Rabu, 06 Agustus 2014

Fabian Selalu Ingin Nomor Satu

Ketika anak ingin selalu menjadi nomor satu, itu bagus. Mungkin dia memang mempunya jiwa kompetisi. Tapi, ketika si anak selalu ingin menjadi nomor satu, kemudian ketika kalah reaksinya adalah mengamuk atau marah, sebaiknya jangan ikutkan anak tersebut di kompetisi manapun sampai dia bisa merubah sikapnya dalam menghadapi kompetisi

------------

Fabian (3 tahun 9 bulan), keponakan Chi yang sejak bayi tinggal di rumah, selalu aja ingin menjadi nomor satu. Nomor satu dalam hal apapun. Misalnya, ketika dibagikan kue, dia selalu ingin yang pertama dibagi. Ketika ada bel, dia selalu ingin menjadi yang pertama buka pintu. Pokoknya dalam segala hal selalu ingin dinomor satukan.

Kalau misalnya bunyi bel, dia langsung lari ke pintu, sih, gak apa-apa. Tapi, kadang dia pengen begini-begitu dulu. Orang lain gak boleh buka pintu selain dia. Sedangkan yang ngebel udah berkali-kali karena kelamaan.

Ketika keduluan maka reaksinya adalah tantrum. Ngambek berkepanjangan yang seringkali diiringi dengan lempar-lempar barang. Kalau ngamuknya di depan Chi atau K'Aie biasanya kami cuekin. Gak akan kami turutin permintaannya kalau dengan cara ngamuk begitu. Tapi, tetep kami awasi. Jangan sampai melempar-lempar barang.

Kemarin siang, Chi lihat Fabian lari ke kamar Chi. Trus, terdengar suara tangis terisak-isak.

Chi: "Kenapa nangis?"
Fabian: "Bian kesel sama Ima. Bian pengen susu coklat yang dibikin Ima."
Chi: "Tinggal minta, kan? Lagian bukannya teteh tadi nawarin juga ke Bian?"
Fabian: "Tapi, Ima kasih susu coklatnya ke Aa duluan baru Bian."
Chi: "Ya, gak apa-apa, dong. Yang penting tetep dibikinin, kan?"
Fabian: "Gak mau! Bian gak mau keduluan!"
Chi: "Bian kenapa, sih, gak mau keduluan? Gak apa-apa sekali-kali keduluan."
Fabian: "Bian pengen nomor satu terus. Nomor satu bagus."
Chi: "Nomor dua juga bagus, kok."
Fabian: "Enggak! Nomor satu yang bagus!"
Chi: "Sini coba Bian lihat Uwa Bunda bikin apa? Bian tebak, ya."

Chi lalu mengambil kertas dan pensil.

Chi: "Uwa Bunda bikin apa ayo?"
Fabian: "Angka dua"
Chi: "Pinteeeerr! Sekarang Bian lihat lagi, ya. Uwa Bunda mau sulap angka duanya."

Chi lalu bikin angsa dari angka 2 itu dan meminta Bian menebak.

Fabian: "Itu angsa!"
Chi: "Betuuull! Bagus gak angsanya?"
Fabian: "Bagus."
Chi: "Berarti angka 2 bagus, kan?"
Fabian: "Enggak! Angka 1 yang bagus!"
Chi: "Oke, deh. Uwa Bunda tambahin lagi, ya. Bian suka bintang?"
Fabian: "Suka."
Chi: "Di atas kepala angsa, Uwa Bunda kasih bintang, ya. Mau berapa bintangnya? Dua, ya? Kan, angka dua."
Fabian: "Iya, dua aja bintangnya, Wa."
Chi: "Ini udah wa kasih bintang. Berarti bagus gak angka dua?"
Fabian: "Bagus, Wa!"
Chi: "Kalau gitu Bian gak boleh nangis lagi, ya. Gak apa-apa angka dua juga. Sama-sama bagus, kan?"
Fabian: "Iya, Wa."
Chi: "Ya, udah kalau gitu minta susu coklatnya ke teteh Nai."

Gak berapa lama setelah itu, Nai nyamperin Chi.

Bunda: "Udah bikin susunya, Dek?"
Nai: "Udah."
Bunda: "Bian masih marah-marah atau nangis, gak?"
Nai: "Enggak, sih. Tapi, abis dikasih susu dia ngomong gini terus, Bun. 'Gak adil... Gak adil...'"
Bunda: "Maksudnya apa, tuh, gak adil?"
Nai: "Gak tau. Tapi, tetep diminum, sih, susunya."

Sore harinya, Chi samperin Bian yang lagi main di kamarnya.

Chi: "Bian, Uwa denger katanya tadi pagi Bian ngompol, ya?"
Fabian: "Iya."
Chi: "Ngompolnya di mana?"
Fabian: "Di sini sama di sini."
Chi: "Kok, banyak-banyak amat, sih, ngompolnya?"
Fabian: "Enggak, kok, cuma dua. Kan, kata Uwa Bunda dua itu bagus. Jadi, Bian ngompolnya juga dua."
Chi: "Hihihi. Tapi, tadi Uwa denger dari teteh Nai, Bian ngomong gak adil. Berarti angka dua gak adil, ya?"
Fabian: "Sekarang udah adil, kok. Kan, bagus kata Uwa Bunda."

Ya, begitulah ngobrol sama anak-anak. Suka ada aja jawaban gak terduganya hihihi. Tapi, anak-anak seusia Fabian,memang umumnya masih berpikir hitam dan putih. Masih agak susah berpikir abu-abu. Keke dan Nai pun pernah mengalami cara berpikir seperti itu. Contohnya, ketika Chi bilang angka 2 itu bagus, dia pun membela diri kalau ngompolnya 2x kali itu karena menurutnya uwa bunda bagus hahaha. Nanti seiring bertambah umur, cara berpikirnya juga bisa lebih kompleks.

Dan, tentang sikapnya yang selalu ingin nomor satu juga gak bisa dibiarkan kalau selalu mengamuk ketika keduluan. Jangan selalu membela dengan alasan namanya juga anak-anak. Justru, sejak anak-anak harus diajarkan cara berkompetisi atau berbagi yang benar. Kalau baru diajarkan setelah besar, malah jadi semakin susah.

Cara mengajarkannya, disesuaikan juga dengan caranya berpikir. Seperti, Chi yang mencoba membuat gambar dari angka dua. Ya, walopun belom bisa dibilang 100% berhasil, tapi setidaknya Fabian sesekali sudah mulai mau mengalah kalau keduluan. Gak selalu ingin dinomor satukan terus. Memang harus kontinyu dan konsisten, sih.

post signature

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge