Rabu, 31 Juli 2013

Sop Buntut Hotel Borobudur vs Buatan Bunda

Hari Selasa kemarin Keke dateng ke ulang tahun temen sekolahnya di Bogor Cafe - Hotel Borobudur. Karena lagi bulan puasa jadi acara baru dimulai setelah buka puasa.

Kami sendiri belum pernah makan di hotel Borobudur. Jadi sebelum berangkat, Chi browsing dulu untuk cari tau, menu andalan apa yang ada di Bogor Cafe. Ternyata menu andalannya adalah sop buntut. Bahkan kelezatan sop buntut udah sangat melegenda. Haiyaaaahhh! Berarti Chi kemana aja selama ini, ya :p

Tadinya, Chi mau ikut nganterin. Tapi pagi-pagi sebelum sekolah, salah satu orang tua murid ngusulin untuk nyewa mobil jemputan sekolah aja. Biar anak-anak pergi sendiri tanpa orang tua. Paling kita patungan aja bayar ke supirnya. Chi setuju, lagipula Keke pasti seneng banget jalan bareng semobil sama teman-temannya.

Sabtu, 27 Juli 2013

Nai Kalo Lagi Manja ke Keke

"Ima kapan sekolah bareng Keke?"

Waktu Nai masih TK dan Keke udah SD, Nai sering banget nanya seperti itu. Sekolah mereka memang berbeda. Jadi sempet pisah sekolah selama 2 tahun.

Setelah Nai masuk SD, dia seneng banget bisa satu sekolah lagi sama Aa'nya. Dia kadang suka main atau nungguin Keke di depan kelas. Bukan karena Nai gak punya temen, lho. Temennya juga banyak cuma kadang pengen sama Aa'nya juga.

Rabu, 24 Juli 2013

Peci Hitam

Bunda : "Ke, Bunda gak mau di kelas 4 ini bermasalah terus sama peci, ya. Kalo sampe terulang lagi, Bunda biarin aja, deh, Keke dihukum dulu sama sekolah sampe kapok."

Keke mengangguk ....

Jadi ceritanya, di kelas 3 lalu Keke itu sering banget kehilangan peci hitamnya. Peci hitam yang wajib dipakai kalau upacara setiap hari Senin dan sholat berjama'ah setiap hari. Sebetulnya gak bener-bener hilang, sih. Seringnya ketinggalan, tapi Keke suka dengan entengnya bilang hilang. Padahal kalo dia mau cari di gudang atau tanya ke wali kelas biasanya ada. Lagipula semua pecinya udah dikasih tanda. Dari mulai dinamain sampe dikasih tanda kain di dalamnya.

Sabtu, 20 Juli 2013

Ramadan di Indonesia itu Menyenangkan, Nak

Tahun lalu di postingan Keke dan Puasa, Chi menulis tentang tahapan-tahapan Keke mulai belajar menahan lapar dan haus mulai dari TK A hingga akhirnya dia bisa puasa full di kelas 3 SD.

Sebetulnya selain mengajak Keke-Nai untuk belajar menahan lapar dan haus, Chi juga berusaha mengajak mereka ngobrol kenapa harus berpuasa. Tujuannya supaya mereka gak cuma bisa menahan lapar dan haus aja nantinya tapi juga bisa menahan hawa nafsu, dan yang penting mereka mencintai Ramadan. Tentunya dengan bahasa yang sederhana, sesuai umur mereka.

Rabu, 17 Juli 2013

Mempunyai Rumah Semudah Berhitung 123

Akhir-akhir ini kalo lagi internetan, Nai lagi suka lihat foto-foto kamar untuk anak perempuan di Google. Tinggal masukin kalimat "Girl Bedroom", keluar deh banyak gambar kamar anak perempuan yang lucu-lucu.

"Bunda, Ima mau kamarnya dibikin kayak gini."

"Bundaaaa, ini bagus, deh ..."

Begitu Nai selalu bilang setiap kali ada foto kamar yang dia suka. Biasanya Chi jawab, "Iya, Nak. Insya Allah kalo ada rezeki, ya."

Sabtu, 13 Juli 2013

Mobile Internet Pada Anak Candu atau Hobi?

Kedua anak saya, Keke (9th) dan Nai (7th) lahir di era teknologi. Sebetulnya saya gak ingin anak-anak gagap teknologi, tapi mengingat banyaknya info yang saya dengar atau baca tentang bahaya teknologi bagi anak-anak, antara lain menjadikan anak malas, ancaman obesitas, terganggunya kesehatan mata, pornografi, dan lainnya, sempat membuat saya 'parno' dan tidak ingin mengenalkan teknologi kepada anak.

Waktu baru punya Keke, saya hanya mengenalkannya kepada televisi itupun dengan tayangan yang sangat dipilih dan waktu menonton yang terbatas. Sedangkan untuk teknologi lain tidak saya kenalkan sama sekali. Salah satu konsekuensinya adalah saya dan suami harus mengurangi kegiatan bermain video games yang menjadi kegemaran kami berdua. Setidaknya jangan bermain video games saat anak belum tidur.

Rabu, 10 Juli 2013

Menyampul Buku

Dipastikan ketika postingan ini dibuat, Chi lagi galau segalau-galaunya hahaha. Tahun ajaran baru identik dengan buku pelajaran baru. Dan tadi pagi Chi ambil buku-buku pelajaran Keke dan Nai di sekolah. Biasanya Chi suka seneng kalo liat yang namanya buku. Masalahnya Chi gak suka sama kegiatan menyampul buku. Huaaaa ...!

Tahun ajaran kemaren, Chi akhirnya males nyerah ... buku yang disampul cuma sebagian. Sisanya dibiarin aja apa adanya. Ternyata itu gak bagus, buibuuuuu .... Buku anak-anak jadi cepet rusak dan robek covernya. Keliatan banget, deh, bututnya. Sementara buku yang tersampul masih lumayan terjaga kualitasnya. Terpaksa, deh, tahun ini semua buku harus disampul. Daripada banyak yang rusak lagi kayak kemaren. Untung gak harus disampul coklat segala, cukup dikasih sampul plastik.

Pantesan toko stationery deket rumah menawarkan jasa menyampul buku. Kayaknya untuk ngambil peluang bisnis dari ibu-ibu yang males nyampul kayak Chi hihihi. Trus Chi kasih ke sana juga kali, ya, bukunya? Hmmmm enggak kayaknya... sayang duitnya :p

Untung cukup sampul plastik aja, gak pake sampul coklat kayak zaman Chi sekolah dulu. *Tarik napas dulu :D

post signature

Senin, 08 Juli 2013

Baju Badut dan Rapor

Tanggal 20 Juni 2013, Keke dan Nai terima rapor. Biasanya sebelum terima rapor paginya pentas seni dulu, siangnya baru terima rapor. Tapi tahun ini dipisah. Pentas seni diadakan sehari sebelumnya. Denger-denger, sih, karena kalau disatuin orang tua banyak yang gak menonton anaknya pentas, lebih memilih nunggu di dalam kelas biar bisa duluan ambil rapor.

Tahun ini Chi dateng ke pentas seni lumayan pagi karena Nai ikut ekskul nari jadi pentasnya menari. Dan untuk anak yang ikut menari harus datang pagi-pagi karena harus pake kostum juga didandanin. Tapi ternyata Nai gak mau di make up sama sekali kecuali Chi yang dandanin. Jadi cuma dia satu-satunya penari yang berwajah polos tanpa make up :D

Dan karena pentas seni adalah hari spesial, Chi pun sedikit tampil beda. Biasanya cuma kaos, celana panjang, dan sering kali tanpa make up. Hari itu Chi pake gamis panjang motif bunga-bunga berwarna cerah dengan bergo panjang menutup dada, plus dandan, dong. Dan tanggapan Nai adalah ... "Bunda, kok, pake baju badut?" *(^$*$*&)*($#$#$%()_(_++)))&&^$#!! Giliran coba jadi feminin malah disangka pake kostum badut :r

Singkat kata pentas seni berjalan dengan sukses, Keke dan Nai semangat ngejalaninnya. Cuma kami gak sampe selesai, karena gerah dan lapaaaaarrr. Jadi pulang aja, ah :D

Jumat, 05 Juli 2013

Keke Sunat di Rumah Sunatan

Sekarang cerita tentang proses sunatan Keke. Untuk tip gimana caranya supaya anak mau sunat, silakan baca postingan sebelumnya :)

Dari awal udah memilih rumah sunatan. Alasannya pernah baca blog mbak Fitri Anita waktu sunatin 2 jagoannya di rumah sunatan, keliatannya tempatnya bagus. Lagipula deket juga sama rumah ternyata. Oiya Rumah Sunatan ini ada di beberapa tempat, dan kami pilih yang di Jatiasih karena paling dekat sama rumah.

Tadinya kami pikir yang namanya disunat tinggal dateng aja, diproses, trus selesai. Tapi trus Chi kepikiran buat nelpon dulu dan ternyata harus konsultasi dulu karena anak yang kurus dan gemuk beda penanganannya. Jadi aja hari Minggu (30/6), Chi ngajak Keke ke Rumah Sunatan.

Setelah sampe lokasi, resepsionis bilang kalau untuk anak yang berbadan gemukharus nunggu 1 minggu lagi karena dokter yang khusus menangani anak gemuk lagi gak ada (kalo gak salah lagi cuti). Saat itu Chi berharap Keke gak termasuk anak yang gemuk, karena males aja baru masuk puasa sambil sunatan.

Setelah menunggu sebentar, kami pun dipanggil untuk konsultasi. Di ruang periksa, Keke diminta tiduran di kasur yang sudah disediakan dan diminta membuka sedikit celananya untuk dlihat alat vitalnya. Menurut dokter yang memeriksa, ukurannya termasuk normal. Masih bisa pake metode smart klamp. Hanya saja karena Keke memang agak gemuk, jadi setelah alatnya dilepas, kalo pipis harus sedikit ditarik ke belakang sampe lingkaran coklat bekas smart klampnya hilang. Karena gak harus pake dokter spesialis, kami pun tetap memutuskan hari Selasa disunat. Untuk  konsultasi kami dikenai biaya IDR 50k.

Rabu, 03 Juli 2013

Tips Supaya Anak Mau Sunat

Buat Chi salah satu hal terberat ketika punya anak laki-laki adalah kapan waktu terbaik untuk disunat? Apalagi bagi kami yang muslim, sunat itu wajib bagi laki-laki. Ya, walopun ada juga yang bilang sunat itu sunnah, tapi Chi gak mau berdebat tentang hal ini. Lagipula apapun itu sunat bagi laki-laki juga baik buat kesehatan.

Tapi membuat anak mau disunat hanya dengan bilang kalau itu adalah wajib, rasanya gak semudah seperti kita mengucapkannya. Setidaknya bagi Keke seperti itu. Apalagi Chi juga termasuk yang gak tegaan. Dari dulu kalau anak harus disuntik untuk imunisasi aja rasanya Chi lebih memilih untuk gak ikut ke ruang periksa. Walopun tetep aja Chi akhirnya pasti masuk untuk nemenin anak-anak :D

Selasa kemarin (2/7), alhamdulillah, Keke sudah disunat. Sebetulnya dia udah minta dari lebaran tahun lalu. Cuma setelah kami pikir-pikir, kayaknya ribet banget, ya. Disaat banyak orang saling bersilaturahmi, kami malah sunatan. Jadi kami pun bilang ke Keke untuk ditunda dulu sampe waktu yang belom ditentukan :p Dan setiap ada tanggal merah long wiken, Keke suka tanya kapan disunat?

Ya udah karena dia nanya terus akhirnya kami putusin liburan ini Keke disunat. Awalnya Chi sempet merasa bakal gagal lagi rencana sunatnya, kerena tanpa diduga K'Aie ngajak jalan-jalan. Eh, gak taunya hari Kamis minggu lalu, K'Aie putusin Keke disunat setelah pulang jalan-jalan dan Keke pun gak keberatan. Bener-bener rencana mendadak, karena daftar aja belom. Dan sukses bikin kaget kakek-nenek Keke :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge