Featured Post

Antara Kopi Hijau, Diet, dan Antioksidan

Chi pernah bercerita di blog kalau K’Aie adalah seorang pecinta kopi. Setelah bangun tidur, aktivitas yang pertama kali dilakukan adalah ...

Kamis, 27 November 2014

Akarnaval 2014 - Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia

Akarnaval adalah aksi seni budaya yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar dalam mewujudnyatakan visi menjadikan pendidikan sebagai bagian dari gerakan budaya yang menghormati hak dan kemanusiaan anak. Dalam pengertian itu, Akarnaval bukan sekedar acara atau proyek yang berdiri sendiri, melainkan suatu titik dari proses berkesinambungan model pendidikan yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar. Dari satu sisi, Akarnaval merupakan pencapaian dari dinamika kegiatan sebelumnya. Di sisi lain, aksi budaya ini merupakan pihajan awal untuk melanjutkan gerak ke depan.
Bertepatan dengan ulang tahun Sanggar anak Akar yang kedua puluh, November 2014, Akarnaval keemapt kali ini mengambil tema "Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia." Akarnaval kali ini tidak hanya berisi beragam aksi kreatif, tetapi juga diikuti banyak kelompok peserta dari berbagai negara.
Bunda : "Yah, Sanggar Akar bikin pementasan teater. Kita nonton, yuk!"
Ayah  : "Kapan?"
Bunda : "Tanggal 25-26 November. Ada yang jam 3 sore atau jam 8 malam. Mau, kan? Pengalaman pertama buat anak-anak juga, nih, nonton teater. Lagian Sanggar Akar kan kata Ayah bagus."
Ayah : "Iya, memang, Tapi, coba nanti Aie ke sana dulu buat ngobrol-ngobrol."
Bunda : "Oke."

Selasa, 25 November 2014

LSD Camping Pramuka Pertama Keke


Setiap semester pertama di setiap tahunnya, sekolah selalu mengadakan kegiatan pramuka yang bernama Life Skill Development (LSD). Keke dan Nai selalu seneng kalau ada LSD karena semua kegiatannya selalu menyenangkan. Biasanya setelah LSD selesai, anak-anak diberi tanda baru untuk baju pramukanya. Berarti semacam kenaikan tingkat juga, ya.

Biasanya LSD dilakukan di sekolah. Selama 1 hari, tidak ada pelajaran lain, hanya kegiatan LSD. Kecuali untuk anak-anak kelas 5 SD, LSD diadakan di luar sekolah alias camping. Karena Keke sudah kelas 5 SD, berarti Keke pun camping. Camping bukanlah pengalaman pertama Keke. Dia cukup sering camping. Tapi, camping tanpa orang tua merupakan pengalaman pertama bagi Keke.

Tahun ini, camping di adakan di Citra Alam Lakeside, Situ Gintung. Mendengar kata Situ Gintung, yang langsung teringat adalah kejadian musibah tanggul jebol beberapa tahun silam. Aman gak, ya, camping disana? Tapi, feeling Chi mengatakan rasanya gak mungkin sekolah mencari tempat yang gak aman buat anak-anak. Lagipula disinilah gunanya Google, kan? Cari informasi tambahan sebanyak-banyaknya :D

Sabtu, 22 November 2014

#OOTDID Jeans, Kaos, dan Kets

Ceritanya sesekali mau nulis ala fashion blogger, ah *halah gayaaa :p. 

Hari ini, Chi dateng ke acara Campaign.com. Alhamdulillah, akhirnya bisa juga hadir setelah undangan dari campaign.com beberapa waktu lalu Chi gak bisa hadir. Biasa deh, apalagi alasannya kalau bukan urusan anak-anak hehehe.

OOTD (Outfit of The Day) Chi hari ini adalah celana jeans, kaos, jaket jeans, kerudung kaos, plus sepatu kets. Tas selempang gak ketinggalan (biasanya ranselan, tapi hari ini lagi males bawa ransel). Ini, sih gaya Chi sehari-hari sebetulnya. Kalau ke sekolah anak-anak juga selalu casual begini gayanya. Walopun, pernah sesekali pake gamis atau yang rada feminin. Itu kalau jiwa femininnya lagi kumat :D

Tadinya udah mau pake baju yang kayak di foto ini. Tapi pas mau berangkat baru sadar kalau bajunya sobek. Hufff... Untung sadarnya pas masih di rumah. Coba kalau udah di lokasi acara.

Selasa, 18 November 2014

Kopdar Blogger Di Tanakita

Berkali-kali datang ke Tanakita, baru kali ini merasa deg-degan...

Oiya, masih ingat 3rd GA berhadiah liburan ke Tanakita yang beberapa bulan lalu Chi gelar dengan pemenangnya adalah Nurul Wachdiyah dan Shinta Ries? Tanggal 8 November lalu, sesuai rencana yang sudah disepakati, kami pun kopdar di Tanakita.

Deg-degan pertama

Kopdar, Blogger, Tanakita
Ngobrol-ngobrol dulu sambil nunggu Mak Nurul dan Mak Shinta dateng

Walopun Chi udah kangen banget sama hujan, tapi agak berharap saat kami ke sana itu gak hujan sama sekali. Kalau hujan, gak bisa banyak aktivitas yang bisa kami lakukan disana. Paling santai-santai di area Tanakita aja.

Buat Chi sih gak masalah mau hujan atau enggak, sama enaknya. Malah kata K'Aie di Tanakita itu saat hujan. Karena yang terbayang adalah nikmatnya nyeruput kopi di gazebo. Tapi, Mak Nurul dan Mak Shinta kan baru ke Tanakita, sayang banget kalau gak maksimal beraktivitas disana.

Apalagi para pemenang GA juga diminta untuk ikut tubing. Sedangkan tubing itu tergantung sama debit air. Terlalu kering atau terlalu deras, kegiatan tubing ditiadakan. Duh, Chi merasa gak enak juga nih kalau sampe gagal tubing. Deg-degan hihi.

Cuma pasrah begitu hujan turun lumayan besar di hari Sabtu. Ya, masa mau nyalahin Allah? Enggak, lah. Jauh-jauh dari pikiran seperti itu :)

Jumat, 14 November 2014

Anak Ayah

Beberapa hari yang lalu adalah hari ayah. Chi mau ceritain tentang K'Aie, ah. Eheemm hehehe..

Sejak masih pacaran, Chi udah feeling kalau K'Aie termasuk laki-laki yang bisa dekat dengan anak kecil. Sebetulnya gak cuma feeling, sih. Tapi ada buktinya. Chi punya adik yang selisih usianya 18 tahun. Nah, kalau orang pacaran biasanya kemana-mana berdua atau bareng sama teman-teman, Chi dan K'Aie enggak kayak gitu. Seringnya kemana-mana itu bertiga sama adik Chi. Sejak adik Chi usia kurang dari 2 tahun udah sering ikut kami berdua kalau jalan-jalan. Pacaran sekalian ngasuh adek hehe.

Alhamdulillah K'Aie gak pernah keberatan, malah asik ajah. Trus, Chi juga punya banyak sepupu yang seumuran adik bungsu ini. Malah ada beberapa yang lebih kecil lagi. Jadi, kalau K'Aie lagi ikutan kumpul sama keluarga besar Chi, selalu dikerubutin sama sepupu-sepupu Chi yang waktu itu masih kecil-kecil. Anak-anak kecil yang ngikutin kami jalan-jalan pun tambah banyak. Udah kayak rombongan sirkus hehehe.

Makanya, begitu punya anak sendiri, Chi yakin K'Aie akan menjadi ayah yang baik. Gak hanya bisa menafkahi tapi juga bisa ikut mengasuh bahkan menjadi sahabat bagi Keke dan Nai. Buat kami, kedekatan antara ayah dan anak itu perlu banget. Sama pentingnya seperti anak dekat dengan sosok bundanya.

Banyak sekali yang bisa Chi ceritain tentang seperti apa kedekatan K'Aie dengan Keke dan Nai. Tapi, kali ini kedekatan dalam bermain aja, ya. Mungkin akan lebih banyak foto yang berbicara kali ini.

Rabu, 12 November 2014

Belajar Sepeda Roda Dua

Lagi buka-buka foto lama, ketemu kumpulan foto Keke waktu lagi belajar belajar sepeda roda dua. Foto tahun 2009, berarti kira-kira Keke usia 5 tahun. Keke belajar pakai sepeda roda dua dari roda empat cukup sehari aja langsung lancar, lho. Mungkin penyebab kenapa Keke bisa langsung lancar adalah beberapa hal di bawah ini:

Sepedanya udah kekecilan


K'aie udah pernah nawarin dia sepeda baru. Keke gak mau. Namanya anak-anak, kalau udah punya barang kesayangan memang susah disingkirkan barangnya. Padahal sepeda lamanya itu udah agak kekecilan. Dan udah menuntut segera di 'lem biru', sampe beberapa kali dibenerin. Keke tetep gak mau. Tapi, mungkin ini juga yang bikin dia pede mencopot ban kecil sepedanya. Dari roda empat ke roda dua. Karena kalau sampe oleng pas lagi main sepeda roda dua kan kainya dnegan mudah menyentuh tanah hehe.

Belajar di lapangan rumput


Kompleks tetangga punya beberapa lapangan rumput. Jadi, kami sekeluarga 'nenangga' dulu ke komplek sebelah untuk menikmati lapangan rumputnya. Kenapa sengaja cari lapangan rumput, biar Keke gak trauma kalau sampe jatuh beberapa kali karena jatuh pas lagi belajar sepeda roda dua. Jatuh di lapangan rumput kan gak sesakit dibandingkan jatuh dilapangan aspal.

Latihannya juga dari pagi. Anggap aja sekalian olahraga pagi. Dan, gak perlu sampe seharian juga kami latihan. Setelah Keke makin pede ngegowesnya, cobain ke jalan langsung bisa deh.

Jadi, buat orang tua yang pengen ngajarin anaknya gowes sepeda roda dua, coba cari lapangan rumput ajah. Anak lebih nyaman latihannya karena gak perlu takut sakit saat jatuh. Kalau udah nyaman, rasa pede bakal dateng. Anak pun jadi cepet bisa. Orang tua juga gak perlu pegel punggung karena sering-sering pegangin sepeda anak, takut anak jatuh trus luka dan nangis. Win-win solution, kan? Hehe

Jumat, 07 November 2014

Lomba Pekan Muharram

Hari Selasa lalu, di sekolah Keke dan Nai diadakan lomba pekan Muharram.

Keke: "Bun, sebetulnya Keke itu pengennya ikut lomba adzan atau spelling arabic. Tapi, sama guru di suruh ikut lomba tilawah."
Bunda: "Alasannya?"
Keke: "Katanya sih Keke termasuk yang bagus bacaan Al-Qur'annya."
Bunda: "Ya, dicoba aja kalau gitu, Ke."

Kalau Keke ikut lomba tilawah, Nai diminta ikut lomba mewarnai kaligrafi. Ini udah yang kedua kalinya buat Nai. Tahun lalu, dia ikut lomba yang sama. Kalau Keke, tahun lalu ikut lomba hapalan surat.

Nai: "Bun, caranya menang gimana, ya?"
Bunda: "Latihan dan berusaha yang terbaik."
Nai: "Kayaknya Ima udah berusaha yang terbaik. Tapi, tahun kemaren gak menang."
Bunda: "Menang itu anggap aja bonus, Nai. Yang penting kita berusaha yang terbaik dulu."
Nai: "Tapi, Ima kepengen banget menang, Bun. Tahun lalu gak juara sama sekali. Masa' tahun ini enggak juga."

Ada rasa bahagia dan khawatir melihat keinginan Nai ini. Bahagia karena Nai berarti punya tujuan. Dan, kemudian dia buktikan dengan latihan mewarnai di rumah. Sesekali kami berdua berdiskusi, kira-kira akan diwarnai seperti apa nanti. Walopun belum tau juga pas lomba nanti akan kayak apa lembaran mewarnainya.

Rasa khawatir yang timbul adalah kalau Nai jadi merasa sangat kecewa ketika ternyata usahanya belum membuahkan kemenangan juga. Chi yakin Nai gak akan menangis gegerungan karena kalah. Dia juga gak akan minta dibeliin duplikat piala. Tapi, kalau Nai udah kecewa, biasanya dia suka sedikit patah semangat. Harus dibangkitkan lagi supaya patah semangatnya gak jadi panjang.

Chi terus berusaha mengingatkan Nai supaya yang penting berusaha terbaik aja dulu. Pokoknya coba membesarkan hati Nai. Menjaganya supaya jangan sampe kecewa banget kalau hasilnya gak sesuai yang dia harapkan. Mengatakan kepadanya kalau apapun hasilnya selama kita udah berusaha, orang tua akan terus mendukung.

Rabu, 05 November 2014

Keke Malu, Bunda

Wali kelas: "Mama Keke, kalau saya perhatiin sekarang keberanian Keke agak berubah. Dulu waktu kelas 2, kalau disuruh maju ke depan untuk adzan dia selalu mau. Sekarang menolak. Saya bujukin tapi dia tetap menolak."

Itu laporan wali kelas Keke waktu kelas 4 pas lagi terima rapor (lupa semester ganjil atau genap). Wali kelasnya wkatu kelas 4 memang pernah menjadi wali kelas Keke pas kelas 2. Jadi, sudah cukup hapal dengan karakter Keke.

Sampe rumah, Chi langsung tanya ke Keke kenapa pernah menolak pas diminta untuk adzan. Awalnya, Keke cuma bilang "Gak mau ajah." Tapi, setelah tarik-ulur pembicaraan, Keke pun mulai mengaku.

Keke: "Keke malu, Bunda."
Chi: "Malu kenapa?"
Keke: "Keke kalau ngomong R kan kayak gini."

Keke bisa ngomong R, tapi memang agak unik. Banyak yang bilang seperti bule kalau lagi ngomong R. Atau coba kita ngomong kata yang mengandung huruf R tapi lidahnya agak ke dalam. Tetap jelas kedengeran Rnya tapi terasa unik aja.

Senin, 03 November 2014

Buat Apa Sekolah?

Nai: "Bunda, Ima cita-citanya gak mau jadi illustrator lagi, ah. Ima mau jadi ibu rumah tangga aja."
Bunda: "Kok, tiba-tiba berubah? Alasannya apa?"
Nai: "Ya, pengen ajah."
Bunda: "Gak mungkin dong cuma kepengen aja. Harus ada alasan."
Nai: "Gak ada, Bun. Ima cuma kepengen ajah."
Bunda: "Masa' sih? Atau Ima lagi bosen ngegambar, ya?"
Nai: "Enggak, Buuun... Enggak. Emang kenapa sih harus pake alasan segala?"
Bunda: "Ya, abis tiba-tiba aja berubah cita-citanya."
Nai: "Ya gak apa-apa, kan? Ima cuma pengen kayak Bunda aja. Kayaknya enak."
Bunda: "Ooohh.."

Sebetulnya, ketika ngobrol itu, di hati Chi lagi ada perperangan antara ego dan akal sehat. Makanya, Chi coba mengulur-mgulur pembicaraan aja sama Nai. Padahal sebetulnya pengen ngomel hehe.

Ego: "Kalau emang cita-citanya pengen jadi ibu rumah tangga, ngapain juga diniatin sekolah tinggi-tinggi. Belajar aja langsung sama Bunda. Belajar mengurus rumah, belajar masak."

Akal sehat: "Eh! Bukannya sendirinya juga seorang sarjana? Gak masalah kan seorang sarjana akhirnya menjadi full time mom? Malah kamu seringkali bilang ke diri sendiri kalau pentingnya berpendidikan tinggi itu salah satunya adalah membentuk pola berpikir kamu. Lagian, anak-anak kan memang mencontoh orang terdekat. Nai sekarang lagi 'berkaca' ke bundanya. Dia pengen kayak bundanya."

Chi memang akhirnya harus mengeplak diri sendiri. Berkali-kali Chi merasa bersyukur dan gak merasa sia-sia walopun seorang sarjana tapi menjadi ibu rumah tangga saja. Setidaknya pengalaman akademis, bisa membantu membentuk pola berpikir Chi seperti sekarang. Jadi, kenapa Chi malah berpikir untuk gak perlu nyekolahin Nai ke sekolah yang lebih tinggi kalau memang dia nantinya ingin jadi seperti Chi. Ah, anggap aja Chi saat itu lagi galau hehehe..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge