Jumat, 25 September 2015

Benarkah Gurumu Galak?

Benarkah gurumu galak? Yuk, coba pikirkan lagi. Suatu hari, salah seorang sepupu Chi yang masih SMP cerita *sambil tertawa-tawa* kalau dia dan beberapa temannya dipukul telapak tangannya oleh gurunya. Salah seorang temannya tidak terima. Dan dengan sedikit mengancam mengatakan akan memperkarakan masalah. Menurut sepupu Chi, gurunya langsung meminta maaf kepada murid-muridnya. Dan agak memohon supaya masalah tersebut gak diperpanjang. Dan, menurut cerita sepupu Chi sekarang gurunya jadi gak berani menghukum lagi.

Chi: "Memangnya gurumu keras sekali memukul telapak tangan kamu dan teman-teman?"
Sepupu: "Enggak juga, sih."

Oke, keras atau tidak memang relatif, ya. Tapi kalau Chi mencoba mengambil kesimpulan dari cara sepupu bercerita, sepertinya memang gurunya hanya memukul biasa aja.

Chi: "Emang, gara-garanya kenapa sampe dipukul?"
Sepupu: "Gara-garanya kita pada ngobrol di kelas pas guru lagi ngajarin."
Chi: "Ohh ... trus, kalian langsung dipukul."
Sepupu: "Enggak, sih. Pertamanya ditegur dulu, diminta jangan ngobrol saat jam pelajaran. Tapi, gak ada yang nurut. Jadi aja akhirnya yang ngobrol dipukul telapak tangannya."
Chi: "Kalau gitu menurut mu hukuman apa yang pas untuk siswa yang gak nurut sama guru? Kan, awalnya guru gak langsung mukul. Tapi menegur dulu cuma gak pada nurut, kan?"
Sepupu: "Hehehe ..."

Sepupu Chi hanya tertawa tapi gak kasih solusi, hukuman apa yang pantas kalau siswa gak nurut sama guru. Buat Chi ini menggelitik banget.

Di dunia maya, Chi beberapa kali melihat komik yang membandingkan gaya pendidikan sekarang dan dulu. Kalau dulu, gurulah yang paling di dengar. Anak dihukum guru, jangan coba-coba cerita ke orang tua kalau gak mau dikasih hukuman tambahan. Kalau zaman sekarang justru katanya kebalikan. Guru yang terlihat 'menciut' dihadapan orang tua bahkan murid.

Pernah juga, sih, beberapa kali dijadikan bahasan di berbagai grup. Kalau dulu, sih, dipukul pake penggaris aja, anak bisa diem. Berbeda dengan zaman sekarang. Lalu kemudian ada yang menyimpulkan kalau anak zaman dulu lebih tangguh. Ah, kalau soal ketangguhan Chi berada di tengah, deh. Setiap zaman punya tantangan sendiri. Jadi gak ada generasi yang lebih tangguh dibanding generasi lainnya.

Chi juga bukan orang yang setuju kalau anak harus selalu diberi kekerasan supaya menurut. Chi bahkan akan marah besar kalau kedapatan ada guru yang dengan mudah bermain fisik ke anak-anak. Menampar, menendang, dan hal-hal seperti itu sangat tidak boleh dilakukan. Tapi Chi juga sama gak setujunya ketika ada murid yang entah beneran mengancam atau sekedar menggertak gurunya ketika memberikan hukuman. Tapi murid tersebut juga gak nurut kalau dibilangin baik-baik.

Sepupu Chi merasa biasa aja dengan hukuman tersebut. Menurutnya, gurunya hanya menepuk pelan. Entah dengan temannya. Mungkin bagi temannya itu merupakan hukuman yang menyakitkan. Tapi bisa juga hanya sekadar berpura-pura dengan tujuan untuk membalikkan kesalahan. Supaya tetep bebas melakukan kesalahan yang sama.

Makanya Chi nanya balik ke sepupu tentang hukuman apa yang pantas supaya anak-anak menurut. Sayangnya dia gak bisa jawab, sih. Nah, kalau begini agak kasihan sama gurunya, kan? Beliau punya kewajiban mengajar, tapi kalau ada siswa yang berulah pasti suasana belajar mengajar jadi terganggu. Sedangkan beliau gak leluasa memberikan hukuman yang tepat.

Kalau Chi, sih, gak membabi-buta memberikan pembelaan ke anak-anak. Alhamdulillah belum ketemu guru atau wali kelas yang kasar. Tapi Chi juga sering bilang ke anak-anak, kalau mereka ada salah dan ditegur harus terima. Karena bunda gak akan mau belain yang salah kecuali kalau hukumannya keterlaluan. Atau bunda baru belain kalau ternyata anak-anak gak salah tapi tetap dapat hukuman. Biasanya Chi suka cross check dulu sebelum melakukan protes.

Menurut teman-teman, kira-kira bolehkah seorang guru menghukum anak muridnya kalau ditegur sudah tidak mempan? Tapi kalau sudah diperingatkan si murid gak nurut juga, apa yang harus dilakukan. Mungkin kalau di rumah, ceritanya akan seperti sikap orang tua kepada anak. Ketika orangtua mulai bersikap tegas, dianggapnya tega. Padahal tega demi kebaikan gak apa-apa, ya :)

post signature

23 komentar:

  1. boleh, asal tau batasannya aja :)

    BalasHapus
  2. Kalau menurut saya, supaya tidak kena perkara apapun Guru memberikan surat peringatan kepada orang tuanya, supaya orang tua/wali muridnya saja yang memperingatkan, dan lebih maksimalnya lagi setiap sekolah memasang cctv dan hasil rekamannya diberikan setiap bulan kepada orang tua untuk evaluasi :) itu sih cara terbaik untuk saat ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, Pan. Tapi, menurut saya juga untuk hal-hal kecil memang sebaiknya percayakan kepada sekolah untuk mendisiplinkan anak. Nanti pas terima rapor baru dikasih tau ke orang tua. Kalau CCTV mungkin kepentoknya sama biaya hehe

      Hapus
  3. Memukul tangan boleh-boleh saja si buatku asal hal itu dilakukan ketika si murid telah diberi peringatan terlebih dahulu tapi ternyata mengabaikannya. Dan tidak boleh pukulannya meninggalkan bekas apalagi luka dan cacat. Tapi lebih baik si murid dihukum berdiri di atas meja deh :p malunya itu luar biasa >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju harus bertahap dan jangan sampai meninggalkan trauma. Iya, sih kalau disuruh berdiri bakal malu. Tpai kadang ada juga anak yang akhirnya gak terima karena merasa dipermalukan. Serba salah jug jadi guru :D

      Hapus
  4. Tes komentar. Tadi coba pake Chrome, gagal, sekarang pake Mozilla.

    Sejak diberlakukannya UU Perlindungan Anak, sekarang jadi dilema buat guru. Tujuan UU nya itu baik .. melindungi anak dari kekerasan yg dilakukan orang dewasa. Namun ini betul2 dimanfaatkan oleh mereka yg 'ndableg'. Saat ini gampang bagi anak didik dan ortunya melaporkan sang guru ke pihak yg berwajib bila melakukan kekerasan fisik.
    Salah satu alternatif solusi menurut saya adalah fokuskan saja pada kompensasi pemberian nilai sikap. Bila nilainya kurang dari KKM, panggil ortu anak tsb ke sekolah.
    Pemanggilan ortu ke sekolah bisa menjadi shock therapy bagi sang anak. Artinya, guru bisa saja memukul anak, tapi bukan lewat tangannya sendiri, ... lewat tangan ortunya. Jadi, guru tidak perlu melakukan kekerasan fisik. Tinggal mengarahkan ortunya saja agar mendidik sikap anaknya dg baik.

    BalasHapus
  5. tulis kelakuan anak di buku penghubung/ buku komunikasi wali kelas dan wali murid agar komunikasi jalan. Muridku dulu juga ada yang bandel banget. Bisa "diam" dengan kelembutan dan komunikasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun lebih setuju dengan cara ini, Mbak

      Hapus
  6. dulu, saya sempat kesel waktu ditabok guru (smp)
    tapi seiring waktu, akhirnya nyadar kalo apa yang dilakuinnya bener karena saya emang salah

    eh sekarang malah miris pas baca berita, murid dihukum guru malah ngadu ke orangtuanya hingga ngamuk2 di sekolah
    kalo jaman saya dulu mah, ditabok guru, terus ngadu ke bokap, malah saya tambah ditempeleng :)
    ha ha ha

    BalasHapus
    Balasan
    1. beda zaman, beda cerita hehehe. Tapi, saya juga gak bakal terima sih kalau anak ditempeleng :D

      Hapus
  7. TEga yang berbatas, tdk kasar....

    BalasHapus
  8. Kalo udah ada peringatan sih menurutku ga masalah tapi dengan catatan menghukum seperlunya aja tapi anak sekarang emang besa sih mak chi. Pengalamanku kuliah dulu liat dosen aja tu deg2an banget sekarang..anak2 tu nganggep dosen biasa aja..kadamg ngobrol dgn santainya..atau malah main gadget paa jam kuliah. Makanya awal kuliah aku udah blg no gadget in my class...
    La iki.kok.malah curcol sih hehhehe.... :p

    BalasHapus
  9. Hukuman mah boleh aja, asal hukumannya tepat. Kadang-kadang hukuman memang diperlukan jika memang perlu. Tinggal jenis hukumannya aja. Kalau di sekolah anak-anak bentuk hukuman berhubungan dg nilai. Ada poin-poin yang bisa ditambah atau dikurangi sesuai perilaku si anak. Ada juga hukuman dalam bentuk peer atau tugas tertentu seperti membersihkan halaman sekolah atau kamar mandi.

    BalasHapus
  10. kadang ada anak yang lebay juga, oops gimana ya bahasanya. Misalnya cuma di tepuk tapi laporannya di pukul. betul hjuga harus di kroscek dulu

    BalasHapus
  11. iya kalau udah dikasih tau ..gak mempan..dihukum wajarlah, tapi ya hukumannya gak boleh sadis ...

    BalasHapus
  12. kekerasan bukan jalan keluar agar anak bisa nurut sama guru. untuk sementara mungkin efektif. tapi dampaknya akan tidak baik bagi anak. seharusnya guru juga introspeksi diri mengapa dengan hanya diingatkan murid tidak menurut.... masih banyak punishment lain yang lebih mendidikbuat anak

    BalasHapus
  13. Mungkin mesti ada pembelajaran dari semua aspek yg terlibat ya. Setuju harus ada batasannya. Tapi baasan ini juga harus disosialisasikan dan disepakati oleh guru, murid dan orang tua murid. Ngga mudah, tapi bukan ngga mungkin.
    Nah menurut mak Chi sendiri, kira2 hukuman apa yg pantas untuk kasus seperti teman sepupunya itu? ;-)

    BalasHapus
  14. Selama masih wajar dan memang sesuai dengan kesalahan, aku setuju hukuman untuk mendisiplinkan. Mungkin memang ada guru yang gak bisa menahan diri dan terbawa emosi ketika marahin siswa, apalagi kalo siswanya ngeyel gak bisa dibilangin. Guru juga kan manusia, ada aja khilafnya. Solusinya, kalau udah kesalahan berulang, kasih surat peringatan dan panggil ortunya spy guru dan ortu bisa berdiskusi gimana baiknya menangani si anak.

    BalasHapus
  15. Gw dulu takut ama gw IPS, karna kalo ngak bisa jwab ngak boleh pulang #GuruGalak

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge