Featured Post

Bebas Nyeri Sendi Saat Mendaki dengan VIOSTIN DS

Kelihatan gagah, ya. Padahal aslinya sendi lutut terasa nyut-nyutan berkali-kali hehehe. Tapi sekarang udah ada solusinya. Baca aja cer...

Senin, 30 Maret 2015

Keke Lagi Puber, Nai Yang Sedih


Keke lagi puber, Nai yang sedih. Itulah yang sedang dialami 2 kakak-beradik ini. Tadinya, Chi pikir kalau Keke lagi puber, gak akan berimbas ke Nai. Ternyata, bisa dan bikin Nai sedih hingga sempat nangis sesenggukan.

Nai: "Ayah, kita makan di Tamani Kids Kemang lagi, yuk!"
Bunda: "Jauh amat, Dek. Tamani, kan, juga ada yang deket rumah."
Nai: "Iya, tapi gak ada tempat bermainnya."
Keke: "Keke males, ah. Kalau mau makan aja."
Nai: "Yaaa.. Keke. Ayolah, temenin Ima main."
Keke: "Gak mauuu."
Nai: "Kekeee... Kalau gitu asuh Ima, yaaa.. Kita main bola di sana. Keke suka, kan?"
Keke: "Keke gak mau, Imaaa."

Kamis, 26 Maret 2015

Bawa Bekal atau Uang Jajan?

Lunch bag yang setiap hari dibawa Keke dan Nai ke sekolah

Sejak anak-anak mulai sekolah, Chi bertekad kalau anak-anak harus bawa bekal ke sekolah. Lebih higienis tentu jadi alasan utama. Tapi, enggak cuma itu, sih. Waktu anak-anak masih TK, memang gak ada kantin di sekolah. Di sekeliling pun gak ada tukang jualan. Jadi, memang harus bawa bekal. Kecuali di hari Jum'at. Karena setiap Jum'at, sekolah yang menyediakan makanan bagi semua murid.

Ketika masuk SD, kebiasaan bawa bekal pun berlanjut. Di sekolah memang ada kantin, tapi makanan berat yang dijual cuma 1 macam, yaitu baso. Masa' setiap hari Keke dan Nai makan baso.  Bosen, dong. Ada, sih, yang nawarin catering di sekolah. Cuma, setelah dihitung-hitung, jatohnya jadi mahal. Jauh lebih irit bawa bekal sendiri.

Lagipula, anak-anak lebih suka dengan bekal buatan bundanya. Beberapa kali mereka diajak tukeran bekal atau saling berbagi bekal dengan teman. Menurut Keke dan Nai, mereka lebih suka makanan buatan bunda. Alhamdulillah.

Selasa, 24 Maret 2015

Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa

Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa

Kekurangan atau kelebihan gizi bisa menjadi masalah. Dengan gizi pula, masalah tersebut bisa diperbaiki. Jum'at, 20 Maret 2015, bertempat di Ruang Mutiara 1, JW Marriot - Jakarta, #Nutritalk kembali digelar dengan tema "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa"

Acara yang yang dibuka oleh MC, mbak Arletta Danisworo, menghadirkan 2 narasumber, yaitu
  1. Dr. Martine Alles - Director Development Physiology & Nutrition at Danone Nutricia Early Life Nutrition, Netherland
  2. Prof. Dr. Ir. H. Hardiansyah, MS - Guru Besar FEMA IPB

Sabtu, 21 Maret 2015

Biaya Keperluan Sekolah yang Tak Terduga

Ketika mencari TK dan SD untuk Keke dan Nai, salah satu pertimbangan adalah biaya. Sudah pasti, lah, itu. Karena harus mencari sekolah yang sesuai dengan kemampuan finansial. Tapi, gak cuma itu aja kalau menyangkut pertimbangan biaya. Selain pertimbangan kemampuan finansial, kami menghindari sekolah yang banyak biaya ini-itu saat kegiatan belajar berlangsung. Misalnya, dapet surat dari sekolah untuk biaya outbound, trus berikutnya dapet surat lagi untuk biaya ini-itu. Kalau nyicil-nyicil, kami gak sreg. Karena kadang suka ada aja biaya yang gak terduga.

Beruntung kami mendapatkan sekolah yang pembiayaannya seperti yang kami mau. Cuma setahun sekali, bayar sejumlah uang dengan beberapa perincian yang sudah tertera di surat edaran. Setelahnya, kami hanya mengeluarkan biaya SPP tiap bulan saja. Buat kami, ini cara yang gak pake ribet.

Ternyata bukan berarti kami sepenuhnya bebas dari biaya sekolah tak terduga. Cuma, penyebabnya bukanlah sekolah. Karena kalau pembiayaan dari sekolah udah jelas. Yang gak terduga itu biasanya karena kecerobohan Keke atau Nai.

Rabu, 18 Maret 2015

Peran Gizi Bagi Perkembangan Otak Anak di Masa Depan. Wyeth Nutrition - Celebrating 100 Years of Nourishing Pioneers and Beyond

Hmmm... kayaknya kalau yang ini udah mulai kelebihan gizi :D

Kamis, 12 Februari 2015, Chi menghadiri undangan media dan blogger gathering dari Wyeth Nutrition. Acara yang berlangsung di Balroom 1, Ritz Carlton Hotel - Mega Kuningan, merayakan hari jadi Wyeth Nutrition yang ke-100 tahun.

Hari jadi ini diisi dengan acara bincang-bingan yang bertema "Seberapa penting peran gizi bagi pertumbuhan otak anak? Dan, apa peran Wyeth Nutrition dalam hal pertumbuhan otak anak, khususnya bagi anak Indonesia?" Bincang-bincang ini menghadirkan 4 narasumber, yaitu DR. Dr. R.A Setyo Handryastuti, SpA(K), Ketua UKK Neurologi IDAI , Dr. Endang D. Lestari SpA(K), MPH, Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Alejandro Septien E, Vice President Director PT. Wyeth Nutrition Indonesia, Dr. Djaja Nataatmadja, Senior Medical Manager PT. Wyeth Nutrition

Senin, 16 Maret 2015

Jumpalitan dan Tip Menghadapi Anak Puber


Akhir-akhir ini, Chi rasanya jumpalitan menghadapi Keke yang sedang puber. Emosi yang mudah berubah pada anak yang sedang puber, ternyata gak bisa dianggap hal yanga lami yang akan kembali normal begitu saja. Malah beberapa sumber mengatakan kalau anak yang sedang puber dan tidak tertangani, bisa membuat si anak depresi, lho. Sampe segitunya, kah? Yup! Mungkin aja.

Bunda: "Ke, masih inget, gak, dulu pas ada lagu ini Keke joget-joget trus dividioin dan diupload ke youtube?"
Keke: "IYA!"

Kejadian sekitar 2 bulan lalu. Saat itu, kami lagi jalan-jalan. Di salah satu radio mengalun lagu lama yang iramanya energik. Chi bener-bener kaget ketika Keke jawabnya pake ngebentak. Rasanya, kami lagi senang-senang aja. Kok, tiba-tiba Keke ngebentak.

Chi pun memarahi, K'Aie juga ikut menasehati. Boro-boro meminta maaf, Keke lebih memilih merebahkan kursi depan dan tiduran. Makin jengkel aja Chi saat itu melihat Keke. Tapi, gak lama kemudian, Keke kembali ceria seolah-seolah gak terjadi apa-apa. Chi yang masih jengkel karena dibentak, cuma diam. Bingung juga melihat sikap Keke yang berubah-ubah. Keke juga akhir-akhir ini suka mengungkapkan rasa iri terhadap adiknya.

Sabtu, 14 Maret 2015

4 Tip Membedong Bayi

Bolehkan membedong bayi? Kalau dulu, semua kayaknya bakalan kompak bilang boleh bahkan harus. Tapi, di zaman digital gini, bisa menimbulkan pro-kontra. Pro-kontra dengan alasan kuno vs modern, dan lain sebagainya.

Jangankan zaman sekarang, waktu Keke lahir pun pro-kontra itu udah ada. Papah Chi beberapa kali protes kalau melihat Keke gak dibedong. Menurut papah, bedong bisa membuat kaki bayi menjadi lurus. Takut menjadi anak yang gak gagah, katanya. Ya, mungkin karena Keke, kan, cucu pertama. Udah gitu laki-laki pula. Bangga kali kalau cucunya kelak terlihat gagah. Jadi, khawatir kalau gak dibedong akan berakibat kepada kaki Keke.

Waktu itu, Chi diam aja tapi ngeyel :p Ya, abis gimana lagi, di satu sisi orang tua sudah lebih banyak makan asam garam. Ada pikiran, siapa tau memang benar yang dikatakan papah. Tapi, di sisi lain, Chi juga gak yakin hubungan antara bedong dan kaki bengkok. Sayangnya, saat itu Chi belom akrab sama dunia internet/ Jadi, belom bisa cari perbandingan yang banyak.

Rabu, 11 Maret 2015

Koleksi Diecast Keke Dipajang Lagi

Pagi ini, Chi kembali memajang koleksi diecast Keke. Keke belum tau kalau diecastnya kembali dipajang karena udah keburu berangkat ke sekolah. Chi berharap sepulang sekolah nanti, Keke akan senang melihat diecastnya kembali dan boleh dimainin lagi.

Keke memang beberapa bulan gak main diecast. Semua koleksi diecast yang tersisa Chi simpan di lemari. Awalnya, Keke gak menolak karena tau alasannya. Tapi, akhir-akhir ini dia terlihat kangen dengan diecastnya. Chi belum juga mengabulkan permintaannya. Selain masih ragu, Chi juga sempet lupa menyimpannya di lemari yang mana hehehe.

Sebetulnya, Keke gak punya salah apapun yang menyebabkan diecastnya terpaksa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Tapi, Keke seringkali terlihat sedih setiap kali diecastnya dimainin sama Fabian, sepupunya yang (sekarang) berusia 4,5 tahun.

Senin, 09 Maret 2015

Keke Mulai Puber? Yuk! Kenali Tanda-Tanda Pubertas pada Anak Laki-Laki

 Waktu cepat berlalu. Rasanya, belum lama Keke masih bergigi roges. Sekarang, malah udah puber. :)

Kenali tanda-tanda puber pada anak laki-laki. Keke mulai puber? Ahh... tidak!

Beberapa waktu terakhir ini, Chi dan K'Aie seperti mencoba menyangkal kenyataan kalau kemungkinan Keke mulai puber. Mendengar kata puber, terkesan untuk remaja. Sementara buat kami, Keke masih anak-anak. Masih jauh dari kata puber.

Sebetulnya, tanda-tanda adanya perubahan dalam diri Keke mulai terlihat sejak liburan tengah semester lalu. Tapi, kami belum terpikir ke arah sana. Padahal beberapa orang mulai merasa kalau suara Keke sudah mulai pecah. Kami tetap aja berpikir kalau suaranya yang pecah itu karena sedang batuk, bukan karena puber.

Kemudian, beberapa minggu lalu, wali kelas nge-whatssap Chi. Katanya, ada yang mau dibicarain tentang perubahan yang terjadi sama Keke akhir-akhir ini. Menurut wali kelasnya, sikap Keke agak berubah. Menjadi sedikit pendiam dari biasanya. Nilai-nilai pelajarannya pun agak menurun. Wali kelas menduga kemungkinan Keke mulai memasuki masa puber.

Chi bilang kalau kemungkinan itu ada. Tapi, Chi juga bilang kalau mungkin aja Keke lagi sakit. Udah lumayan lama Keke terkena batuk yang membuatnya kurang beristirahat. Bisa jadi sikapnya yang menjadi sedikit pendiam, agak uring-uringan, nilai pelajarannya menurun, dan lain sebagainya karena kurang beristirahat gara-gara sakit.

Walopun begitu, Chi juga udah mulai gak bisa menampik kalau memang ada kemungkinan Keke masuk masa puber. Apalagi yang bicara adalah wali kelas. Tentunya, sebagai guru sudah punya pengalaman bagaimana mengetahui tanda-tanda anak puber.

Chi pun mulai mencari tau banyak informasi mengenai masa puber khususnya bagi anak laki-laki. Dan, beberapa tanda memang sudah ada pada Keke. Berikut tanda-tandanya ...

Kamis, 05 Maret 2015

Baju Seragam

Liburan bulan Desember lalu, kami sekeluarga udah kayak yang kena demam Doraemon karena gak cuma rela antre buat nonton Stand By Me tapi juga datang ke event “100 Doraemon Secret Gadget Expo.”Kami bahkan masih punya 4 tiket event Doraemon Expo lagi yang rencananya akan dipakai sehari setelah Keke ulang tahun. Nai malah dari jauh-jauh hari udah berencana memakai baju seragam buat dateng ke exponya.

Tapi, sebagus apapun rencana, Tuhan juga yang menentukan ...

Sekitar hampir 4 minggu lalu papah mertua terjatuh. Kepalanya terbentur dan dalam hitungan detik langsung gak bisa-apa. Sadar, tapi gak bisa melakukan apapun. Makan melalui selang, ngomong gak bisa, bergerak juga gak bisa. Serba gak bisa, bisanya cuma tiduran.

Dirawat di rumah sakit selama lebih dari 2 minggu. Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan. Sudah pulang ke rumah sejak seminggu yang lalu. Walopun kalau dibandingkan dengan keadaan sebelum jatuh, masih jauh, lah. Kondisinya juga kadang ngedrop. Tapi, disyukuri saja setiap perkembangan yang baik.

Karena keadaan itu, setiap wiken kami sekeluarga 'ngungsi' ke rumah mertua. K'Aie setiap hari, sepulang dari kantor, menjenguk ke rumah sakit sekalian jemput mamah yang setiap hari nemenin papah. Akibatnya, pulangnya jadi lebih larut. Setelah papah pulang dari rumah sakit, malah pergi dulu ke rumah orang tua sebelum ngantor. Bahkan beberapa hari terakhir ini agak jarang ngantor.

Minggu, 01 Maret 2015

Berhak Bahagia


"Yakin, mau resign? Emang mau ngapain? Awalnya aja yang enak. Bisa santai-santai, dasteran, gak mikir dandan, bisa nonton infotainment sampe puas. Tapi, lama-lama bosen juga kali. Mau ngobrol sama temen juga susah, karena rata-rata udah pada punya kegiatan."

Entah berapa banyak yang mengeluarkan nada serupa, ketika tau Chi memutuskan untuk resign beberapa bulan sebelum menikah. Rasanya, cuma K'Aie yang benar-benar mendukung tanpa banyak nanya ini-itu. Mungkin, karena K'Aie sudah tau seberapa kuat keinginan Chi untuk resign saat itu. K'Aie juga tau, alasan Chi memilih resign. Alasan yang sangat pribadi.

Sebetulnya, Chi cukup heran juga, kenapa waktu dipelakukan seperti itu lebih memilih diam. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin karena saat itu Chi juga gak tau jawabannya. Iya, Chi suka nonton tv, tapi kayaknya gak sampe addict, deh. Ngeblog? Bahkan, saat itu, tidak ada internet di rumah. Cuma 1 aja yang Chi yakin jawabnya, yaitu gak akan pake daster karena memang gak suka dasteran sampe sekarang.

Tip Mencegah dan Mengobati Ruam Popok pada Bayi

 Senyum seperti ini bisa hilang kalau anak-anak lagi terkena ruam popok

Salah satu masalah yang umumnya dialami oleh orang tua yang sedang mempunyai bayi adalah ruam popok atau diaper rash. Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi di area yang tertutup popok. Chi sering juga menyebutnya lecet. Penyebabnya itu biasanya karena urin dan pup bayi. Seperti iritasi lainnya, rasanya itu sangat tidak nyaman. Biasanya bikin bayi jadi rewel. Chi punya tip mencegah dan mengobati ruam popok pada bayi. Karena walopun jarang, Keke dan Nai pun pernah mengalaminya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge