Jumat, 31 Oktober 2014

Sudah Menikah Tapi Masih Tinggal Dengan Orang Tua

Kalau di luar sana, beberapa ibu sibuk melakukan 'Moms War', kalau 'war' Chi adalah bersama orang tua. Hehehe enggak, ding. Nanti dianggap anak durhaka kalau war sama orang tua :p

Sampe saat ini Chi memang masih tinggal sama orang tua. Dulu Chi suka males bercerita kalau masih tinggal orang tua. Abis suka ada aja yang merasa berhak menceramahi kalau sudah menikah sebaiknya tinggal terpisah. Idealnya memang begitu, tapi setiap orang kan punya alasan masing-masing. Bahkan ada yang alasannya pribadi banget. Dan gak perlu juga kita woro-woro ke semua orang alasannya.

Sesungguhnya tinggal bersama orang tua juga ada suka dukanya. Sukanya tentu banyak. Paling tidak kalau Chi lagi membutuhkan bantuan keluarga, gak perlu terlalu pusing karena sudah dikelilingi orang-orang terdekat.

Katanya kalau sudah menikah sebaiknya hanya ada 1 nakhoda. Tapi, itu kan hanya berlaku untuk pasangan suami istri. Kalau disini kondisinya dalam 1 atap ada 2 rumah tangga. Gak apa-apa juga ada 2 nakhoda karena tiap rumah tangga punya kapal masing-masing. Intinya, biarpun kami masih tinggal bersama orang tua Chi, tetep aja untuk urusan rumah tangga ya masing-masing. Chi dan K'Aie kan juga mau belajar mandiri.

Tapi, kali ini Chi mau cerita tentang dukanya. Cuma sebelum bercerita, Chi harus menjelaskan dulu alasannya biar gak ada yang salah paham. Alasannya adalah:
  1. Yang Chi posting ini bukan bermaksud untuk menceritakan aib keluarga. Chi hanya menceritakan beberapa permasalahan yang mungkin saja secara umum dirasakan oleh keluarga yang masih tinggal dengan orang tua. Tentu aja dibarengi dengan solusi yang pernah Chi lakukan.
  2. Chi hanya membatasi 3 masalah saja. Kalau kebanyakan nanti disangka curhat hehehe. 3 masalah yang ditulis ini karena Chi pernah ngalamin. Dan kemungkinan juga yang lain pun pernah ngalamin
Masalah-masalah

Menyalahkan benda mati

Beberapa waktu lalu, Chi menulis status di FB kalau kita sebaiknya tidak membiasakan untuk selalu menyalahkan benda mati (ada juga yang menyalahkan kodok, padahal kodoknya gak ada), setiap kali anak mengalami kecelakaan kecil. Chi pun kembali membahas masalah ini di postingan yang berjudul "Mungkinkah Orang Tua Yang Menjadi Sumber Penyebab?"

Dari komentar yang masuk, beberapa mengatakan kalau tidak pernah melakukan hal itu. Sayangnya orang-orang sekitar yang melakukan hal tersebut. Chi asumsikan orang-orang terdekat yang dimaksud adalah kakek-nenek, pengasuh, atau tetangga. Tapi, rasanya kecil kemungkinan kalau itu tetangga, ya? Kecuali kalau si anak memang rajin nenangga tiap hari :D

Apalagi kebiasaan menyalahkan benda mati itu termasuk model pola asuh jaman dulu. Ya walopun gak semua orang jaman dulu kayak begitu.

Kesal rasanya kalau kita sudah berusaha mengajarkan anak dengan tidak menyalahkan benda mati ketika mereka mengalami 'kecelakaan kecil'. Orang-orang sekitar malah mengajarkan seperti itu. Chi pun pernah ngalamin seperti ini. Duh rasanya...

Kakek dan Nenek dijadikan tempat berlindung

Sepertinya sudah umum kalau yang namanya Kakek atau Nenek lebih memanjakan cucu ketimbang mendisiplinkan. Ketika Chi berusaha bersikap tegas sama anak-anak, mereka akan mendekat ke kakek-neneknya seperti meminta perlindungan. Akhirnya, bisa ketebak lah. Chi suka ditegur (biar kata udah menikah, tetep aja di mata orang tua kita tetep anak yang bisa ditegur hehe).

Kalau udah begini, rasanya tambah berat usaha Chi untuk mendisiplinkan anak. Karena merasa seperti 'dimentahkan' usaha untuk mendidik anak-anak.

Dianggap menjauhkan cucu

Ketika masih sekitar umur 4-6 tahunan, Keke suka kepengen tidur sama kakek-neneknya. Chi hanya membolehkan tidur bersama kakek-nenek kalau wiken atau lagi libur sekolah. Kalau Keke sudah keburu tidur dikamar kakek-neneknya, biasanya suka Chi gendong ke kamar.

Nah, biasanya orang tua Chi suka rada sensi. Disangkanya ingin menjauhkan cucu dari mereka. Padahal bukan begitu. Saat itu, Keke masih suka terbangun di tengah malam. Biasanya Chi dan K'Aie udah hapal gelagat kalau Keke mau bangun di tengah malah. Kalau udah gitu, jangan nunggu sampe Keke benar-benar bangun. Langsung usap-usap punggungnya supaya Keke langsung tidur lagi.

Kalau gak langsung ditidurin lagi, bisa-bisa Keke keburu segar. Dan, baru tidur 2-3 jam kemudian. Akibatnya besok paginya dia akan susah dibangunkan buat sekolah. Kalau udah susah banget, akhirnya bolos. Makanya, Chi hanya mengizinkan Keke tidur bersama kakek-neneknya kalau lagi libur aja.

Chi beberapa kali coba mengalah dengan mengizinkan Keke tidur bersama kakek-neneknya. Tapi, ketika tengah malah dia terbangun, gak ada yang langsung usap-usap punggungnya. Karena kakek-neneknya udah nyenyak tidur. Diam-diam, Keke pindah ke kamar orang tuanya tanpa kakek dan neneknya tau. Kalau udah pindah kamar, Chi gak pernah berhasil bikin Keke langsung tidur lagi. Keke udah terlanjur segar dan baru bisa tidur lagi 2-3 jam kemudian.

Solusi

Komunikasi dengan orang tua

Komunikasi dan diskusikan masalah yang mengganjal tersebut dengan orang tua. Jelaskan kenapa kita merasa kurang setuju. Tinggal boleh satu atap, tapi sudah ada 2 nakhoda di dalamnya. Dan, untuk urusan anak-anak, kita sebagai orang tualah yang wajib menjadi nakhoda mereka. Tentu saja dalam hal ini, antara suami dan istri harus kompak dulu. Jangan sampai udah sama orang tua gak sepakat, dengan pasangan juga begitu. Jadi dobel masalahnya.

Komunikasikan juga dengan anak

Ada lebih dari 1 peraturan untuk hal yang sama bisa mengakibatkan anak menjadi bingung. Kalau udah begitu anak akan memilih mana yang enak buat mereka dan bukan karena benar atau salah. Seperti contoh kasus kedua, Chi atau K'Aie berusaha mendisiplinkan atau sesekali menegur, mereka akan segera berlindung dibalik kakek-nenek. Bukan tentang benar atau salah, tapi mendapat perlindungan dan pembelaan memang lebih enak ketimbang mendapat disiplin apalagi teguran. Tunjukkan kalau kita gak setuju dengan sikap anak. Ajarkan anak-anak bagaimana mereka harus bersikap yang benar menurut kita.

Cara Berkomunikasi

Hormati orang tua

Ketika kita mengajak orang tua berdiskusi yang harus kita lakukan pertama kali adalah menghormati mereka. Biar gimana mereka orang tua kita. Kita juga gak mau kan kelak anak-anak sampe gak menghormati kita?

Hati boleh panas, tapi otak harus tetap dingin

Chi juga pernah mengalami diskusi dengan emosi. Tapi, memang apapun masalahnya, gak akan pernah berhasil kalau diskusinya pake emosi. Jadi kalau ada ketidakcocokan, redakan dulu emosinya. Jangan juga berpikir menang-kalan. Usahakan win-win solution :)

Jangan berharap proses instan

Orang tua mungkin punya ego, merasa lebih banyak makan asam garam dalam urusan mengurus anak. Jadi ketika mendapat masukan belum langsung terima. Apalagi yang menjadikan kita bisa seperti ini kan juga andil besar orang tua. Dimaklumi aja dulu, tapi jangan juga langsung putus komunikasi karena kita kesal.

Kalau sama anak hambatannya kemungkinan cara berpikir. Apalagi kalau anak masih balita. Walopun sudah berusaha menyesuaikan dengan cara berpikir mereka, mengajarkan anak balita tentang hal seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Seringkali bikin kita gregetan.

Pokoknya jangan berharap proses instan, deh. Tarik-ulur aja kayak main layangan. Cari waktu yang tepat. Kalau sikon lagi gak memungkinkan untuk berdiskusi, jangan dipaksain. Jangan paksakan ego orang tua bisa luluh secara langsung. Ego berbenturan dengan ego malah bisa saling meninggikan ego. Jangan juga memaksakan anak untuk langsung paham dengan yang kita mau.

Komunikasinya bisa berkali-kali untuk kemudian bisa bikin masing-masing pihak saling mengerti dan menghargai. Pelan-pelan tapi konsisten. Lagian yang namanya instan itu cuma enak di awal, kedepannya belum tentu baik :D

Apabila tejadi perbedaan pola asuh dengan pihak lain, yang perlu diingat adalah harus ada yang dominan dalam hal pola asuh. Menurut Chi, orang tua lah yang seharusnya paling dominan. Karena orang tua selain paling punya hak  juga harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Kalaupun ada keterbatasan waktu untuk mengurus anak, tetap jadi tanggung jawab orang tua untuk mencari orang yang paling dipercaya untuk mengasuk anak-anak. Jangan sampe ketika perilaku anak ada yang kurang sreg trus kita dengan entengnya bilang, "Itu gara-gara diasuh sama kakek-neneknya, makanya anak saya jadi kayak gitu." Lha, trus peran kita sebagai orang tua gimana?

Sekali lagi, postingan bukan bermaksud untuk menjelekkan orang tua sendiri, ya. Hanya ingin berbagi pengalaman karena masalah-masalah seperti ini cukup umum terjadi. Sayangnya, gak semua bisa diselesaikan dengan baik. Silakan kalau memang ada masukan lain dari teman-teman. Kita saling berbagi pengalaman di sini ;)

post signature

58 komentar:

  1. Kalau saya malah pengen serumah atau minimal tetanggan satu tembok dengan orang tua. Alasannya biar bisa merawat mereka, ya masa anak 3 perempuan semua, dan dibawa suami semua. InsyaAllah nanti semisal tercapai, postingan ini bisa jadi bahan belajar untuk saya. Trims Mam Chi :D

    BalasHapus
  2. aah maak Myra...aku pun masih tinggal ama orangtua kook... hihihi
    emang semua yang dijabarin, bener adanya. Aku juga pernah ngalamin semua poin yang diatas. Kalo udah begitu, biasanya aku cooling down dulu, trus nanti baru dibicarain ke orangtua kalo keadaan lagi santai... :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau memaksakan pendapat malah gak akan selesai ya :)

      Hapus
  3. wah, qku tinggal sama mertua karena suami anak bungsu , memang dmnpun kita tinggal ada plus dan minusnya tergantung kita nanggapinnya gmn

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang dimanapun selalu ada plus minus, Mbak :)

      Hapus
  4. saya juga masih bolak balik rumah sendiri dan rumah mertua mak... masih nomaden gitu hehe
    Memang yg saya rasakan, tinggal sama mertua bnyk konfliknya ya... tapi bisa2nya kita aja yg menyikapi sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mak. Gimana kita menyikapinya :)

      Hapus
  5. kakek nenek emang dimana-mana tempat berlindung yang sangat ampuh ya,,,hehehe

    BalasHapus
  6. Kakek nenek itu selalu sukses membuat anak menjadi manja. hehehe..
    kita disiplinkan anak, belum sempat menoleh sudah ditegur nenek (di depan cucu pula).. aduh....
    Nasib yg masih serumah dengan ibu. hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung anak-anak saya gak begitu, sih, Mbak. Dulu aja sempet sebentar hehe

      Hapus
  7. waktu tinggal serumah sama mertua, huaa akulah menantu yg paling ngeyel banyak protes, hehe.
    skr tinggal sama ibu sendiri yg tidak biasa mengurus anak (dulu aku dan sodara2 bnyk diasuh oleh pembantu), jadi ya bisa total ngurus anak sendiri tanpa protes beda aliran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu ada suka duka dan keseruannya ya, Mak :D

      Hapus
  8. terbayang 'drama'nya mbak Chi hehehe. Meskipun sepertinya aku ga akan ngalamin sih, coz orang tua kami sama2 jauh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang memang suka ada dramanya hehehe

      Hapus
  9. jujur saja, walau sejak awal nikah sudah tidak tinggal dengan orangtua, tapi saya melihat campur tangan nenek kakek ke cucu-cucu sangat dominan untuk pasangan yang masih tinggal dengan ortu. bila orangtua yang bersangkutan tidak jeli melihat kondisi ini, bisa jadi masalah kemudian hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dominan atau enggak, menurut saya gimana situasi di masing-masing rumah tangga, ya. Cuma memang sebaiknya untuk pengasuhan anak itu harus kompak

      Hapus
  10. Mba Chiiiii, aku termasuk yg udh tinggal sendiri pas punya anak. Tp wlopun begitu, ga jarang jg klo wiken krmh ortu ato mertua, anak jd suka "merajalela" ulahnya. Biasalah klo kakek nenek kan ga ada yg ga blh dimakan, semuanya blh hiks pdhl cucunya bnyk pantangan nya. Biasanya sih aku suka tegas ngmg ke ortu ku, krn aku ga mau aja plg dr sana jd kambuh batuknya. Dijelasin jg klo millie ga blh ini itu. Jd ortu ngerti :)

    Dan iyaaaa bgt mbaaa Chi.. Wlopun misalnya tinggal drmh ortu, peran terbesar urus anak kita yaaa kita sendiri. Jgn mentang2 tinggal sm ortu lsg bebas kitanya hehehe.

    Kepanjangan deh komen aku hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau orang tuanya pengertian bakal enak :)

      Hapus
  11. Pengalaman yang sama Bun Chie....sering berantem sama ortu gara2 anak..padahal maksudnya sama2 sayang ke anak/cucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. kedua pihak sama2 sayang. Cuma berbeda caranya, makanya suka bentrok :)

      Hapus
  12. Dulu aku jg ngalamin begini mak..mo disiplinin anak dibilang keras..mo dibikin jadwal selalu kacau... pas udah di sidoarjo baru deh bisa bebas. Makanya sekarang pas balik Semarang lg ksmi sepakat rumah2 sdr walaupun cm beda 3rumah dr mama hihihi...
    Seenggaknya tetep bisa ngontrol anak
    Dinikmati aja mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya enak juga kalau kyk Mak Muna. Terpisah tapi rumahnya tetep deketan hehe

      Hapus
  13. Memang kadang nenek/kakek sangking senengnya sama cucu malah jadi menjerumuskan.
    Untung ibuku kalau aku bilangin gak masih bisa terima, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe kalau komunikasi bagus masih enak, ya :)

      Hapus
  14. aku tinggal di sebelah rumah ortu, tapi gak serumah.. itu juga ada enak gak enaknyaa...hehehe..tapi apapun lah, tinggal deket sama ortu itu banyakan enaknyaa

    BalasHapus
  15. wah di postingan ini jadi bisa belajar untuk aku jika sudah berumah tangga apalagi yang nulis dan yang berkomentar ini sudah berumah tangga, hehehe terima kasih semua

    BalasHapus
  16. Betul Mak, enaknya tinggal sama ortu setelah nikah itu ketika kita butuh bantuan. Gampang. Saya ngerasain hidup jauuuuh banget dari orangtua, pas salah satu sakit dan harus opname itu boyongan ke rs karena anakku nggak mau dititipin sama tetangga. Padahal tetangga dah menawarkan diri, karena nggak biasa pisah dari saya jadi nggak mau. Sediiih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi waktu saya sakit, anak2 juga gak mau pisah dr saya padahal ada neneknya. Akhirnya, mereka boyongan nginep di RS :D

      Hapus
  17. Wah, pengalaman yang hampir sama yang dialami keluarga yang masih tingal bersama orangtua. dari pengalaman orang lain sih, bukan pengalaman sendiri, hehee..

    BalasHapus
  18. Tinggal bareng orang tua memang punya konsekuensi-konsekuensi lain selain dekat dengan orang-orang yang berjasa sama kehidupan kita ya Mba Myra.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, selalu ada konsekuensi untuk setiap pilihan. Tinggal kitanya aja yang coba menikmati :)

      Hapus
  19. yang terakhir bener banget... jangan berharap hasil instan karena semua butuh waktuuu :D

    BalasHapus
  20. Wah.. Jadi banyak belajar tentang cara bekeluarga yg baik.. Memang tinggal sama orang tua stelah nikah itu wajar ya, dikeluargaku rata2 begitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau tinggal sama orang tua atau tidak, semuanya pilihan wajar, Mak. Cuma memang selalu ada suka-duka dari setiap pilihan yang kita ambil :)

      Hapus
  21. Hubungan antara menantu dengan mertua beraneka ragam. Ada yang harmonis,agak harmonis, kurang harmonis, dan nggak harmonis blas. Penyebabnya tentu bermacam-macam. Ada yang sepihak, kedua belah pihak atau ada tuknag kompornya.

    Komunikasi memang penting antar keduanya. Anak-anak jangan sampai terlibat dalam kasus yang kurang menyenangkan.

    Terima kasih tipsnya
    Setelah menikah saya tak pernah tinggal bersama mertua, demikian pula isteri saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kuncinya di komunikasi, ya, Pakde :)

      Hapus
  22. aku belum nikah jadi blm kebayang situasinya hahaha..
    aku sih sampe skrg msh tinggal sama ortu juga sih :p

    BalasHapus
  23. Aku juga beberapa kali tinggal dg ortu nih, baik dipihakku maupun suami. Semuanya karena terjadi pada masa transisi pindah ke Jawa & selalu belum siap kontrakan atau rumah sendiri. Ortu sendiri atau mertua sama aja sih, musti sabar2 hahahaaa. Dalam hati, "Ntar nih, kalau udah pindah rumah sendiri, bakalana bisa gini gitu bebas." Ternyata stlh pindah rumah sendiri, ya sama aja tuh. Emang kitanya yg nggak sabaran ternyata hehehehee

    BalasHapus
  24. cita citaku malah pengin banget pindah ke Tegal ke rumah eyang-Opung Samara karena pengin merawat keduanya.

    BalasHapus
  25. Aku dong ga kumpul ma ortu kedua pihak, karena......kami merantau sendiri hihihi, dan sama kok mak, selalu ada dua sisi suka & duka, disalah satunya kalo lagi mau ngeksis ga ada yang dititipi anak bingung *trus disambit* mosok butuh ortu buat jaga anak doank :v :tapi apapun itu, kita yang tau apa yang terbaik, mau tinggal dimana pun & dengan siapapun ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, kita lakukan yang terbaik aja :)

      Hapus
  26. masing-masing punya pilihan ya myr. aku gak tinggal sama orang tua lah jauh kerjanyanya nanti suami heeheh. kalo deket mungkin bisa jadi tinggal sama orang tua juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Lid. Semua punya pilihan disesuaikan dengan kondisi masing-masing

      Hapus
  27. Makasih ya Chi udah berbagi. Akhirnya saya jadi punya gambaran kalo misalnya harus tinggal di rumah mertua :v

    BalasHapus
  28. ada sisi negatif dan positif ya mba? kami tinggal berbeda. dulu waktu abah masih hidup tiap kami sibuk mereka yang jaga anak kami. skr beliau tiada mba...repot jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mbak. Selalu ada suka-duka dari setiap pilihan :)

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge