Featured Post

Bebas Nyeri Sendi Saat Mendaki dengan VIOSTIN DS

Kelihatan gagah, ya. Padahal aslinya sendi lutut terasa nyut-nyutan berkali-kali hehehe. Tapi sekarang udah ada solusinya. Baca aja cer...

Kamis, 31 Desember 2015

Thank You, 2015!

Ini waktu acara tahun baru 2014 lalu

Tahun baru 2015 sudah tinggal hitungan jam lagi, nih. Bagaimana cerita teman-teman sepanjang tahun 2015 ini? Semoga banyak cerita menyenangkan, ya. Kalau Chi berusaha mensyukuri aja. Sepertinya tahu 2015 ini dilalui dengan banyak kisah menyenangkan. Yang pasti, sih, jumlah postingan di blog ini sedikit lebih banyak dibandingkan tahun 2014. Kalau tahun 2014 ada 151 postingan, tahun 2015 ada 156 postingan. Alhamdulillah.

Bagaimana dengan resolusi? Kalau untuk yang satu ini kayaknya Chi gak bisa jawab. Karena memang gak pernah bikin resolusi. Ada beberapa yang mengatakan kalau resolusi membuat kita menjadi semangat. Tapi, kalau buat Chi biarkan mengalir aja, deh. Bukan berarti Chi gak punya tujuan. Cuma khawatir baper aja kalau resolusi gak tercapai hehehe

Selasa, 29 Desember 2015

Hari Senin, Hari Pertama Sekolah (Lagi)


Berapa hari lagi sisa liburan? Gak sampe seminggu lagi huaaaa ...!

Hari Senin depan, hari pertama sekolah. Senin, kan, identik dengan I Hate Monday, ya? Hihihi ... Udah gitu hari pertama sekolah pula. Abis tahun baruan banget. Boleh nambah libur gak, ya? *Ups!* *Keke udah kelas 6, gak boleh banyak izin hehehe*

Cari-cari penyemangat, ah, supaya Senin depan semangat. Baca beberapa tip di blog Happy Fresh kayaknya boleh juga dipraktekin, nih. Biar Senin jadi semangat. Tapi, kayaknya Chi perlu juga melakukan beberapa hal lain supaya Senin depan gak gravak-grubuk

Senin, 28 Desember 2015

Mau 3 Jam, 8 Jam, atau Seminggu, Sekali Ibu Tetaplah Ibu


Seperti apa, sih, kriteria ibu sejati? Biasanya pertanyaan seperti ini akan memicu mom's war tiada ujung. Dari zaman rikiplik hingga sekarang udah zaman gadget, perdebatan ini masih aja ada. Mungkin sampe banyak orang udah bisa wisata ke bulan pun bisa jadi masih ada. Dan, akan semakin ramai kalau menjelang hari ibu hahaha!

Ibu sejati itu (katanya) yang melahirkan secara normal. Hmmm ... berarti Chi bukan ibu sejati. Dua kali melahirkan dan keduanya caesar. *Okeh, melipir cantik, memilih melihat senyum anak-anak :)

Ibu sejati itu (katanya) yang memberikan ASI Eksklusif lalu lanjut menyusui hingga paling tidak si anak berusia 2 tahun. *Yeay! Berarti Chi termasuk ibu sejati.*

Lha tapi yang bener gimana, nih? Kan, Chi gak melahirkan secara normal, tapi memberi ASI hingga berusia 2 tahun (malah lebih). Jadi, Chi termasuk ibu sejati atau bukan? Yang pasti Chi gak akan menjawab. Karena Chi bukan termasuk yang suka mengkotak-kotakkan seperti itu. Jadi silakan bertanya kepada yang suka mengkotak-kotakkan. Kalau Chi terserah, lah, orang mau bilang apa. Buat Chi cukup lihat anak-anak aja. Selama mereka masih nyariin bundanya berarti Chi masih dibutuhkan oleh mereka :D

Etapi, pas hari ibu yang baru saja lewat ada 1 lagi yang rame. Tentang tweet dari salah seorang public figure yang mempertanyakan peran ibu. Menyinggung peran ibu yang hanya bisa 3 jam bertemu anak-anaknya dalam sehari. Apakah yang seperti itu masih bisa dianggap ibu atau lebih cocok dianggap karyawan? :D

Minggu, 27 Desember 2015

Flash! Flash! Flash OPPO R7s!

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash 
Press conference launching OPPO R7s di Empirica, Jakarta. 7 Desember 2015.

Flash! Flash! Flash!

Yup! It's all about flash untuk OPPO R7s.

Etapi, OPPO? Apa itu OPPO?

OPPO adalah smartphone asal Tiongkok. Huh … Bukankah produksi Tiongkok identik dengan barang KW? Lagian gak gengsi pakai barang produksi Tiongkok?

Eits! Santaaaiii … Itu pemikiran saya sekitar 2 tahun lalu. Saat saya baru berkenalan dengan OPPO. Yang kemudian saya semakin berkenalan dengan OPPO setelah diundang ke acara N1 Pre Unboxing Event di The Cone, FX Sudirman Jakarta pada tanggal 30 November 2013 (Baca: OPPO N1 Layak Diperjuangkan!)

Pepatah tidak kenal makan tidak sayang itu berlaku banget. Setelah saya hadir di undangan Pre Unboxing 3 tahun lalu, saya mulai merasa kalau OPPO itu handphone yang bisa direkomendasikan. Kemudian semakin ke sini, banyak yang sudah membuktikan kalau OPPO memang handphone yang keren punya.

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash


Rabu, 23 Desember 2015

Anak Generasi Gadget Juga Bisa Lupa Gadget

generasi gadget, kecanduan gadget, tanakita

Anak generasi gadget ternyata juga bisa lupa dengan gadget. Caranya bahkan gak sulit, lho. Mau tau caranya?  Salah satunya ada di pengalaman kami usai UAS lalu.

Ayah: "Ke, Nai pernah ajak teman-teman main kesini?"

Saat itu kami sedang berada di Tanakita. Keke dan Nai kompakan bilang belum pernah.

Ayah: "Ajaklah teman-teman kalian ke sini sesekali. Kapan?"
Keke: "Iya, nanti pas Keke ulang tahun."

2 hari kemudian ...

Bunda: "Ke, siapa aja temanmu yang mau diajak ke Tanakita? Trus maunya kapan?"
Keke: "Ayah itu serius apa becanda, sih, Bun? Keke belum ngomong sama teman. Takutnya Ayah cuma becanda."
Bunda: "Coba Bunda tanya lagi ke Ayah, ya."

Besok paginya ...

Senin, 21 Desember 2015

Nilai Rapor Tetap Bagus Walaupun Tidak Belajar Saat UAS

 
Dari salah satu halaman di novel Sabtu Bersama Bapak

Nilai rapor tetap bagus walaupun tidak belajar saat UAS, mungkinkah? Mungkin aja karena itu yang dilakukan Keke dan Nai sejak 2 tahun terakhir ini. Mereka nyaris gak pernah belajar saat UTS dan UAS. Alhamdulillah, nilai-nilai di rapor mereka masih sangat baik. Hasil UAS mereka yang lalu masih bertaburan nilai 100 untuk berbagai mata pelajaran. Di rapor masih bertaburan angka 9, juga untuk berbagai mata pelajaran *pamer dikit, ah :p*

Tapi memang penting banget, ya, nilai-nilai bagus di rapor? Bukankah lebih penting attitude. Nilai rapor vs attitude seperti sebuah bahasan yang selalu meramaikan dunia maya di setiap musim penerimaan rapor. Chi tidak mendewakan nilai rapor. Tapi kalau ditanya mana yang lebih penting antara nilai rapor dan attitude, Chi sepakat dengan jawaban yang ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Chi pernah juga menulis tentang hal ini di postingan yang berjudul Buat Apa Sekolah? Di postingan yang lama itu juga ada pendapat ibu Susi Pudjiastuti yang Chi dapat dari berbagai portal berita. Beliau seorang yang cuma tamat SMP, tapi justru mementingkan sekolah bagi anak-anaknya. Ada penjelasannya di postingan tersebut.

Ketika saatnya masuk UTS/UAS, Chi suka ikut bikin status tentang musim ujian ini. Sebetulnya buat seru-seruan aja. Karena melihat beberapa ibu yang kelihatan ribet ketika anaknya sedang UTS/UAS hihihi. Kenyataannya, saat UTS/UAS, kami masih cukup santai, kok :)

Minggu, 20 Desember 2015

Perlukah Uang Jajan untuk Anak?


Perlukah uang jajan untuk anak? Sebelum membahas perlu atau tidak, disamakan dulu pengertian tentang uang jajan, ya. Menurut Chi, uang jajan itu adalah uang yang memang hanya untuk jajan. Ya, boleh aja, sih, kalau uang jajan itu ditabung. Tapi hitungan uang jajan gak termasuk uang transport. Karena pernah beberapa kali ada obrolan tentang uang jajan, ternyata setelah uang jajannya dirinci, di dalamnya udah termasuk transport.

Perlu atau tidaknya anak diberi uang jajan itu tergantung alasan masing-masing orang tua. Chi gak sependapat kalau semakin mahal biaya sekolah, maka akan semakin besar uang jajannya. Ada anak yang bersekolah di sekolah mahal, tapi malah gak pernah dikasih jajan. Begitu juga sebaliknya, sekolahnya gak mahal tapi setiap hari anaknya jajannnya banyak. Keke dan Nai, masing-masing uang jajannya hanya Rp10.000,00/minggu. Itupun kadang-kadang mereka masih bisa nabung.

Kenapa Keke dan Nai uang jajannya segitu? Trus bagaimana mereka bersikap ketika tahu ada beberapa temannya yang mendapat uang jajan besar setiap harinya?

Jumat, 18 Desember 2015

5 Hotel Murah di Malang

 

Malang merupakan salah satu kota yang sangat direkomendasikan untuk anda datangi. Kota ini merupakan kota kedua terbesar di Jawa Timur setelah Surabaya. Cuaca sejuk disertai letak geografis yang dekat dengan Gunung Semeru menjadikan kota ini ramai dikunjungi wisatawan. Selain itu masih banyak juga tempat wisata yang bisa dikunjungi seperti Pantai Balekambang, Pulau Sempu, Museum Brawijaya, Taman Rekreasi Senaputra, Kebun Raya Purwodadi, dan Ijen Boulevard. Anda juga bisa menikmati kuliner khas Malang seperti Bakso Malang. Anda juga tidak perlu khawatir untuk masalah penginapan selama berkunjung di Malang karena ada banyak hotel di kota ini yang dapat anda pesan di aplikasi atau situs Traveloka. Jika anda lebih menyukai hotel yang nyaman namun dengan harga terjangkau maka di Malang ada beberapa hotel yang menawarkan kenyamanan dan kemewahan dengan harga di bawah 500.000 rupiah. Berikut profil dari hotel-hotel tersebut.

Kamis, 17 Desember 2015

Disney Baby untuk Indonesia

disney baby

Siapakah yang masa kecilnya akrab dengan Disney? Apapun bentuk keakrabannya. Suka nonton kartun Disney, memiliki mainan Disney, atau bahkan pernah ke Disneyland?

Chi, sih, belum pernah satu kalipun ke Disneyland. Tapi kalau dibilang masa kecil akrab dengan karakter Disney memang iya. Selain sering menonton kartunnya, Chi juga langganan majalah Donal Bebek hingga kuliah :D Yup!

Donal bebek, salah satu karakter klasik dari Disney. Lalu ada Mickey, Minnie, Goofy, dan Winnie the Pooh. Dari keempat karakter itu, mana yang Teman-teman suka? Kalau Chi suka dengan Donal Bebek. Karakter bebek yang pemarah ini, tapi ceritanya selalu lucu.

Rabu, 16 Desember 2015

Ketika Teori vs Realita Parenting Beradu


Chi selalu berharap punya anak yang sholeh/sholehah. Berbakti kepada orang tua, cerdas, dan semua nilai ideal lainnya. Rasanya itu harapan semua orang tua. Setuju, gak? Untuk mencapai harapan itu, orang tua memberikan berbagai upaya maksimal demi kebaikan anak. Tapi sadar gak, sih, kalau kadang yang kita kasih itu hanya teori? Kita sebagai orang masih susah atau bahkan gak bisa mempraktekannya untuk diri sendiri. Padahal anak, kan, lebih mudah dengan cara mencontoh perilaku sekitarnya. Terutama perilaku orang tua.

Ketika teori vs realita parenting beradu, apa yang dirasakan orang tua? Haruskah gak percaya lagi dengan segala teori parenting dan membiarkan mengalir begitu saja seperti air? Buat Chi, teori parenting itu perlu. Karena semua teori itu seperti salah satu panduan. Apalagi menjadi orang tua gak ada sekolahnya. Prakteknya memang harus mengalir seperti air. Tapi jangan sampai pasrah terombang-ambing. Tetep aja harus dikendalikan.

Ada beberapa contoh tentang teori vs realita yang semuanya berasal dari pengalaman Chi sendiri.

Jumat, 11 Desember 2015

Memilih Tontonan Anak


Menonton televisi bukanlah suatu aktivitas yang kami larang untuk Keke dan Nai. Kami lebih memilih membatasi dan mengontrol. Membatasai jam menonton. Jangan sampai dalam sehari bisa berjam-jam menonton televisi. Mengontrol tayangan apa aja yang boleh atau dilarang untuk ditonton.

Bicara tentang memilih tontonan anak, kami juga punya beberapa kriteria tontonan yang boleh atau dilarang. Kriteria ini belum tentu sama di setiap rumah tangga. Karena setiap orang tua pasti punya kriteria dan standar masing-masing.

Rabu, 09 Desember 2015

Memberi Tahu yang Baik Jangan Membentak

"Sesuatu yang benar tidak akan mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang tidak baik seperti marah-marah. Sesuatu yang tidak baik akan dengan mudah diikuti bila disampaikan dengan cara baik."
Ucapan dari seorang ustaz yang bahkan Chi gak tau namanya karena saat itu sedang pindah-pindah frekwensi radio di mobil. Di salah satu radio terdengarlah tausyiah hari Jumat ini. Walopun kejadiannya sudah lama, masih juga Chi ingat.

Chi setuju dengan kalimat di atas. Siapa, sih, yang suka dimarahin walopun salah? Apalagi kalau sampai dibentak-bentak. Siapa juga yang senang ketika melihat seseorang yang merasa benar sendiri. Memberi himbauan sambil marah-marah apalagi menjelek-jelekkan yang lain. Kalau Chi, sih, mendingan langsung melipir aja, deh, walopun sebetulnya apa yang disampaikan itu benar :)

Selasa, 08 Desember 2015

Asisten Baru Kami Bernama Bilna

http://www.kekenaima.com/2015/12/harbolnas-bilna-belanja-mudah-hemat.html

Oke, abaikan yang penawaran nasi goreng di pukul 10 malam. Karena itu sering terjadi hehehe. Chi juga sering minta tolong K'Aie beliin kebutuhan sehari-hari yang ada di minimarket. Chi masih senang belanja, kok. Tapi kalau Chi yang belanja seringnya 'buntutnya' banyak. Ada aja yang dibeli di luar rencana. Apalagi kalau Keke dan Nai juga ikut :D

K'Aie, sih, gak keberatan. Paling masalahnya kalau K'Aie udah kelupaan. Trus, pernah juga Chi minta tolong beliin spaghetti pasta. Eh, yang dibeliin malah sauce spaghetti instant! Padahal di rumah udah ada homemade saus daging yang Chi buat sendiri. Panik, dong, karena itu spaghetti kan buat bekal sekolah besok. Akhirnya, (terpaksa) kasih anak-anak uang buat jajan di sekolah :D

Sebetulnya suka gak enak juga kalau nitip K'Aie keseringan. Pulangnya udah larut malam. Kasihan juga kalau harus mampir minimarket dulu. Malah pernah juga beberapa kali minimarketnya udah tutup.

Ada solusi, gak, nih? *mikir sambil nonton tipi :p*

Senin, 07 Desember 2015

Sejauh Mana Orang Tua Harus Mengajari Anak?

Sejauh Mana Orang Tua Harus Mengajari Anak? Chi merenungkan kalimat itu ketika melihat berbagai foto dirusaknya kebun Amaryllis yang (mungkin) sebagian besar dilakukan oleh remaja.

Sebetulnya gak cuma kali itu aja Chi merenungkan kalimat tersebut. Setiap kali ada kasus viral dimana pelakunya anak remaja, selalu banyak yang menyalahkan orang tua. "Gak pernah diajari sama orang tuanya, kali." Bahkan ada yang kalimatnya lebih sadis dari itu.

Iya, Chi setuju banget kalau orang tua yang akan bertanggungjawab tentang anak-anaknya. Beberapa kali ikut seminar parenting ibu Elly Risman, beliau selalu menegaskan kalau anak adalah tanggung jawab orang tua. Mau orang tua bekerja sekalipun, anak disekolah di sekolah berkualitas, tetap aja orang tua yang bertanggung jawab. Termasuk di akherat nanti. Chi tentu aja gak akan berdebat di sini karena sepenuhnya setuju.

Tapi, terus menjadi pikiran Chi adalah sejauh mana harus mengajarkan anak? Jujur aja, Chi rada ngeri kalau anak-anak sampai berbuat salah. Di zaman sekarang ini sepertinya kita semua dituntut untuk jaid manusia sempurna. Punya kesalahan sekali aja yang tertangkap oleh kamera, maka siap-siaplah untuk dibully massal secara virtual. Jangan berbuat salah, adik Chi pernah bilang kalau sekarang buang air di jalan aja menakutkan. Ada kamera usil yang memotret, dibikin meme lalu diupload, maka siaplah kita menjadi sasaran tertawaan netizen. Ngeri, ya ...

Sabtu, 05 Desember 2015

5 Etika Menjenguk Bayi Baru Lahir


Berita tentang kelahiran adalah sebuah kabar gembira. Kalau kerabat atau teman ada yang baru melahirkan, rasanya ingin langsung menjenguknya untuk ikut merasakan kegembiraan. Tapi alih-alih ingin ikut merasakan kegembiraan, yang ada malah kita menjadi tamu yang mengganggu. Sebetulnya ada gak, sih, etika menjenguk bayi baru lahir?

Minta izin sebelum menjenguk

Setiap kali akan melahirkan, Chi selalu memilih kamar kelas 2 yang berisi 3 orang ibu melahirkan. Chi pikir selama gak bermasalah proses melahirkannya, gak perlu ditemani suami atau keluarga selama di rumah sakit, lah. Tapi pilih kelas 3 biar gak sepi di kamar. Beda banget waktu Chi terkena demam berdarah, pilih kelas utama biar 1 kamar untuk 1 pasien dan K'Aie serta anak-anak bisa Chi boyong untuk menemani hehehe.

Walopun proses melahirkanya gak bermasalah, bukan berarti kita bisa menjenguk sembarang waktu. Ada ibu yang merasa sangat lelah usai melahirkan. Jadi pengennya selama di rumah sakit adalah memaksimalkan waktu istirahat. Ada juga yang mungkin merasa kurang nyaman kalau dijenguk di rumah sakit. Apapaun itu, sebaiknya minta izin dulu sebelum menjenguk.

Jumat, 04 Desember 2015

Shell LiveWIRE Business Start-up Award 2015 untuk Wirausaha Muda Indonesia

 
Inilah wajah finalis Shell LiveWIRE Business Start-up Award 2015. Selamat, ya!
19 November 2015 di hotel Shangri-la, Jakarta

Apa yang sudah teman-teman lakukan di rentang usia 18-32 tahun? Di rentang usia tersebut Chi merasa kehidupannya biasa aja seperti kebanyakan orang pada umumnya. Lulus SMA, kuliah, kerja setelah lulus, resign sesaat sebelum menikah, lalu punya anak pertama dan kedua sebelum berusia 30 tahun. Biasa banget, ya, hidup Chi. Tapi, cobalah lihat apa yang telah dilakukan oleh ke-10 finalis Shell LiveWIRE Business Star-up Award. Rasanya, di saat berusia seperti mereka saat ini, Chi malah sama sekali belum kepikiran jadi wirausaha muda.

Shell LiveWIRE Business Start-up Award


Sebagai salah satu perusahaan energi terkemuka di dunia yang beroperasi di Indonesia, Shell turut berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi negara. Bentuk partisipasinya adalah melalui program investasi sosial. Shell LiveWIRE Business Start-up Award salah satu program investasi sosial Shell.

Rabu, 02 Desember 2015

Menanggapi Cita-Cita Anak

"Aku mau jadi tukang becak!"
Bagaimana sikap orang tua menanggapi cita-cita anak yang seperti itu?

Sejak Keke lagi suka banget sama novel Harry Potter, sepertinya apapun yang dilakukan dan yang diucapkan selalu disambungkan dengan kisah Harry Potter. Bahkan mungkin kalau ditanya tentang cita-cita, dia akan menjawab menjadi seperti Harry Potter. Keke pernah beberapa kali mengatakan Hogwart school ada, dia mau memilih Ravenclaw. Menarik juga pilihannya, karena Chi pikir tadinya dia akan memilih Gryffindor seperti Harry Potter.
Buat Chi selama gak sampai berlebihan, dibiarkan saja. Chi juga dulu selalu mengimajinasikan buku yang dibaca. Kalau Keke sekarang berangan-angan bisa sekolah di Hogwart, dulu Chi berharap bisa sekolah di Malory Towers hehehe. *Jadi kangen novel Malory Towers* Malah sejak suka baca novel Harry Potter, Keke sekarang suka membuat cerita. Imajinasinya dia tuangkan menjadi karangan. Setiap malam, dia tekun membuat cerita hehehe.

Sebuah angan-angan, terkadang bisa membuat anak bercita-cita. Sebagai orang tua, kita berharap anak-a punya cita-cita apa, sih? Masih zamankah orang tua berharap kelak anaknya akan menjadi seorang dokter, PNS, dan insinyur? Masihkah menabukan cita-cita menjadi seorang presiden? *Kayaknya dulu cita-cita jadi presiden itu tabu, karena presidennya gak ganti-ganti hehe* Atau adakah orang tua zaman sekarang yang mulai berharap anaknya menjadi seorang blogger profesional? Kayaknya kalau dulu gak ada yang kepikiran punya anak yang berprofesi jaid blogger, ya hehe.

Lalu bagaimana kalau suatu hari anaknya mengatakan ingin menjadi tukang becak? Haruskah dilarang, ditegur, atau malah dimarahi?

Minggu, 29 November 2015

Normal vs Caesar Lebih Sakit Mana?

Normal vs caesar lebih sakit mana? Hmm ... sebetulnya Chi gak bisa menjawab secara pasti karena dua kali melahirkan semuanya dilakukan dengan operasi caesar. Bedanya waktu melahirkan pertama, caesarnya spontan setelah bukaan komplit dan berusaha untuk mengejan. Kemudian dengan beberapa pertimbangan dari dokter, diputuskan untuk caesar saat itu juga. Kalau kelahiran yang kedua, operasi caesarnya sudah direncanakan. Terkena plasenta previa sehingga sangat disarankan untuk caesar. Ya, walopun keduanya caesar, setidaknya Chi sudah merasakan sedapnya mules ketika mau melahirkan. Sampe lengkap pembukaannya hehehe.

Setelah masuk ruang inap, dikamar sudah ada 2 orang ibu yang lebih dulu melahirkan. Chi memang sengaja pilih kamar kelas 2 yang isinya untuk 3 orang ibu. Chi pikir selama proses melahirkan tidak memerlukan perhatian khusus alias dilancarkan, kayaknya kelas 2 juga cukuplah. Biar di kamar juga gak sepi hehehe *Bilang aja penakut :p

Kamis, 26 November 2015

Seberapa Penting Melengkapi Kotak P3K di Rumah?

Seberapa penting melengkapi kotak P3K di rumah? Sebelum dijawab, kepoin dulu aja isi kotak P3K yang ada di rumah Keke dan Nai, ya :)

Obat Penurun Panas

Obat penurun panas selalu kami sediakan. Waktu mereka masih balita, kami hanya menyetok 1 merk penurun panas karena memang merk itu yang cocok. Kalau sekarang sih merk apa aja asalkan kandungannya paracetamol. Keke dan Nai gak cocok dengan obat penurun panas berbahan ibuprofen. Pasti gak lama setelah mengkonsumsi obat yang mengandung ibuprofen suka menangis karena lambungnya sakit. Ternyata, setelah Chi cari tau, ibuprofen memang bisa berefek ke lambung kalau gak cocok. Paracetamol cenderung aman untuk Keke dan Nai.

Walopun selalu menyediakan obat penurun panas, gak otomatis begitu mereka demam langsung dikasih obat, lho. Tunggu sampai suhu tubuhnya mendekati angka 38 derajat celcius baru dikasih obat sesuai dosis. Kalau sampai 3x24 jam belum sembuh juga, bawa ke dokter anak. Tapi kalau sudah diatas 39,5 suhu tubuhnya, Chi langsung bawa mereka ke dokter walopun belum 3 hari.

Selasa, 24 November 2015

Aaahh ... Jerawat!

Temen A: "Ke, kok jerawatnya lama ilangnya, sih?"
Keke: "Gw sih santai aja karena semua pasti ada hikmahnya. Kalau muka gw udah gak jerawatan nanti kegantengan gw balik. Kalau gw balik ganteng, ntar dikejar banyak cewek. Cape dong gw dikejar-kejar."

Hehehe itulah obrolan Keke dengan salah seorang temennya. Salah satu ciri anak puber itu memang gak cuma suara aja yang berubah. Fisik pun mengalami beberapa perubahan. Keke semakin tinggi sekarang, perutnya semakin langsing. Bahkan Chi mulai kalah tinggi sama Keke. Mukanya mulai berjerawat di sana-sini.

Untuk urusan jerawat, Chi gak pernah melihat dia risau. Memang ketika di awal puber, Keke sempat gampang uring-uringan sikapnya. Udah gitu lebih senang menyendiri. Pokoknya Chi sempat rada jumpalitan menghadapi sikapnya, lah. Menurut beberapa artikel memang salah satu ciri anak puber seperti itu. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai terlewati. Chi juga sudah berbagi melalui tulisan sebelumnya, yaitu "Jumpalitan dan Tip Menghadapi Anak Puber"

Setelah masa jumpalitan sedikit demi sedikit terlewati, ada hal baru lagi yang terjadi pada Keke. Chi perhatiin dia sekarang lagi memperhatikan penampilnnya. Terutama di bagian rambut. Kalau mau sekolah, suka rada lama dia berkaca untuk merapikan rambut. Padahal dulu mah boro-boro peduli sama urusan rambut.

Minggu, 22 November 2015

Kenapa dan Kapan Butuh Me Time?

Kenapa dan kapan butuh me time? Butuh me time supaya pikirna gak mumet. Dan, Chi butuh me time setiap hari hehehe. Udah berarti segini aja postingannya :p *enggak, ding ...*

Me time dibutuhkan untuk menjaga pikiran tetap waras. Begitu menurut kebanyakan orang. Iya, sih, Chi juga merasa kalau abis menikmati me time pikiran dan suasana hati kayak di charge lagi. Rasanya kalau udah lama gak me time pengen teriak. Bawaannya uring-uringan.

Chi pernah dengar saran kalau me time itu sebaiknya dilakukan secara berkala. Jangan tunggu sampai hati udah keburu lelah. Nanti me timenya kayak orang kalap. Gak akan ada puasnya. Begitu me time selesai, kembali jadi uring-uringan.

Semua orang bahkan bayi sekalipun membutuhkan me time. Tapi, yang paling sering terlihat berteriak menginginkan me time sepertinya kaum perempuan. Itu dikarenakan perempuan lebih kompleks. Mau perempuan rumahan kayak Chi atau pekerja sekalipun, tugas perempuan lebih kompleks. Ditambah lagi perasaan perempuan yang lebih sensitif. Bahkan ada masa-masa' dimana perempuan suka kelihatan lebih galak. Tau lah .. itu yang dinamakan PMS hehehe. Ya perempuan seringkali terlihat membutuhkan me time.

Me time juga gak perlu selalu menghabiskan waktu banyak, kok. Dan, gak perlu juga selalu menghabiskan biaya mahal. Setelah membaca blog Happy Fresh, ternyata me time juga bisa dilakukan secara sederhana.

Kalau teman-teman, kenapa dan kapan butuh me time, nih? Yuk, sesekali kita me time :)

post signature

Sabtu, 21 November 2015

Debat Kusir dengan Anak? Bikin Cape

Rio *bukan nama sebenarnya*: "Mah, kalau makannya gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Harus habis."
Rio: "Tapi kalau gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Harus habis! Biasanya juga habis."
Rio: "Iya, tapi kalau gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Mama kan udah bilang harus habis!"

Nada mama Rio semakin meninggi terlebih Rio menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya, Mama Rio menjadi marah. Rio juga ngambek karena gak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Acara makan jadi bubar jalan. Chi pun geleng-geleng ngelihatnya. Debat kusir dengan anak memang bikin cape.

Iya, Chi memang melihat kejadiannya. Chi juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Biasanya kalau lagi begitu karena Chi lagi cape. Maunya anak langsung nurut sama orang tua. Kalau disuruh A ya harus melakukan A. Gak usah pake bantah, pokoknya nurut. Maksudnya biar cepet supaya Chi bisa istirahat. Namanya juga anak-anak, dikasih jawaban belun tentu selesai. Bisa-bisa nyambung dnegan berbagai pertanyaan kenapa. Tapi langsung memaksa mereka menurut juga gak jaid solusi, nyatanya malah urusan jadi panjang. Bahkan emosi jadi kepancing juga. Keduanya sama-sama cape, tapi pilih mana?

Chi punya beberapa solusi, berdasarkan pengalaman pribadi tentunya.

Kamis, 19 November 2015

#IndonesiaDigitalNation - Harapan Sederhana dari Seorang Ibu Penjual Buah



Chi tersenyum melihat video di atas. Ibu Sri Yatmi, seorang penjual buah, menyadari kalau internet dibutuhkan bagi anak-anak sekolah. Sekarang banyak tugas sekolah di jenjang apapun memerlukan internet. Apakah ibu Sri Yatmi juga akrab dengan dunia internet? Ternyata tidak. Ibu Sri hanya berharap internet tidak membawa dampak yang aneh. Pokoknya yang positif aja, lah.

Cukupkah hanya sekadar berharap, sedangkan kita adalah orang tua yang gaptek?

Teman-teman suka nonton serial CSI Cyber? Kalau parnoan, rasanya pengen jauh-jauh deh dari dunia internet. Tapi, bagaimana mungkin bisa menjauh kalau ternyata kejahatan cyber bisa menyentuh lapisan apapun. Bahkan bagi kita yang tidak internetan sekalipun bisa ikut menjadi korbannya. Karena kejahatan cyber yang diceritakan gak cuma sekadar akun socmed yang dihack.

Di salah satu episode diceritakan seorang anak tewas tertembak. Setelah diinvestigasi, korban ternyata penggemar berat game online. Diimingi-imingi oleh salah satu akun akan diberi banyak hadiah game asalkan mau jadi kurir. Korban pun setuju tapi karena ketakutan, barang yang dibawa yang ternyata senjata terjatuh dan melesatkan peluru ke tubuhnya.

Awalnya orang tuanya gak percaya. Dengan menunjukkan tampilan tab anaknya yang terlihat bersih dan aman, orang tuanya menganggap tim CSI telah salah. Mereka juga selalu mengingatkan dan mengecek tab anaknya. Orang tuanya dkasih tau kalau di tab anaknya itu ada aplikasi parenting control. Aplikasi ini harusnya untuk orang tua. Digunakan untuk menyembunyikan berbagai aplikasi yang dianggap terlarang bagi anak untuk dilihat. Tapi orang tuanya gaptek, aplikais parenting control yang seharusnya mereka yang punya kuasa justru malah anaknya yang menggunakan untuk menyembunyikan berbagai aplikasi. Begitu dibuka, kagetlah orang tuanya karena ternyata di dalam tab banyak diinstal aplikasi yang berbahaya bagi anak.

Chi yakin dalam dunia nyata banyak kejadian seperti itu. Anak lebih cepat mengikuti penrkembangan dunia maya dibanding orang tua. Chi salah satu contohnya. Beberapa kali, Chi lihat Keke dan Nai lebih tau aplikasi apa aja yang lagi hits. Untungnya mereka selalu bercerita dan selalu minta izin kalau mau install. Chi juga beberapa kali minta tolong ke anak-anak untuk urusan digital. Seperti beberapa hari lalu, HP baru aja diupgrade, eh banyak tampilan yang berubah trus Chi mendadak gaptek lagi, dong. Cara tercepatnya adalah nanya ke anak-anak. Kenapa bukan Tanya ke K’Aie? Karena nunggu dia pulang kantor bakalan lama ajah hehehe. Dan, terbukti cukup dengan tanya ke anak-anak udah bisa dapat jawaban cepat :D

Internet memang seperti 2 sisi mata pisau. Kalau cuma mikir kejahatannya aja memang bikin seram. Tapi, sebetulnya banyak banget hal positif yang bisa didapat dari internet. Dampak yang paling Chi rasain ketika ada internet adalah:

Blogging

Sebagai blogger, udah pasti internet adalah salah satu perangkat ‘perang’ utama yang dibutuhkan. Udah banyak banget manfaat yang Chi dapatkan dari dunia blog. Chi bisa menuliskan beratus-ratus bahkan sekarang sudah lebih dari seribu catatan kehidupan kami terutama anak-anak. Catatan digital yang bisa kapanpun kami baca untuk bernostalgia. Dari sebuah catatan perjalan, berbonus pertemanan, networking, hingga pundi-pundi uang.

Teman Belajar

Hari gini, siapa yang belum pernah mengandalkan Google untuk mencari berbagai info? Kalau zaman Chi kecil dulu mungkin andalannya buku ensiklopedia. Tapi kalau sekarang, Google lah yang menjadi andalan. Karena kita membutuhkan informasi secara cepat.

Sejak kurikulum sekolah menjadi tematik, internet semakin dibutuhkan. Tapi apapun kurikulumnya, Chi gak pernah memposisikan diri sebagai orang yang paling tau di depan anak-anak. Ada kalanya ketika anak mengalami kesulitan belajar dan Chi gak tau jawabannya, kami bersama-sama mencari tau lewat internet.

Sebetulnya gak hanya 2 hal itu aja, sih. Banyak banget manfaat yang bisa Chi rasain. Bisa dikatakan internet buat Chi saat ini gak hanya untuk berkomunikasi dan belanja online, tapi berbagai kegiatan sudah bersentuhan dengan internet.

Harapan Chi untuk dunia internet ini sangat besar. Zaman globalisasi tentu aja kebutuhan internet semakin dibutuhkan. Chi sih berharap kecepatan internet di Indonesia semakin baik karena katanya kecepatan internet di kita masih jauh dibandingkan negara lain. Tapi, kecepatan yang jauh aja, pengguna internetnya Chi yakin semakin banyak. Nah, harapan Chi selanjutnya adalah semakin banyak yang menggunakan internet untuk hal positif. Cape gak, sih, setiap kali buka social media yang dlihat Cuma nyinyir sana-sini, atau pada debat kusir yang gak jelas? Padahal seharusnya dunia internet dimanfaatkan untuk saling berbagi informasi bermanfaat. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Perkembangan internet memang dibutuhkan, tapi perkembangan dewasa dalam berinternet juga seharusnya mengikuti.

Teman-teman pernah lihat web www. Indonesiadigitalnation.com? Coba buka webnya, deh. Banyak video yang mengispirasi dari berbagai lapisan masyarakat yang sudah merasakan manfaatnya internet. Ya, banyak-banyakin aja melihat yang positif di dunia internet biar bisa mengurangi dampak negatifnya :)  

post signature

Rabu, 18 November 2015

Undangan pernikahan, kok begini?


Foto milik: For The Love of Stationary
Sumber: Bridestory

“Undangan pernikahan, kok begini? Mirip kayak undangan ulang tahun M** (menyebut salah satu nama resto fastfood yang sering ngadain acara ulang tahun buat anak-anak)”, ujar salah seorang sesepuh di keluarga Chi. Gak ditanggapi, hanya nyengir mendengarnya. Chi pikir yang penting orang tua udah setuju.

Undangan pernikahan Chi dan K’Aie saat itu memang hanya selembar. Konsepnya memang mau dibikin seperti kartu pos. Tapi, sesepuh malah ingetnya kayak kartu undangan ulang tahun hahaha.

Undangan yang hanya selembar itu, satu sisinya menampilkan foto Chi dan calon suami. Fotonya juga cuma lewat photo box yang hasilnya kami scan. Kemudian, kami utak-atik lewat photoshop biar gak kelihatan photo box banget hihihi. *maaf, Chi gak kasih lihat contoh undangannya, ya. Karena waktu itu belum berhijab* Dikasih tulisan juga nama kedua mempelai. Di sisi lainnya, berisi beberapa detil yang memang harus ada di setiap undangan pernikahan. Warnanya kami bikin sephia biar terkesan alami seperti warna tanah.

Senin, 16 November 2015

Ngeblog Asyik Itu Diawali Dari Niat

Ngeblog asyik itu diawali dengan niat. Awal November lalu, Chi sekeluarga camping ke Tanakita. Kali ini, kami camping di riverside, salah satu new camp area Tanakita (sekarand Tanakita punya 4 camp area). Pilih di sana karena memang udah gak ada pilihan lain. Semua area penuh hehehe.

Di riverside ini suasananya tenang banget. Camping di pinggir sungai, aktivitas yang terdekat ya bermain air di sungai. Kalau mau kegiatan lain seperti yang selama ini biasa kami lakukan, harus berjalan kaki dulu. Naik kendaraan pribadi atau carter angkot juga boleh kalau males ngos-ngosan :D

Gak cuma rada jauh dari aktivitas. Di riverside juga susah signal internet.Jadi, selama 2 hari 1 malam di sana, kami benar-benar family time. Ya, sesekali Chi memang buka laptop untuk ngedraft tulisan. Dan, jadilah sekitar 5 draft tulisan selama disana yang siap untuk dipublish.

Membuat 5 draft tulisan selama di sana, gak terlalu mengurangi family time, kok. Karena ternyata, yang selama ini banyak menyita waktu adalah godaan untuk bersocmed. Buat Chi, socmed itu gak cuma menguntungkan tapi juga godaan. Ketika membuat 1 postingan aja bisa berlama-lama, ternyata kalau dipikir lagi waktu terlama adalah karena tergoda socmed melulu huahahaha! Nah, karena di sana gak ada signal internet sama sekali, jadi Chi bener-bener fokus.

Kalau lihat perkembangannya, dunia blog sekarang ini semakin ramai, ya. Bahkan gak sedikit brand yang mulai melirik blogger sebagai perpanjangan marketing. Selain biayanya lebih murah, blogger juga dinilai mampu menyampaikan pesan secara viral. Sebut aja beberapa blogger ternama yang seringkali bikin blogger lain iri karena kesuksesan mereka.

Lalu apa hubungannya camping dengan monetize blog?

Minggu, 15 November 2015

Anak Berulah, Belajar Dari Siapa?

Anak berulah, belajar dari siapa? "Anak saya kuat banget jajannya di sekolah, Teh. Setiap hari pasti minta jajan. Mana dia udah tau duit. Kalau minta jajan selalu bilang pengennya yang biru. Tau lah belajar dari siapa. Kami orang tuanya gak pernah ngajari begitu."

Seseorang yang Chi kenal bercerita tentang anaknya yang masih TK tapi seneng banget jajan kalau di sekolah. Sebetulnya kami ngobrol berbagai macam topik. Salah satunya tentang anak-anak.

Kalau dipikir-pikir lagi, atau coba dibalikin ke diri sendiri, pernah atau sering gak ketika anak berulah trus langsung ngebatin sendiri 'belajar dari siapa, sih? Perasaan gak pernah ngajari begitu?' Kalau Chi pernah, bahkan lebih dari sekali. Pertanyaan selanjutnya adalah apa trus cuma diam aja?

Pernah satu hari Keke bercerita kalau beberapa teman di sekolahnya, terutama yang perempuan, seneng nonton sinetron GGS *Udah pada tau dong GGS singkatan dari apa? Hehehe*. Keke bisa menceritakan lho seperti apa jalan cerita GGS. Bahkan dia tau siapa aja pemainnya.

Ketika mendengarkan Keke bercerita, dalam hati Chi rada membatin 'Duh, Keke kenal juga sama sinetron.' Rasanya rada kesel juga karena di rumah bisa dikatakan steril dari yang namanya sinetron. Lebih memilih beberapa channel di tv kabel atau televisinya dipake buat main game. Tapi kalau Chi cuma sekadar membatin atau nyimpen kesel sendirian kayaknya gak bagus juga. Dan, gak mungkin juga melarang Keke bermain dengan temannya hanya karena mereka suka nonton sinetron.

Kamis, 12 November 2015

Happy di Hari Ayah Nasional


Happy di hari Ayah Nasional. Etapi kayaknya setiap hari berusaha dibikin happy aja, deh *apaan, Bunda setiap hari main hayday cerewet melulu! Mungkin anak-anak akan jawab begitu wkwkwk*

Teman-teman, tahukah kalau hari ini adalah Hari Ayah Nasional? Hari Ayah memang gaungnya belum seperti Hari Ibu. Padahal Ayah juga punya peran penting dalam pola asuh anak. Tapi, kali ini Chi skip dulu ah ngobrolin serius tentang parenting. Obrolin yang ringan aja tentang sosok ayah :)

Tanggal hari Ayah di berbagai negara berbeda-beda. Tapi yang terbanyak adalah minggu ke-3 di bulan Juni. Amerika dan lebih dari 75 negara lainnya termasuk negara tetangga, Malaysia, hari Ayah jatuh di minggu ke-3 Juni. Di Indonesia, hari Ayah jatuh pada tanggal 12 November

Konon, sejarah terbentuknya hari Ayah Nasional pemrakarsanya justru bukan para ayah tapi para ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Putra-Putri Ibu Pertiwi. Deklarasi yang dilakukan pada tanggal 12 November 2006 ini dilakukan di Pendapi Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah. Ayah dianggap sebagai sosok penting dalam keluarga yang juga ikut membentuk karakter pada anak. Itulah alasan dibalik adanya deklarasi Hari Ayah.


Rabu, 11 November 2015

Sedia CNI Ester-C Sebelum Hujan


Sedia CNI Ester-C sebelum hujan, yuk! Sekarang kan udah mulai masuk musim hujan. Selalu sedia payung aja gak cukup, lho. Butuh juga asupan yang baik bagi tubuh. Sebetulnya gak hanya saat musim hujan aja, Chi merasa butuh Ester-C. Ini ada 3 alasan kenapa Ester-C dibutuhkan oleh Chi.

Membantu menjaga stamina tetap fit terutama saat musim hujan

Diantara 2 musim, kemarau dan hujan, Chi paling suka musim hujan. Rasanya pengen mandi hujan terus *eh :p* Walopun seringkali Chi harus khawatir apabila hujan turun di malam hari saat K'Aie belum pulang. Ketika curah hujan sedang tinggi, bisa hampir tiap hari dia kehujanan. Kalau gak dijaga staminanya mungkin akan mudah sakit. Biasanya, nih, 3 penyakit yang suka mengintai saat musim hujan adalah influenza, diare, dan demam berdarah.

Mengencangkan kulit

Apakah perempuan harus bermake-up? Mungkin jawabannya bisa beragam. Tapi apakah perempuan harus menjaga kesehatan kulit? Chi yakin mayoritas akan menjawab iya. Kita boleh aja gak suka atau gak biasa bermake-up tapi bukan berarti harus cuek dengan muka yang kusam dan kasar. Apalagi menjelang usia 35 tahun ke atas biasanya problemnya makin bertambah, deh. Mulai timbul flek hitam hingga keriput halus.

Senin, 09 November 2015

Pilah-Pilih Sekolah

Dalam beberapa bulan ke depan, saat tahun ajaran baru berganti, Keke akan mulai menyandang status baru menjadi anak SMP. Chi pun semakin gencar pilah-pilih sekolah untuk Keke. Dari dulu, Chi selalu punya kebiasaan mencari sekolah untuk anak-anak, terutama Keke, sejak paling tidak 2 tahun sebelumnya. Kenapa terutama Keke, karena Nai biasanya tinggal ngikut aja pilihan sekolah yang udah duluan dimasukkin kakaknya. Lagipula Nai selalu setuju, Dia seneng kalau bisa sekolah bareng kakaknya. 

Malah dulu waktu Keke mulai SD dan Nai masih di TK, sempat untuk beberapa saat Nai sedih karena kakaknya udah gak ada di sekolah. Selama 2 tahun mereka sempat pisah karena bersekolah di 2 tempat berbeda. Nah, menjelang Keke masuk SMP ini, Nai udah dibilangin kalau kemungkinan akan pisah sekolah. Memang masih ada kemungkinan Keke akan sekolah di tempat yang sama dengan SDnya sekarang. Tapi, ada beberapa alternatif sekolah pilihan lain yang kami tuju.

Sejak kelas 5, Chi sudah mulai memikirkan sekolah lanjutan untuk Keke. Di awal lebih banyak diisi dengan pedebatan antara Chi dan K’Aie. Negeri vs Swasta yang menjadi perdebatan kami berdua. Chi pilih swasta dengan alasan jumlah murid per kelas lebih sedikit dan lokasi dekat dengan rumah. Malah masih di lokasi yang sama, jadi Chi gak terlalu ribet kalau harus antar jemput anak. Keke bahkan udah terbiasa naik sepeda ke sekolah kalau lokasinya dekat. Kekurangannya memang di biaya karena udah pasti mahal. Tapi, pengalaman selama ini, sih, walopun mahal tidak ada biaya ini-itu lagi selama tahun ajaran berlangsung. Cukup sekali bayar aja setiap menjelang tahun ajaran baru.

Rabu, 04 November 2015

Anak Bersikap Kritis. Positif atau Negatif?


Anak bersikap kritis. Positif atau negatif?

Beberapa kali ketika Chi bercerita tentang Keke atau Nai di blog ini atau di social media, suka ada aja yang berpendapat kalau mereka adalah anak-anak yang kritis. Sebetulnya, gak cuma Keke dan Nai yang sering dibilang anak kritis. Seringkali Chi perhatiin setiap ada anak yang berani berpendapat selalu ada aja yang komen kalau anak tersebut kritis.

Reaksi pertama Chi ketika ada yang menganggap Keke dan Nai adalah anak kritis adalah senang. Chi anggap itu komentar yang positif. Tapi, lama-lama penasaran juga sebetulnya seperti apa sih yang dimaksud anak yang kritis? Apa jangan-jangan semua anak yang berani bicara dianggap kritis?

Chi coba mencari tau berbagai hal tentang anak kritis melalui berbagai artikel di internet. Dari sekian banyak ciri anak yang dianggap kritis di berbagai artikel, Chi menangkap benang merahnya adalah di komunikasi. Anak yang kritis adalah anak yang pintar dan berani berkomunikasi.

Senin, 02 November 2015

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatima

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatima. Banyak yang menganggap kalau meminum air rendaman rumput fatima akan memperlancar persalinan,. Ternyata ...

Suster: "Ibu pernah mengkonsumsi rumput fatima?"
Saya: "Enggak. Memangnya kenapa, Sus?"
Suster: "Sebaiknya jangan, Bu. Biasanya yang minum rumput fatima, suka over mulesnya. Pembukaan baru 1 tapi mulesnya udah kayak bukaan 10. Malah bisa lebih besar lagi resikonya. Bisa ke nyawa, Bu. Bahaya."

Obrolan di atas adalah tanya-jawab saat Chi sedanng diperiksa kandungan waktu hamil anak pertama. Saat itu sudah bukaan satu, dokter kandungan meminta Chi ke ruangan persalinan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan, Chi langsung keringet dingin mendengar jawaban suster tersebut sampe gak berani bertanya lebih lanjut.

Chi berbohong ketika mengatakan gak pernah meminum rumput fatima. Kira-kira sehari sebelum ke rumah sakit, Chi mengkonsumsi rumput fatima. Gak banyak, sih, cuma beberapa teguk aja. Dan, gak sampe segelas.

Kamis, 29 Oktober 2015

"Bayangkan di Posisi Ima, Bun. Bagaimana Perasaannya?"

Bunda: "Nai, mau gak?"

Chi menawarkan sepotong cheese cake untuk dimakan bersama. Tadinya, Chi kirain itu ice cream cake. Gak taunya bukan, untung aja gak dipotong besar.

Nai: "Kenapa? Bunda gak mau abisin, ya."
Bunda: "Mau, sih. Tapi, kali aja Ima mau juga." *Chi mulai membuat berbagai alasan*
Nai: "Bunda harus habisin. Bayangkan di posisi Ima, Bun."
Bunda: "Kenapa harus membayangkan posisi Ima?"
Nai: "Iya, setiap hari Ima harus menghabiskan bekal sekolah. Kalau gak habis nanti dicerewetin sama Bunda. Coba Bunda bayangkan ... Bayangkan gimana perasaan Ima waktu harus menghabiskan bekal."
Bunda: "Hahahha itu beda kali, Nai."
Nai: "Ih, enggak! Sama ajah."

Hahaha, Nai lebay, deh :p Nai memang harus selalu diingatkan untuk menghabiskan bekalnya. Karena kalau gak gitu bekalnya suka gak dihabiskan. Udah diingatkan aja, masih suka bersisa. Kalau dibolehkan memilih, Nai memang paling malas bawa bekal ke sekolah. Alasannya, jadi berkurang waktu bermainnya atau ada beberapa alasan lain. Tapi, gak mungkin juga Chi turutin kemauannya. Jam sekolahnya kan panjang, masa iya dia gak makan sama sekali.

Selasa, 27 Oktober 2015

Keke dan Nai pun Bersekolah Sejak Dini

Keke dan Nai pun bersekolah sejak dini, padahal awalnya Chi gak tertarik sama sekali, lho.

Hingga suatu hari ...

Keke

Selembar pamflet tentang pembukaan salah satu PAUD di dekat rumah. Kegiatannya seminggu tiga kali di sore hari. Bayarannya harian dan tanpa seragam. Chi yang tadinya gak tertarik untuk cepet-cepet nyekolahin anak, mulai galau.

Bukan berarti Chi udah gak sanggup dan gak punya waktu untuk ngajarin Keke. Tapi. Chi pengen coba untuk cari pengalaman aja. Biar Keke semakin banyak temannya. Sekolahnya kan cuma 3x dalam seminggu, itupun cuma 2 jam saja. Artinya, waktu terbanyak tetap bersama Chi. Lokasinya dekat sama rumah, tinggal jalan kaki. Sore juga waktunya Keke bermain di luar rumah. Jadi anggap aja, dia sedang bermain. Udah gitu bayarannya harian. Kalau gak masuk, ya gak usah bayar. Gak memberatkan sama sekali.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Keke pun mulai sekolah dengan semangat. Tapi, cuma semangat berangkatnya aja. Begitu sampai sekolah, Keke nempel banget sama Chi. Diajak dan ditanya oleh gurunya, dia gak mau.

Senin, 26 Oktober 2015

Balita Sekolah Sejak Dini? Harus atau Tidak?


Balita sekolah sejak dini? Harus atau tidak?
Menurut Chi, jawabannya tidak harus. Tapi gak perlu juga diperdebatkan, karena setiap orang punya kondisi berbeda.

Beberapa bulan lalu, Chi dihubungi oleh majalah Ummi untuk diwawancara secara online. Majalah Ummi mendapatkan info tentang Chi melalui internet. Setelah baca beberapa artikel di blog ini *terima kasih banyak, ya :)*, majalah Ummi merasa topik yang akan mereka angkat di bulan April 2015, pas dengan artikel parenting yang selalu Chi tulis. Majalah tersebut meminta pendapat Chi tentang perlu atau tidak kalau anak sudah sekolah sejak dini. Sekaligus tanya juga Keke dan Nai mulai sekolah sejak usia berapa?

Keke mulai sekolah saat usianya 4 tahun. Nai lebih muda lagi. Dia sekolah sejak usia 2 tahun. Sebetulnya, Keke sudah pernah sekolah sejak usia 2 tahun. Tapi kemudian cuma berjalan beberapa minggu, kemudian kapok. Akhirnya, vakum hingga usia 4 tahun.

Awalnya, Chi bukan yang termasuk tertarik menyekolahkan anak sejak dini. Playgroup, Pre-school, PAUD atau apapun namanya, tidak ada dalam kamus Chi. Buat Chi, untuk usia dini, sekolah yang terbaik adalah di rumah.

Jumat, 23 Oktober 2015

Menghitung Biaya sekolah

Mari kita menghitung biaya sekolah. Tahun ajaran baru memang baru berjalan seperempatnya. Tapi, biasanya sekolah swasta sudah berancang-ancang untuk membuka pendaftaran baru bagi tahun ajaran berikutnya. Jadi, gak ada salahnya mulai berhitung dari sekarang.

SPP vs Uang Tahunan

Ibu A: "SPP di sekolah Keke dan Nai berapa?"
Chi: "Kalau Keke Rpxxx, Nai Rpxxx." *SPP Keke dan Nai memang berbeda. Cuma selisih 50 ribu, sih."
Ibu A: "Lebih murah, ya."
Chi: "Emang SPP di sekolah anak ibu berapa?" *SPP di sekolah anak ibu A lebih mahal.*
Ibu A: "SPP di sekolah anak saya itu Rpxxx. Di sana ada uang tahunan?"
Chi: "Ada."
Ibu A: "Berapa?"
Chi: "Antara Rpxxx sampai Rpxxx, lah. Tergantung kelasnya."
Ibu A: "Wah, kalau gitu berarti sekolah di sana lebih mahal, ya, dibanding sekolah anak saya. Kalau di sana gak ada biaya tahunan. Cuma SPP aja."

Itu salah satu percakapan Chi dengan salah seorang teman. Sebetulnya gak cuma sekali itu aja Chi ada percakapan seperti itu dengan beberapa orang. Cuma, kalau dilihat dari percakapan Chi dan ibu A, benarkah biaya sekolah Keke dan Nai lebih mahal? Ternyata, enggak. Sama aja totalnya.

Mungkin sekolah Keke dan Nai kelihatan lebih mahal karena ada biaya tahunan. Tapi SPPnya kan lebih murah. Sedang ibu A, SPPnya lebih mahal walopun gak ada biaya tahunan. Kalau Chi dan K'Aie lebih suka kayak di sekolah Keke dan Nai. Setidaknya bisa nabung dulu untuk biaya tahunan. Biaya tahunan yang kami bayarkan itu untuk anggaran kegiatan dan juga buku pelajaran.

Rabu, 21 Oktober 2015

Apakah Nai Banyak Membaca?

Tuh, Nai juga punya hobi membaca, kan? :)

"Bunda, apakah Nai banyak membaca?" tanya wali kelas Nai, saat Chi ambil raport bayangan, awal Oktober lalu.

Chi bilang kalau Nai cukup banyak membaca. Kemudian, wali kelas menjelaskan, guru PKn dan IPS bilang kalau Nai seperti agak kesulitan untuk pelajaran tersebut. Setidaknya dibandingkan dengan Keke pada saat kelas 4, Nai dianggap agak lebih lambat menangkap pelajaran ilmu sosial dan juga matematika. Sama nilai UTS matematikanya terlihat cukup menurun dibandingkan ulangan harian.

Keke dan Nai jadi dibanding-bandingin. Tapi, Chi sama sekali gak tersinggung. Sebaiknya dicerna dulu kenapa bisa dibandingkan dan kemudian berdiskusi. Lagipula udah jadi resiko karena mereka berdua kan satu sekolah. Apalagi para guru yang pernah mengajar Keke, sekarang mengajar Nai. Jadi, sadar atau tidak bisa aja membanding-bandingkan. Terlebih guru PKn dan IPS yang ngajar Nai sekarang itu pernah 2 kali jadi wali kelas Keke. Pastinya hapal banget gimana plus-minus Keke di sekolah termasuk kegiatan belajar mengajar.

Chi jelaskan aja, kalau Nai mungkin terlihat lebih lambat dari Keke karena gaya belajarnya berbeda dibanding Keke. Nai memiliki gaya belajar visual. Nyaris semua pelajaran harus dia tuangkan dulu secara visual, baru dia mengerti. Cara menuangkannya bisa dengan membayangkan, bercerita, menonton film, atau menggambar. Itu juga yang menjadi alasan kemana-mana Nai selalu membawa kertas dan alat tulis.

Senin, 19 Oktober 2015

Matematika Catering



Urusan venue udah beres. Kami berhasil mendapatkan tempat yang diinginkan. Sebuah tempat semi outdoor (sekitar 2/3 adalah area terbuka) yang masih berada di sekitar tengah kota Bandung. Urusan selanjutnya adalah catering.

Untuk catering, kami tidak menemui terlalu banyak kendala. Karena resepsinya di café jadi cateringnya pun sekaligus dari sana. Tinggal hitung jumlah porsi dan biaya aja. Chi sempat agak pusing ketika baca berita kalau setelah tahun baru harga-harga berbagai kebutuhan pokok akan naik. Duh! Bakal naik nih biaya catering. Mana catering kan termasuk pos yang paling memakan biaya besar.

Alhamdulillah, ternyata harga awal yang diberikan pihak café tidak mengalami kenaikan. Menurut mereka, karena kami sudah membayar penuh. Mereka pun sudah order ke supplier, sehingga harga tidak mengalami kenaikan.

Mengurus catering pernikahan itu gak cuma urusan biaya aja yang bikin pusing. Tapi, kekhawatiran kalau kami salah menentukan porsi. Sehingga tamu masih banyak, makanan sudah habis. Untungnya kami tidak perlu mengalami kekhawatiran seperti itu. Menurut pihak café karena menu yang pesan adalah menu yang biasa mereka jual, jadi tentu saja mereka sudah siap stok bahan lebih. Apalagi kalau café atau resto kan punya dapur. Jadi, kalau udah ada tanda-tanda makanan kurang sedangkan tamu masih banyak, mereka siap untuk menambah porsi baru.

Kalaupun sudah tidak tersisa bahan makanannya, mereka siap mengganti dengan menu lain. Kalau sampai terjadi memang akan ada biaya tambahan. Tapi, gak apa-apa lah daripada kami kekurangan makanan. Chi gak tau apakah semua resto atau café punya kebijakan seperti ini. Atau hanya café tempat kami menyelenggarakan resepsi saja. Yang jelas kami lega karena urusan makanan sudah beres.

Sejak itu, kami sempat membantu adik dan kerabat untuk mengurus pernikahan. Dari pengalaman kami membantu mengurus beberapa wedding, mencari venue dan catering adalah hal pertama yang harus dilakukan. Biaya catering termasuk yang memakan biaya besar. Nah, supaya teman-teman gak salah berhitung, ada baiknya mempelajari matematika catering pernikahan.

Minggu, 18 Oktober 2015

Ngeblog Itu Harus Fun

Sumber foto: FB Shinta Ries

Fun Blogging 1, Chi gak bisa ikut ...
Fun Blogging 2, lagi-lagi gak bisa ikut ...

(Sok) sibuk sekali Chi ini hahaha *langsung dijitak*. Ya, pokoknya waktunya gak cocok terus. Udah agak lemes aja pas Fun blogging 2, Chi gak bisa ikut lagi. *Kira-kira bakal ada lanjutannyannya gak, ya?* Begitu dibuka pendaftaran Fun Blogging 3 dan waktunya cocok, langsung daftar. Da, pas hari-H, Chi dateng kepagian ajah. Sampe kantor Qwords, tempat Fun Blogging 3 diselenggarakan aja masih dikunci hehehe.

Sedikit flashback, Chi pernah ada masa agak menyesal karena ngeblog sejak tahun 2007, tapi monetize blog baru Chi rasakan sekitar 2-3 belakangan. Gak lama setelah tau kalau blog itu ada komunitasnya. Padahal blogger yang mulainya sama dengan Chi ada yang udah menghasilkan pundi-pundi tabungan dari blog. Walaupun banyak juga, sih yang nonaktif dari dunia blog.

Jumat, 16 Oktober 2015

"Ayah, Beliin Duren!"

Di kereta, dalam perjalanan menuju stasiun Cisaat, kami duduk bersebrangan dengan 1 keluarga. Keluarga yang terdiri dari 1 orang ayah, 3 orang anak yang maish kecil-kecil, 1 orang nenek, dan 1 orang perempuan remaja yang tebakan Chi adalah sepupu atau tante dari anak-anak tersebut. Anak yang terkecil kemudian menelepon ibunya. Suaranya cukup keras. Telponnya juga di loud speaker, jadi Chi bisa dengan jelas mendengarkan percakapan mereka. Kita sebut aja anak itu bernama Andi, ya. Usianya mungkin sekitar 6-8 tahun *aslinya Chi lupa nama anak tersebut hahaha*

Andi: "Ibu, kapan pulang?"
Ibu: "Nanti malam ibu nyusul pulang"
Andi: "Ibu, semalam Andi mimpi ketemu Ibu. Trus Andi meluk Ibu."

Chi membayangkan kalau jadi ibu Andi kayaknya bakal mewek denger anak ngomong begitu. Manis banget ini Andi ngomongnya. Mana suaranya imut-imut, khas anak kecil banget. :)

Ibu: "Iya, Nak. Nanti malam, ya."
Andi: "Ibu kalau nanti datang, bawain Andi oleh-oleh, ya. Yang banyak!"
Ibu: "Mau oleh-oleh apa?"
Andi: "Andi mau baju renang 10! Bener ya, Bu. Nanti bawain Andi baju renang yang banyaaaaakk."

Chi yang tadinya terharu mendengar percakapan Andi dengan ibunya, menjadi cekikikan. Anak-anak dimana-mana sama ajah. Kalau orang tuanya pergi pasti pada minta oleh-oleh. Cuma ini Andi lucu ajah. Biasanya anak-anak, kan, mintanya mainan atau camilan. Ini Andi malah minta baju renang yang banyak hahaha. Yah, namanya anak-anak memang menggemaskan. Apa yang mereka pikirkan seringkali gak terduga.

Rabu, 14 Oktober 2015

Kisah The Lorax yang (Sepertinya) Mulai Menjadi Kenyataan

http://www.kekenaima.com/2015/10/kisah-lorax-yang-mulai-menjadi-kenyataan.html

Bunda: "Mataharinya mulai menggigit, nih!"
Nai: "Maksudnya menggigit itu apa, Bun?"
Bunda: "Mulai berasa panasnya. Tadi pagi, masih dingin banget. Tapi, Bunda cuma ngomong aja, kok. Gak bermaksud mengeluh, malah bersyukur."
Nai: "Kenapa gak mau mengeluh?"
Bunda: "Ima tau, bencana asap yang ada di Sumatera dan Kalimantan?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Nah, di sana sodara-sodara kita di sana katanya udah lebih dari 2 bulan gak bisa melihat matahari."
Nai: "Kok, gak bisa? Memangnya mataharinya gak mau bersinar di sana, Bun?"
Bunda: "Matahari, sih, tetap bertugas seperti biasa. Cuma asap yang bikin matahari jadi kelihatan tidak bertugas. Begini, deh, Ima inget waktu deket sekolah ada kebakaran besar?"
Nai: "Iya, inget."
Bunda: "Kayak gimana tuh asapnya di langit?"
Nai: "Item banget, Bun."
Bunda: "Nah, langit yang biru juga jadi gak kelihatan gara-gara asap, kan? Trus kalau angin bertiup ke sekolah, bau asapnya gak enak banget, kan?"
Nai: "Iya, sih."
Bunda: "Ya, seperti itu kondisi sodara-sodara kita di sana. Malah ini lebih parah karena yang terbakar itu hutan. Bayangin aja luasnya hutan kalau terbakar, asapnya kayak gimana. Kira-kira Ima masih inget, gak, kejadian bencana asap itu kayak film apa?"
Nai: "Hmmm ... apa, ya?"
Bunda: Itu, lho yang tokohnya warna orange, badannya berbulu semua. Trus, semua manusia tinggal di suatu tempat yang dikelilingi tembok pembatas."
Nai" "Oooohh, the borax!"
Bunda: "Bukan borax, Nai. Tapi, The Lorax"
Nai: "Oh, iya. Tapi, di film the lorax kan manusianya masih ada oksigen untuk bernapas, Bun."
Bunda: "Memang, iya. Tapi, untuk mendapatkan oksigennya bagaimana? Mereka harus beli."
Nai: "Oh iya, oksigennya dijual di botol kayak air galon, ya, Bun."
Bunda: "Iya. Itu, lah, sebagian ulah manusia. Setelah melakukan pengrusakan, solusinya bukan dengan cara menyembuhkan hutan. Tapi, dengan membuat hutan yang sudah rusak menjadi daerah terlarang. Manusia hidup di dalam ruang besar dimana untuk bernapas saja oksigennya harus beli. Padahal udah jelas kalau oksigen dikasih gratis sama Allah. Tugas manusia cuma menjaga aja, kok."

The Lorax, sang penjaga hutan

Selasa, 13 Oktober 2015

Memahami Arti Tangisan Bayi

memahami arti tangisan bayi

Kenapa sebagai orang tua, kita harus memahami arti tangisan bayi? Karena sesungguhnya, mereka sedang melakukan komunikasi.

Awalnya, Chi gak berpikir kesana. Chi pikir kalau bayi nangis ya berarti nangis aja. Tinggal kita aja menerka-nerka, mereka menangis karena lapar mengantuk, ngompol, sakit, atau karena hal lain? Ya, berarti sebetulnya mereka sedang berkomunikasi juga, sih. Tapi Chi jadi lebih tau tentang tangisan bayi, membaca di salah satu media cetak.

Di media tersebut tertulis kalau tangisan bayi itu berbeda-beda. Bayi yang aru lahir hingga usia tertentu memang hanya bisa menangis. Tapi kalau diperhatikan lebih saksama, tangisan bayi bisa berbeda-beda tergantung apa yang sedang dikomunikasikan saat itu. Yup! Tangisan bayi juga ada polanya.

Minggu, 11 Oktober 2015

Tip Mengajak Anak Menonton Bioskop

Tip Mengajak Anak Menonton Bioskop

Tip mengajak anak menonton bioskop. Awalnya diantara kami berdua, K'Aie yang lebih suka menonton film. Walopun begitu gak sering juga, sih, kami nonton bioskop. Apalagi sejak punya anak, kegiatan menonton bioskop sempat berhenti selama beberapa tahun. Kurang lebih sampai Keke usia 4-5 tahun gitu, lah.

Rasa kangen untuk nonton bioskop jelas ada. Tapi, ketika pertama kali mau mengajak anak-anak nonton bioskop, Chi harus melakukan berbagai pertimbangan dulu.

Pastikan Keke dan Nai sudah betah nonton lama sambil duduk manis

Hal pertama yang Chi pikirkan adalah apa Keke dan Nai sudah betah nonton berlama-lama sekitar 1-1,5 jam. Keke dan Nai, kan, gak dibiasain nonton dalam waktu lama. Kalaupun mereka menonton televisi atau distel film untuk anak kayak Barney, Dora the Explorer, dan lain sebagainya, biasanya mereka nonton sambil gak mau diam. Cuma sesaat aja diamnya. Nah, gak asik kalau nanti di bioskop mereka juga gak mau diam. Mondar-mandir, teriak-teriak, atau melakukan hal lain yang bisa mengganggu penonton.

Bahkan untuk film anak sekalipun, akan ada anak-anak yang merasa kurang nyaman kalau melihat penonton lain berisik atau monda-mandir. Sekalipun yang melakukan itu, anak-anak juga. Jadi menurut Chi, memastikan anak sudah bisa duduk manis dalam jangka waktu cukup lama itu penting.

Kamis, 08 Oktober 2015

Julie's Biscuit, Camilan Favorit Keluarga


"What we DON'T eat, we DON'T let other people eat" - Martin Ang, Direktur Perfect Food Manufacturing (M) Sdn Bhd

Selasa (29/9) bertempat di XXI Club Djakarta Theatre, Chi hadir di acara "Media and Blogger Gathering : A Day with Julie's". Julie's adalah biskuit asal Malaysia yang sudah ada sejak tahun 1981 dan sudah tersebar di 70 negara. Kali ini, Julie's Biscuit, camilan favorit keluarga, dengan logonya bergambar perempuan muda berambut pirang dan dikuncir 2, ingin mengenalkan varian terlarisnya, yaitu Julie's Peanut Butter Sandwich.


Selasa, 06 Oktober 2015

Oksitosin si Hormon Cinta

Oksitosin si hormon cinta. Apa, nih? Malam-malam ngomongin cinta hehehe

"Siapa yang ketika menyusui tidak sambil pegang gadget?" tanya MC di sebuah acara parenting. Ternyata selain Chi hanya segelintir ibu yang angkat tangan.

"Siapa diantara yang angkat tangan ini, ketika masih menyusui sudah mengenal segala macam social media?" MC acara melanjutkan pertanyaannya. Dan, kali ini Chi tidak angkat tangan. Ketika Chi masih menyusui Keke dan Nai memang gak sambil pegang gadget. Tapi, di saat itu Chi juga belum kenal socmed satupun. Bahkan handphone aja masih standar banget yang cuma bisa buat nelpon dan sms aja :D

Mungkin kita sering mendengar atau membaca kalau menyusui akan menciptakan bonding antara ibu dan anak. Makanya, sangat disarankan untuk memberi ASI kepada anak. Karena ketika memberi ASI, satu tangan untuk menyanggah bayi, tangan lain bebas untuk memberikan kasih sayang. Tapi ternyata, bonding tidak serta-merta tercipta begitu saja, lho.

Minggu, 04 Oktober 2015

Lebaran Kok di Hotel? Kebersamaannya Dimana?

 
Walaupun sekarang kalau lebaran nginepnya di hotel, tetep aja banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Salah satunya shalat ied ini

Sejak kecil, hari raya Idul Fitri selalu jadi yang paling ditunggu. Kumpul dengan keluarga besar di dalam satu rumah. Kalau udah kumpul keluarga besar kayak gitu, Chi gak pernah kebagian tidur di kamar. Selalu gelar kasur di depan tv bersama para sepupu.

Buat Chi gak masalah karena yang penting kebersamaan. Mau tidur dimanapun selama masih bisa bergosip eh melepas kangen, ding hehehe. Kan, jarang bisa kumpul. Apalagi dengan sepupu yang tinggal di Jawa Tengah sana. Paling lebaran aja ngumpulnya.

Setelah kami semakin besar, rutinitas pun mulai berubah. Bahkan sejak lebaran 2 tahun lalu, Chi dan keluarga menginap di hotel ketika lebaran. Sempat terpikir, apa yang dilakukan ini gak akan mengurangi kebersamaan? Ternyata enggak, tuh.

Sabtu, 03 Oktober 2015

#PhilipsRiceCooker Membantu Menjaga Kehangatan Keluarga

philips rice cooker, anti gores, masakan nusantara, masakan indonesia, harga rice cooker, tahan lama, rice cooker yang bagus

Philips Rice Cooker Membantu Menjaga Kehangatan Keluarga. Chi termasuk yang meyakini kalau makan adalah salah satu momen untuk tetap menjaga kehangatan keluarga. Itukah kenapa walopun kami termasuk keluarga gadget mania, tapi saat waktunya makan dilarang ada gadget antara kita. Waktunya makan adalah saatnya kebersamaan. Lebih baik berbincang-bincang sambil makan, daripada diam tapi konsentrasi ke arah gadget masing-masing *walaupun mulut tetap mengunyah*.

Sayangnya, kami jarang menghabiskan waktu untuk makan bersama. Kalau pagi, biasanya anak-anak yang sarapan lebih dulu. Sementara mereka sarapan, Chi menyiapkan berbagai keperluan sekolah. Begitu juga dengan K'Aie yang membantu Chi. Ketika anak-anak berangkat, Chi baru sarapan. Kalau K'Aie sangat jarang sarapan.

philips rice cooker, anti gores, masakan nusantara, masakan indonesia, harga rice cooker, tahan lama, rice cooker yang bagus
Nasi campur bali

Siang hari, Chi makan sendiri. Anak-anak baru makan di rumah lagi menjelang sore saat baru pulang sekolah. Kemudian mereka pun makan malam lagi dan tidak bersama Chi *alasannya sedang berusaha gak makan malam*. K'Aie pulang larut malam, biasanya  makan sendiri atau kadang Chi temenin juga, sih *gagal lagi dietnya hahaha* Intinya kami jarang makan bersama saat weekdays. Paling weekend baru kami bisa makan bersama.

Walaupun jarang makan bersama, kami punya selera yang sama, yaitu makanan harus dalam keadaan hangat termasuk nasi. Makan nasi dingin itu gak enak. Tapi, kalau masak nasi setiap kali mau makan itu ribet. Enaknya sekali masak trus nasi tetap hangat dalam jangka waktu lama. Masalahnya kalau nasi dibiarkan lama di rice cooker, suka jadi kuning. Jadi serba salah kalau begini, deh.

Rabu, 30 September 2015

Bincang-Bincang Bersama Jang Ipan

"Ipan, ini yang namanya Myra Anastasia," seru Mbak Nuniek ketika kami bertemu di acara Fotile.

Mbak Nuniek lalu bercerita kalau Ipan sempat menyangka dirinya adalah Myra Anastasia. *Berarti kita mirip, ya, Mbak hihihi* Chi terkejut ketika kemudian Ipan dengan santun menyapa lalu cium tangan! Ya, semua blogger yang bertemu dengannya tidak hanya disapa dengan santun dan dipanggil 'Kak' tapi juga dicium tangannya oleh Ipan. *Chi langsung berasa jadi orang tua wkwkkw.* Sebelumnya, Chi pernah tau dari Mbak Ani Berta kalau ada peserta Fun Blogging yang datang jauh dari Garut. Akhirnya, Chi bisa ketemu juga dengan urang Garut ini walopun baru sekali :)

Gak cuma kesantunan dan keramahan yang menjadi ciri khas Ipan Setiawan, bujang garut berusia 23 tahun. Tapi, semangatnya juga sangat tinggi. Kalau teman-teman yang berteman dengannya di social media, mungkin akan melihat kalau Ipan ini cukup sering berada di Jakarta. Dari satu event ke event lainnya. Padahal Ipan masih berdomisili di Garut, lho.

Dia sering sekali bolak-balik Garut-Jakarta demi kegiatan blogging. Nah, Chi jadi penasaran apa, sih, yang bikin Ipan bolak-balik ke Jakarta terus. Padahal jarak Garut-Jakarta itu gak dekat. Udah gitu blognya juga aktif. Bagaimana dia mengatur waktunya dan juga semangatnya supaya gak kendor? Ini bincang-bincang online Chi bersama Ipan.


Selasa, 29 September 2015

Dove Volume Nourishment: Real Beauty, Real Women

dilema rambut perempuan indonesia, dove hair nourishment, oxyfusion technology, #bebasdilemarambut
Dove Volume Nourishment: Real Beauty, Real Women

Bunda: "Dek, udah keramas, belum?"
Nai: "Iya nanti, Bun."

Akhir-akhir ini, Nai suka agak susah disuruh keramas. Tentunya bukan alasan karena takut pedih di mata. Tapi, selalu aja alasannya lupa. Giliran disuruh balik lagi ke kamar mandi, bilangnya nanti kesiangan ke sekolah. Kalau sore, suka ditunda-tunda. Ujung-ujungnya batal keramas.

Memang, sih, gak sampe berhari-hari juga dia gak keramas. Tetep masih 2 hari sekali, kok. Cuma harus diingatkan terus. Padahal biasanya dia rajin. Kalau perlu abisin stok shampoo dan sabun buat sekalian main busa hehehe.

Nai: "Bun, ini kenapa Ima sekarang suka males keramas. Kalau abis dikerudung suka kayak berantakan, udah gitu rambut Ima jadi kelihatan tipis."
Bunda: "Rambu Ima emang tipis, kan?"
Nai: "Iya, tapi kalau gak keramas lebih kelihatan tebel gitu, Bun."

Eyaampuuunn ... anak usia 9 tahun udah peduli sama urusan kecantikan rambut hehehehe. Padahal dia setiap hari berkerudung. Etapi jangan salah, ya, yang berkerudung pun juga tetep wajib memelihara rambut. Jangan cuma supaya rambut tetap bernutrisi aja tapi juga kecantikannya harus juga diperhatikan. Jangan berpikir 'Siapa juga yang mau lihat? Kan, dikerudung ini?' Lho, kalau melihat rambut kita sendiri tetap cantik pastinya bakal senang banget, kan?

Senin, 28 September 2015

Seporsi Soto Ayam Hangat Untuk Bekal Sekolah


Seporsi soto ayam hangat untuk bekal sekolah itu mungkin gak, ya?

Nai: "Makanannya udah gak hangat, Bun."

Cukup sering juga Chi diprotes sama anak-anak, terutama sama Nai yang lebih suka makanan hangat. Mereka bahkan beberapa kali menyarankan supaya Chi bolak-balik ke sekolah aja. Untuk makanan istirahat pertama, gak apa-apa mereka bawa dari rumah. Tapi untuk istirahat kedua, mereka minta Chi anter menjelang istirahat kedua. Alasannya supaya tetap hangat.

Dulu Chi pernah melakukan seperti itu. Mengantarkan mereka bekal menjelang makan siang. Tapi, kayaknya sekarang agak merepotkan *sok sibuuukk hahaha*. Chi udah berusaha cari tempat makan yang satu set dengan lunch bag. Lunch bagnya katanya bisa menahan panas. Tapi sepertinya gak bisa menahan panas dalam waktu yang lama. Ketika istirahat pertama aja udah berkurang panasnya. Kemudian menjadi dingin di istirahat kedua.

Membuat bento menjadi salah satu cara yang Chi lakukan supaya makanannya tetap habis. Rupanya kadang gak mempan juga. Kalau udah dingin, beberapa makanan gak dihabiskan. Akhirnya Keke dan Nai sampai bikin list, makanan apa aja yang gak enak dimakan ketika sudah dingin. Termasuk makanan kayak nugget aja, gak semuanya mereka setuju untuk dijadiin bekal. Pokoknya langsung dicoret dari list hehehehe.

Jumat, 25 September 2015

Benarkah Gurumu Galak?

Benarkah gurumu galak? Yuk, coba pikirkan lagi. Suatu hari, salah seorang sepupu Chi yang masih SMP cerita *sambil tertawa-tawa* kalau dia dan beberapa temannya dipukul telapak tangannya oleh gurunya. Salah seorang temannya tidak terima. Dan dengan sedikit mengancam mengatakan akan memperkarakan masalah. Menurut sepupu Chi, gurunya langsung meminta maaf kepada murid-muridnya. Dan agak memohon supaya masalah tersebut gak diperpanjang. Dan, menurut cerita sepupu Chi sekarang gurunya jadi gak berani menghukum lagi.

Chi: "Memangnya gurumu keras sekali memukul telapak tangan kamu dan teman-teman?"
Sepupu: "Enggak juga, sih."

Oke, keras atau tidak memang relatif, ya. Tapi kalau Chi mencoba mengambil kesimpulan dari cara sepupu bercerita, sepertinya memang gurunya hanya memukul biasa aja.

Chi: "Emang, gara-garanya kenapa sampe dipukul?"
Sepupu: "Gara-garanya kita pada ngobrol di kelas pas guru lagi ngajarin."
Chi: "Ohh ... trus, kalian langsung dipukul."
Sepupu: "Enggak, sih. Pertamanya ditegur dulu, diminta jangan ngobrol saat jam pelajaran. Tapi, gak ada yang nurut. Jadi aja akhirnya yang ngobrol dipukul telapak tangannya."
Chi: "Kalau gitu menurut mu hukuman apa yang pas untuk siswa yang gak nurut sama guru? Kan, awalnya guru gak langsung mukul. Tapi menegur dulu cuma gak pada nurut, kan?"
Sepupu: "Hehehe ..."

Sepupu Chi hanya tertawa tapi gak kasih solusi, hukuman apa yang pantas kalau siswa gak nurut sama guru. Buat Chi ini menggelitik banget.

Kamis, 24 September 2015

Dulu Tukeran Kertas Surat, Sekarang Tukeran Kartu Nama

kartu nama, praktis print

Waktu Chi kecil *usia SD gitu, lah* hobi banget tukeran kertas surat. Banyak banget, deh, koleksi kertas surat Chi saat itu. Tapi, sekarang pada kemana, ya? Ada yang punya hobi sama gak kayak Chi?

Sekarang hobinya lain lagi. Tetep urusan tukeran juga. Tapi kali ini tukeran kartu nama. Bukan hobi, sih, sebetulnya kalau tukeran kartu nama. Lebih karena alasan networking sama selalu aja ditanyain "Ada kartu nama?" Masa' iya jawabnya gak punya melulu. Padahal kartu nama adalah salah satu jalan menuju dapet doorprize *eh :p*

Abaikan yang tentang doorprize itu karena Chi gak terlalu beruntung untuk urusan doorprize. Tapi kalau alasan networking memang iya. Seringkali kalau bertemu dengan seseorang yang baru, terutama di acara blogger, sering ditanya kartu nama. Ketika registrasi ke suatu acara pun suka ditanyain kartu nama. Gak cuma untuk gaya-gayaan, kok. Tapi dengan bertukar kartu nama siapa tau suatu saat bisa saling bekerja sama. Karena ketika memberi kartu nama, kan, gak ke sembarang orang atau sembarang tempat.

Selasa, 22 September 2015

Jangan Memarahi Anak Di Tempat Ini.

Jangan Memarahi Anak Di Tempat Ini. Yup, ada satu tempat di mana Chi berusaha keras untuk gak memarahi anak-anak yaitu di tempat umum. Bahkan ketika di rumah, sebisa mungkin menegur atau memarahinya di dalam kamar saja.

Sebelum, Chi kasih tau alasannya, pastinya kita pernah dong merasa kesal sama anak ketika lagi di luar rumah. Entah anak yang ngerengek minta ini-itu, pecicilan kesana-kemari, dan lain sebagainya. Pokoknya bikin kita jaid kesel. Rasanya pengen ngomelin mereka saat itu juga. Tapi Chi berusaha menghindari itu.

Anak yang dimarahi di depan umum akan merasa malu. Kalau udah malu, akan timbul emosi. Emosinya bisa dikeluarkan dengan cara menangis, ngamuk, atau bahkan diam. Tapi yang pasti kalau sudah emosi akan sulit menerima penjelasan apapun, walopun mungkin dalam hatinya mengakui kalau dirinya salah.

Jangankan di tempat umum, ketika di rumah pun harus lihat-lihat tempat. Chi, kan, masih tinggal sama orang tua. Beberapa kali Chi perhatiin kalau lagi marahin Keke dan dia menangis, ekspresinya langsung berubah jadi cool kalau kakek atau neneknya lewat. Biasanya dia langsung buru-buru usap air mata atau kadang masuk kamar. Chi yakin dia gak suka ditegur atau dimarahi di depan orang lain walaupun itu di depan kakek atau neneknya. Sama, lah, Chi pun juga begitu. Gak suka kalau ditegur di depan orang lain.

Minggu, 20 September 2015

Dari Lawan Jadi Kawan

"Bunda, Keke gak ikutan, ya. Soalnya Keke sama teman-teman mau bikin acara perpisahan buat X."

Saat itu hari terakhir Keke bersekolah di kelas 5. Chi mau ajak Keke dan Nai untuk bolos aja. Kebetulan Chi dapet undangan main inline skate di dunia inline skate. Boleh ajak anak-anak ke sananya. Lagipula udah hari terakhir sekolah, udah gak ada kegiatan apapun. Tapi, Keke menolak ikut dengan alasan akan membuat pesta kejutan untuk salah seorang temannya yang akan pindah ke Kalimantan.

Yang membuat Chi rada terharu adalah temannya ini pernah beberapa kali bermasalah dengan Keke. Dari kelas 2 hingga kelas 4 selalu ada aja masalahnya. Bahkan Chi dan K'Aie sempat dipanggil oleh wali kelas Keke. Chi pun sempat terpikir untuk meminta Keke gak usah bermain dengannya lagi. Cerita selengkapnya pernah Chi tulis di "Memutuskan Pertemanan"

Prakteknya, memutusan pertemanan itu bukanlah hal mudah. Kitanya masih kesal, anaknya udah akrab lagi. Chi juga jadi sulit untuk memaksakan Keke. Chi cuma mewanti-wanti untuk berhati-hati aja jangan sampai terlibat masalah lagi dengan X. Apalagi Chi sempat ketar-ketir pas kelas 5 Keke sekelas lagi. Hufff!

Rabu, 16 September 2015

Hi, Mbak!

Hi, Mbak! Beberapa waktu lalu sempat viral status heboh dari seorang perempuan yang pengen bisik-bisik sama suami orang. Oke deh Chi gak akan screenshot status FBnya karena denger-denger itu perempuan jadi merasa terganggu gara-gara dibully sama banyak netizen. Terutama perempuan yang udah bersuami. Padahal katanya dia nyetatus begitu cuma becanda. Hmmm... Kalau memang bener becanda berarti satu bukti lagi kalau untuk becanda sekalipun harus mikir dulu. Gak bisa seenaknya karena semua ada aturan dan resikonya :) Karena Chi gak akan tampilin screen shotnya, jadi Chi copas aja statusnya, ya.
Ngeliat cowok ganteng banget lagi ngajak main anaknya sambil nyuapin makan, sedangkan istrinya lagi sibuk milih baju. Rasanya pengen gue samperin tuh cowok terus gue bisikin “mas dalam islam poligami itu boleh loh"
Chi gak akan membahas *apalagi debat* tentang apakah dalam islam itu boleh poligami atau enggak. Udah lain ranahnya. Tapi buat Chi sih masih banyak cara menuju surga *ihiiiyyy*. Dah segitu aja, Chi mau bahas dari sisi lain.

Senin, 14 September 2015

Bila Anak Kecanduan Game, Cari Solusi Hingga Ke Akarnya

Bila anak kecanduan game, cari solusi hingga ke akarnya. Haruskah melarang anak bermain game ketika sudah mulai kecanduan? Jawabannya ternyata tidak.

Beberapa hari lalu, Chi nonton salah satu episode serial parenting - Jo Frost. Serial favorit Chi dan beberapa kali Chi menceritakan di blog ini setiap kali ada episode yang menarik. Episode yang beberapa hari lalu Chi tonton sebetulnya udah pernah tayang ulang beberapa kali. Tapi rasanya tetap menarik untuk ditonton dan masih cocok dengan persoalan pola asuh zaman sekarang, yaitu anak yang kecaduan game.

Episode kali itu ada seorang anak bernama Bailey, usia sekitar 10-11 tahun, setiap hari kerjanya main game selama berjam-jam. Pulang sekolah langsung main game. Makan sambil main game, itupun makanan dan minunamnnya harus disediakan oleh ibunya. Pelajaran sekolahnya jelas terganggu karena yang ada di pikirannya hanyalah game. Tidur malam selalu mengigau tentang game yang sedang dia mainkan. Pokoknya hidupnya hanya seolah-olah untuk bermain game. Ibunya sudah merasa putus asa dengan anaknya lalu meminta pertolongan Jo.

Jumat, 11 September 2015

Ketika Bunda Berniat Diet

Ketika bunda berniat diet, maka salah satu cobaan terberat adalah anak-anak dan suami hehehe. Iya, jadi Chi ceritanya lagi berniat mau diet karena berat badan sekarang ini cukup tinggi naiknya. Hampir 60 kg! Padahal biasanya juga setinggi-tingginya itu 55 kg.

Yang bikin Chi niat pengen diet itu karena celana jeans udah pada gak muat. Sempet pinjem celana jeans K'Aie untuk beberapa waktu. K'Aie sih nyaranin supaya Chi beli celana lagi aja. Tapi males banget, ah. Ntar beli trus ngegemukin lagi, masa beli lagi. Emang harus diet berarti solusinya.

Kali ini Chi gak diet pake metode apapun. Cuma berusaha berhenti makan malam aja. Karena Chi merasa mulai tambah gemuk itu rutin makan malam di atas pukul 9 malam. Itupun Chi cuma niat selama weekdays aja. Kalau week end tetep makan malam karena makan malam itu sesungguhnya menyenangkan hahaha.

Tapi niatan Chi untuk gak makan malam itu gak lancar. Ada ajaaa... godaannya. Duh! Di bawah ini beberapa godaan untuk terus makan malam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge