah itu dia anak juga suka ngebalikin :D

      Hapus
  7. Ya meski agak deg-deg an juga kalo punya anak kritis karena sering ngomong to the point dan kita harus lebih siap diskusi, aku suka anak kritis. Itu artinya dia anak yang peduli dg peristiwa di sekelilingnya, mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! mungkin disitu juga seninya, Mbak. Suka ada rasa deg-degannya :)

      Hapus
  8. seneng juga sih Myr, daripada punya anak yang super pendiam

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, anak kritis lebih menyenangkan :)

      Hapus
  9. mba myr, pa kabarrr??? seneng liat keke dan nai tambah pinter :)

    kalo ak seneng mba sama anak kritis, tapi bener mba myr bilang, mereka harus tetap di arahkan agar penyampaiannya lebih sopan dan beretika :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah baik.

      Iya, tetep harus diarahkan :)

      Hapus
  10. Anak kritis bisasanya karena rasa keingintahuanya akan sesuatu begitu besar.
    Dulu saya meraa gitu Mbak hehehe :D

    Seneng ya punya anak cerdas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bersyukur punya anak yang kritis :)

      Hapus
  11. hihihi.. sama nih udah kena kritisnya Selma, dulu Shidqi yg begitu :)

    BalasHapus
  12. Klo lg kritis.. yg ditanyakan itu banyak bgt.. sampe kdg ada yg ga bs dijawab. klo dah gitu biasanya aku balikin nanya lagi ke anaknya, dia jadi ikut mikir.. klo aku dah jawab "nah.. adik udah pintar.." baru dia senyum dan diam. Jadi emang bener sih.. intinya komunikasi. Kadang anak udah tau jawabannya, tp dia butuh konfirmasi, menurut saya.. hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, memang sebaiknya sesekali dikasih pertanyaan balik agar anak juga ikut berpikir :)

      Hapus
  13. kritis memang bagus ya mba, tapi kadang saya suka ribet kalo kritisnya anak2 udah keluar, banyak nanya hahaha.... (soalnya emaknya bingung ngasih jawabannya :D )

    BalasHapus
  14. Ngga cukup dg kata ngga boleh, skrg harus ada penjabarannya. Krn, pola pandang، dan pemikiran anak2 skrg memang waaar biaasaah. Explorenya apalagi . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Lagian daripada mereka nanti cari jawabannya sendiri malah bisa berbahaya kalau sampai dapat jawaban yang salah

      Hapus
  15. Positif atau negatif, namanya juga anak2. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak bisa segala hal cukup hanya dengan bilang 'namanya juga anak-anak'. Anak-anak harus diarahkan. Memang ketika dewasa nanti seseorang bisa mendadak jadi baik atau jahat? Karakter seseorang dibentuk sejak dini

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge