Jumat, 03 Oktober 2014

Pelajaran Berinternet Sehat

Kasus Dinda, Flo, dan kakak yang menupload PR matematika adiknya (lebih dikenal sebagai kasus 4x6 dan 6x4), menurut Chi punya kesamaan benang merah, yaitu sama-sama tidak dewasa dan tidak bijak dalam dunia maya. Ketika kasusnya sudah merebak, banyak yang larut dalam emosi, sesama anak manusia saling berdebat, lalu pelaku pun meminta maaf, dan kasusnya hilang bagai ditelan angin. Huff...

Gak cuma itu, ketika anak-anak ABG dengan santainya mengupload foto kemesraan bersama 'pacar'. Kemesraannya terlihat berlebihan. Belum lagi status-status yang lebay. Kalau lagi jatuh cinta, kalimat sayang-sayangannya dahsyat. Tapi, begitu putus, berantemnya juga dahsyat. Dan,. semua itu dipertontokan di social media dengan bebasnya.

Dunia maya seperti dua sisi mata pisau. Ada sisi positif dan negatif, tapi keduanya bisa sama-sama tajam. Berbagai tampilan negatif itu memang mencemaskan. Tapi, melarang Keke dan Nai untuk jauh dari dunia digital, buat Chi rasanya sulit. Apalagi era mereka memang era digital.

Chi sering mengawasi dan mengingatkan Keke-Nai untuk berhati-hati dengan dunia maya. Jangan suka sembarangan klik link gak jelas, hati-hati bergaul di dunia maya, dan lain sebagainya. Walopun begitu, sempet juga Chi merasa kecolongan sampai 2x.

Kecolongan pertama adalah ketika Keke masih aktif BBMan dengan teman-temannya. Dia mengirim 1 broadcast ke beberapa temannya dan jadi heboh. Beberapa temannya ketakutan menerima broadcast tersebut dan marah ke Keke. Kebetulan isi broadcastnya itu rada horor. Dan seperti umumnya broadcast, diakhir kalimat yang panjang itu selalu ada kata ancaman "Kirim ke 10 temanmu kalau tidak bla... bla.. bla.."

Chi sebetulnya udah berkali-kali mengingatkan Keke itu tidak percaya dengan broadcast di BB. Langsung hapus saja. Karena selain menipu, seringkali jadinya musyrik. Tapi kali itu Keke mungkin takut dengan broadcast horror itu, sehingga diapun mengirim ke beberapa temannya.

Kecolongan kedua adalah ketika Keke bertengkar dengan temannya di FB. Memang sih berantemnya di inbox. Tapi, tetap aja itu salah. Berantem di dunia maya bisa mengakibatkan ucapan kita di screenshot. Kalau lawan berantem kita masih belum puas (walopun sudah baikan), bisa saja pertengkaran yang sudah di screenshot itu di upload sewaktu-waktu. Apalagi kalau kemudian terlontar tulisan kasar atau umpatan lainnya. Bahaya sekali itu.

Chi sudah menegur keras Keke atas 2 kejadian itu. Itu kejadian sudah lama berlalu. Dan, kelihatannya setelah itu, Keke gak melakukan lagi. Dia mulai berhati-hati di dunia maya. Malah udah brenti BBMan, alasannya berisik. Tapi, akhir-akhir ini dia lagi asik sama Line. Ya, jadi berisik lagi, deh hehehe.

Karena pernah merasa 2x kecolongan dan melihat efek negatif dunia maya yang bikin was-was. Chi merasa harus bikin waktu khusus untuk Keke dan Nai. Semacam pelajaran berinternet sehat gitu. Memang selama ini Chi udah sering mengingatkan dan mengawasi, tapi rasanya kok masih belum cukup.

Biasanya, Chi lakukan setiap malam, sehabis maghrib. Tapi, sepulang sekolah juga gak apa-apa. Lihat sikon aja. Gak juga harus setiap hari, sih. Kalau kebetulan mereka lagi ada tugas atau harus belajar untuk ulangan, pastinya Chi lebih prioritaskan ke urusan sekolah. Kalau masih ada waktu, lanjutin dengan pelajaran berinternet sehat. Kalau enggak, ya, tidur.

Cara ngajarinnya gak kaku. Lebih banyak berdiskusi. Dimulai dari jangan menulis status atau share info sembarangan. Biar gimana banyak yang melihat. Ada orang tua dan para guru juga bisa menilai. Chi juga pernah melihat ketika ada anak kelas 6 SD asik berbicara dengan salah satu akun di FB. Chi pikir lagi berbicara dengan teman sebaya. Gak taunya dengan ibunya. Tapi setiap kali mention nama ibunya, gak diiring dengan kalimat Mah/Bun/Bu atau apalah. Kesannya jadi kayak manggil nama doang. Kalau buat Chi agak kurang sedap dipandang. Tapi, gak tau deh buat yang lain.

Oiya, Keke dan Nai memang punya akun FB. Tapi, seperti salah seorang psikolog anak bilang, kalau orang tua memang membuatkan akun FB dengan berbagai alasan untuk kebaikan, orang tua harus tau password mereka. Dan, gak cuma FB, sih. BBMan, Line, dan apapun yang Keke-Nai lakukan, Chi terang-terangan bilang harus dibolehkan membaca. Gak ada yang namanya rahasia-rahasiaan. Chi jelaskan kalau mereka masih dibawah umur. Kalau umur mereka sudah matang, baru Chi kasih privasi lebih.

Kasus-kasus heboh di dunia maya juga gak luput dari diskusi kami. Salah satu contohnya pernah Chi posting di blog ini, yaitu kasus Loom Band, Dinda, Flo, 4x6, sampai berita FB berbayar pun kami bahas bersama-sama. Chi mendengarkan mereka, mereka mendengarkan Chi. kami sama-sama berdiskusi dengan santai.

Bagaimana dengan kasus-kasus anak abege yang mesra-mesraan atau bahkan pernah ada kasus anak SMP yang sudah melakukan hubungan gak pantas? Tentunya Chi harus berhati-hati disini. Pentingnya mengajarkan mereka rambu-rambu berinternet sekaligus sex education bukan berarti harus menunjukkan foto-foto atau video yang gak pantas dilihat oleh mereka, kan? Sebagai orang tua, kita bisa paham bagaimana berbahasa dengan anak masing-masing.

Atau bisa juga diawali dengan pertanyaan. Apa sih pacar? Mesra itu apa? Ada teman yang 'usil' suka megang-megang, gak? Dan, lain sebagainya. Dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita gali jadi diskusi, deh.

Semoga apa yang Chi lakukan ini juga bisa membantu memproteksi mereka dan membuat mereka berhati-hati di dunia maya. Buang jauh-jauh efek negatif dunia maya. Ambil sebanyak-banyaknya manfaat dari dunia maya.

post signature

33 komentar:

  1. Bener banget Mba. Bijak di dunia maya kudu dimulai dari kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi anak kecil zaman sekarang banyak yang melek dunia digital, ya

      Hapus
  2. tapi paling aman memang anak di bawah umur gak perlu punya social media, menurutku sih.
    kadang meski udah dipantau tetep aja bisa kecolongan udah gitu yang ada malah gak tenang emaknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dibikin gak tenang, sebetulnya gak cuma social media aja, Mbak. Buka youtube, google, dll juga ada rasa was2. Dan, anak2 saya sebetulnya lebih sering bergame online daripada di social media.

      Tapi, manfaatnya juga ada yang bisa dirasakan. Misalnya kalau ada info tentang PR, dll mereka bisa saling mengingatkan di socmed. Atau ada teman Keke yang udah pindah ke luar negeri, tetep bisa saling berhubungan.

      Jadi, yang berusaha saya lakukan memang meminimalisir efek negatif kalau perlu meniadakan dengan mengajari mereka. Karena kalaupun udah cukup umur, belum tentu otomatis mereka bijak berinternet. Contohnya 3 kasus yang saya tulis diawal. Para pelakunya sudah cukup umur, tapi ternyata gak bijak :)

      Hapus
  3. berbagai kasus yang terjadi dan berawal dari dunia maya memang sudah cukup mengkhawatirkan ya bun :-)
    seperti halnya yang diberitakan sekitar 4 hari yang lalu, seorang cewek pergi dari rumah hanya karena ingin ketemuan dengan cowok yang dikenalnya lewat pesbuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya, penting banget untuk bisa belajar ttg internet sehat

      Hapus
  4. sebenernya sih soal broadcast itu jaman dulu juga ada, cuman skrg media aja yg beda karena udah era internet, jd lbh gampang tinggal broadcast. Jaman dulu kan ada tuh yg jaman surat kaleng, ribet bgt musti nulisin ulang satu2 trus dikirim ke 10 org temen, kalo aku bukan karena ga takut tp krn males nulisnya hahahaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, dari dulu pun ada cuma beda media aja. Kalaupun sekarang saya mengajarkan ttg internet sehat, karena jamannya kan udah internet. JAdi, gak mungkin saya, mengajarkan ttg cara bersurat kaleng sehat hehe

      Hapus
  5. dunia maya itu memang bisa jadi kawan atau lawan. Mesti pinter2 :)

    BalasHapus
  6. Internet memang ada segi manfaat dan mudharatnya.
    Kemudahan mengakses internet, misalnya melalui HP, menjadikan anak-anak tahu banyak hal termasuk yang seharusnya tak boleh dilihat dan dibaca.
    Orangtua harus bijak dalam memberikan pengertian kepada anak-anak
    Terima kasih tipsnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. manfaatkan kelebihan sebaik2nya. Dan, menghindari yang negatifnya ya Pakde :)

      Hapus
  7. gapapa lah udah masanya
    toh katanya orang baik itu bukan orang yang ga pernah salah
    sesekali perlu salah biar ada pengalaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam beberapa hal tertentu saran Mas Eko Rawins ini ada benarnya. Namun tetap ada dalam pengawasan orang tua (orang dewasa) tentunya. Anak sebaiknya juga tidak terlalu dikungkung agar luas wawasannya. Peran Orang Tua tetap diperlukan dalam mengawasi anak anaknya ber selancar di dunia maya

      Hapus
    2. setuju dengan pendapat Mas Asep

      Betul juga komentar Mas Rawins. Cuma tujuan saya mengajarkan anak berinternet sehat bukan supaya mereka lebih berhati-hati. Dan, bukan berarti mereka dilarang untuk berbuat salah

      Hapus
  8. Iya.. Makin ke sini banyak yang makin gak ditatar mulutnya.. Mentang2 ngomel & ngatainnya di dunia maya, jadi gak spt yang dikatain gak punya perasaan atau gak bpengaruh di kehidupan nyatanya. Huhu.. Ayo dishare ya bagaimana kurikulum pendidikan internet sehatnya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak ada kurikulum khusus, sih. Paling diskusi2 aja terutama kejadian terkini :)

      Hapus
  9. Semangat ya Ke, Nai.
    Kalian beruntung punya Bunda yang perhatian ^^

    BalasHapus
  10. memang jika anak2 sudah bisa menggunakan internet, kita sebagai orang tua harus bisa mengawasi

    BalasHapus
  11. Sosmed sekarang ini semakin mengkhawatirkan bahkan membahayakan. Lebih baik dikurangi aktivitas dumay, banyakin aktivitas dunia nyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. apapu yang berlebihan memang gak baik. Tapi, aktivitas anak-anak saya di dunia maya belum termasuk yang berlebihan, kok. Walopun begitu tetep aja mereka harus paham yang namanya internet sehat

      Hapus
  12. Pendampingan Jeng Chi pada Keke Nai dengan pendekatan 'teman' membuat anak-anak suka sharing dengan ortu. Terima kasih Jeng Chi sharing kiat-kiat nya. Salam

    BalasHapus
  13. Anakku belum FBan mak. Ini pelajaran penting buat saya. Makasih sharingnya

    BalasHapus
  14. mantap, Ci! diskusi emg perlu, apalagi itu dalam sbuah keluarga mengenai berita populer baru2 ini. jgn lupa berita politik juga dong, Ci ... ;)

    BalasHapus
  15. suka banget dengan cara mak chi terhadap kenai,,,kadang aku melihatnya kok bisa ya,,,sepertinya mudah,,tapi misal ntar dijalani sulitnya minta ampun,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebetulnya gak semua mudah juga, Mak. Kalaupun saya menuliskan disini, biasanya setelah saya ketemu solusinya. Dan, dibalik itu suka ada gagal2nya hehe. Saya nyaris gak pernah menulis sesuatu yang blm ada solusinya.

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge