Selasa, 10 Juni 2014

Soal UKK IPS

UKK IPS - Ayah mempunyai peran utama untuk mencari nafkah. Ibu ikut bekerja di kantor dengan tujuan untuk meningkatkan PENGELUARAN KELUARGA *sengaja di capslock untuk bedain soal dan jawaban

Saya : "Dek, kok jawabannya pengeluaran, sih?"
Nai : "Ya, kan selama ini yang cari uang ayah, tapi yg ngeluarin bunda."
Saya : "Iya, tapi ini kan soalnya ibunya juga kerja. Berarti tambah pendapat, dong."
Nai : "Enggak, Bun. Tugas ayah itu cari nafkah dan bertanggungjawab sama keluarga. Tugas bunda mengeluarkan."
Saya : "Maksudnya, tugas bunda yang abisin uang?"
Nai : "Iya hehehe"


Tulisan di atas udah Chi jadiin status semalem di FB. Nah, kali ini ada tambahannya. Chi penasaran, dong kenapa Nai sampe kekeuh kalau bunda yang kerjanya abisin duit. Padahal kan enggaaaakk *gak salah maksudnya hahaha.

Chi : "Nai, kok bunda yang abisin duit? Kan, di sini ceritanya bundanya itu kerja."
Nai : "Ya kan, bunda juga yang suka ngomong gitu."
Chi : "Ngomong gimana?"
Nai : "Ya misalnya kalau Bunda ada undangan dari blog trus sama Ima gak boleh dateng. Bunda suka bilang, 'sesekali Nai, anggap aja Bunda lagi kerja. Kalau Bunda kerja kan enak, nanti kita bisa jalan-jalan, bisa jajan.' Itu kan artinya kalau Bunda kerja artinya Bunda ngeluarin uang."

Ya ampuuuunnn, ternyata Chi juga yang salah menjelaskan hahaha. 

Selama ini, Chi taunya kalau pelajaran di sekolah itu terbagi 2, yaitu ilmu pasti dan bukan. Pelajaran kayak IPS ini pastinya bukan ilmu pasti. Tapi, kendalanya ketika si anak di beri pertanyaan, terutama pilihan ganda, mereka dituntut menjawab yang seragam dan pasti.

Contohnya kalau ada pertanyaan, Siapa yang bertugas ke pasar? Gak, salah kan kalau anak menjawab yang ke pasar adalah Mbak. Tapi, dalam ujian jawaban yang benar adalah ibu. Jawaban yang pasti (padahal bukan ilmu pasti)

Buat Chi itu termasuk kekurangan dalam pendidikan. Tapi, lagi-lagi Chi coba mencari jalan tengah. Kalau anak dihadapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang  seperti itu, Chi minta mereka untuk belajar berkompromi. Chi minta ke anak-anak untuk menjawab sesuai text book kalau dihadapkan dengan soal UTS dan UKK (kalau ulangan harian biasanya fleksibel. Jawaban akan dibenarkan kalau jawaban anak masuk akal walopun tidak sesuai buku). Nah, sikap Chi pun sama seperti guru ketika menilai ulangan harian. Lebih fleksibel.

Selama ini sih Keke dan Nai ngerti. Mereka bisa membedakan kapan saatnya harus menjawab baku mengikuti text book dan tidak. Karena Chi juga selalu ngajak mereka diskusi.

Nah, trus gimana kalau kasusnya kayak soal jawaban Nai di atas itu. Karena ini soal UKK, jelas jawabannya salah. Tapi, Chi selalu minta anak-anak untuk menjelaskan kenapa jawab seperti. Karena penjelasan Nai bisa diterima oleh Chi, ya dia gak ditegur. Malah kami sekeluarga sama-sama ketawa dengernya. Namanya juga anak-anak hehehe

Sekolah tinggal seminggu lagi, nih. Alhamdulillah hasil UKK Keke dan Nai bagus semua. Di atas 90 semua, ada juga yang 100. Semoga rapor mereka bagus-bagus lagi. Aamiin

Oiya, Chi tambahin sedikit lagi. Kenapa Chi sampe ngejelasin ke Keke dan Nai kapan harus menjawab secara text book dan kapan mereka bisa fleksibel, alasannya adalah:
  1. Sekolah itu seringkali punya keterikatan. Contohnya, di sekolah Keke dan Nai kalau UTS dan UKK semua soal datang dari pusat. Berarti, jawabannya pun harus sama persis dengan yang diberikan pusat. Sementara kalau ulangan harian bisa lebih fleksibel karena yang memberikan soal adalah guru di sekolah itu sendiri.
  2. Tentu aja, Chi beberapa kali berdiskusi dengan wali kelas. Tapi, karena lagi-lagi ada ikatan-ikatan, gak mungkin juga kita memaksakan merubah ikatan-ikatan tersebut seorang diri. Chi pun memilih untuk menyesuaikan. Makanya, Chi mengajarkan ke Keke dan Nai kapan harus jawab begini atau begitu.
  3. Sebaiknya memang tidak ada soal yang ambigu dalam ulangan. Apalagi di pilah berganda. Tapi, Chi lihat jumlahnya aja. Kalau hanya 1-2 dari sekian banyak soal yang diberikan, Chi lebih memilih untuk mengabaikan. Apalagi kalau anaknya paham. Kecuali kalau memang terlalu banyak soal yang ambigu. Selama ini sih paling cuma 1-2, malah sering juga gak ada. Jadi, santai aja.
  4. Selalu berikan penjelasan biar mereka gak bingung. Misalnya, ketika ada soal yang ambigu dan mereka merasa apa yang dijawab itu benar tapi ternyata disalahkan, pasti mereka akan bingung. Nah, Chi selalu jelasin ke mereka. Jangan sampe mereka kebingungan sendirian trus cari kesimpulan sendiri 
  5. Chi tentu seneng banget kalau anak-anak dapat nilai bagus. Apalagi kalau bisa dapet nilai 100.  Tapi, kalau ternyata jawaban anak tetep disalahin jawabannya, maka harus pastikan kalau soal yang jawabannya disalahkan itu adalah soal yang ambigu. Pastikan kalau anak sebetulnya paham. Hanya saja kembali ke masalah segala keterikatan tersebut. Nilai bukan yang diatas segala, walopun kita seneng dan bersyukur anak mendapat nilai bagus :)
  6. Kita yang dewasa bisa mengerti  mana jawaban yang text book dan realita. Tapi, sebetulnya anak-anak juga bisa kok diajarkan seperti itu. Terbukti dengan Keke dan Nai. Kuncinya sih di komunikasi. Sesuaikan dengan gaya bahasa dan daya tangkap mereka saat itu.
post signature

44 komentar:

  1. Itulah kelemahan isi mata pelajaran saat ini Mak Chi, terlalu mendikotomi hal-hal semacam itu. Di buku LKS anak saya pernah ada soal begini :
    Siapa yang bertugas untuk menyapu rumah?
    a. Ayah
    b. Ibu
    c. Kakak
    d. Adik

    Nah, what do you think the answer will be? Enggak banget kan yg model begini. Untuk soal2 tes macam gini, misalnya anak saya dapat nilai jelek pun gak bakal saya permasalahkan dan jelaskan lebih lanjut. Vivi malah justru tau kalau soal itu gak bener. Dia bisa bilang : nyapu itu kan tugas semua orang di rumah, apalagi Ibu kan kerja, kasihan donk ibu koq disuruh bersih-bersih melulu :) yeaayy... luv Vivi so much *ngeles sih ini sebenarnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mak. Saya juga gak akan menyalahkan anak-anak seandainya mereka disalahkan jawabannya oleh sekolah. Tapi, paling saya sering berpesan supaya mereka menjawab sesuai text book aja kalau lagi ulangan.

      Tapi, kalaupun gak sesuai text book pun tetep gak akan saya salahkan :)

      Hapus
  2. Hihihi, jadi inget soal essay UKK Fauzan kemarin. Yang ditanya, apa yg bisa diambil dari beternak sapi. Fauzan jawab daging & kulit. Disalahin sama gurunya. Karena yg benar (katanya) daging & air susunya. Padahal kulitnya emang bisa dipakai kan, jadi bahan pakaian, tas, kerupuk kulit, dll. Itu juga alasan Fauzan waktu ditanya sama saya. Dan saya ngga bisa nyalahin dong, emang bener kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kyknya Nai juga pernah deh dapet soal kyk gt. Dan, dia juga salah jawabnya hahaha

      Betul, Mbak. Gak perlu kita salahin karena anak kita paham :)

      Hapus
  3. Kayaknya sih yang bikin soal kurang kreatif. Ga bisa nangkep jawaban anak yang diluar dugaan Pengalamanku waktu kerja di SD, suka berkerut kalau disuruh ngetikin soal ulangan. Kok kayak gini sih, soalnya.. Pernah juga ngalamin ada guru yang bilanggini, "Neng, kalau ada soal yang ga enakeun, tolong sama eneng dibenerin, ya. Percayalah ka eneng mah, "
    Lhaaaaa, yang guru itu siapa? hehehe ga semua guru kayak gitu, sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebetulnya bikin soal susah2 gampang, sih. Saya ngerasain bikin soal untuk anak saya aja kadang bingung hehehe

      Apa yang dilakukan oleh guru2 di sekolah Keke dan Nai, saya rasa udah cukup baik, kok. Yang sy tulis di postingan ini, para guru fleksibel ketika menilai. Tapi, memang untuk jawaban UTS dan UKK, para guru terikat kebijakan pusat. Jd, bukan berarti gak bs menagkap juga :)

      Hapus
  4. soal-soal kadang terlalu kaku...kemarin ada yang share soal agama kelas satu. gambar perempuan memangku anak...dan dijawab oleh anak sebagai gambaran kasih sayang seorang pembantu...eh disalahin sama gurunya. Bisa jadi itulah yang dialami anak, yang suka menggendong dan memangku adalah pembantunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mak. Bukan ilmu pasti padahal. Tp, saya coba cari jalan tengah aja. Karena kalau terlalu fokus sama protes ke sekolah atau terlalu mempermasalahkan nanti malah sy lupa untuk memberi penjelasan ke anak saya :)

      Hapus
  5. soal IPS untuk SD memang ada yg ambigu, mungkin sebagai orang tua kita bisa bilang ke Ibu Gurunya, syukur2 sih Ibu Gurunya juga mengerti ya.. biasanya soal UKK itu buatan rayon sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. dipostingan ini juga saya tulis, beberapa kali berdiskusi dengan gurunya dan utk soal UTS juga UKK buatan pusat. Dan, memang gurunya mengerti, kok

      Hapus
  6. Hmm,,baru tahu,,berarti ntar harus benar2 selektif ya,,,tapi aku juga sering melihat jawaban ulangan anak SD yg berkeliaran di timeline FB yg isinya disalahin semua sama gurunya,,padahal kenyataannya yg dijawab si anak adalah apa yg dia alami,,,contoh kasus spt mak ida nurlaila itu,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebetulnya sih, apapun sekolah yg kita pilih untuk anak-anak, pastikan aja untuk terus mendampingi. Karena gak ada yang 100% sempurna. Tapi, bukan berarti sekolah itu buruk :)

      Hapus
  7. Kesimpulan: Yang bikin soal juga kudu mengikuti perkembangan cara berpikir masyarakat ya. Yang tergambar dari jawan Nai adalah cara berpikir masyarakat, kritis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya seharusnya begitu, Mbak. Mungkin sebaiknya memang soal pilihan ganda dihilangkan. Tp, problemnya nanti anak2 cape nulisnya. Berarti gak boleh byk soalnya hehe

      Hapus
  8. hahaha tenryata sama myr, aku kalau dateng acara2 gitu bilangnya kerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. termausk kl lagi didepan laptop ya Lid? :p

      Hapus
  9. wakakakaa...nai....bener ya kalo bunda itu bagian pengeluaran uang hihihi..bayar sekolah, bayar listrik, belanja

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuuuhhh berarti bagian pengeluaran memang tugas ibu2, ya hehhee

      Hapus
  10. woho tepat banget nih cara ngajarin anaknya.
    Ada kalanya suruh ngikutin pusat, tapi adakalanya dengan pemikirannya ia sendiri.

    Ah semoga berlanjut sampai dewasa :)

    BalasHapus
  11. jadi inget juga jawaban Rafa atas pertanyaan

    "kalau kamu melihat teman berkelahi, apa yang harus dilakukan?"

    a. melerai
    b. mendiamkan
    c. ikut berkelahi
    d. salah smua

    dan Rafa menjawab B aja dong hahahaha

    alesannya "aku gak tau arti MELERAI"

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha kl gt susah buat kita nyalahin atau marah kan, ya

      Etapi, jawaban mendiamkan kadang ada benernya juga. Drpd melerai trus ikut dimusuhin *jawaban menyesatkan :p

      Hapus
  12. Ternyata soal2 ulangan SD aneh banget ya mbak...soal kya gitu ga kreatif bgt padahal otak anak2 kreatif bgt.. siap2 nih bentar lg nadia SD...
    Thanks for sharing mak myra ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak semua aneh, kok. Kalaupun ada paling cuma 1 dari sekian byk soal. Itupun gak selalu ada setiap ulangan. Jd, kl saya masih anggap santai aja :)

      Hapus
  13. memilih jawaban tak selalu mudah ya Jeng, kagum dengan kejelian Jeng Chi dan cara menyikapinya. Salam

    BalasHapus
  14. Kadang aku juga merasa nggak bener ngajari anak karena anak2 aku suruh menjawab menurut buku pelajaran yang baku gitu, padahal fakta hidup nggak seperti itu. Ada temannya yg single parent, malah ada yg dititipin ke kakek neneknya. Pendidikan Indonesia kurang mengakomodasi anak-anak untuk mengembangkan diri, antara teori & kenyataan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terlepas dari segala kekurangan pendidikan di Indonesia, saya justru menolak anak2 utk tdk bisa mengembangkan diri. Makanya, saya sellau berusaha utk campur tangan, Mak. Termasuk mengajarkan mereka utk menjawab dengan jawaban yg baku tapi saya juga jelaskan ke mereka.

      Keke dan Nai ngerti kok mana yang teori dan kenyataan, walopun diajarkan dengan metode yg beda2 :)

      Hapus
  15. hebat emaknya! bs mengajarkan utk menyikapi soal realistis dan teoritis kpd anak2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma berusaha supaya anak gak kebingungan :)

      Hapus
  16. Bingung mo bilang apa, yang pasti pendidikan tak hanya didapat dari sekolah... Ilmu realistis memang diperlukan.

    BalasHapus
  17. Membuat soal untuk ujian seharusnya tidak memberikan jawaban yang mengambang dan membuat anak bingung menentukan pilihan, kecuali jika soal itu untuk esai yang jawabannya bisa diberikan penjelasan yang lebih komplit sesuai pemahaman anak.
    Kalo nggak salah, membuat soal itu ada juga tata caranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pastilah ada caranya, Pak. Tapi kalau ada 1-2 soal yang ambigu, saya biarkan ajalah :D

      Hapus
  18. keren sharenya mak...salam ya

    BalasHapus
  19. kadang sistem pendidikan yang kayak gitu malah bikin anak gak berkembang. seolah anak gak boleh punya pendapat. Makannya peran orang tua penting bgt kalau udah nemu sistem pendidikan kayak gitu, kasian anak jadi korban kemunafikan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kekurangan sistem pendidikan Indonesia mungkin bisa menimbulkan potensi anak untuk gak berkembang. Tapi, sebetulnya jangan khawatir kalau orang tua tetap turun tangan untuk pendidikan anak2nya :)

      Hapus
  20. Makanya saya gak suka UN itu dilestarikan, bikin anak gak kreatif. Payah nih kebijakan mentri yang tutup telinga terhadap kritikan kejelekan UN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Skrg ada UN, dulu juga ada yg namanya EBTA/EBTANAS. Gak setuju boleh2 aja. Tp, saya sih ikutin aja dan gak sepenuhnya setuju juga kalau dibilang bikin anak gak kreatif. Karena tergantung kita juga :)

      Hapus
  21. hahaha... Nai pinter yaa.. "men-translate" jawaban bundanya secara halus hihi.
    Duuuhh Shaina taun ini juga SD nih, aku kayaknya harus baaaanyak belajar dan diskusi sama Shaina soal pelajaran sosial ini, between realita & textbook :D

    Kalau Shaina ketemu soal "Siapa yang bertugas ke pasar?" jawabannya sudah pasti Omi alias omanya, lah mamanya setiap hari ngantor, jadi yang gantiin tugasnya jadi omi.

    Thank you bunda Chi & Nai yg udah ngingetin.. posting ini aku simpen buat "belajar" dan pengingatnya aku di kemudian hari :)

    BalasHapus
  22. He3 .... iya, setuju dg nai "ayah cari duit ibu yang ngabisin..... "

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaaa... kompakan nih sama Nai :D

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge