Featured Post

Antara Kopi Hijau, Diet, dan Antioksidan

Chi pernah bercerita di blog kalau K’Aie adalah seorang pecinta kopi. Setelah bangun tidur, aktivitas yang pertama kali dilakukan adalah ...

Jumat, 31 Januari 2014

Menertawakan Kesalahan Anak

Kalo anak berbuat salah boleh gak, sih, kita ketawain? Kalo kata Chi, sih, tergantung situasi dan masalahnya. Kalau anak kita berbuat kasar tentu aja gak boleh ngetawain apa yang udah dia lakuin. Trus, gimana kalo anak salah menjawab soal ulangan? Bole diketawain, gak? Tergantung .... *Haiyaaahh jawabannya malah tergantung terus hihihi

Jadi gini, waktu kelas 1, Chi lihat hasil UKK math Nai. Di pelajaran geometri, harusnya Nai menulis 'square' untuk gambar bujur sangkar. Tapi, Nai malah nulisnya 'qsuare'. Kata 'qsuare' buat Chi terasa lucu, makanya langsung ngakak.

Walopun gitu, Chi jelasin juga ke Nai dimana letak salahnya. Dan, Chi tau kalo Nai sebetulnya ngerti bahkan pengucapannya juga bener. Hanya saja, untuk penulisan dia memang harus lebih banyak berlatih lagi. Seperti yang Chi tulis di postingan Baju Badut dan Rapor.

Selasa, 28 Januari 2014

Rapor Semester Ganjil Nai Di Kelas 2

Sekarang giliran cerita tentang rapor Nai. Kalau Keke sudah pakai rapor kurikulum baru, Nai belum. Silakan baca di postingan Kurikum 2013, Siapkah Kita? kalau pengen tahu kenapa Nai masih pake kurikulum lama padahal dia satu sekolah ma Keke.

Banyak cerita selama semester ganjil kemarin. Dari awal tahun ajaran pernah mogok sekolah sampe seminggu lebih.Sampe terang-terangan minta keluar sekolah. Chi tau penyebabnya adalah karena mulai tahun ajaran ini Keke dan Nai pisah gedung sekolah. Nai khawatir kesepian kalau gak ada kakaknya. Padahal temennya juga banyak, cuma kadang-kadang dia masih suka ke kelas Keke buat ikut kakaknya.

Kamis, 23 Januari 2014

Mommychi dan 1000 hari pertama kehidupan

Pernahkah kita mendengar istilah gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan?
Menurut Menkes, istilah 1000 hari pertama kehidupan atau the first thousand days mulai diperkenalkan pada 2010 sejak dicanangkan Gerakan Scalling-up Nutrition di tingkat global. Hal ini merupakan upaya sistematis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan khususnya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil sampai anak usia 2 tahun, terutama kebutuhan pangan, kesehatan, dan gizinya. - sumber -
1000 hari pertama kehidupan memang sangat penting karena bisa menentukan kualitas hidup di masa depan. Alasannya, proses tumbuh kembang terjadi sangat cepat pada periode masa janin hingga anak berusia 2 tahun. Itulah kenapa asupan gizi harus benar-benar diperhatikan sejak bayi dalam kandungan, bukan sejak dilahirkan.

Minggu, 19 Januari 2014

Kita Semua Sama


Zakius : "Ibu..., ini anak hebat. Salut. Biasanya anak kecil kalau lihat orang-orang berkulit hitam seperti kami pasti nangis, karena tidak terbiasa. Begitu juga dengan anak-anak di Papua, mereka kalau lihat orang berkulit putih biasanya pasti nangis. Seperti anak saya. Tapi anak ini hebat, dia tidak takut apalagi menangis. Malah dia ikut makan dan ngobrol bersama dengan kami. Anak ini calon pemimpin".

Kamis, 16 Januari 2014

Buku Sebagai Kebutuhan Pokok

Salah satu hal yang saya ingat tentang pelajaran waktu SD adalah tentang sandang, pangan, dan papan. Nah, kalau buku, kira-kira masuk ke kategori mana? Saya rasa, gak masuk kedalam ketiga kategori itu. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, buku juga merupakan kebutuhan pokok bagi saya.

Sejak kecil, saya sudah sering dibelikan buku oleh orang tua. Jadi, saya memang sudah akrab dengan buku sejak kecil. Rasanya, tiada hari tanpa membaca buku. Kemana-manapun saya selalu membawa buku. Karena buku itu teman yang paling setia. Gak perlu khawatir sama urusan low bat kalau baca buku.

Kebiasaan membaca, juga coba saya tularkan ke Keke dan Nai. Saya ajak mereka membaca sedini mungkin. Yang awalnya dibacakan, sekarang mereka sudah bisa membaca sendiri. Tapi, kalau tiap malam, saya masih suka membacakan untuk mereka.

Senin, 13 Januari 2014

Rapor Kurikulum Baru

Akhir Desember 2013, Keke dan Nai terima rapor semester 1. Tahun ini, Keke mendapatkan kurikulum baru 2013. Jadi, rapornya pun baru. Di bawah ini penampakan rapor barunya.

 Kiri - rapor kurikulum baru. Kanan - rapor lama

Rapor baru 2013 lebih besar dan lebih tebal daripada rapor lama. Penyebabnya :
  1. Rapor kurikulum baru isinya seperti rapor TK lagi. Penuh dengan deskripsi. Semua tingkah laku anak kita ditulis. Karena penialain kurikulum 2013 adalah karakter bukan angka.
  2. Ada halaman untuk nilai akademisnya juga. Kalau ini, sebetulnya inisiatif sekolah. Karena rapor kurikulum baru harusnya murni berisi tentang karakter anak selama di sekolah. Tapi kenyataannya, gak semua orang tua setuju dengan penilaian murni karakter. Ada beberapa orang tua yang kurang sreg kalau dalam rapor anaknya mendapatkan 'catatan khusus'. Ada kemungkinan jadinya nanti guru-guru dianggap pilih kasih. Untuk menghindari hal tersebut, sekolah berinisiatif untuk memberikan nilai akademis juga diraport. Setidaknya orangtua dapat menilai sendiri kecerdasan anaknya secara karakter maupun akademis.

Minggu, 12 Januari 2014

Sekolah Di Atas Awan

"Enak, ya, sekolah-sekolah di daerah. Halamannya masih pada luas. Berasa sejuk banget," kata K'Aie waktu kami berjalan-jalan keliling Jawa saat liburan kenaikan lalu.

Spontan, Chi inget dengan foto sekolah putra mbak Dey di FBnya. Sekolah dimana terlihat jelas pegunungan, berhalaman luas, dan langit biru cerah. Makanya, postingan ini pun Chi kasih judul dengan "Sekolah Di Atas Awan". 

Sekolah-sekolah yang kami lewati dan K'Aie suka itu (Chi juga suka, sih) bukanlah sekolah dengan gedung mentereng. Apalagi menyandang kata 'internasional'. Hanya gedung sekolah sederhana. Tapi, halaman luas dengan banyak pepohonannya yang bikin kami suka setiap kali meihatnya. Kadang kami melihat beberapa anak sedang bermain di halaman sekolah.

Beruntung sekali anak-anak yang masih memiliki halaman luas di sekolahnya. Sebagai perbandingan, Chi pernah mengunjungi beberapa sekolah, dimana minim sekali halaman tapi sebagai pengganti tersedia ruangan bermain indoor. Cuma, tetep aja buat kami, sekolah yang masih memiliki halaman itu bisa dijadikan salah satu nilai plus ketika memilih sekolah. Dan bersyukur, Keke-Nai masih memiliki halaman di sekolahnya walaupun mungkin tidak seperti "sekolah di atas awan" :)

post signature

Selasa, 07 Januari 2014

Superwoman Pun Ada Di Sekitar Kita

Temans, siapa sosok superwoman bagimu? Supergirl? Batgirl? Xena the warrior princess? Atau Wonder Woman? Wah, kejauhan. Kita cari yang dekat-dekat di sekitar kita aja dan yang pasti sosoknya nyata. Adakah? Pasti ada!

Buat saya, sosok superwoman itu harus enerjik, mempunyai kharisma, bisa mempengaruhi, dan selalu ceria. Sosok yang inspiratif, deh, pokoknya! Sosok superwoman, gak selalu harus orang terkenal, kok. Selama sosok tersebut memang menginspirasi kita (kegiatannya, cerita hidupnya, mempunyai pengaruh terhadap kehidupan orang lain, atau lainnya), sosok tersebut layak kita katakan superwoman. Tua atau muda bisa menjadi superwoman.

Bagaimana? Sudah tau siapa tokoh superwoman mu? Kalau sudah, mendingan kita ikut kontes Parkway Superwomen Indonesia aja. Daftarkan superwoman favoritmu.

Senin, 06 Januari 2014

Garut Itu Ternyata...

K'Aie : "Nanti malem, kita mau nginep di Garut atau Lembang, Bun?"
Chi     : "Terserah aja. Enaknya dimana?"

Garut atau Lembang memang akan jadi kota terakhir yang akan kami datangi dalam jalan-jalan Tour D' Java, liburan kenaikan kelas lalu. Setelah menempuh perjalanan panjang selama beberapa hari, rasanya akan sangat nikmat kalau perjalanan ini ditutup dengan mandi air hangat alami. Pilihannya kalau gak Lembang, ya Garut. Dengan pertimbangan, jarak Garut lebih dekat, kami pun memilih Garut.

K'Aie pengennya menginap di Sabda Alam, Garut. Dari Jogja, Chi udah berkali-kali telpon ke Sabda Alam tapi gak diangkat terus telponnya. Chi tawarin penginapan lain, K'Aie gak mau. Tetep pengennya Sabda Alam. Dan, karena gak bisa ditelpon juga, kami memutuskan tetap berangkat ke Garut.

Berangkat dari Jogja sekitar pukul 11.00 siang. Perjalanan menuju Garut gak bisa dibilang cepat juga. Entah karena lagi musim liburan plus menjelang malam Minggu pula, banyak sekali motor yang bersliweran. Banyak yang jalannya lambat tapi posisi di tengah, bikin kami kagok kalau mau nyusul.

Tontonan Murah Bukan Berarti Harus Murahan

Beberapa tahun lalu...

Chi : "Heran, tayangan televisi lokal mulai dari berita, infotainment, musik, sinetron, dan lainnya, kualitasnya mirip-mirip. Gak layak tonton. Bikin cape hati ngeliatnya.Tapi, keliatannya semakin 'aneh' justru semakin banyak peminatnya, ya?"

Teman : "Mungkin karena yang namanya manusia itu pada dasarnya butuh hiburan. Televisi masih jadi hiburan termurah. Kita tinggal nyalain tv, gak perlu dandan atau keluar uang untuk nonton tv. Gratis! Dan, masih banyak yang berpikir, 'gak perlu protes kalau dikasih gratis.' Jadi, sebetulnya yang nonton mungkin ada yang tau kualitasnya gak bagus. Makanya, kadang suka ada yang nonton sinetron sambil ngomel-ngomel, misalnya.Tapi, tetep aja nonton hahaha."

Chi cuma manggut-manggut saat itu. Walopun tetep aja dalam hati masih ada yang ngeganjel. Setuju, kalau TV memang hiburan termurah bagi masyarakat. Tapi, apakah harus dibikin murahan kualitasnya? Apakah karena gratis, artinya kita gak boleh kritis terhadap setiap tayangan yang kita anggap gak layak?

Dan, pertanyaan yang selalu berulang-ulang dalam hati adalah, apa peran KPI? Iya, Chi tau, KPI seringkali melakukan peneguran terhadap tayangan maupun artis yang dianggap keterlaluan. Tapi, rasanya hanya sebatas teguran. Acara atau artisnya tetap aja laris manis.

Tapi, sebelum Chi dinyinyirin, "Kalau gak suka, mending gak usah nonton atau bikin acara sendiri ajah!". Jadi, Chi pun milih diam. Hehehhe becanda, ding! Temen Chi ini baik, kok. Gak ada yang namanya nyinyir-nyiriran ;)

Jumat, 03 Januari 2014

Sekejap Di Jogja

Setelah menikmati 'cahaya surga' di goa Jomblang, kami pun bergegas menuju Jogja. Tentunya, setelah membersihkan badan (walopun tanpa sabun :p).

Masih di daerah Gunung Kidul, kami cari tempat untuk makan siang. Ada rumah makan kecil, rumah makan padang. Begitu tulisan yang tertulis di depan rumah makannya. Tapi, tidak seperti rumah makan padang yang seperti ini kami datangi. Yang dijual di sana, semuanya lauk-pauk goreng crispy. Ayam goreng, bandeng goreng, dan lauk-pauk lainnya yang diberi tepung trus digoreng. Paling yang mirip rumah makan padangnya adalah sambel hijaunya, itu aja.

Awalnya, jalanan cukup lancar. Sampai kemudian di daerah Bukit Bintang, sempet macet total. Gak tau kenapa. Kalau melihat Bukit Bintang, Chi langsung teringat Punclut di Bandung. Mirip-mirip tempatnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge