Senin, 25 Agustus 2014

Kurikulum Yang Mencerdaskan

Sejujurnya, walopun pendidikan di Indonesia (katanya) berganti-ganti kurikulum, tapi cuma ada satupun nama kurikulum yang Chi hapal namanya, yaitu Kurikulum 2013 yang baru berlangsung dari tahun kemaren hehe. Walopun, katanya pendidikan di Indonesia itu begini-begitu (banyak cerita negatifnya), Chi sendiri cenderung santai menghadapinya.

Santai bukan berarti gak peduli, lho. Tapi, Chi memilih untuk menghadapi dengan tenang. Chi yakin, apapun bentuk kurikulum kita, akan ada celah atau sesuatu yang bisa kita lakukan supaya anak gak merasa terbebani. Di bawah ini beberapa hal yang Chi lakukan.

Rabu, 20 Agustus 2014

Simply Stay by Mustika Ratu. Simply Pretty Everyday

Dulu, Chi paling anti pake foundation. Gak pernah rata! Selalu aja cemong sana-sini. Untungnya, Chi emang cuek sama urusan dandan. Paling sehari-hari lipstikan aja. Malah kalau lagi gak mood, gak dandan sama sekali.

Jiwa perempuan Chi *halah!, baru keluar justru setelah menikah. Mulai kepengen dandan, walopun sehari-hari lebih banyak dihabiskan di rumah. Belajar dandan secara otodidak. Termasuk belajar pakai foundation.

Mulai suka dandan dan udah bisa pake foundation *ihiiyy!, bukan berarti selesai permasalahan. Make up yang Chi pake jarang bertahan lama. Dalam sekejap, muka udah kelihatan berminyak lagi. Kalau cuma jemput anak-anak ke sekolah atau jalan ke mall aja, sih, kadang Chi masih cuek berdandan minimalis. Tapi, kalau ke suatu acara, misalnya ke kawinan, selain dandan juga pengen pake make up yang bisa tahan lama. Gak sebentar-sebentar harus touch up di toilet :D.


Beberapa hari lalu, Chi dapat sample Simply Stay by Mustika Ratu. Seperti yang kita ketahui, Mustika Ratu adalah brand kosmetik Indonesia. Sudah pasti formulanya disesuaikan dengan warna dan jenis kulit wanita Indonesia.

Simply Stay by Mustika Ratu merupakan rangkaian tata rias dasar untuk wanita Indonesia yang aktif, modern, dan simple dengan kisaran usia 25-40 tahun. Simply Stay mampu mempertahankan riasan hingga 8 jam. Benarkah? Harus dibuktikan tentunya. Kita buktikan, yuk!

Sebelah kiri masih tanpa make up apapun, baru selesai cuci muka. Yang sebelah kanan sudah memakan Simply Stay. Abaikan tangan dan wajah usil K'Aie dan Keke. Baca tutorial sederhana Chi aja di bawah ini, ya :D

Senin, 18 Agustus 2014

Pesantren Kilat Antara Terharu dan Cerita Lainnya


Pukul 1 siang, 2 bis yang membawa rombongan Keke, teman-teman, dan guru sekolahnya, berangkat menuju hotel Bukit Indah, Ciloto, Puncak. Mendadak rasa haru terasa. Chi langsung mengajak Nai masuk ke mobil untuk segera pulang. Berlama-lama di sana, bisa bikin mewek.

Rasa haru yang datang tiba-tiba itu bukan karena merasa kehilangan dan bakal kangen berat sama Keke. Tapi, Chi ingat protes Keke beberapa waktu lalu.

Keke: "Bunda kenapa, sih, gak pernah nemenin kalau Keke field trip?"
Bunda: "Kan, sekolah melarang orang tua atau siapapun menemani siswa, Ke."
Keke: "Tapi, mama temen-temen Keke banyak yang nemenin anaknya, tuh!"
Bunda: "Nanti kalau Keke ditemenin suka nempel sama Bunda terus."
Keke: "Enggak, lah. Kan, orang tua yang nemenin cuma boleh ngelihat dari agak jauh gitu. Gak deket-deket juga. Gak boleh kali sama sekolah."
Bunda: "Ya, terus ngapain juga ditemenin kalau gak boleh deket?"
Keke: "Gak tau, deh. Tapi, Keke pengen sesekali ditemenin Bunda kayak temen-temen Keke. Mau, ya, Bun?"
Permintaannya itu belum pernah Chi kabulin. Chi lihat, selama ini sekolah sudah cukup baik menjaga dan membimbing para siswa ketika field trip. Keke pun enjoy aja field trip tanpa didampingi orang tua. Jadi, memang rasanya gak perlu ditemenin orang tua.

Walopun begitu, tetap ada perasaan bersalah dan sedih di hati Chi. Mungkin aja Keke minta ditemenin karena merasa iri melihat beberapa temannya ada mamanya saat field trip. Tapi, sebagai orang tua, Chi merasa sesekali kita harus tega dan mengesampingkan rasa bersalah kalau alasannya tepat dan demi kebaikan anak.

Rabu, 13 Agustus 2014

Pesantren Kilat Koper vs Ransel 2


Di postigan Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1, Chi udah cerita tentang Keke yang cuma membawa 1 ransel aja untuk ikut pesantren kilat selama 3 hari 2 malam. Padahal teman-temannya pada bawa koper besar, malah ada yang ditambah dengan 1 ransel lagi.

Hanya membawa 1 ransel aja sebetulnya cukup. Kekhawatiran Chi adalah dengan tanpa pengawasan langsung dari orang tua, apa Keke bisa mengatur pakaiannya supaya cukup? Dan, apakah akan ada barang-barang yang ketinggalan di hotel setelah kegiatan selesai?

Senin, 11 Agustus 2014

Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1

Keke: "Males, ah, Keke kelas 5. Ada pesantren kilatnya!"
Bunda: "Gimana, sih. Pesantren kilat, kan, bagus. Nambah ilmu. Malah males."
Keke: "Sebetulnya bukan pesantren kilatnya yang bikin males, Bun. Tapi, males nginep di puncaknya.Bosen Keke"
Bunda: "Bosen kenapa? Bukannya malah enak? Puncak, kan, dingin."
Keke: "Iya, sih, tapi lama-lama ngebosenin. Dulu, Keke pengen banget ke puncak karena jarang. Sekarang, sekalinya ke puncak malah terus-terusan. Kira-kira, 3 minggu lalu kita nginep di Taman Safari, 2 minggu berikutnya mendaki gunung gede. Trus, minggu depan Keke pesantren kilat di puncak juga. Boseeen..."

Tapi, Keke bosennya cuma di mulut aja kayaknya. Semakin mendekati hari H, dia malah keliatan semakin semangat. Sampe beberapa kali cerita nanti kalau jadi dia punya rencana mau begini-begitu sama temen-temennya :D

Pesantren kilat diadakan pada pertengahan Juli 2014, hari Selasa siang berangkat dan Kamis siang sudah sampai di sekolah. Pesantren kilatnya di hotel Bukit Indah, Ciloto. Surat pemberitahuan komplit dengan jadwalnya sudah diterima, Chi langsung menyusun apa aja yang harus dibawa sama Keke.

Udah kayak suasana di bandara karena penuh koper hihi. Ada 1 ransel Keke yang nyempil di sana :)

Singkat cerita, pas hari H, Keke cuma bawa 1 ransel yang biasa dibawa ke sekolah. Sedangkan mayoritas temannya membawa kopor besar plus 1 ransel. Kalau Chi coba hitung, rasanya cuma ada 3 anak yang bawa 1 ransel aja. Sedangkan lainnya bawaannya kopor plus ransel.

Sempat ada yang bertanya-tanya, kok, bisa Keke cuma bawa 1 tas ransel? Gak takut kurang? Di bawah ini Chi kasih tau alasan dan beberapa tipsnya.

Jumat, 08 Agustus 2014

Anti Mall

Masih bulan Syawal, berarti masih sah cerita tentang puasa Ramadhan, kan? :D O'iya, selamat hari raya idul fitri. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Alhamdulillah, puasa Ramadhan kali ini, Keke dan Nai sudah bisa berpuasa sehari penuh. Keke tidak berpuasa hampir 1 minggu lamanya karena demam dan cukup bikin badannya jadi kelihatan lebih kurus. Nai, kalah 2 1/2 hari. Yang 1/2 hari di hari pertama karena belum kuat. 2 hari yang lain karena sakit gigi.

Selama ramadhan kali ini, ada yang berubah dari Nai. Dia anti sama yang namanya mall dan bepergian ke luar rumah. Katanya, kalau di luar suka banyak yang jual makanan. Dia pasti gak akan tahan.

Rabu, 06 Agustus 2014

Fabian Selalu Ingin Nomor Satu

Ketika anak ingin selalu menjadi nomor satu, itu bagus. Mungkin dia memang mempunya jiwa kompetisi. Tapi, ketika si anak selalu ingin menjadi nomor satu, kemudian ketika kalah reaksinya adalah mengamuk atau marah, sebaiknya jangan ikutkan anak tersebut di kompetisi manapun sampai dia bisa merubah sikapnya dalam menghadapi kompetisi

------------

Fabian (3 tahun 9 bulan), keponakan Chi yang sejak bayi tinggal di rumah, selalu aja ingin menjadi nomor satu. Nomor satu dalam hal apapun. Misalnya, ketika dibagikan kue, dia selalu ingin yang pertama dibagi. Ketika ada bel, dia selalu ingin menjadi yang pertama buka pintu. Pokoknya dalam segala hal selalu ingin dinomor satukan.

Kalau misalnya bunyi bel, dia langsung lari ke pintu, sih, gak apa-apa. Tapi, kadang dia pengen begini-begitu dulu. Orang lain gak boleh buka pintu selain dia. Sedangkan yang ngebel udah berkali-kali karena kelamaan.

Ketika keduluan maka reaksinya adalah tantrum. Ngambek berkepanjangan yang seringkali diiringi dengan lempar-lempar barang. Kalau ngamuknya di depan Chi atau K'Aie biasanya kami cuekin. Gak akan kami turutin permintaannya kalau dengan cara ngamuk begitu. Tapi, tetep kami awasi. Jangan sampai melempar-lempar barang.

Selasa, 05 Agustus 2014

(Pengen) Nyobain Menanam Kangkung

Chi: "Ya, kalau Bunda lihat di socmed, kayaknya sekarang makin banyak aja yang berkebun di rumah walaupun lahannya sempit. Sampe kangkung aja ditanem."
K'Aie: "Iya memang lagi banyak. Cobain tanem, gih, Bun."
Chi: "Ya, ayah kan tau kalau Bunda itu tangan panas urusan tanaman. Suka gak jadi. Ayah, tuh, yang tangannya dingin."
K'Aie: "Sebetulnya itu, sih, masalah telaten apa enggak aja."

Jleb!

Banyak yang bilang kalau mengurus tanaman itu tergantung tangan juga. Kalau kita termasuk yang 'tangan panas', katanya suka gak jadi kalau menanam apapun. Kebalikannya sama orang yang punya tangan dingin. Dan, Chi percaya itu *pembelaan diri karena belom berhasil menanam apapun selain eksperimen kacang ijo diatas kapas hahaha

Tapi, ucapan K'Aie yang bilang kalau berhasil atau enggaknya urusan menanam itu tergantung dari ketelatenan, berasa jleb juga. Jangan-jangan Chi yang emang kurang telaten sama tanaman.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Tips Mempersiapkan Persalinan


Chi jarang nulis tentang proses kehamilan dan persalinan di blog ini. Abis, punya blog, setelah Nai berumur kira-kira 1,5 tahun. Jadi, kebanyakan langsung cerita tentang anak, deh.

Ketika hamil, terlebih memasuki trimester ketiga, segala persiapan dimulai. Gak cuma persiapan untuk keperluan bayi. Yang mana, Chi semangat belanjanya tinggi saat itu. Keluar masuk ITC tanpa lelah hihihi. Apalagi saat kehamilan anak pertama. Kalau yang kedua udah bisa lebih diredam semangatnya :)
Sebetulnya, gak cuma persiapan untuk bayi. Ibu yang sedang hamil pun juga harus siap-siap. Kalau masih bingung, bisa tanya-tanya yang udah pernah melahirkan atau cari di google tentang persiapan persalinan.

Persiapan mental

Buat Chi, mau melahirkan normal atau caesar tetep harus dipersiapkan mentalnya. Walaopun pas hamil pertama, dokter bilang kalau Chi kemungkinan besra bisa melahirkan secara normal, tapi tetep aja mentalnya juga disiapkan kalau sewaktu-waktu harus caesar. Dan, buat Chi saat itu, membayangkan melahirkan secara caesar lebih serem daripada normal.

Mungkin karena Chi gak pernah ngerasain meja operasi, ya. Jadi, membayangkan ruang operasi yang penuh dengan peralatan operasi beserta prosesnya (kebanyakan nonton film, sih hehe) udah bikin Chi begidik. Kenyataannya, proses operasi caesar gak menyeramkan, kok.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...