Sabtu, 05 September 2015

Ajarkan Anak-Anak Untuk Tertib Antre

Hari Kamis lalu (25/7), kami jalan-jalan ke Jungleland. Sebetulnya sebelum puasa, kami berempat sudah ke Jungleland [silakan baca di postingan "Ke JungleLand Saat Weekend Bisa Sampai Malam, Tapi..."] Kali ini kami rame-rame ke JungleLand-nya. Bersama keluarga kakak ipar yang selam ini tinggal di Kalimantan. Dan 2 lagi keponakan dari kakak ipar yang tinggal di Jakarta. Total ada 11 orang yang ke JungleLand. Cerita tentang ngapain aja di JungleLand, nanti akan Chi ceritain di blog www.jalanjalankenai.com. Kali ini Chi mau menceritakan tentang belajar antre.

Salah satu wahana permainan di JungleLand adalah bom-bom car untuk anak dengan tinggi di bawah 135cm. Kalau dikunjungan pertama Nai gak mau ikut main di sana karena gak ada temennya *Keke udah gak boleh karena udah jauh di atas 135 cm tingginya*, dikunjungan ke dua Nai semangat main bom-bom car karena ada sepupu yang sepantaran.

Wahana bom-bom car yang Nai ikutin memang khusus untuk anak-anak. Bahkan orang tua pun dilarang untuk ikutan antre. Tertulis dengan jelas kok aturannya. Sayangnya, ada aja beberapa orang tua yang tidak mematuhi aturan tersebut. Kalau dibilang gak membaca, tulisannya terlihat sangat jelas. Masa' gak membaca? Trus kalau dibilang sengaja abai, alasannya apa?

Kalau alasannya adalah karena anaknya belum bisa antre, menurut Chi di sini orang tua harus tegas. Jangan kasih mereka permainan tersebut walopun anaknya kepengen. Kalau anaknya sampe ngambek, ya itu kembali ke masing-masing orang tua bagaimana menenangkannya. Pokoknya jangan sampe demi menyenangkan anak sendiri tapi kenyamanan anak lain terganggu.

Karena aturannya melarang orang tua ikut antrean, Chi pun berdiri di pinggir area. Agak jauh dari anak-anak karena mencari tempat nyaman, menyiapkan kamera untuk ambil foto saat mereka main bom-bom car. Tapi, kok Nai dan sepupunya gak juga main? Padahal kayaknya mereka sudah antre paling depan dari tadi. Ternyata setelah Chi perhatiin, setiap kali bel tanda usai 1 sesi bom-bom car, anak-anak yang tadinya tertib langsung pada berebutan baris di depan. Nanti kalau gak kebagian giliran, mulai antre lagi. Tapi setelah satu sesi selesai, mereka mulai rebutan lagi. Nai dan sepupunya terlihat diam mengalah.

Chi: "Kok, kalian berdua gak main juga, sih? Perasaan dari tadi antreannya udah paling depan?"
Yasmin: "Kita berdua diselak melulu, Tante."
Chi: "Trus, kalian berdua diam aja diselak terus? Gini, ya kalau nanti sampe kalian diselak lagi bilang dengan tegas 'ANTRI!' Kalau kalian masih gak bisa tegas, biar nanti Tante yang bilang sama mas-nya. Masa' terus-terusan diselak."

Chi memang gak menegur langsung orang tua ataupun petugas JungleLand. Tapi volume suara Chi sengaja dikeraskan. Dan Chi yakin banget petugas JungleLand serta beberapa orang tua yang ada di dekat Chi mendengar ucapan keras Chi hehehe. Chi perhatiin setelah ngomong begitu, salah seorang ibu langsung berbisik ke anaknya supaya mau antre. Nai dan sepupunya pun langsung dapat antrean berikutnya. Ya, baguslah jadi Chi gak perlu sewot lanjutan hahaha.

Untuk kejadian itu rasanya Chi gak bisa terima pembenaran dengan mengatakan "namanya juga anak-anak." Mereka memang anak-anak. Chi pun sangat memaklumi kalau mereka masih berebutan untuk masuk. Tapi, di dekat mereka kan ada orang tua masing-masing.Kewajiban orang tualah untuk mengajarkan anak-anaknya supaya mau tertib antre.

Coba juga bayangkan, seandainya kondisinya di balik. Anaknya yang diselak melulu, apa iya masih mau memaklumi? Jangan-jangan giliran anaknya diselak melulu malah ngomel. Tapi giliran anaknya yang nyelak malah nyantai aja karena yang penting anaknya bisa dapat duluan supaya orang tua gak kelamaan nunggunya.

Duh! Chi jadi berprasangka, kan? Tapi memang miris hati juga melihat anak-anak pada saling berebutan dulu-duluan, sementara orang tuanya pada diam aja. Padahal pagar antrean udah jelas. Kalau mas penjaganya kayaknya udah pusing gimana ngaturnya kali, ya. Lagipula kebiasaan disiplin harus dimulai sejak kecil, kan?

Yuk! Ajarkan anak-anak untuk tertib antre karena gak mungkin mereka mendadak bisa tertib tanpa dilatih :)

post signature

13 komentar:

  1. Yups, bener sekali mba, justru masih kanak-kanak, dilatih untuk belajar mengetahui dan mengikuti aturan, nantinya akan bisa membentuk kepribadian yang baik

    BalasHapus
  2. betul banget budhe.. Noofa jg suka antre lhoo.. sama Umi kalo ke ATM noofa selalu tertib antre

    BalasHapus
  3. Wah iya tu mbak klao main bom bom car suka brutal rebutan dpt mobilnya begitu bel tanda selesai bunyi....kalo antri kan enak ya sebenernya

    BalasHapus
  4. Beneran Mak, budaya antre emang kudu dibiasain sejak kecil. Tapi ya, kalo aku lihat di tempat makan gitu. Anak-anak pada antre. Lha ini ortu-ortu yang suka pada nyela antrean. Gemeeees deh...

    BalasHapus
  5. Kalau ngomongin ada yang diselak pas antre, kesabaran jarang banget muncul, ya. Adanya gemesh. :D

    BalasHapus
  6. dimulai dari mencontoh orang tuanya ya myr

    BalasHapus
  7. Bener banget Mak.. saya termasuk orang yang enggak suka diselak saat antre. Pembelajaran antre memang harus dimulai dan dibiasakan sejak kecil.
    Salut sama Nai dan sepupunya yg sudah sabar antre.. ^_^

    BalasHapus
  8. Bintang kalau bayar di kasir pasti bilang antri lo yah...

    BalasHapus
  9. Mestinya orang dewasa (petugas) tidak melayani anak-anak yang tidak antre ya, Chi. Anak-anak yang nyerobot itu kudu diabaikan. Petugas bilang, "Berikutnya!" ke anak-anak yang antre aja. Jadi, anak-anak yang nyerobot mau ga mau harus mbalik ke belakang dan antre.

    BalasHapus
  10. Bener tuh, suka ada aja mak yg ortu dilarang ikut, malah ikutan.
    Mengajarkan antre memang harus sejak dini, alhandulillah chantika udah mau hidup antre, kalau dibawa kearena bermain yg penuh.

    BalasHapus
  11. Antri ini juga melatih anak jadi disiplin juga yaaaa

    BalasHapus
  12. Budaya antri memang sebaiknya dilatih mulai kecil. Aku paling nggak suka juga kalo orang2 pada sikut2an nggak mau antri, makanya aku lebih suka kalo dikasih nomor antrian saja *ih jadi inget kemarin ngantri beli nasi jagung diselak 2 orang. Utk org ke 3 nggak mau ngalah lagi aku haha :D

    BalasHapus
  13. Seandainya semua orang tua mengajarkan hal yang sama, pasti banyak hal baik akan terpatri dalam generasi selanjutnya di negeri ini ya Mba Myra?. Mungkin ini salah satu alasan orang tua harus ikut belajar cara mendidik anak. Keren ulasannya.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge