Featured Post

Terapi Air Alkali, Pristine 8+, Untuk Kesehatan Lambung

Keringat dingin mulai terasa lagi. Beberapa kali Chi meringis di sepanjang perjalanan ketika perut mulai protes. Rasa diaduk-aduk sehingg...

Jumat, 31 Oktober 2014

Sudah Menikah Tapi Masih Tinggal Dengan Orang Tua

Kalau di luar sana, beberapa ibu sibuk melakukan 'Moms War', kalau 'war' Chi adalah bersama orang tua. Hehehe enggak, ding. Nanti dianggap anak durhaka kalau war sama orang tua :p

Sampe saat ini Chi memang masih tinggal sama orang tua. Dulu Chi suka males bercerita kalau masih tinggal orang tua. Abis suka ada aja yang merasa berhak menceramahi kalau sudah menikah sebaiknya tinggal terpisah. Idealnya memang begitu, tapi setiap orang kan punya alasan masing-masing. Bahkan ada yang alasannya pribadi banget. Dan gak perlu juga kita woro-woro ke semua orang alasannya.

Sesungguhnya tinggal bersama orang tua juga ada suka dukanya. Sukanya tentu banyak. Paling tidak kalau Chi lagi membutuhkan bantuan keluarga, gak perlu terlalu pusing karena sudah dikelilingi orang-orang terdekat.

Katanya kalau sudah menikah sebaiknya hanya ada 1 nakhoda. Tapi, itu kan hanya berlaku untuk pasangan suami istri. Kalau disini kondisinya dalam 1 atap ada 2 rumah tangga. Gak apa-apa juga ada 2 nakhoda karena tiap rumah tangga punya kapal masing-masing. Intinya, biarpun kami masih tinggal bersama orang tua Chi, tetep aja untuk urusan rumah tangga ya masing-masing. Chi dan K'Aie kan juga mau belajar mandiri.

Tapi, kali ini Chi mau cerita tentang dukanya. Cuma sebelum bercerita, Chi harus menjelaskan dulu alasannya biar gak ada yang salah paham. Alasannya adalah:
  1. Yang Chi posting ini bukan bermaksud untuk menceritakan aib keluarga. Chi hanya menceritakan beberapa permasalahan yang mungkin saja secara umum dirasakan oleh keluarga yang masih tinggal dengan orang tua. Tentu aja dibarengi dengan solusi yang pernah Chi lakukan.
  2. Chi hanya membatasi 3 masalah saja. Kalau kebanyakan nanti disangka curhat hehehe. 3 masalah yang ditulis ini karena Chi pernah ngalamin. Dan kemungkinan juga yang lain pun pernah ngalamin

Selasa, 28 Oktober 2014

Raport Bayangan Semester Ganjil 2014

Hari Sabtu lalu (25/10), Keke dan Nai terima raport bayangan. Hasilnya adalah sebagai berikut...

Nai

Biasanya, Chi cerita tentang Keke dulu. Kali ini, Nai aja dulu. Menurut wali kelas, Nai bisa dibilang 'perfect'. Nilai akademis, sikap, keaktifan di kelas, tata tertib di sekolah, dan lainnya semua jempolan. Wali kelas sampai bilang seandainya semua muridnya seperti Nai, rasanya bakal bahagia banget :)

Alhamdulillah, Chi seneng banget dengernya. Paling sedikit catatan kecil aja, Nai suka terlihat agak gak pede kalau sedang ulangan. Padahal untuk hal-hal lain dia pede. Lagipula nilai-nilainya selalu bagus-bagus, hampir semuanya perfect.

Kamis, 23 Oktober 2014

Mungkinkah Orang Tua Yang Menjadi Sumber Penyebabnya?

Bullying, pelecehan pada anak, pornografi anak, kekerasan pada anak, dan tawuran. Apa yang ada di benak kita ketika mendengar atau membaca 5 kata tadi? Yang jelas buat Chi semuanya itu sesuatu yang negatif. Kalau mau lebih jelas lagi definisi masing-masing kata tadi, silakan cari di Google.

Buat Chi, kelima hal yang disebut diatas adalah ancaman yang nyata. Bahkan sejak dulu, misalnya bullying. Zaman kita sekolah suka ada yang namanya senior-junior. Trus yang senior suka ada yang 'ngegencet' junior. Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah sebetulnya itu salah satu bentuk bullying? Cuma bahasanya aja gak sekeren sekarang. Dulu kita bilangnya 'gencet', sekarang 'bully'.

Jadi, tanpa perlu Chi menunggu ada heboh kasus tertentu, tanpa perlu melihat video tertentu, proteksi dini dimulai dari rumah sejak mereka lahir itu suatu kewajiban. Memproteksi bukan berarti memberatkan langkah anak-anak. Tapi, kita berusaha untuk membimbing mereka agar jangan jadi pelaku atau korban.

Ketika terjadi suatu kasus dimana si anak menjadi pelaku, mungkin gak sih orang tua juga ikut menjadi sumber penyebab? Padahal kejadian bukan di rumah. Misalnya, di sekolah. Seharusnya sepenuhnya jadi tanggung jawab pihak sekolah, kan? Hmmm... Coba lihat beberapa hal dibawah ini, ya...

Selasa, 21 Oktober 2014

Lebih Pede Senyum Karena Jakarta Smile

Buat Chi yang namanya ke dokter gigi itu semacam uji nyali dan pertarungan gengsi. Jujur aja, Chi itu takut ke dokter gigi. Ups! *lirak-lirik, berharap Keke dan Nai gak tau hehe

Mendengar kata dokter gigi aja udah bikin Chi horror dan ngilu. Rasanya, Chi belum pernah nemuin dokter gigi yang menyenangkan. Walopun udah bertahun-tahun berlalu, masih ingat banget gimana sakitnya saat dicabut padahal katanya udah dibius. Ketika gigi geraham kanan bawah ditambal karena berlubang, bukannya sembuh malah jadi tambah sakit. Akhirnya, Chi cabut sendiri tambalannya. Memang sih sakitnya jadi hilang. Tapi, lama kelamaan graham Chi pun jadi rusak bahkan mulai habis.

Seringkali ketika bercermin, Chi pengen mencabut graham tersebut. Gemas banget lihatnya karena tinggal sepotong. Tapi, setiap kali pula, rasa takut untuk ke dokter gigi itu masih ada. Akhirnya, nyali ini ciut lagi. Lagian, kalau dipikir-pikir, gigi Chi baik-baik aja dalam artian udah lama sekali gak pernah sakit gigi. Rasanya gak perlu ke dokter gigi, kan?

Sabtu, 18 Oktober 2014

Ternyata Keke Suka Menulis

Di blog ini beberapa kali Chi membuat postingan yang mengatakan kalau Keke itu agak susah kalau urusan tulis-menulis. Butuh perjuangan sendiri yang kadang dibumbui dengan 'perang-perang kecil' kalau menyuruh Keke menulis. Keke sepertinya lebih suka berbicara panjang lebar, ketimbang menulis walopun cuma beberapa baris.

Tapi, sepertinya Chi agak salah menduga.... Beberapa hari lalu...

Keke:"Bun, Keke mau nulis tentang Clash of Clans (COC), ah"
Bunda: "Ya, tulis aja."

Chi waktu itu gak terlalu menanggapi keinginan Keke. Tapi, beberapa hari ini Chi perhatiin dia seperti asik di depan komputer, mengetik sesuatu di Word. Karena penasaran, Chi pun tanya ke Keke. Soalnya dia jarang banget buka Word kecuali tugas sekolah hehe. Ternyata, dia benar-benar menulis!

Setiap hari Keke menulis tentang game favoritnya ini. Tulisan semacam diary gitu. Pengalamannya ketika bermain COC. Dan, semuanya dia tulis dalam bahasa Inggris.

COC adalah game strategi tentang membangun dan memperluas desa. Masing-masing pemain, dianggap sebagai pemimpin desa harus punya strategi. Strateginya tidak hanya tentang membangun  dan mengembangkan desa yang dipimpin, tapi juga harus bisa bertahan dari serangan desa lain untuk memperebutkan daerah. Desa yang kita pimpin bisa juga menjalin kerjasama dengan desa lain. Bagus, sih. Karena anak juga belajar membuat strategi.


Kamis, 16 Oktober 2014

My Idiot Brother - Bukan Review Film

Keke: "Bun, Sabtu besok, boleh nonton film My Idiot Brother sama temen-temen, gak?"

Walopun, Keke terus mengulang permintaannya, Chi gak langsung mengiyakan. Alasannya adalah...
  1. Chi harus nonton trailernya dulu di youtube supaya tau ini film bagus atau enggak
  2. Walopun Keke uidah menjelaskan secara singkat isi film tersebut dari yang dia lihat di youtube, tapi  buat Chi ini film bukan 'Keke banget'. Maksudnya, selama ini kalau kami nonton film ke bioskop kan film kartun. Tumben-tumbenan Keke kepengen nonton drama. Apalagi katanya, nonton film My Idiot Brother bersama teman-teman adalah ide Keke.
  3. Chi sempet berpikir kalau jangan-jangan Keke cuma biar bisa kumpul sama teman-temannya. Bukannya gak boleh ngumpul sama temen-temennya. Tapi, kalau memang mau ngumpul, jangan di bioskop. Makan di mana, main ke rumah teman, atau teman yang main ke rumah Keke.
Chi lihat di youtube, filmnya bagus dan sedih. Chi sampe nangis nontonnya. Cerita singkatnya dari yang Chi lihat di youtube, tentang kakak-beradik dimana di kakak terkena down syndrom. Awalnya, adiknya ini sayang sama kakaknya. Sampe kemudian, si adik suka dibully sama temen-temen di sekolah karena punya kakak 'idiot'. Si adik jadi malu, dan mulai benci kakaknya. Apalagi, si adik mulai jatuh cinta. Pokoknya drama banget deh ceritanya. Walopun pesan moralnya juga ada. Tapi, Chi tetep masih merasa kalau ini film bukan 'Keke banget', masih berpikir apa Keke ada maunya?

Bunda: "Bunda udah nonton trailernya. Keke boleh nonton, tapi gak di GM. Nonton di BCP aja."
Keke: "Ya... Kenapa, Bun? Temen-temen pada mau nontonnya disana?"
Bunda: "Pertama, harga tiket di GM itu 3x lipat dari BCP. Kalau cuma nonton film yang sama apa gak sayang uang? Lagian kita kan udah sering nonton di BCP, bagus bioskopnya. Kalau ada yang murah tapi bagus, ngapain juga pilih yang mahal."
Keke: "Iya juga sih, mending buat yang lain uangnya."

Chi lalu baca di Line grup Keke kalau dia bilang mau nonton di BCP aja, terserah kalau temen-temennya tetep mau di GM. Eh, gak taunya, temen-temennya pada mau ngikutin Keke nonton di BCP.

Minggu, 12 Oktober 2014

Imajinasi Si Peniru Ulung Di Kidzania

Imajinasi anak benar-benar luar biasa. Coba aja beri mereka kertas dan biarkan mereka menggambar atau menulis sesuka hati. Bagi kita yang dewasa, mungkin yang mereka gambar itu seperti benang kusut. Tapi, ketika bertanya kepada mereka, kita akan takjub mendengar penjelasannya. Bisa jadi yang mereka gambar itu adalah kupu-kupu, bunga, mobil balap, dan lain sebagainya.

Coba beri mereka sapu, bisa jadi kemudian anak akan berimajinasi menjadi seorang gitaris dimana gagang sapunya dianggap sebagai gitar. Atau pernahkah selendang yang kita miliki dipakai oleh anak lalu anak berimajinasi menjadi seorang putri raja?

Selain imajinasi, anak juga seorang peniru ulang. Anak akan dengan mudah meniru apa yang mereka lihat. Oleh karenanya sebagai orang tua kita wajib memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Anak-anak juga bisa mempunyai impian atau imajinasi juga karena melihat sekelilingnya.

Jumat, 10 Oktober 2014

Aku Anak Yang Payah

"Ya ampun.. masa' begini aja gak bisa?"

Pernah ngomong seperti itu ke anak? Chi pernah. Ups! Jangan diikuti ya, karena Chi tau itu salah. Tapi, kadang pernah ada salah dengan ngomong seperti itu. Walopun setelahnya Chi berusaha memperbaiki dengan meminta maaf dan menjelaskan ke Keke atau Nai. Supaya mereka mengerti dan kami sama-sama introspeksi.

Mbak Nina, psikolog yang berbicara di talkshow Parenthood Style Di Era Digital menjelaskan kalau idak baik anak terlalu sering mendengar perkataan seperti itu untuk dirinya. Misalnya, nih, ada anak yang ketika menaruh gelas di atas meja malah gelasnya jatuh. Kalau cuma sekali, ibunya masih maklum. Tapi ketika dilakukan berulang kali, ibunya mulai kesal trus keluar deh kata-kata "Masa' gini aja gak bisa?"

Senin, 06 Oktober 2014

SMA Atau SMK?

Keke sekarang udah kelas 5 SD. Pembicaraan tentang akan melanjutkan ke SMP mana, mulai sering dibicarakan antara Chi, K'Aie, dan Keke. Terlalu kecepetan? Enggak juga. Dari dulu Chi memang lebih suka menyiapkan sekolah dari jauh-jauh hari.

Ketika Keke baru masuk TK, Chi udah mulai mebidik kira-kira bakal masuk SD mana aja atau memilih homeschooling. Chi mulai mencari tau lebih detil tentang sekolah yang dipilih begitu juga dengan metode homeschooling. Sampai akhirnya, pilihan pun jatuh di sekolah Keke sekarang. Alhamdulillah, sejauh ini kami semua masih cocok sama sekolah ini.

Keke tentu aja dilibatkan, karena pada akhirnya dia juga yang akan sekolah. Tapi, jangan lupa pertimbangkan juga Nai. Karena Chi sih pengennya mereka tetep satu sekolah, paling gak sampai SMP. Udah ada beberapa sekolah yang dijadikan pilihan. Sedang kami pilih-pilih plus-minusnya. Pokoknya diusahan detil, dinilai dari banyak aspek. Sebelum akhirnya nanti memutuskan.

Jumat, 03 Oktober 2014

Pelajaran Berinternet Sehat

Kasus Dinda, Flo, dan kakak yang menupload PR matematika adiknya (lebih dikenal sebagai kasus 4x6 dan 6x4), menurut Chi punya kesamaan benang merah, yaitu sama-sama tidak dewasa dan tidak bijak dalam dunia maya. Ketika kasusnya sudah merebak, banyak yang larut dalam emosi, sesama anak manusia saling berdebat, lalu pelaku pun meminta maaf, dan kasusnya hilang bagai ditelan angin. Huff...

Gak cuma itu, ketika anak-anak ABG dengan santainya mengupload foto kemesraan bersama 'pacar'. Kemesraannya terlihat berlebihan. Belum lagi status-status yang lebay. Kalau lagi jatuh cinta, kalimat sayang-sayangannya dahsyat. Tapi, begitu putus, berantemnya juga dahsyat. Dan,. semua itu dipertontokan di social media dengan bebasnya.

Dunia maya seperti dua sisi mata pisau. Ada sisi positif dan negatif, tapi keduanya bisa sama-sama tajam. Berbagai tampilan negatif itu memang mencemaskan. Tapi, melarang Keke dan Nai untuk jauh dari dunia digital, buat Chi rasanya sulit. Apalagi era mereka memang era digital.

Chi sering mengawasi dan mengingatkan Keke-Nai untuk berhati-hati dengan dunia maya. Jangan suka sembarangan klik link gak jelas, hati-hati bergaul di dunia maya, dan lain sebagainya. Walopun begitu, sempet juga Chi merasa kecolongan sampai 2x.

Rabu, 01 Oktober 2014

Ketika Keke Mulai Jatuh Cinta

 Sumber dari Path

Mommy war dari zaman dulu sampai sekarang gak ubahnya seperti pertempuran tiada akhir. Cara untuk mengakhiri mommy war menurut Chi adalah engan tidak melibatkan diri dan memihak salah satu. Ya, namanya juga lagi perang, keberpihakan justru seringkali bukan menyelesaikan masalah.

Kalaupun, Chi rutin menulis kisah sehari-hari tentang Keke dan Nai di blog ini bukan bermaksud untuk menunjukkan pilihan seorang ibu untuk berumah tangga saja tanpa karir adalah paling tepat. Chi hanya ingin mendokumentasikan seluruh perjalanan hidup Keke dan Nai melalui tulisan. Silakan saja kalau ada yang ikut jejak Chi, tapi enggak pun gak apa-apa. Mama Chi juga dulunya ibu bekerja. Dan, semua baik-baik aja. Every mom has story.

Every mom has her own battle, itu juga benar adanya. Daripada energinya dihabiskan untuk perang sama ibu-ibu lain, mendingan 'berperang' untuk rumah tangga sendiri. Maksudnya, berusaha yang terbaik untuk keluarga masing-masing. Lagian, lucu dong kalau kita selalu mengajarkan anak cinta damai, bertoleransi, dan lain sebagainya, sementara kita sendiri gak bisa mempraktekkan itu.

Happy Mom, Happy Family. Berperang itu bikin kepala mumet, pikiran stress. Kalau kayak begitu, masih bisakah kita bikin keluarga sendiri bahagia? *Self Note

------------------

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge